Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Flashback


__ADS_3

Tubuh Jovian mematung, matanya membulat, dengan dada yang terasa bergemuruh saat dia menerima laporan yang diberikan oleh Gibran, salah satu kepercayaannya yang kali ini pria itu tugaskan untuk memantau Kiana sejak keberangkatannya ke Pangalengan sana.


Beberapa foto Gibran kirimkan. Dan itu benar-benar membuat rasa gelisah pada dirinya naik drastis. Kemeja putih dengan tiga kancing paling atas dibiarkan terbuka, di padukan dengan skinny jeans biru terang, rambut kecoklatan dan bergelombang yang kali ini dibiarkan terurai, membuat istrinya terlihat sangatlah cantik. Namun, dirinya tidak ada ketika Kiana dalam keadaan seperti ini.


"Papi, aku pamit pulang!" Katanya sambil berlari ke arah bawah.


"Hey?" Jonathan memanggil.


"Mang Adang? Cari beberapa orang lagi untuk bekerja. Setidaknya agar Papi tidak terus merasa khawatir akan sesuatu yang belum pernah terjadi." Teriak Jovian.


Adang dan Jonathan saling beradu pandang.


"Sesekali tidak apa langsung terjun kelapangan. Tapi sudah ada Mang Adang yang bisa kita andalkan. Maaf aku tidak bisa membantu menyelesaikan pekerjaan, istriku keluar tanpa suaminya." Dia kembali berteriak, seraya menatap kesal sang ayah.


"Memangnya kenapa?"


"Ah aku tidak bisa kalau Kiana bepergian sendirian. Dia ceroboh, … dan ada banyak bahaya di dunia luar! Itu makanya aku tidak mengizinkan dia pergi kemanapun tanpa diriku! Tapi Papi? Dengan santainya menyuruh Kiana untuk pergi." Jovian beralasan.


Jonathan hampir kembali membalas ucapan dari putranya. Namun suara kekehan pelan Adang membuat Jonathan kembali menoleh.


"Biasanya kalau sedang kasmaran seperti itu, Pak. Jadi biarkan saja, saya bisa cari orang besok agar perluasannya bisa dipercepat, dan pekerjaan akan segera selesai."


"Hhheuh!" Jonathan menghela nafas. "Dia memang aneh setelah menikah dengan gadis yang usianya tujuh belas tahun lebih muda darinya. Sikap Jovian berubah banyak." Katanya seraya menatap kepergian putranya yang berjalan cukup tergesa-gesa.


***


Jovian memasuki rumah orang tuanya dengan tergesa-gesa. Membuat Leni yang sedang menikmati teh hangat sambil duduk di sofa ruang tengah terkejut bukan main.


"Kenapa?" Wanita itu bertanya.


Dia meletakan cangkirnya di atas meja, kemudian berjalan menyusul Jovian yang tadinya berlari memasuki kamar.


"Jovian? Ada apa denganmu?" Cicit Leni.


Wanita itu terlihat semakin panik, apalagi saat Jovian kembali mengambil tas pakaian miliknya yang sudah tersimpan rapi, lalu memasukan barang-barang yang dia bawa dari Tangerang sana dengan terburu-buru.


"Aku pulang hari ini ya, Mam!" Ujar Jovian tanpa mengalihkan pandangannya.


"Lho!?"


"Aku harus pulang, jangan tanya kenapa intinya aku harus pulang." Tukas pria itu dengan raut wajah muram.


Oh bukan, sepertinya wajah Jovian tidak hanya muram, melainkan ekspresi penuh kekesalan yang mendominasi wajah tampannya.


"Ada apa? Setidaknya katakan sesuatu agar Mami tahu penyebab kamu menjadi seperti ini? Tadi pagi kamu biasa saja, bahkan kamu bilang santai saat Mami membahas tentang Kiana? Oh apa terjadi sesuatu kepada dia, Jo?" Cerca Leni dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Membuat Jovian Jovian menghentikan kekonyolannya untuk beberapa saat. Memejamkan mata, lalu mengatur nafas berkali-kali.


"Terjadi sesuatu kepada Kiana?" Tanya Leni lagi, namun dia berusaha tenang agar Jovian juga merasakan hal yang sama.


Jovian membuka matanya, lalu menatap sang ibu dengan wajah memerah.


"Kenapa?"


"Istriku pergi keluar rumah sendirian, … tanpa aku bersamanya, dan itu bahaya! Bisa membuat orang-orang mengira kalau dia itu seorang gadis yang belum terikat pernikahan dengan siapapun!" Jelas pria itu.


Yang seketika membuat Leni membelalakan mata, lalu memukul-mukul pundak putra keduanya.


"Aw aw, Mami stop, … aw!!" Jovian berusaha menangkis tangan Leni.


Namun, tentu saja tidak bisa, kekuatan seorang ibu ada di atas rata-rata.


