Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Lime ocean


__ADS_3

Pohon-pohon disekitar bibir pantai terus bergerak-gerak, kala terpaan angin berhembus sangat kencang, seperti berputar-putar mengelilingi area pantai yang terlihat sangat luas. Membuat kening Jovian dan Kiana menjengit, dengan mata memicing saat angin itu menyapu wajah keduanya.


Dan setelah berjalan kaki cukup jauh. Akhirnya Jovian memutuskan membawa Kiana untuk duduk di kursi malas yang memang tersedia disana. Mengistirahatkan kaki yang terasa sedikit pegal.


"Kita harus pesan makanan dan minuman, kamu tahu? Ini area cafe, dan tidak boleh sembarang orang duduk di kursi yang mereka sediakan." Kiana menatap wajah suaminya lekat-lekat.


Jovian mengulum senyum, kemudian menganggukan kepala.


"Aku tahu. Ini bukan kali pertama aku ke Bali, Baby!" Pria itu terkekeh pelan.


"Hemmm, … tidak mungkin juga kalau kamu belum pernah kesini. Bali adalah salah satu destinasi bulan madu yang sangat direkomendasikan." Celetuk perempuan itu.


Kiana mengalihkan pandangannya dari Jovian lurus ke arah depan, menatap air laut yang terus bergerak-gerak, dan menimbulkan Kilauan emas saat cahaya matahari menyorot ke arah sana.


Jovian bungkam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan Kiana yang sudah dapat dipastikan bahwa perempuan itu mengerti bahkan tanpa harus dirinya jelaskan.


"Ah kenapa obrolannya selalu menjurus ke arah sana. Kita sedang berbulan madu, … jadi tidak boleh memikirkan hal lain, selain kita berdua! Atau kita akan bertengkar karena mood kamu menjadi sangat buruk." Jovian berkelakar.


Pandangan Kiana mendongak, menatap Jovian yang masih berdiri tepat di samping kursi malas yang perempuan itu tempati.


"Ya sudah, cepat pesankan minum dan cemilan yah!" Kiana tersenyum.


Dia berusaha memberitahukan kepada Jovian jika dirinya tidak ada masalah. Meskipun tidak dapat dipungkiri, dadanya selalu merasa sesak, mengingat ada banyak momen yang sudah suaminya buat bersama istrinya terdahulu, entah itu baik, maupun buruk. Setidaknya mereka melalui itu selama 5 tahun lamanya.


"Baik, tunggu sebentar oke?" Jovian memperlihatkan senyumana samarnya, kemudian mengusap pipi Kiana sebelum akhirnya pria itu benar-benar beranjak pergi.


Kiana merapatkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian menghela nafas panjang, seraya kembali menatap lurus kedepan.


"Kenapa aku jadi seperti ini? Dulu kayanya biasa aja, denger nama Tante Eva juga tidak pernah merasa aneh. Kok sekarang nyesek yah? Kaya sakit aja tau suami kita pernah sayang sama orang lain, … bisa jadi apa yang dia lakukan ke aku juga sama halnya dengan apa yang suka di lakukan Om Jovian sama Tante Eva! Dia bucin, sayang, posesif." Isi kepalanya berbicara.


"Ah mungkin juga tidak. Kan Om Jovian pernah bilang kalo dia belum pernah merasakan jatuh cinta sebesar cintanya sama aku. Lagian setiap manusia kan punya masa lalu, punya perjalanan hidup masing-masing, mungkin Tante Eva adalah salah satu manusia yang harus ada di dalam perjalanan hidup Om Jovian." Kiana membatin.


Hati dan pikirannya mulai tak sejalan. Yang satu mempunyai sudut pandang yang buruk, sementara sisi lain dirinya selalu berbicara hal yang baik-baik.


"Haih, … ternyata jatuh cinta serumit ini yah! Denger dia pernah ke Bali saja rasanya sakit sekali. Padahal nggak bilang ke Balinya sama siapa, belum tentu juga sama Tante Eva, … dasar pikiran biadab! Tidak bisakah berhenti memikirkan itu? Akunya jadi capek sendiri tahu!" Kiana bermonolog, dia merutuki dirinya sendiri.


