Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Mahar.


__ADS_3

Asisten rumah itu kembali lebih dulu, meninggalkan Kiana juga Herlin begitu saja.


"Ayo sayang!" Ajak Herlin.


Kiana menatap dirinya dulu dari pantulan cermin, memastikan jika penampilannya terlihat sempurna, dan setelah itu dia menggandeng lengan sang ibu, lalu berjalan ke arah luar kamar, dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.


Suara tawa pelan Jonatha dan Danu bersahutan, tatkala keduanya melontarkan kata-kata candaan untuk menghilangkan kecanggungan saat pertama kali bertemu.


"Silahkan duduk. Beberapa waktu lalu Kiana menyampaikan, … jika keluarga calon suaminya lebih senang duduk lesehan di atas karpet dari pada di sofa. Jadi Sofanya saya geser, terus gelar karpet saja disini." Suara Danu terdengar lagi.


"Kiana perhatian sekali. Memang benar, kamu lebih senang duduk di bawah daripada di sofa." Jelas Jonatha. "Lebih nyaman dan leluasa, … atau bisa disebut kebiasaan kami mungkin." Sambung Jonathan.


"Sekali lagi maaf. Malam-malam mengganggu jam istirahat Bapak dan keluarga." Leni ikut berbicara.


"Tidak. Tidak sama sekali, kami senang jika pertemuan ini dapat disegerakan."


Danu bergantian menyambut keluarga Jovian, menyalami satu-persatu, sampai tamu kebesarannya itu duduk dengan nyaman, beralaskan sebuah karpet merah dengan corak keemasan yang tentu saja terlihat sangat mewah.


Tidak lama setelah itu Kiana datang bersama Herlin. Membuat Jovian segera mengalihkan pandangan ke arah gadis yang saat ini berdiri di belakang tubuh ibunya, menundukan kepala dengan raut wajah malu-malu.


Beberapa kali Jovian menangkap Kiana tengah curi-curi pandang ke arahnya, dan jelas itu membuat Jovian tersenyum karena merasa gemas, dengan tingkah gadis itu.


"Selamat malam, selamat datang!" Sapa Herlin kepada calon besannya.


Dia segera mendekat, lalu saling memeluk satu sama lain.


"Maaf meminta Jovian untuk segera mempersingkat waktunya." Kata Herlin kepada Leni.


"Tidak apa-apa. Kami justru sangat bahagia, … dua tahun cukup untuk menyendiri, dan jika sudah ada calonnya maka memang harus disegerakan. Niat baik tidak boleh ditunda." Leni menatap Herlin sambil tersenyum.


Setelah itu Herlin beralih kepada Adline, lalu Javier dan Jonathan.


"Ini cucu?" Herlin menatap Jonathan dan Leni bergantian.


"Iya, … cucu pertama kami dari Javier. Kakaknya Jovian."


Herlin tersenyum gemas, lalu wanita itu menyentuh pipi Axel dengan gemas. Membuat anak tampan itu menyembunyikan wajah di balik tubuh sang ibu.

__ADS_1


"It's okay! Ini Oma juga. Mamanya Aunty Kia." Adline menjelaskan.


Sementara Axel menoleh, dengan cara menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, anak kecil memang terkadang sedikit sulit untuk bersosialisasi dengan orang baru."


Herlin tersenyum, kemudian dia beralih kepada Kiana yang sudah duduk bersisian dengan Danu di belakangnya, sambil menunduk menyembunyikan wajah terus menerus. Apalagi saat Jovian tak pernah mengalihkan mengalihkan pandangannya sama sekali, membuat Kiana merasakan debaran yang terus meningkat.


"Kami sekeluarga bingung, entah harus membawa buah tangan apa. Jadi saya menyarankan Mamanya Jovian untuk membeli kue saja, … mungkin kapan-kapan saya dan Mamanya Jovian akan membawakan sayuran-sayuran segar dari desa." Kata Jonathan sambil bercanda.


"Jika mau datang, maka datanglah. Tidak udah membawa buah tangan, kedatangan keluarga Pak Jonathan saja sudah membuat kami sangat senang." Danu tersenyum ramah seperti biasa.


Obrolan santai mulai terjalin. Dua kepala rumah tangga berbincang-bincang, membahas beberapa bisnis yang mereka miliki masing-masing, sementara para wanita menyampaikan kegiatan mereka sehari-hari.


