Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Moody's


__ADS_3

Mangkuk berukuran kecil Kiana letakan di atas meja, tak lupa membelah buah markisa nya menjadi dua bagian, lalu mengeluarkan isinya ke dalam mangkuk yang sudah tersedia menggunakan sendok. Kiana menambahkan sejumput garam, memasukan potongan cabe rawit merah yang ia minta pada asisten rumah, kemudian mengaduk markisa tadi sebelum akhirnya menjejalkan satu suapan ke dalam mulut.


"Astaga ini enak sekali!" Matanya terpejam, seraya menggelengkan kepala beberapa kali.


Sementara Danu, Jovian dan Herlin menatap Kiana dalam diam. Bahkan beberapa kali bibir mereka mengecap, ketika rasa asam dari markisa itu sendiri terbayang.


"Oh astaga, air liurku hampir menetes!" Jovian berbicara dengan suara pelan seraya mengusap bibirnya.


Taman bagian belakang menjadi pilihan mereka untuk berkumpul, menikmati suasana sore hari dimana langit hijau dengan semburat oranye terlihat sangat indah, ditemani hilir angin sejuk yang berhembus samar menerpa pepohonan sehingga berbunyi riuh.


"Kalian tidak mau? Ini enak sekali tahu! Segar. Asam, sedikit manis, asin dan juga pedas!" Katanya dengan raut wajah ceria.


Tiga orang yang sedang memperhatikan Kiana serentak menggelengkan kepala.


"Ish ish ish, … kalian kompak banget!" Kiana tertawa.


Dan setelah itu dia kembali menikmati rujak markisa kesukaannya. Yang dia petik di pohon belakang rumah, dan di tambahkan beberapa bumbu lain sehingga rasanya semakin nikmat.


"Padahal dulu Kiana hampir tidak pernah menyentuh buah itu. Meskipun Ipah sudah menambahkan banyak gula sehingga rasanya segar," bisik Herlin.


"Mungkin pengaruh si kembar," Danu sambil tersenyum.


Tatapan matanya bahkan kembali dia tujukan kepada sang putri tunggal. Dimana perempuan itu tengah menikmati rujak markisa kesukaannya dengan raut wajah gembira yang sedikit memerah karena mulai merasa kepedasan.


"Kamu mau sesuatu, Jo? Sejak tiba kita hanya memperhatikan Kiana saja," tanya Herlin pada menantunya.


Jovian mengulum senyum, seraya menggelengkan kepala.


"Kenapa? Jangan katakan hanya dengan melihat Kiana saja perut kamu sudah merasa kenyang!" Celetuk Danu.


Tawa Jovian pun menyembur, yang seketika membuat Kiana menatap mereka bertiga secara bergantian.


"Lanjutkan saja, Baby!" Kata Jovian kepada Kiana.


Yang saat ini wajahnya terlihat memerah, dengan mata berkaca-kaca.


"Ah pedas!"


Kiana mengibaskan tangannya di udara.


"Bibi!?" Teriakan perempuan itu. "Aku mau jus strawberry!" Lanjutnya dengan suara yang semakin kencang.


Jovian yang sedari tadi duduk memperhatikan pun mulai bereaksi atas apa yang Kiana alami, pria itu bangkit dan berjalan untuk mendekat. Namun, secara tiba-tiba Kiana bangkit, dan berlari turun dari atas gazebo sana sehingga membuat Herlin dan Danu terperanjat dengan ekspresi penuh keterkejutan.


"Tidak Kia! Jangan lari," cicit Herlin.


"Ah pedas!" Katanya.


"Astaga, Sayang!" Jovian langsung mengikuti istrinya dari belakang.


Keluhan yang selalu wanita itu katakan, membuat Jovian sedikit ketakutan meskipun keadaan perempuan itu sekarang tampak baik-baik saja.


"Hey berhentilah berjalan seperti itu! Perutnya sakit lagi nanti."


Jovian meraih lengan Kiana, menggenggamnya erat sampai perempuan itu berhenti melangkah.

__ADS_1


"Ih pedas tahu," rengek Kiana.


"Ada minuman di meja sana, kenapa kamu memilih berlari kesini? Membahayakan kamu tahu tidak!" Pekik Jovian dengan nada kesal.


Yang seketika membuat Kiana terdiam dengan bola mata yang terus bergerak-gerak.


"Kamu tidak sendiri, dan kelakuanmu yang begini membuat aku takut," suara Jovian seketika terdengar rendah.


Ketika mengetahui suaranya yang meninggi membuat perasaan istrinya terusik.


Kiana mendengus, lalu menghempaskan tangannya sehingga tangan Jovian terlepas. Kemudian berjalan cepat ke arah dapur tanpa menghiraukan suaminya yang mematung.


"Bi? Aku mau jus strawberry. Buahnya yang banyak, es batunya juga. Tapi jangan pakai gula yah!"


Dan suara itu jelas terdengar, sampai membuat Jovian memejamkan mata, lalu menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.


