Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Rasa kesal Jonathan


__ADS_3

Sebuah taksi berhenti tepat di sebuah lobby gedung apartemen yang berdiri di tengah-tengah kota Tangerang Selatan. Yang setelahnya keluarlah Kiana, dengan keadaan yang terlihat tidak begitu baik.


Lalu dia sedikit membungkukan tubuh, menatap seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai supir taksi.


"Pak, tunggu sebentar boleh? Aku ambil dulu uangnya ke atas, … dompet aku kecopetan soalnya." Ujar Kiana, yang segera dijawab anggukan oleh supir taksi tersebut.


Kiana berjalan cepat memasuki sebuah pintu kaca besar, dimana terdapat dua penjaga keamanan di sana. Untuk kemudian mendekati sebuah pintu besi yang berada di salah satu sudut tempat yang cukup luas itu


Tring!!


Suara dentingan itu menjadi sebuah tanda jika pintu besi di hadapan Kiana segera terbuka. Dan setelah itu Kiana melangkah masuk ke dalam sana, sampai pintu kembali tertutup seperti semula.


Beberapa detik berdiam diri di dalam sebuah kotak besi yang bergerak menuju lantai teras. Akhirnya pintu lift kembali terbuka, membuat Kiana segera turun dan berlari menyusuri lorong, untuk mencapai salah satu pintu unit yang ada di sana.


Terlebih dulu Kiana mengusap kedua pipinya menggunakan punggung tangan. Hingga setelah itu dia menekan tombol bell yang tersedia.


Cukup lama Kiana menunggu, bahkan dia hampir putus asa karena mengira sang pemilik unit tidak ada di tempat. Tapi sesaat sebelum dia pergi, pintu apartemen itu terbuka, dan munculah seorang pria dari dalam sana, dengan pakaian santai dan sebuah earphone melingkar diatas kepala sampai menutupi kedua daun telinga.


Kevin mematung.


Keduanya saling menatap dalam diam. Terutama Kevin yang sedikit terkejut karena melihat keadaan Kiana yang cukup berantakan. Setelan baju pendek, sendal jepit, dengan wajah sembab, mata bengkak, dan hidung yang sangat merah.


"Vin?" Dia menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hey! Are you okay?" Kevin melepaskan earphone yang menutupi telinganya, membuat benda itu melingkar di leher, lalu mendekati Kiana.


"Aku nggak tau harus kemana. Aku bingung, aku nggak bawa apa-apa, … boleh nggak aku pinjam uang untuk bayar taksi, terus nginep di sini semalem aja!"


Kiana kembali menangis. Rasa kecewanya tidak langsung menghilang, meskipun dia sudah berjalan sangat jauh. Nyatanya setiap kata dan sikap Danu dan Jovian masih terekam jelas di dalam memori Kiana.


Kevin segera mengangguk.


Kiana menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya, lalu bersimpuh telah di hadapan Kevin, dengan suara tangisan yang terdengar semakin pilu.


"Aku capek, Vin!"


"Baiklah, masuk dulu. Kamu boleh diam disini sampai kamu merasa lebih baik, oke?"


Dia membungkuk, meraih pergelangan tangan Kiana, lalu menggiring perempuan itu masuk, sampai duduk di sofa ruang tengah.


"Di bawah ada supir taksi yang masih nungguin, bolehkan pinjam uangnya buat ongkos aku?"


"Ya, biar aku yang ke bawah. Kamu boleh tunggu disini!"


Dia berjalan ke arah dapur, membuka lemari pendingin, lalu membawa satu botol air mineral kemasan, dan memberikannya kepada Kiana setelah membuka segel tutupnya terlebih dahulu.


"Minumlah dulu, tenangkan dirimu. Lama menghilang datang-datang dalam keadaan seperti ini! Kamu membuat aku sangat terkejut, Kia!" Ujar Kevin.

__ADS_1


Kiana meraih air minum yang Kevin sodorkan, meneguknya sedikit, lalu dia letakan di atas meja.


"Sudah?"


Kiana mengangguk.