Hingga sampailah pada pertanyaan yang cukup serius, dari Jonatha untuk Kiana.


"Minggu depan Jovian akan melamarnya secara resmi. Lalu setelah lulus kuliah, acara pernikahan akan langsung diadakan. Jadi jika Papi boleh bertanya, … mahar apa yang Kiana mau dari Jovian?"


Kiana yang sedari tadi menundukan kepala, seketika mengangkat pandangan ke arah Jonathan. Dimana pria itu tampak tersenyum hangat seperti biasa. Lalu dia beralih menatap Jovian, dan terakhir menatap ayah kandungnya dengan ekspresi bingung.


"Mahar itu adalah pemberian dari mempelai pria kepada mempelai wanita sebagai bukti kejujuran ia ingin menikahinya serta bukti perlakuan baiknya kepada calon istrinya." Danu menjelaskan dengan senyuman.


"M-mahar? Aku nggak tau mau minta apa sama Om Jovian." Ucapnya dengan raut lugu.


Yang seketika membuat semua orang tertawa. Termasuk Javier, bahkan pria itu memukul pundak adiknya beberapa kali karena merasa lucu.


"Lihat! Dia sangat lugu, dan kamu harus mengajarkan Kiana banyak hal. Termasuk yang satu itu, dimana kebutuhanmu harus terselesaikan jika kamu menginginkannya." Javier berbisik.


"Berhentilah!" Jovian menyentuh bahu saudaranya, dan mendorong kencang sampai mereka saling berjarak.


"Pikirkan saja, apa yang Kiana mau dari Jovian. Anggap saja sebagai tanda cinta." Leni tersenyum.


Wanita itu ikut gemas kala menatap ekspresi wajah Kiana. Antara kebingungan, juga menahan rasa malu. Namun tentu saja tidak menghilangkan kecantikan gadis berambut pendek itu.


"Apa saja?" Kiana menatap Leni, berusaha untuk lebih meyakinkan diri.


Sang calon ibu mertua hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kalau mobil boleh?" 


"Mobil?" Leni meracau.


Kiana mengangguk.


"Benar kata Mami. Mobil Om Jovian sudah tua, tapi tidak pernah mau ganti mobil. Bagaimana kalau mobil yang dijadikan mahar itu dipakai untuk kendaraan kami berdua?"


Leni diam, menahan senyumannya sambil menatap ke arah Herlin, Danu, dan berakhir pada Jovian.


"Tapi lebih baik, maharnya di khususkan untuk kamu." Adline ikut bereaksi.


"Mobil itu juga bisa khusus untuk aku, kan Om Jovian yang anterin aku kemana-mana."


Semua orang diam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Jovian menganggukan kepala, sebagai tanda setuju atas apa yang Kiana minta.


"Mau merk apa?" Jonathan dengan sangat antusias.


Tentu saja dia bahagia. Jika anaknya mendapatkan seorang gadis yang sangat luar biasa, apalagi Kiana terlihat mempunyai cinta yang begitu tulus kepada Jovian, membuat Jonatha ingin memberikan apapun yang gadis itu syaratkan.


"Apa saja. Yang penting layak aku pakai." Kiana menatap Jovian, lalu tersenyum.


Hal yang sama pria itu lakukan.


"Baiklah. Mumpung masih ada waktu, nanti Papi bantu Jovian mencarikan mahar yang sangat layak untuk calon istrinya yang sangat cantik." Kata Jonathan dengan bangga.


"Kalau begitu sudah clear yah!" Leni tersenyum lega.


Kiana, Danu dan Herlin tersenyum.


"Baiklah. Obrolannya kita bisa lanjutkan sambil makan. Sudah ada hidangan sederhana. Mari kita makan terlebih dulu."


Herlin bangkit, wanita itu berjalan ke arah meja prasmanan.


"Ka Vier, Ka Adline, Mami, Papi. Axel! Ayo kita makan dulu!" Ajak Kiana, dia bangkit.


Leni mengangguk, lalu dia bangkit. Dia susul Jonathan, anak, cucu dan menantunya dengan segera. Kemudian berjalan mengikuti Kiana ke arah jejeran wadah dengan berbagai macam makanan.

__ADS_1


......................


Jangan lupa like, komen, hadiah dan Vote kalo ada 😘😘


__ADS_2