Lalu menepuk-nepuk kepalanya cukup kencang, seolah sedang berusaha mengeluarkan pikiran-pikiran aneh. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, kemudian tersenyum sampai hatinya benar-benar terasa lega.


"Persetan dengan siapa wanita dimasa lalunya! Yang penting Jovian sudah bersamaku, dia mencintaiku, dan akan selalu bersamaku." Ucapnya sambil terus tersenyum.


"Ya, kau benar!" Jovian menyahut.


Ucapan itu sontak membuat Kiana terkejut. Dia menegakan tubuhnya, kemudian segera menoleh. Dan disanalah pria itu, berdiri tidak jauh darinya sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Dih nguping ya!" Todong Kiana seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Jovian.


Perempuan itu tersenyum gugup.


Jovian tak memperlihatkan reaksi apapun. Ekspresi wajahnya datar, menatap Kiana tajam, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi malas tepat di samping Kiana.

__ADS_1


Tangan Jovian terulur, menyentuh lengan Kiana, dan menarik perempuan itu sampai masuk kedalam pelukannya.


"Dengar!" Suara Jovian terdengar sangat lembut. "Tidak perlu memikirkan yang tidak harus di pikirkan. Cukup jalani rumah tangga kita, tidak perlu memikirkan orang lain, … apalagi orang itu Eva! Sungguh aku tidak suka melihat mood kamu menjadi buruk hanya karena pikiran kamu sendiri." Jovian berujar, dengan tangan yang mulai mengusap punggung Kiana.


Sementara perempuan itu diam mendengarkan, dan berusaha mengerti apa yang Jovian katakan, bahwa memang sesuatu yang buruk itu berasal dari pikirannya sendiri.


"Kita sedang berbulan madu. Besar harapan keluarga kita agar pulang membawa hadiah yang sangat mereka harapkan. Mama dan Papamu, … Mami Papi! Mereka pasti menginginkan satu hal, apalagi di usia mereka yang tidak muda lagi." Suaranya terdengar semakin lembut.


Membuat Kiana segera mengangkat pandangannya, menatap Jovian yang juga sedang menundukan kepala.


"Sebenarnya aku tidak mau terburu-buru, aku juga tidak mau membebankan ini kepadamu. Tapi umurku tahun ini tiga puluh delapan, … aku juga mengharapkan sesuatu sudah tumbuh di dalam rahimmu." Jovian tersenyum dengan hati yang berdebar-debar.


Tangan yang tadinya mengusap punggung Kiana, kini beralih mengusap perut istrinya.


"Membayangkannya saja sudah sangat bahagia, apalagi kalau memang benar ada di dalam sini, ya?" Senyumannya tidak pernah surut, bahkan raut wajah Jovian terlihat semakin berbinar.


Kiana menarik diri, sedikit menjauh untuk menegakan posisi duduknya, menundukan pandangan, kemudian menyentuh perutnya sendiri dengan senyuman hangat yang dia perlihatkan.


"Kita baru satu Minggu menikah. Apa sudah ada di dalam perut aku?" Senyuman Kiana semakin merekah.


"Kamu, … tidak meminum pil KB, atau menyuntikan sesuatu ke dalam tubuhmu kan?" Meski ragu, namun akhirnya Jovian memberanikan diri untuk bertanya.


Kiana menggelengkan kepala.


"Apa itu? Mama tidak memberitahu aku harus menyuntikan seuatu, atau meminum obat yang satu itu selain vitamin C agar daya tahan tubuh aku bagus." Jelas Kiana.


Jovian kembali menarik Kiana, dan memeluknya dengan erat.


Pria itu memejamkan matanya, dengan perasaan yang sangat luar biasa. Hatinya berdebar-debar, dadanya berdesir, persis seperti di penuhi ribuan kupu-kupu berterbangan di dalamnya, hingga menghadirkan rasa geli dan sesak di waktu yang bersamaan.


"Jangan berharap terlalu besar, … nanti kamu kecewa." Ujar Kiana saat Jovian melepaskan pelukannya.


Jovian hendak kembali membuka mulutnya untuk menjawab, namun seseorang tiba-tiba datang, membawa dua gelas minuman dingin, dengan dua piring berisikan kentang goreng juga onion ring.


"Silahkan." Seorang pelayan wanita meletakan nempannya di atas sebuah meja yang terletak tepat di hadapan kursi keduanya.


