
Kiana menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ibu hamil dengan perut yang semakin membesar itu terlihat santai, dengan tangan kanan yang terus mengusap-usap bayi di dalam kandungannya, sementara tangan yang lain memegangi handphone.
Raut wajahnya tampak sangat serius, ketika melihat dua mobil melaju dengan cepat, kemudian bergerak membuat putaran sehingga membuat area di dalam video sana berasap. Musik kekinian, dengan pengambilan video dari angle yang tepat, membuat Kiana terus berdecak kagum tanpa henti.
"Astaga mereka keren banget!" Seru Kiana.
Wanita hamil itu mengubah sedikit posisi duduknya, mencari posisi baru yang nyaman, dengan pandangan yang tidak teralihkan sedikitpun. Bahkan kedatangan Jovian di ambang pintu masuk sama sekali tidak membuat Kiana menyadarinya.
"Siapa yang keren?" Pria itu langsung membuka suara.
Dia berjalan ke arah dalam, tentunya setelah menutup pintu rumah lebih dulu. Dengan perasaan penuh curiga, karena sempat berpikir Kiana mengatakan itu untuk pria lain.
Kiana tidak menyahut, entah terlalu serius atau karena memang volume musik di dalam video yang sangatlah kencang, sehingga perempuan itu tidak dapat mendengar hal lain selain suara yang berasal dari video tontonannya.
Jovian meletakan tasnya di atas meja makan, lalu berjalan menghampiri sang istri, yang hari ini tampak sedikit mengabaikannya.
"Apa yang kamu lihat sampai tidak mau menjawab pertanyaan aku, sayang?" Dia langsung merebut handphone milik Kiana, seraya memeriksakan tontonan yang sedang dilihat istrinya itu.
"Eh, kamu sudah pulang?" Tanya Kiana, lalu mengubah posisi malasnya menjadi duduk tegak.
"Apa ini? Kamu menonton video balapan?" Cicit Jovian.
"Bukan balapan, Papa. Itu drift namanya!"
Jovian memutar kedua bola mata, kemudian menghela nafasnya dengan sangat kencang. Tiba-tiba saja dirinya takut, jika suatu saat nanti akan terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan kepada anak kembar mereka.
Hari ini dia bisa membuat Kiana tunduk, menjauh dari sesuatu yang membahayakan. Tapi siapa yang akan menjamin jika anak mereka tidak akan pernah melakukan hal serupa? Yang pernah Kiana tekuni bahkan dijadikan sebagai cita-cita dan hobi.
Darah lebih kental dari air, dan suatu hobi yang sama terkadang menurun setelahnya.
"Sama saja, itu adegan berbahaya untuk ditonton!" Katanya.
Kemudian dia mengotak-atik handphone milik Kiana, sehingga video yang sempat Kiana tontong tidak dapat kembali di lihat.
Perempuan itu bangkit dengan susah payah, kemudian berjalan mendekat dan memeluk tubuh Jovian, berusaha membuat pria itu tenang, saat Kiana melihat gelagat aneh dari raut wajah suaminya.
Tidak tahu kesal karena dirinya abai, atau karena dirinya menonton video yang sangat dia sukai. Setidaknya itu bisa membuat dirinya bahagia, walaupun tidak dapat mewujudkan mimpinya karena larangan keras dari sang ayah Danu.
"Aku tidak mengizinkan kamu melihat video seperti tadi. Masih banyak tayangan yang bagus, kenapa kamu memilih melihat hal semacam itu!" Jovian bersungut-sungut.
__ADS_1
Semula yang wajah Kiana menempel di dadanya pun sedikit menjauh, lalu menengadahkan pandangan sehingga mereka berdua dapat saling menatap manik satu sama lain.
"Ish pulang-pulang ngomel," Kiana mendelik, lalu kembali menempelkan wajah pada dada suaminya, sehingga detak jantung Jovian dapat didengar Kiana dengan sangat jelas.
Mereka berdua diam untuk beberapa waktu dalam posisi yang sama, sampai terdengarlah helaan nafas panjang dari Jovian.
"Udah ah, males aku sama kamu!" Tangan kecilnya memukul dada bidang Jovian.
Kiana melepaskan lilitan tangannya di pinggang Jovian, hendak pergi setelah mendapatkan sedikit Omelan yang tentunya tidak dapat dirinya terima. Namun, Jovian menahannya, dia bahkan kembali menarik Kiana sampai perempuan itu menempelkan diri seperti semula.
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Apanya? Orang pulang langsung gitu. Nggak asik ah, udah jarang ketemu karena pekerjaan kamu yang mulai sibuk, sekarang pas lagi di rumah malah begini!"
Jovian menyentuh pipi Kiana, menyingkirkan beberapa helai rambut yang terlepas dari jepit rambutnya.
"Dengar, jangan melihat video seperti itu lagi. Tontonlah panduan ibu hamil atau apapun, … pikiran aku tidak bisa tenang kalau kamu terus melihat hal semacam itu."