"Baik, aku ke bawah dulu untuk bayar ongkos taksi kamu."


Kevin beranjak memasuki kamar. Dia terlihat membawa sebuah dompet, yang kemudian berjalan ke arah pintu, dan keluar meninggalkan Kiana sendirian di dalam apartemen sana.


***


Setelah hampir tiga jam memutari jalanan hanya untuk mencari Kiana. Akhirnya Jovian memutuskan untuk menyambangi rumah mertuanya. Dia bukan sedang menyerah, hanya saja energi yang mulai terkura membuat fokusnya berhamburan, dan itu sedikit berbahaya jika harus terus berkendara dalam keadaan pikiran kalut dan lelah.


Mobil yang Danu pakai sudah berada terparkir di garasi rumah. Dan tidak lama setelah itu Herlin terlihat membuka pintu, lalu keluar di susul Danu, Jonathan dan Leni.


"Bagaimana?" Leni segera bertanya setelah putranya keluar dari dalam mobil.


"Apa Kia ada di apartemen? Lalu tidak mau pulang karena marah kepada Papa nya?" Herlin ikut bertanya.


Bahkan wanita itu terlihat panik, dengan wajah sembab karena dia terus menangis mengkhawatirkan keadaan putrinya yang pergi dalam keadaan marah. Namun, Jovian segera menggelengkan kepala. Entah harus kemana lagi dia mencari, karena hampir setiap jalan dia susuri, setiap tempat dia datangi, dan Kiana tidak ada disana.


"Maaf! Tapi Jovian tidak menemukan Kiana dimana-mana. Sepertinya selain Kiana marah kepada Pak Danu, dia juga marah kepada Jovian." Jovian berujar. Yang seketika membuat dadanya menjadi sesak.


Apalagi saat mengingat sikapnya tadi sore, sudah bisa dipastikan Kiana tidak akan memaafkannya.


"Dia berulah lagi!" Gumam Danu pelan.


Namun masih dapat di dengan Herlin dengan sangat jelas, membuat Wanita itu segera naik pitam.


"Apa!?" Herlin beralih menatap wajah suaminya. "Dia berulah? Dari mana dia berulah? Kejadian ini masih simpang siur, aku tahu bagaimana putriku, dia tidak akan bertindak brutal jika seseorang tidak mengusiknya lebih dulu!" Ucap Herlin dengan amarah yang terlihat begitu besar.


Jelas, tidak akan ada ibu yang baik-baik saja jika putrinya tersudutkan. Tapi keadaan memang sedang tidak berpihak kepada Kiana, sampai tidak ada saksi dalam kejadian sore hari tadi.


"Bu Herlin? Kita cari lagi Kiana besok, dia masih sangat muda, emosinya meluap-luap, jadi biarkan dia sendiri dulu." Leni merangkul pundak besannya. "Dia gadis yang pintar, jadi tidak mungkin melakukan hal-hal yang buruk."


"Tidak, Bu Leni! Suami saya memang tidak pernah mengerti bagaimana putrinya. Kita sebagai orang tua memang harus bijak! Jika salah ya disalahkan, jika benar ya dibenarkan, … tapi dalam hal ini Kiana tidak pernah sama sekali mendapatkan pembelaan atau dukungan dari Papanya, jadilah dia yang keras seperti itu." Herlin mengarahkan telunjuk tangannya tepat di hadapan Danu.


Sementara Danu hanya diam dan mual memejamkan mata.


"Sebaiknya kita tunggu di dalam." Jonathan berbicara.


Dia mulai merasa khawatir karena keadaan semakin tidak kondusif.


"Dia hanya butuh dukungan. Setidaknya jika aku tidak bisa melakukan itu, maka lakukan oleh kamu, Pah! Aku tidak tahu sebesar apa rasa kecewa yang dia rasakan sekarang. Hari ini kamu memojokan Kiana, bahkan terus mencercanya tanpa mendengarkan penjelasan Kiana lebih dulu! Lalu Eva mau Kiana meminta maaf? Dan mengakui satu hal yang bahkan mungkin saja tidak dia lakukan?"