"Kamu berlari dari luar kedalam sampai membuat rumah ini rasanya mau rubuh, terlihat panik seolah terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan kepada Kiana, tapi apa yang kamu lakukan ini sangatlah tidak masuk akal, kamu panik dan merasa gelisah hanya karena Kiana keluar tanpa dirimu? Dimana akal sehatmu Jovian? Dimana? Bisa-bisanya kamu membuat Mami ketakutan seperti ini!" Ucap Leni dengan kesal, bahkan dia gak hentinya memukuli bahu Jovian.

__ADS_1


"Mami?!"


"Ah kamu menyebalkan!" Leni berteriak lagi.


"Itu menurut Mami tidak bahaya. Menurut aku sangat bahaya, tahu kenapa? Bisa saja laki-laki lain mendekati istriku!" Suara Jovian memekik kencang. "Lagi pula ini gara-gara Papi menyuruh Kiana untuk jalan-jalan keluar, dan Kiana benar-benar melakukan apa yang Papi sarankan." Jovian menjelaskan.


Leni menatap putranya yang tampak sangat terburu-buru. Memasukan semua barang bawaannya begitu saja ke dalam tas sana.


"Jadi kamu mau pulang sekarang?"


"Ya, … aku minta Mang Adang tambah orang agar pekerjaannya cepat selesai. Aku juga minta Papi agar mulai mempercayakan sepenuhnya pada orang-orang yang sudah lama bekerja dengan kita." Ungkap Jovian.


Wanita itu mendudukan dirinya di tepi ranjang tidur milik Jovian. Sembari terus memperhatikan tingkah laku anaknya yang memang kini terlihat kekanak-kanakan. Namun, seulas senyum samar segera terbit di kedua sudut bibir Leni.


"Dulu kamu tidak seperti ini. Mau bagaimanapun Eva, entah dia pergi sendiri, atau bersama teman-temannya kamu tidak pernah merasa se khawatir ini? Padahal cintamu sangatlah besar kepada dia, sampai kamu hampir gila karena dia pergi dari hidupmu. Tapi lihat kamu sekarang? Bahkan kamu gelisah hanya mendengar kabar Kiana pergi keluar rumah tanpa siapapun?" Suara Leni terdengar begitu lembut.


Membuat Jovian langsung menghentikan aktivitasnya.


"Kamu seperti anak remaja yang baru saja mendapatkan seorang tambatan hati. Dan kamu tidak suka siapapun mendekati kekasihmu!" Leni menatap Jovian lekat-lekat, dengan senyuman di bibir yang semakin merekah.


Pria itu masih diam. Otaknya terus memutar ucapan yang baru saja Leni katakan, dan itu membuatnya menyadari apa yang sudah terjadi sekarang. Benar apa yang ibunya katakan, kini otak, hati dan pikirannya dipenuhi Kiana, dan hanya Kiana. Sampai-sampai dia tidak lagi dapat memperdulikan hal lain, bahkan saat menyangkut pekerjaannya sekalipun.


"Bayangkan jika Kiana seperti Eva. Setiap tiga kali dalam seminggu dia pergi Zumba, meet up rutin, mengikuti arisan, dan masih banyak lagi kegiatannya, dan itu dia lakukan tanpa dirimu, … kamu fokus pada pekerjaan kamu dan tanpa merasa terganggu seperti biasa."


Jovian segera menggelengkan kepala.


"Aku tidak mengizinkan, jika sekarang Kiana melakukan itu."


"Kenapa? Bukankah menjadi suami tidak boleh egois? Bahkan Kiana cenderung membuatkan kamu melakukan apapun, tapi kenapa kamu tidak membebaskan Kiana?" Leni terus menggoda Jovian.


Ekspresi wajahnya yang terus berubah-ubah membuat pria itu tampak sangat menggemaskan. Apalagi saat terlihat panik dan gelisah, Jovian seperti orang linglung dengan wajah yang terlihat berwarna merah padam.


"Itu lain cerita, Mam. Jelas aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh! Kalau Kiana masih ada kemungkinan karena dia masih labil. Aku tidak mau dia terbawa pengaruh buruk dari teman-temannya atau siapapun." Tegas Jovian.


"Aku pulang dulu, Mam. Sampai bertemu beberapa hari di Jakarta nanti untuk fitting baju."


Jovian meraih pegangan tasnya, kemudian segera berjalan ke arah luar, setelah lebih dulu menyambar kunci mobil yang menggantung di dekat pintu masuk. Sementara Leni berjalan mengikuti dari arah belakang.


"Papimu sudah tahu kamu akan pulang sekarang?"


"Sudah."


"Kamu akan sampai hampir petang. Apa tidak besok pagi-pagi saja?" Leni terus berjalan mengikuti.


