Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Perjalanan awal


__ADS_3

Rombongan umroh terlihat keluar dan turun dari dalam bus satu-persatu, membawa barang bawaan masing-masing, dengan pakaian senada yang menjadi ciri khas sebuah travel yang cukup terkenal di Tangerang sana. Abaya berwarna hitam untuk para wanita, dan Koko kurta warna senada untuk para pria. Tak lupa syal dan id card yang jemaah lingkarkan di leher masing-masing.


Dan memakai pakaian serba tertutup pertama kalinya Kiana kenakan, membuat perempuan itu tampak begitu berbeda, dengan abaya dan kerudung pasmina yang tentu saja di bantu Sita saat Kiana berusaha memakainya.


"Nanti, kalau sudah tahu step by step nya. Kamu bisa melakukan umroh mandiri, … kamu akan lebih leluasa, kamu bisa kemana saja tanpa harus mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan oleh travel. Di luar ibadah tapi yah!" Ucap Sita seraya mendorong koper miliknya, memasuki area bandara yang terlihat sedikit ramai.


Puluhan manusia berlalu-lalang, entah itu yang hendak pergi, atau yang baru saja tiba dari berbagai macam wilayah, luar maupun dalam negeri.


"Mudah-mudahan nanti aku bisa sendiri." Kiana berusaha tersenyum.


Maski hatinya terasa begitu sesak. Apalagi saat melihat setiap jamaah yang diantar keluarganya sampai tempat travel tadi, seolah sesuatu terasa sedang menamparnya. Bagaimana tidak, apa yang dia inginkan selalu terpenuhi, apa yang orang lain harapkan juga dirinya miliki. Namun, satu yang tidak dapat dia rasakan, yaitu kasih sayang keluarga yang luar biasa. Apalagi saat mengingat hubungannya dengan sang ayah akhir-akhir ini, membuat Kiana semakin merasa bahwa ternyata uang saja tidak cukup untuk membuat sebuah keluarga tetap utuh dan saling menerima satu sama lain.


"Jangan sedih!" Sita segera merangkul Kiana. "Semuanya akan baik-baik saja, mintalah apapun di sana nanti. Mudah-mudahan doamu di ijabah." Katanya sambil mengusap-usap pundak perempuan muda yang kali ini terlihat begitu murung.


Keduanya terus berjalan, mengikuti puluhan rombongan yang berjalan terlebih dulu dengan rasa bahagia dan raut wajah gembira.


"Tante?"


"Ya?" Sita menoleh dengan senyuman manisnya seperti biasa.


Dan itu terasa sangat menyejukkan. Di kala hatinya yang terus merasa gundah gulana, bingung seperti terombang-ambing di tengah-tengah lautan yang sedang di terjang badai. Nyatanya sikap Sita mampu membuat Kiana tenang, tak heran jika keluarga mereka selalu terlihat harmonis. Karena di setiap sikap dan senyuman Sita mampu meredam sebuah kekacauan yang mungkin saja terjadi.


Contohnya Kiana. Dia datang dengan perasaan kacau, lalu hanya tinggal beberapa hari, Kiana merasakan jika dirinya sudah membaik, sampai mampu melupakan kejadian yang membuat hati dan perasaannya terasa begitu sakit.


"Kia?" Panggil Sita ketika Kiana hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang terlihat seperti orang linglung.


Berjalan dengan ekspresi datar dan pandangan kosong.


"Emmmm, … apa boleh aku pergi dengan keadaan seperti sekarang? Tante tahu? Aku sedang tidak bertegur sapa dengan siapapun. Apa Tuhan akan marah karena aku melakukan itu?" Tanya Kiana.


Raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi gelisah. Entah mengapa dirinya merasa sedikit takut.


"Kita masih mempunyai waktu satu jam lagi. Jika ibu-ibu dan bapak-bapak mau pergi cari makan dulu silahkan. Nanti kita kumpul lagi disini. Untuk koper dan barang bawaan boleh di titip di saya yah!" Seorang guide berbicara, kemudian duduk di salah satu tempat duduk yang disediakan.


"Nah, ayo kita cari air minum." Ajak Sita.


Dia menitipkan dua koper berukuran besar miliknya juga milik Kiana. Lalu setelah itu beranjak pergi, mencari tempat yang nyaman untuk berbicara lebih dalam lagi kepada Kiana yang memang selalu kelihatan murung.

__ADS_1


Ya, mungkin dia merindukan keluarganya, tetapi egonya membuat semua menjadi sangat rumit. Pikir Sita.


Satu meja bundar yang terletak di sudut cafetaria dengan dua kursi mereka pilih, setelah memesan terlebih dulu akhirnya Kiana juga Sita duduk nyaman disana.


"Tidak usah takut, semuanya akan baik-baik saja." Sita memulai pembicaraan.


"Benarkah? Bukannya kita harus berbakti kepada orang tua? Terutama kepada seorang ibu? Dan alangkah berdosanya kita jika membuat mereka menangis? Lalu bagaimana dengan aku?" Kiana mengutarakan kegelisahannya.