"Memangnya kenapa? Cuma melihat. Aku tidak melakukannya lagi bukan?"
Jovian mengangguk.
Kiana diam.
"Mereka itu anak kita. Postur tubuh, warna kulit, kemiripan wajah, dan hobi dari kita mungkin akan menurun. Dan kamu tahu apa yang membuat aku khawatir, Baby? Bagaimana kalau mereka menyukai hal yang sama seperti dirimu? Aku bisa menjagamu sekarang. Tapi nanti? Mereka tubuh besar saat aku sudah tidak mampu melakukan banyak hal. Aku pasti sudah tua, sayang," ujar Jovian panjang lebar.
"Kamu mikirnya kejauhan!"
"Aku mengkhawatirkan kalian. Ini bukan soal berpikir jauh atau berlebihan, … aku hanya ingin kalian tidak ada dalam bahaya. Umur tidak ada yang tahu, syarat meninggal tidak harus muda ataupun sakit. Aku hanya takut aku pergi ketika mereka masih kecil, lalu bagaimana dengan dirimu? Apa kamu bisa mengatasi mereka?"
Umurnya yang terpaut sangat jauh, menjadikan Jovian berpikir kritis. Banyak ketakutan yang mulai dirinya rasakan, bayangkan saja. Dirinya baru akan memiliki anak ketika sudah berusia 38 tahun. Anak-anaknya akan tumbuh saat usianya tidak muda lagi.
"Sejak kapan apa yang kita tonton akan mempengaruhi hobi anak?"
"Tidak tahu, tapi itu terbukti. Dulu Adline suka sekali dengan Lego, dia bahkan seperti anak kecil yang selalu ingin mengoleksi benda-benda itu. Lihat sekarang Axel, dia menyukai apa yang dulu Adline senangi."
Pandangan Kiana mendongak.
"Mungkin itu hanya kebetulan, sayang. Tahu sendiri anak sekarang memang suka mainan yang seperti itu!"
__ADS_1
"Tidak, memang ada beberapa kasus seperti itu, Baby."
"Masa?" Kiana menatap suaminya dengan ekspresi tidak percaya.
Jovian mengulum senyum, lalu kembali mengudap pipi Kiana dengan lembut.
"Aku serius sayang."
Kini perempuan itu yang tersenyum.
"Kalau pun nanti anak-anak kita suka drift. Ya tidak apa-apa, yang penting di tempat yang seharusnya dengan segala macam atribut keamanan agar dia tidak cedera."
Namun, Jovian segera menggelengkan kepala. Kali ini dirinya benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Rasanya sangat menakutkan bahkan hanya karena bayang-bayang di dalam kepalanya.
"Aku tetap tidak mengizinkan. Itu terlalu bahaya, ada hal yang lebih baik daripada itu, salah satunya menjadi petani teh seperti Papa nya, atau menjadi penambang hebat seperti kakek mereka."
Kiana tertawa.
"Kamu mulai mirip kayak Papa, semua hal di bikin takut sama di bikin ribet."
"Tidak!"
"Iya, kamu menakutkan sesuatu yang jelas masih sangat jauh. Lagi pula jangan dibandingin sama aku, waktu itu aku balapan liar, … dan jika benar terjadi aku juga tidak akan mengizinkan mereka melakukan itu, kecuali di tempatnya."
Jovian kembali membuka mulutnya untuk menjawab, tapi jari telunjuk Kiana yang dia letakan di bibir suaminya jelas membuat pria itu terdiam.
"Pagi-pagi kamu pergi untuk menemui Papa, lalu setelah itu izin pergi ke rumah Om Denis. Sekarang pulang mengomel seperti ini? Diam atau sana pergi lagi?" Bisik Kiana, lalu dia menjauhkan jari telunjuk dari bibir suaminya.
Jovian menelan salivanya dengan susah payah, sampai jakun pria itu terlihat naik dan turun berkali-kali dengan pelan.
"Anak kita masih di dalam perut, akan banyak waktu sampai dia dewasa dan memilih apa yang ingin dia lakukan. Jadi diamlah dulu, kamu terlalu berlebihan dalam hal ini!"
Lalu Kiana beranjak pergi dari hadapan suaminya, berjalan melewati pintu kamar yang memang terbuka lebar setelah sang asisten rumah membersihkan kamarnya beberapa jam setelah Jovian berpamitan untuk pergi.
Sempat diam sambil menatap punggung Kiana yang berjalan semakin jauh dengan susah payah.
Lalu menerka-nerka dengan sikap istrinya saat ini. Setiap kata yang terucap memang terdengar tegas, tapi perempuan itu tidak memperlihatkan jika dirinya sedang marah.
"Sayang?" Jovian berteriak.
__ADS_1
Kemudian dia melesat, memasuki salah satu ruangan yang dijadikan kamar tidur untuk sementara, setidaknya sampai perempuan itu melahirkan.