
"Memangnya kamu sudah siap, hheuh?" Tanyanya, lalu kembali mencium bibir Kiana singkat.
Namun Kiana segera menggelengkan kepalanya, dan itu jelas membuat ketakutan Jovian terbukti.
"Apa masih akan sakit?" Dengan polosnya Kiana bertanya demikian.
"Mungkin, karena kamu masih perawan sampai malam ini. Jadi rasa itu belum kamu lalui." Perlahan-lahan pria itu menjelaskan, setidaknya dia sudah berusaha sedikit menghilangkan rasa takut, yang Kiana rasakan pada malam hari ini.
"Apa jika sudah melakukannya tidak akan sakit lagi?"
Gadis itu terus membingkai wajah Jovian, jemarinya bergerak-gerak dengan perlahan, hingga menghadirkan rasa yang sangat luar biasa.
"Hanya di awal saja. Kesananya pasti tidak akan. Kamu pasti bisa menikmati setiap proses yang kita lakukan, Baby!" Suara Jovian terdengar rendah. Dengan sorot mata yang semakin kalang kabut.
Dan Kiana tahu jika Jovian sedang berusaha menahan sesuatu. Mungkin perasaan yang tidak bisa dia jelaskan oleh kata-kata.
"Baiklah. Ayo kita lakukan malam ini!"
Tangan Kiana menelusup di balik kaos tidur yang suaminya pakai. Dan menyentuh otot perut Jovian dengan gemas.
"Sayang, ayo kita lakukan malam ini." Pinta Kiana, dia berbisik tepat di hadapan wajah suaminya.
Jovian diam, berusaha melihat keyakinan pada sorot mata Kiana. Karena dia tidak mau kali ini berhenti bahkan saat belum melakukannya.
"Jovian?" Panggil Kiana tak kalah rendahnya. Karena memang keinginan itu dia rasakan.
"Kamu yakin?" Suara itu terdengar semakin berat.
Kiana menjawab pertanyaan Jovian dengan anggukan.
Tangan Jovian menarik pinggang Kiana untuk lebih mendekat lagi, lalu kemudian menyatukan kening satu sama lain.
"Aku tidak mau berhenti sekarang. Dan sebaiknya persiapkan saja dirimu, kita akan melakukannya jika kamu sudah tidak merasa ragu dan takut, … karena jika kamu memaksa, aku tidak akan peduli terhadap rasa sakit yang kamu rasakan." Hembusan nafas memburu menyapu wajah Kiana.
Membuat gadis itu memejamkan matanya, dengan desiran-desiran yang sudah sangat dia rasakan. Bahkan sesuatu terasa seperti sebuah sengatan tegangan rendah, menyapu seluruh kulit tubuh Kiana.
"Aku tidak akan berteriak. Aku juga tidak akan menghentikanmu. Aku janji!"
Kiana mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, lalu menyentuh ujung pakaiannya, menarik ke arah atas, dan melemparkan kain itu begitu saja. Sampai kini keadaan Kiana polos tanpa apapun.
"Aku menginginkanmu, Jovian." Katanya, lalu naik ke atas tubuh Jovian, duduk mengangkang di atas perut pria itu tanpa merasa malu.
Kiana membungkuk, meraih bibir Jovian dan segera memangutnya dengan penuh perasaan. Mata Kiana terpejam, apalagi saat Jovian mulai membalas setiap sentuhan yang dia belikan.
Tangan kekar Jovian mulai bergerak nakal, dia menyentuh hampir setiap lekuk tubuh Kiana. Satu tangan Jovian meremat bokong Kiana, sementara satu tangannya menyentuh gundukan kembar, yang begitu pas berada dalam genggamannya.
Rintihan Kiana mulai terdengar, saat Jovian menghisapnya dengan sangat kencang, tak lupa memberikan gigitan gemas, dan ******* Kiana pun terdengar.
"Ahhhh!"
Jovian tersenyum, dia memeluk Kiana dengan sangat erat, kemudian bangkit dan membawa tubuh mungil itu ke arah ranjang tidur.
"Kau ini senang sekali menantang yah!?" Jovian menggeram.
Dia segera menarik pakaian bagian atasnya, melemparkan sampai tergeletak di atas lantai. Lalu melakukan hal yang sama pada pakaian yang lain, sampai dirinya kini benar-benar polos seperti wanita di bawahnya.
Yang sudah berbaring pasrah, dengan ekspresi wajah nakal.
"Ingat! Jangan memintaku untuk berhenti. Just mine Kiana Danuarta."
__ADS_1
"Just mine?" Kiana terkekeh.
"Ya, karena kamu hanya milikku sekarang. Semuanya milikku, tidak boleh ada yang melihat, apala lagi menyentuhnya. Dan jika itu terjadi, maka sudah kupastikan salah satu tulang dari bagian tubuhnya patah."
Ancaman itu terdengar sangat menakutkan. Ekspresi wajah Jovian pun terlihat serius, tapi entah kenapa itu terlihat seperti godaan yang sudah tidak bisa Kiana hindari.
"Oh sayang, kau sangat menakutkan." Kiana menggigit bibirnya.
"Dasar Rubah nakal!"
Jovian segera menyambar bibir Kiana, mengusapnya dengan kencang, dan saling mel*mat dengan perasaan menggebu-gebu.
Tangan Jovian menyentuh paha Kiana, membuatnya terbuka lebar, lalu memasukan satu jari kedalam inti tubuh Kiana tanpa menghentikan cumbuannya, membuat d*sahan Kiana kembali terdengar kencang.
