
Jovian mendorong pintu kaca yang terletak di salah satu bangunan. Dia terus melangkah masuk, dengan pandangan mengedar mencari keberadaan seseorang di dalamnya. Dan disanalah Denis. Duduk di sofa dengan satu kaleng minuman di dalam genggamannya.
Tampaknya Denis sedang melamun, terlihat dari pandangan kosongnya yang terarah ke luar bangunan, bahkan pria itu sampai tidak menyadari keberadaan Jovian saat ini di sana.
"Kau baik-baik saja?" Jovian langsung bertanya.
Sontak membuat Denis tersentak ketika dia mendengar suara Jovian secara tiba-tiba.
"Jo? Kau sedang ada disini? Tidak bulan madu? Atau pergi berlibur seperti yang selalu para pengantin baru lakukan?" Seulas senyuman Denis perlihatkan. Namun jelas, tersimpan banyak ketakutan dan kekhawatiran di dalam mata kelamnya.
"Kau ini kebiasaan. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi!"
Terlebih dulu Jovian berjalan ke arah sebuah lemari pendingin, dimana terdapat berbagai macam minuman, dia membawa satu kaleng minuman dingin, lalu kembali mendekati Denis untuk kemudian duduk di sampingnya.
"Wajahmu terlihat lebih bersinar, Jo." Denis tersenyum menatap wajah sahabatnya yang memang terlihat sangat berbeda.
"Ucapanmu sama persis apa yang orang-orang katakan." Jovian terkekeh.
Dia membuka penutup kaleng, hingga terdengar suara seperti desisan pelan, kemudian meneguk air di dalam kaleng sana perlahan-lahan.
"Setelah bersama Kiana, aura wajahmu memang terlihat berbeda. Apalagi setelah menikah kemarin, rasanya Kiana memberikan energi positif kepadamu." Jelas Denis.
Jovian hanya mengangguk-angguk kepalanya, seraya menahan senyuman. Karena entah kenapa, jika nama Kiana disebut, sesuatu langsung melintas di dalam bayangannya. Hal gila yang sudah mulai tidak bisa dikendalikan. Bahkan baru satu hari mereka menikah, Jovian sudah sangat keterlaluan, membuat Kiana harus terus-menerus menahan sakit karena keinginannya yang tidak pernah merasa puas.
"Syukurlah kalau begini. Setidaknya keadaanmu tidak seburuk dua tahun terakhir, … bahkan kau kembali tersenyum setelah beberapa lama melupakan caranya hanya karena ulah seorang perempuan." Kata Denis dengan raut wajah yang dia buat se-serius mungkin.
Jovian terkekeh.
"Sebenarnya yang kau sesali itu apa? Kepergian Eva, atau mahar yang sudah kamu berikan dulu?" Kata Denis sambil meledek, lalu dia tertawa kencang.
"Ada dua sesi yang berbeda Denis. Kalau dulu aku menyesal karena tidak bisa mempertahankan Eva, tapi sekarang, … aku menyesal sudah memberikan banyak hal kepadanya, sementara Kiana saja tidak seperti itu." Ujar Jovian.
Dan setelah itu keduanya tertawa kencang. Bahkan saking kencangnya membuat ruangan itu menggema, dan mengundang beberapa anak buah Denis untuk mendekat, karena merasa khawatir dengan keadaan pria itu.
"Anda baik-baik saja, Pak?" Salah satu dari beberapa orang yang datang bertanya.
Dan hanya Denis jawab anggukan kepala. Lalu mereka kembali beranjak pergi.
"Satu Unit cluster elite, Bro! 1,8M. Tapi kamu tidak mendapatkan apapun setelahnya!" Denis terus tertawa.
"Hemmm, … bahkan sekelas anak pengusaha batubara saja tidak meminta mahar sebesar itu. Dia meminta mobil saja untuk dipakai bersama. Bagaimana? Manis bukan? Di balik sikapnya yang keras kepala, sedikit membangkang dan tidak mau kalah, terselip empatinya yang sangat besar terhadap orang lain."
"Lalu kemana saja kamu selama ini? Aku sudah berusaha mengingatkan. Jika memang tidak Eva, maka kamu bisa mencari perempuan lain. Tapi kamu tetap memilih dia, dan hasilnya seperti itu! Ayah Eva yang awalnya tidak setuju meminta mahar sebesar itu." Denis berusaha mengingat momentum dimana Jovian selalu bertingkah bodoh.
Hanya rasa ketertarikannya kepada seorang gadis.
Sementara pria yang di maksud hanya terus tersenyum, diam dan mendengarkan Denis yang sedang banyak berbicara.
__ADS_1
"Pak Erik meminta mahar sebesar itu, … sebenarnya hanya ingin membuat kau mundur. Eh malah terus maju, mana bela-belain jual tanah lagi. Kalo di inget-inget kasian juga Tante Leni sama Om Jonathan."
Kata Denis, dan setelah mengucapkan banyak hal dirinya diam, lalu meneguk minumannya hingga tandas, yang setelahnya langsung melemparkan kaleng kosong itu ke arah tempat sampah.
Suasana ruangan itu menjadi hening untuk beberapa saat. Jovian fokus dengan minumannya, sementara Denis merogoh saku jas, dan mengeluarkan satu bungkus rokok beserta korek gas yang tidak pernah tertinggal kemanapun Denis pergi.
