Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Pilihan.


__ADS_3

Eva terus menangis di dalam pelukannya, bahkan beberapa kali mengucapkan kata-kata yang sedikit tidak Jovian mengerti.


"Ada apa denganmu?" 


"Maafkan aku, maafkan aku!" Wanita itu dengan tangisannya yang semakin terdengar tersedu-sedu.


"Dari dulu sudah aku maafkan. Lalu kenapa datang kesini? Kenapa? Apa kamu mau memanfaatkan Mami dan Papi juga?" Katanya dengan rasa kecewa yang masih tersisa.


Di satu sisi dia sangat marah, namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Jovian merasakan sesuatu yang sudah sejak lama dia cari.


"Tidak. Tidak sama sekali, aku hanya bingung bagaimana bertemu denganmu tanpa ada emosi diantara kita, … walaupun sesungguhnya itu akan tetap ada karena mungkin kamu merasa kecewa." Eva menggelengkan kepalanya.


"Beberapa kali aku melihatmu, lalu memutuskan datang ke apartemen. Tapi aku takut kamu memintaku pergi." Suaranya terdengar lirih.


Dengan posisi yang sama, duduk bersimpuh di hadapan Jovian, memeluk pinggang mantan suaminya yang tengah duduk, Eva terus menangis seolah sedang meluapkan rasa sesalnya.


"2 tahun aku mencoba, hidup dengan apa yang aku pilih. Namun, nyatanya aku tidak bisa!" Dia kembali mengatakan itu.


"Apa maksud dari ucapanmu?" Jovian bertanya.


Dia berusaha melepaskan diri dari Eva, tapi lengan Eva melilit dengan sangat kencang di pinggangnya.


"Aku merindukanmu. Aku tidak bisa hidup dengan tenang, aku dihantui dengan perasaanku sendiri." 


Mendengar itu Jovian hanya tersenyum getir.


"Apa menurutmu 2 tahunku juga mudah?" Tanya Jovian yang langsung Eva timpali dengan gelengan kepala. "Tentu saja tidak, bahkan aku menjadi pengangguran selama itu, aku berpikir, apa jika suatu saat nanti aku menikah lagi, apa istriku akan menerima pekerjaanku? Atau tidak seperti sebelumnya! Dan ternyata aku tidak membutuhkan seseorang yang tidak mau menerima pasangan apa adanya, aku sudah memutuskan untuk kembali menerima sebuah pekerjaan, menjadi Bodyguard pribadi dari seorang gadis." Jelas Jovian lagi.


Eva menarik dirinya, lalu kemudian menatap Jovian seraya mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi.


"Anak perempuan tadi?" Tanya Eva.


Jovian menatap mata kelam mantan istrinya lekat-lekat. Dan dia merasakan sesak yang begitu teramat sangat, lalu mengangguk pelan.


"Dia Kiana. Gadis yang aku jaga, sekaligus calon istriku!"


Deg!!


Raut wajah Eva seketika berubah menjadi sangat pucat. Menatap Jovian penuh ketidak percayaan, dengan Godam besar yang seperti sedang menghantam dadanya, hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


"Kamu akan menikah?" 


"Hemmm, … 2 tahun cukup untuk menutup diri dari dunia luar, dan sekarang waktunya aku membuka hati untuk wanita lain." Jovian berujar.


Eva diam untuk beberapa saat. Menatap manik dengan sorot tajam milik mantan suaminya, dan dia menemukan perasaan selain, di dalam tatapan kekecewaan Jovian.


"Kamu masih mencintai aku, Jovian. Lalu kenapa kamu akan menikah? Sementara aku sudah kembali!"


Jovian menggelengkan kepalanya.


"Hanya sebuah rasa yang tersisa, lalu apa artinya? Aku sudah memiliki wanita lain. Silahkan saja kamu tinggal disini, menghabiskan waktu dengan kedua orang tuaku, hanya saja jangan pernah berharap untuk bisa kembali." Tegas Jovian.