Suara Herlin bergetar hebat, menahan rasa sesal yang teramat sangat.

__ADS_1


"Jovian?" Lalu Herlin beralih pada menantunya. "Apa kamu tidak bisa melacaknya? Mama yakin kemampuan kamu lebih dari sekedar menjaga seseorang."


Jovian tidak langsung menjawab.


"Sayangnya salah satu alat yang bisa di lacak tidak Kiana bawa!" Jovian segera menundukan pandangan, menatap tas berukuran sedang milik istrinya. "Dompet, handphone dan semua barangnya ada di dalam tas ini!" Jelas Jovian.


"Astaga!" Herlin semakin kalut, dan dia menangis lagi.


"Kita bisa mencari Kiana besok, sebaiknya Bu Herlin istirahat, kejadian ini membuat emosi kita tidak terkendali, dan itu tidak baik." Leni membawa Herlin masuk kedalam rumah setelah wanita itu mengutarakan isi hatinya.


Sementara para pria masih berada disana, diam dengan pikiran masing-masing.


"Pak Danu. Mari istirahat, mencari Kiana akan membutuhkan banyak energi." Kata Jonathan.


"Iya, Pak. Sebaiknya anda juga istirahat, menghadapi Eva dan Ayahnya cukup sulit, lalu setelah ini kita harus menghadapi Kiana." Ucap Danu, lalu melenggang ke arah dalam lebih dulu, meninggalkan Jonathan dan putranya dengan perasaan serba salah.


Setelah kepergian Danu. Jonathan mengarahkan pandangan kepada putra keduanya, menatap pria itu lekat-lekat dengan perasaan kecewa.


"Kamu dengar? Kamu harus mempunyai banyak energi untuk menghadapi Kiana setelah ini!" Sorot matanya terlihat semakin tajam.


"Apa yang kamu pikirkan? Kami para orang tua memang harus bijak, tapi sikapmu yang seolah meragukan Kiana, membuat menantuku jelas kecewa kepadamu. Papi tidak tahu kejadian apalagi setelah ini, dan Papi harap kamu akan lebih tegas, pertahankan harkat dan martabat istrimu, bela dia! Dan jangan membuat dirinya merasa sendirian, seperti sore hari tadi!" Jonathan memberi sebuah peringatan.


Lalu pergi masuk ke arah dalam, tanpa berbicara lagi.


Dan Jovian hanya bisa diam, tanpa menjawab apapun. Karena apa yang dikatakan sang ayah jelas seperti tamparan yang begitu keras.


"Aku hanya bingung harus berbuat bagaimana, tadi!" Gumam Jovian.


"Bingung karena takut menyakiti mantan istrimu? Lalu kamu mengabaikan perasaan istrimu sendiri?" Jonathan menggeram pelan.


Jonathan yang mendengar umpatan Jovian segera menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan untuk menatap Jovian yang saat ini berdiri di ambang pintu dengan raut wajah penuh keterkejutan.


"Pakai akal sehatmu, Jovian! Jangan membuat Papi malu, … kamu ini laki-laki dewasa, pernah berumah tangga, dan sudah seharusnya kamu tahu bagaimana harus bersikap!" Jonathan benar-benar terlihat kesal.


Dan setelah itu Jonathan benar-benar pergi.


Jovian menghela nafasnya.


"Astaga! Sebelum menghadapi Kiana aku sudah harus menghadapi ayah mertuanya! Seseorang yang lebih keras daripada ayah mertuaku sendiri." Batin Jovian berbicara.


......................


Jangan lupa emak-emak readers juga ada di pihak neng Kia, Om 😌.


Eh eh eh ... selamat menunaikan ibadah puasa, semangat untuk sahur pertamanya, jangan kesiangan ya cuyung☺️


Mohon maaf lahir batin yah, siapa tau ada ucapan othor yang makjleb di ulu hati, semoga berkenan memaafkan othor remahan kaleng kongguan ini 🫂

__ADS_1


cuyung kalian ♥️


__ADS_2