"Tapi kita nggak ada stok strawberry, Non."


"Adanya apa dong? Ayo aku kepedesan!"


"Cuma punya nanas, alpukat, Sunkist, sama kiwi. Itu juga tinggal beberapa."


"Jus kemasan ada?"


"Ada, tapi tinggal rasa jambu biji!"


Suara para perempuan di area dapur terus terdengar bersahutan.


"Aih kenapa kalian tidak berbelanja!" Celetuk Kiana dengan nada bicara sedikit ketus.


"Sudah, biarkan saja. Sifatnya yang dulu masih terbawa, jadi ya … sedikit menyebalkan," Danu tertawa.


Jovian bungkam, lalu kembali menatap ke arah pintu dapur berada.


"Biarkan dia dengan dunianya sekarang, … lebih baik kita berbincang-bincang sebentar. Sebelum nanti kalian ke Belanda dan menikmati liburan disana."


Jovian tetap tidak bersuara, tapi tak menolak saat Danu menarik pria itu ke dalam ruang kerjanya.


"Bagaimana kebun dan pabrik?"


Lantas Danu segera bertanya, saat mereka duduk di sofa yang berada di ruangan yang cukup luas. Dimana meja kayu dengan berbagai macam alat dan Dokumen terdapat disana.


"Baik, sangat baik. Perkembangannya juga bagus!"


Danu tersenyum mendengar jawaban dari menantu kesayangannya itu.


"Jadi sudah jelas kamu akan sangat kesulitan jika membantu Papa juga yah?!"


Jovian diam untuk beberapa saat, lalu menjawab setelah cukup lama berpikir.


"Mungkin sesekali bisa membantu."


"Papa harap begitu. Karena kalau nanti Papa sudah tidak ada, … Kiana akan sangat membutuhkan bantuan kamu. Kita tahu sendiri, dunia bisnis itu tidak sesederhana kelihatannya. Papa takut sesuatu yang buruk mengintai Kiana," ucap Danu.


Jovian mengangguk.

__ADS_1


"Papa meminta kamu menikahi, Kiana. Bukan semata-mata agar dia tidak terus melakukan hal-hal buruk. Tapi Papa tahu kalau kamu itu mampu melindungi Kiana lebih dari apa yang Papa lakukan, … jadi tolong jaga Kiana untuk Papa, mungkin memang sedikit akan menambah bebanmu, namun tidak ada yang dapat Papa lakukan selain meminta ini kepada kamu."


Jovian mengangguk kembali. Apalagi saat melihat raut wajah Danu yang terlihat semakin serius. Tampaknya pria paruh baya di hadapannya tengah mengalami ketakutan yang sering dirasakan oleh orang tua pada umumnya.


"Tenang, Pak. Semuanya akan baik-baik saja, mungkin sekarang Bapak kertular Kiana juga, … mood yang kurang baik membuat pikiran menjadi sedikit buruk," ujar Jovian.


"Memangnya bisa?"


"Bisa saja."


Dan obrolan itu berlanjut sampai suasana langit di luar rumah benar-benar gelap.


***


"Kia?"


Jovian berjalan tergesa di belakang istrinya, mencoba meraih tangan mungil itu yang terus mengayun, menghindar sejak saat drama jus terjadi.


"Hey, sayang? Dengar. Aku tidak bermaksud membentakmu, … aku hanya khawatir!"


Namun, Kiana tidak mendengar. Dia masuk ke dalam kamar lebih dulu, kemudian membanting pintu tepat di wajah Jovian. Sehingga membuat pria itu tak berkutik dengan perasaan campur aduk apalagi saat suara kunci di putar sebanyak dua kali.


"Baby!" Panggilnya sambil mengetuk pintu beberapa kali.


"Aku tidak bermaksud begitu, sayang. Aku hanya takut!"


Tidak ada jawaban.


"Kia? Sayang? Bukalah dulu!"


Jovian menekan handle pintu, meskipun dia tahu benda itu sudah terkunci dari dalam.


Dia menghembuskan nafasnya kasar, meletakan kedua tangan di kedua belah pinggang dan mengarahkan pandangan pada salah satu jam yang menempel di dinding ruangan.


9.30


Lalu seorang asisten datang menghampiri, dengan langkah sedikit ragu.


"Maaf, mau saya siapkan kamar di atas pak?" Tanyanya dengan wajah menunduk.


Jovian pun mengangguk.


"Ya, tolong siapkan. Dan katakan kepada Ipah tolong buatkan kopi hitam tanpa gula!"


"Baik."


Sang asisten segera melenggang ke arah dapur, sementara Jovian melangkahkan kakinya menuju pintu belakang rumah yang sudah tertutup rapat.


......................


Perkara jus😂😂


Lagian Bumil kenapa nggak bisa jalan santai sih, kan Papa Jo khawatir 🤭


Maafkan othor yang kelamaan update ya😂 abis pindahan lelah, hawanya mau rebahan terus.

__ADS_1


aylopyu 🧡💜


__ADS_2