Sita tersenyum. Wanita itu merasa bahagia, karena jika Kiana sudah berpikir demikian, itu tandanya hati Kiana mulai melembut dari kerasnya hati yang diakibatkan rasa marah dan kecewa.


"Memang seharusnya kamu itu meminta izin untuk pergi, meminta ridhonya. Tapi jika kamu belum siap, tidak apa-apa, kamu pergi untuk merenungkan setiap kesalahan yang pernah kamu lakukan bukan? Maka mintalah jalan terbaik untuk semua ini." Jelas Sita.


"Tapi aku takut Tuhan marah!"


Sita tersenyum lagi, menggelengkan kepala, lalu meraih tangan Kiana untuk kemudian di genggamnya.


"Jika mau, Tante bisa minta tolong Om Denis untuk membawa Pak Danu, Bu Herlin, Jovian dan kedua mertua kamu?"


Namun, Kiana menggelengkan kepalanya.


Rasanya begitu berat jika harus menemui mereka saat ini. Tidak hanya akan mengingatkan tentang kejadian beberapa malam lalu, tapi Kiana takut dia akan bersikap semankin buruk, mengingat dirinya yang tidak pandai mengendalikan emosi.


Sita mengangguk paham.


"Maka mintalah ampunan di Makkah nanti. Satu hal yang harus kamu tahu, Allah itu maha pemaaf, lautan ampunan. Tapi Tante minta satu aja! Nanti kalau sudah pulang tidak boleh terus-menerus seperti ini, tidak baik."


Kiana mengangguk, dan seulas senyuman tipis di bibirnya terlihat.


"Merenunglah, dan minta semuanya yang terbaik."


"Iya Tante." Balas Kiana.


"Tidak hanya tentang kamu dan orang tuamu. Tapi tentang hubungan kalian. Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, itu juga tidak baik."


Kiana diam saat mendengar itu. Menatap wajah Sita lekat-lekat, dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak.


Apalagi bayangan Jovian yang merengkuh tubuh Eva tanpa merasa ragu, seolah tersimpan sempurna di memori otaknya, sehingga setiap siapapun yang membahas laki-laki itu, maka dengan otomatis setiap adegan yang membuat hatinya sakit kembali terlihat.

__ADS_1


"Ikhlas itu memang sulit, makanya Allah menghadiahkan surga untuk hamba-nya jika dia bisa melakukan itu. Sekarang tidak apa-apa, mungkin memang kamu sedang butuh waktu saja, tapi semoga suatu saat nanti kamu bisa memaafkan Jovian yah? Terutama tentang kejadian malam itu."


Kiana menunduk. Dia merasakan matanya begitu panas, yang di detik kemudian membuat air matanya meleleh.


"Tidak apa-apa, nanti kamu bisa mengadu di depan Ka'bah. Ungkapkan semua perasaanmu, mintalah petunjuk yah!"


"Aku cuma nggak ngerti. Kenapa ada orang yang nggak bisa lihat ketulusan cinta seseorang." Kata Kiana dengan suara lirih.


Tangan kanannya terangkat, hendak mengusap pipinya yang bawa. Namun, dengan segera Sita memberikan selembar tissue, sampai Kiana dapat menyapu air matanya tanpa tangan kosong.


"Kecewa itu manusiawi."


"Aku mau nyerah aja, aku mau berusaha nggak peduli. Tapi kenapa hati, otak dan pikiran aku makin tertuju kesana. Ini nggak adil, aku memberikan semua cinta yang aku miliki, tapi Jovian tidak melakukan itu!"


Sita tersenyum tipis.


"Kia? Kamu sudah menjadi seperti Fatimah Az-Zahra yang mencintai Ali dalam diam. Lalu menjadi seperti Siti Khadijah yang menyatakan cintanya lebih dulu kepada Rasulullah. Dan sekarang kamu harus seperti Zulaikha, yang memutuskan mengejar cintanya Allah, setelah beliau tidak pernah bisa mendapatkan cinta Nabi Yusuf. Jika kamu sudah menggapai cinta Tuhanmu, maka tidak ada satupun nikmat yang akan terlewatkan."


Mendengar itu air mata Kiana semakin mengalir deras.


"Sudah. Semua orang melihat kepada kita, mereka kira Tante membuat kamu sedih."


"Aaaaa, … betapa terlambatnya aku! Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Sampai aku berada sangat jauh dari-Nya!"


"Kamu tidak terlambat. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri!" Jelas Sita.


Kiana mengangguk.


"Ayo habiskan minumnya, setelah itu kita kembali. Perjalanan yang sangat menakjubkan akan segera dimulai, dimana nanti kita akan melihat banyak keajaiban yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya." Ujar Sita.


Tak hentinya dia menjadi penyemangat Kiana. Sosok perempuan muda yang sedang kehilangan arah.


......................


Maaf ya baru update. Doakan Othor selalu sehat, biar bisa up banyak yah😘 beberapa kali asam lambung othor kambuh, jadinya gitu deh🤭


Eits jangan lupa like, komen, sama hadiahnya yah !!

__ADS_1


cuyung kalian 😘♥️


__ADS_2