"Ambilah. Isinya masih cukup banyak!" Kata Denis setelah membawa satu batang, dan meletakan benda di antara kedua celah bibir, menghidupkan korek, lalu membakar ujung rokok tersebut.
Jovian mengangguk. Terlebih dulu pria itu meletakan kaleng minumannya, membawa satu batang rokok, menghidupkan korek api dan menghisapnya dalam-dalam saat api mulai membakar bagian paling ujung.
"Bagaimana keadaan Sita?" Akhirnya Jovian menanyakan hal itu. Satu kendala yang membuat sahabatnya tidak dapat menghadiri prosesi akad kemarin.
Denis menyesap rokoknya lebih dalam lagi, lalu meniupkan asapnya ke udara.
"Sekarang sudah ada di ruang rawat inap." Tukas Denis.
"Lalu kenapa kamu sudah masuk bekerja?"
"Setidaknya, … keadaan Sita saat ini sudah lebih baik, daripada saat dia berada ruang ICU."
Denis menjelaskan dengan perasaan berkecamuk. Bayang-bayang mengerikan jelas kembali dia ingat, dimana istrinya sempat koma pasca operasi laparotomi.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Aku ikut merasa lega sekarang!"
Denis mengangguk-anggukan kepala.
"Tidak. Dia mengalami kehamilan ektopik, sel telur yang sudah dibuahi berada di luar rahim. Sehingga semua kehamilan ektopik harus digugurkan." Segumpal daging yang terkurung di antara tulang rusuknya terasa di sayat-sayat, apalagi saat mengingat Sita, yang saat itu terlihat sangat kesakitan dan tersiksa.
Sementara Jovian hanya diam untuk mendengarkan. Karena mungkin itulah yang Denis butuhkan, memiliki teman untuk berbagi sebuah cerita. Setelah beberapa Minggu tidak bertemu, dan membicarakan banyak hal seperti biasa.
"Aku tidak pernah melihat Sita menderita seperti itu. Aku tahu dia kuat, … tapi beberapa hari lalu dia merintih, mengadukan perutnya sangat sakit. Dan jika dia sudah berkata demikian, maka sakit yang Sita rasakan pastinya sangat luar biasa." Pandangan Denis lurus kedepan.
Menatap hamparan langit biru muda, di balik kaca bangunan itu.
"Berapa usia kandungannya kemarin?" Kini Jovian beralih menatap wajah temannya.
"Tiga bulan."
"Hemmm, … semoga Sita lekas membaik. Tuhan pasti sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu, Dendi, dan Sita." Ucap Jovian, yang langsung dijawab anggukan oleh sahabat nya.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Apanya yang bagaimana?" Jovian balik bertanya.
"Ah kau juga kebiasaan, selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga." Denis membalikan kata-kata Jovian tadi.
Dan orang yang di maksud tampak tersenyum, dengan raut sumringah.
__ADS_1
"Kau sudah mendapatkannya?" Todong Denis.
Dia mengarahkan jari telunjuk di hadapan wajah Jovian.
"Menurutmu bagaimana? Sudah atau belum?"
Denis mendengus kencang. Lalu memutar kedua bola matanya. Sementara Jovian menundukan pandangan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti merona, apalagi saat mengingat ekspresi Kiana kala mereka melakukan itu.
"Dia sangat menggemaskan bukan?" Batinya berteriak gemas.
"Ah, … kau sudah mendapatkannya Jovian. Kamu sudah mengobrak-abrik anak gadis dari mantan bosmu sendiri." Denis tergelak.
"Dia yang meminta, bukan aku. Aku hanya mengabulkan apa yang dia inginkan." Balas Jovian.
"Benarkah?" Denis menatap dengan raut tidak percaya.
Jovian mengangguk.
"Aku hanya meneruskannya setelah itu. Kiana meminta satu kali, dan aku memberikannya sampai dia hampir tidak bisa berjalan."
Denis membelalakan matanya, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya.
"Kau tega?" Tanya Denis dengan suara memekik.
Jovian tidak diam.
"Tidak usah dijawab. Dua tahun menduda sudah menjadi jawaban untuk setiap pertanyaan yang ada di dalam otakku. Tidak mudah membuatnya lelah, apalagi dia sudah beristirahat selama dua tahun."
"Tidak juga. Beberapa kali aku melakukannya sendiri, jika sedang benar-benar ingin." Jovian menyangkal, dan dengan santainya dia mengatakan itu.
"Tapi beda kan?"
"Ya menurutmu bagaimana?" Jovian tertawa.
"Hmmm, apalagi gadis belia seperti Kiana."
Jovian meletakan sisa rokoknya di atas asbak, menekan benda itu hingga apinya benar-benar mati, lalu kemudian dia meraih kaleng minuman dan meneguknya sampai habis.
"Mau kemana?" Tanya Denis saat Jovian bangkit, dan membuang kaleng bekas minumannya.
"Kau terus mengingatkan aku kepada Kiana, dan aku merindukan dia sekarang." Jovian berjalan ke arah pintu, mendorongnya lalu keluar.
Membuat Denis diam tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
......................
Maaf othor telat update ...
__ADS_1
Jangan lupa sawerannya seperti biasa 😘