Dan baru benar-benar berhenti ketika Jovian membuka pintu bagian belakang, untuk kemudian menyimpan tasnya disana.


"Mam? Aku pulang dulu. Baik-baik di rumah, dan katakan kepada Papi tidak usah khawatir lagi tentang kebun, Mang Adang pasti bisa mengatasinya dengan baik."


Jovian berjalan mendekat, lalu merangkul ibunya, dan mendaratkan beberapa kecupan penuh cinta dan jadi di kening dan kedua pipi Leni.


"Papimu sedikit keras kepala."


"Ya, memang. Tapi siapa tahu kalau Mami yang meminta Papi akan sedikit mendengarkan."


"Nanti Mami coba."


Jovian mengurai pelukannya, lalu tersenyum.


"Hati-hati, tidak boleh terlalu ngebut. Kiana tidak akan pergi kemanapun. Dia hanya sedang memanjakan dirinya."


Jovian mengangguk lagi.


Setelah itu Jovian masuk ke dalam mobil, menutup pintunya rapat-rapat seperti semula, dan tidak berselang lama suara derum mesin mobil terdengar.

__ADS_1


Tangan Leni terangkat, lalu bergerak-gerak ketika mobil Jovian mulai bergerak mundur dengan perlahan-lahan.


Pim pim!!


Dan suara itu menjadi sebuah penanda jika Jovian sudah benar-benar siap untuk mengarungi perjalanan yang cukup panjang.


***


4 jam berlalu.


Jovian membelokan mobilnya setelah pintu gerbang terbuka dengan sangat lebar, memasuki kawasan rumah besar milik kedua orang tua istrinya. Dan berharap Kiana sudah berada disana ketika dirinya tiba.


Sayang sekali. Salah satu mobil yang terparkir tidak ada di tempatnya, dan itu milik Kiana. Sampai dia yakin jika pujaan hatinya belum kembali.


Dia segera turun, membuka pintu bagian belakang, membawa tasnya, dan berjalan cepat memasuki rumah pada pukul 16.30 sore hari.


"Kamu pulang?" Danu yang terlihat baru saja masuk melewati pintu taman belakang rumah langsung bertanya.


Jovian mengangguk.


"Kiana?" Jovian balik bertanya.


"Oh, dia sedang pergi berbelanja. Tidak usah khawatir, Papa sudah meminta anak buah Denis untuk mengawasi Kiana." Jelas Danu.


"Baiklah."


Mereka berdua segera berjalan menaiki setiap anak tangga satu persatu. Dan ketika Jovian hendak meraih handle pintu kamar istrinya, suara Herlin terdengar memanggil.


"Kamu pulang cepat? Bukannya kata Kiana kamu banyak pekerjaan di Pangalengan?"


"Oh itu sudah ditangani." Jovian tersenyum kepada Herlin yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


Sementara sang ayah mertua sudah masuk ke dalam sana, dan membiarkan mereka hanya untuk sekedar berbasah-basah.


"Mau di siapkan makan?"


"Tidak usah, Ma. Jovian mau bersih-bersih saja dulu. Dan setelah itu mau jemput Kiana." Ujar Jovian.


"Kiana ada di apartemen. Dia baru selesai berbelanja, entah sudah selesai atau belum, tapi jika mau jemput ya pergi saja, … siapa tahu Kiana masih betah di sana, di rumah dia terus mengeluh jenuh, jadi mungkin dia pergi mencari suasana baru di apartemenmu." Jelas Herlin kepada menantunya.


"Baik."


"Ya sudah. Kalau begitu Mama masuk dulu, kalau ada apa-apa bisa minta tolong Mbok, Ipah atau Bi Yati."


Herlina segera meraih ujung pintu kamar, memundurkan diri, kemudian mendorong benda itu sampai pintu kayu kamarnya benar-benar tertutup rapat.


***


Setelah memacu kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Akhirnya Jovian sampai, di salah satu area apartemen, dan benar saja. Dia menemukan mobil Kiana yang terparkir di area parkiran sana.


Rasa rindunya terasa semakin menggunung. Dan dia hampir saja tidak bisa mengendalikan diri, ketika debaran di dada terasa semakin menggila, bahkan hanya karena melihat mobil sedan putih milik perempuan pujaannya.


Jovian berjalan melewati pintu lobby, tak lupa menyapa seorang penjaga yang sudah sangat dia kenali.


Dan setelah menghabiskan waktu beberapa menit. Akhirnya dia tiba di hadapan pintu apartemen miliknya. Jovian menempel ibu jari pada sensor pintu, sampai benda itu benar-benar terbuka.


......................


Dari kebun nggak mandi, langsung tancap gas dari Pangalengan ke Tangerang, demi siapa coba? demi readers lho.


Makanya jangan lupa, like, komen, vote sama hadiah.


cuyung kalian 😘

__ADS_1


__ADS_2