"Emmmhhh, …"
Jovian sedikit menjauhkan wajahnya, lalu dia menyeringai saat melihat mata sayu Kiana, dengan kening menjengit, sampai membuat kedua belah alisnya mengkerut.
"Kau seksi sekali Kiana." Dia berbisik tepat di daun telinga gadis itu.
Jovian merasakan sesuatu di dalam sana berkedut dengan kencang, dan jarinya terasa dicengkram sangat kuat, sampai dia tahu jika Kiana sudah benar-benar siap malam ini.
"Sayanghh …"
"Ya, aku disini."
"Aku, … ngghhh!"
"Lepaskan saja, tidak usah ditahan. Berteriaklah semaumu! Bermalam disini memang keputusan yang bagus, jadi aku bisa menghajarmu tanpa harus takut jika kedua orang tuamu akan mendengarnya."
Jovian semakin mempercepat permainan tangannya.
Jovian menarik tangannya. Pria itu membiarkan Kiana menetralkan diri terlebih dahulu, sebelum dia benar-benar menerjangnya nanti.
"Baiklah, biarkan aku memakanmu sekarang. Ingat! Tidak boleh memintaku berhenti!"
Jovian membuka paha Kiana lebar-lebar, memposisikan diri, dan mengarahkan senjata miliknya yang sudah sangat siap.
Kiana menyentuh perut Jovian, dengan sorot mata yang terus bergerak, menatap benda itu dan Jovian bergantian.
"Ready Baby?" Jovian segera menekan pinggulnya.
Kiana tidak menjawab, dia hanya fokus menatap sesuatu yang akan segera mengobrak-abrik bagian tubuh terdalamnya.
"Good job. Kau harus tenang agar tidak terasa sakit!"
Jovian terus menekan, ketika dirinya sudah mendapatkan sedikit kesulitan.
Kiana mulai membuka mulutnya, menahan sakit yang kembali dia rasakan.
"Ngghhhh!" Wajahnya terlihat semakin memerah.
Namun jelas Jovian tidak peduli. Dia terus mendorong lagi dan lagi.
"Sayang, sudah tidak bisa!" Kiana merintih. "Sudah mentok, tidak usah di dorong lagi!" Rintihan itu terus terdengar.
Bahkan Jovian menatap Kiana hampir menangis, wajahnya memerah dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak! belum, … baru setengah." Tegas Jovian.
__ADS_1
Pria itu kembali mendorongnya, sedikit lebih memaksa. Namun masih belum dapat merobek selaput dara yang menjadi sebuah penghalang di dalam sana.
"Jovian!"
"Sedikit lagi."
"Berhentilah sebentar, rasanya sangat menyakitkan." Rengek Kiana.
Jovian menuruti keinginan istrinya, dia kembali mencumbui Kiana, yang saat ini terlihat sedikit tegang, karena rasa sakit yang membuatnya ketakutan.
Tapi dia tidak dapat menolak, karena memang ini yang dirinya inginkan.
"Biar aku selesaikan sekarang, oke?" Jovian berbsisik, lalu mencium tengkuk Kiana.
Gadis itu mengangguk.
"Tarik dan hembuskan nafasnya sayang. Kamu panik dan membuat semuanya semakin sulit."
"Sepertinya bukan aku. Tapi milikmu yang terlalu besar!" Kiana berbicara sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan di dalam inti tubuhnya.
"Diamlah."
Jovian kembali membuka kaki Kiana agar semakin terbuka lebar. Lalu menekan pangkal pahanya, dan kembali mendorong.
"Kau gila!" Kiana menjerit.
"Diam!"
"Ini sakit." Kalian merengek.
Kedua tangan Jovian menekan pangkal paha Kiana semakin kencang lagi, lalu mendorong punggungnya dan bergerak dengan sekali hentakan kencang.
Dan terbenamlah seluruh milik Jovian di dalam sana.
"Jovian!!" Kiana merintih kencang.
"Argghhh, … i got it Baby!" Jovian menggeram.
"It really hurts." Rintihan pilu itu, terdengar semakin pilu.
Cup!!
Jovian mencium bibir Kiana.
"I don't wanna hurt you, Baby. But it's a process, dan kamu harus melewatinya."
Jovian mulai menarik dan mendorong pinggulnya, membuat tangisan Kiana segera pecah. Namun seperti apa yang Jovian katakan sebelumnya, dia tidak akan berhenti, tidak peduli dengan Kiana. Entah dia menangis ataupun berteriak, dirinya akan terus melakukan itu hingga benar-benar tuntas.
Dan setelah sekian lama. Rintihan itu mulai hilang, berubah menjadi suara-suara erotis yang begitu indah. Mengalun memenuhi langit-langit kamar apartemen, pada hampir lewat tengah malam hari ini.
Geraman, rintihan, d*sahan, dan suara perpautan keduanya saling bersahutan di dalam sana.
Lampu kamar yang mati, gorden kamar yang terbuka, juga televisi yang menyala. Menjadi sebuah saksi bisu jeritan kesakitan Kiana saat Jovian merobek selaput daranya. Namun segera berubah setelah beberapa saat, dengan racauan yang tidak Jovian mengerti.
......................
Like, komen, kopi, mawar.
Dukungan dari kalian sangat berarti lho buat othor. Setiap komen kalian bikin othor senyum-senyum sendiri kadang, saking lucunya.
__ADS_1
Terimakasih yah, cuyung kalian ♥️♥️