"Oh, iya. Terimakasih!" Kiana tersenyum kepada wanita berparas cantik itu.


Yang langsung di jawab senyuman tipis dan anggukan kepala. Lalu kemudian wanita itu pergi, kembali mendekati meja bar yang terlihat di penuhi oleh turis-turis asing.


"Aku tidak tahu mau pesan apa. Tadinya mau burger, tapi kamu sudah makan roti lapis." Kata Jovian.


"Jangan, ini saja sudah cukup. Aku bosan kalau harus roti lagi roti lagi!" Kiana menjawab.


Dia membawa satu kentang goreng, lalu menjejalkan ya ke dalam mulut.


Jovian tersenyum.


Rasanya begitu menggemaskan, saat melihat Kiana memakan kentang gorengnya dengan riang. Persis seperti seorang anak kecil yang baru saja di bawa makan ke restoran cepat saji.

__ADS_1


"Ah ini enak sekali." Kiana mengunyah dengan riang.


"Sayang ini apa?" Perempuan itu menunjuk gelas minumannya.


Dia menatap gelas berukuran besar, dengan air bening, yang terdapat potongan jeruk nipis, juga daun mint di dalamnya. Dan jangan lupakan buliran seperti krital yang memenuhi ujung gelas itu.


"Lime ocean. Entah, tapi mungkin kamu akan menyukainya, kata waiters ini salah satu minuman favorit disini." Pria itu menjelaskan.


Dahi Kiana mengkerut, lalu dia segera meraih salah satu gelas minumannya, lalu meminum langsung tanpa memakai sedotan, karena memang tidak di sediakan. Mungkin karena cara minumnya memang seperti itu.


Dan betapa terkejutnya Kiana saat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Minuman yang dingin dan terasa begitu segar, dengan rasa manis, asam dan asin.


"Whoaaa!"


"Bagaimana?" Jovian ikut meraih gelasnya, lalu meneguk perlahan seperti yang Kiana lakukan.


"Emmmm, ….pantas namanya Lime ocean."


"Ya, ini garam ternyata. Tapi rasanya nggak aneh sama sekali, malah lebih enak." Raut wajah Kiana semakin berbinar.


"Bagus bukan? Kita awali acara bulan madu ini dengan meminum Lime ocean, … setelah itu kita jajal tempat dan mencari makanan khas daerah sini."


Kiana mengangguk, terlebih dulu meletakan gelasnya, lalu memeluk Jovian dengan sangat erat, menempelkan pipi di dada bidang sana seperti biasa.


"Nanti malam. Ayo kita having fun!" Kiana berbisik, namun sudah bisa di pastikan bahwa Jovian mampu mendengarnya dengan sangat baik.


"Ah aku curiga kamu akan mengajakku clubbing."


"Memang iya, ayo kita nikmati bulan madu ini. Dan bersenang-senang sebelum nanti kamu sibuk mengurus kebun teh."


Jovia mengangguk, karena memang kali ini dia tidak bisa menikah keinginan istrinya.


"Baiklah."


Kiana melompat dari atas kursi malas, bersorak kegirangan, melompat-lompat sambil bertepuk tangan. Dan itu membuat seluruh sorot mata memperhatikan Kiana.


"Baby, stop it!" Suara Jovian sedikit memekik.


Kiana menurut, dia kembali duduk, dan menikmati minuman juga kentang dan bawang bombai goreng yang suaminya pesankan beberapa waktu lalu.


"Aaaaa, …. Terimakasih sayang!"


"Jangan membuat semua perhatian tertuju kepadamu, ingat!" Jovian memperingati.


Kiana mengangguk-anggukan kepala, dia benar-benar terlihat menurut seprti anak kecil yang sedang di peringati. Tersenyum dan hanya mampu menggerakan kepalanya beberapa kali.


"Ohh, … why she's look like a baby! Dia sangat menggemaskan, aku takut semakin tidak bisa menahan diri. Bahkan aku ingin segera menghajarkan hanya karena melihat dia bertingkah laku demikian." Suara hati Jovian bermonolog.


......................

__ADS_1


Hajar aja Om hajar, ... readers suka kok ... eh 🏃🤸🏃🤸


__ADS_2