Dan itu mampu membuat Eva kembali berkaca-kaca.


Jovian hendak bangkit, namun dengan cepat Eva menahannya.


"Kita bersama 5 tahun. Apa 2 tahun saja cukup untukmu mencintai wanita yang baru saja masuk kedalam hidupmu?" Eva menatapnya.


"Tidak." Jovian balas menatap Eva.


"Lalu kenapa? Kau mau hidup dengan orang baru? Sementara hatimu masih terpaut pada perasaan di masa lalu? Apa bisa?"


"Bisa. Aku sedang mencoba mencintai dia." 


Air mata kembali mengalir deras di atas pipi wanita cantik di hadapan Jovian.


"Aku terlambat yah."


"Ya, kau terlambat untuk datang, … dan sekarang aku harus pergi mencari Kiana, dia akan salah paham jika aku terus bersamamu disini." 

__ADS_1


Jovian sedikit mendorong kursi yang dia duduki ke arah belakang, lalu bangkit dan meninggalkan Eva yang masih menangis begitu saja.


"Apa hubungan kita akan benar-benar berakhir buruk? Bahkan setelah apa yang kita lalui bersama."


Langkah kaki Jovian terhenti, kemudian menoleh.


"Hanya status yang berbeda. Hubungan bisa tetap terjalin dengan baik." Katanya kemudian Jovian melanjutkan langkah kakinya, keluar melewati pintu belakang rumah, dan mencari keberadaan Kiana juga kedua orang tuanya.


***


Kiana duduk di sebuah gazebo yang berdiri di tengah-tengah perkebunan wortel yang sedang di panen. Dia menatap Jonathan yang sedang berdiri membungkukan badan di dekat sebuah mata air yang terlihat mengalir, membasuh dua worterl yang dia minta dari salah satu pekerja.


Setelah itu Jonathan kembali, dan memberikan wortel yang sudah dia bersihkan kepada Kiana.


Gadis itu menatap wajah Jonathan dan apa yang ada di genggamannya bergantian.


"Sudah Papi bersihkan. Ini masih segar, dan tentunya sangat baik untukmu." 


"Tidak dimasak?" Kiana menatapnya aneh.


Jonathan menggelengkan kepala, lalu dia memakan wortelnya lebih dulu.


"Rasanya sangat manis. Ini enak!" 


Melihat itu, akhirnya Kiana meraih pemberian dari ayah calon suaminya, dan mulai menggigit, kemudian mengunyah dengan penuh perasaan.


"Mmmm, … lumayan." Kiana menatap Jonathan lalu tersenyum.


Jonathan mendudukkan dirinya tepat di samping Kiana. Menatap luasnya perkebunan dengan suasana yang terasa sejuk, meski cahaya matahari terlihat begitu memancar.


"Bahasa Indonesia, Papi sudah fasih." 


"Papi disini sudah sejak dari kecil. Dulu orang tua Papi pemilik salah satu pabrik teh di sini." 


"Oh ya? Disini ada kebun teh?" 


"Ada di atas."


Kiana mengangguk.


Jonathan menoleh, dia menatap Kiana. Gadis yang terlihat lebih gampang berbaur dengan orang baru, bahkan dia tidak terlihat canggung bahkan untuk pertemuan pertamanya.


"Dua-duanya masih Papi jalankan. Hanya saja sekarang Papi percayakan kepada beberapa pekerja."


"Papi keren." Katanya.


"Kalian masih mau disini?" 


Tiba-tiba saja Leni muncul dari arah belakang, membawa cukup banyak daun wortel dalam pelukannya.


"Mau kembali ke dalam?" Tawar Jonathan.


Namun Kiana segera menggelengkan kepalanya. Mengingat di dalam sana ada dua orang yang saling menumpahkan rasa rindu, dan itu cukup menyakitkan untuk di lihat.


"Aku disini, nanti masuk kalau wortelnya sudah habis." Kata Kiana.


"Baiklah. Mami dan Papi ke rumah dulu, … masih ingat jalan pulang?" Leni terkekeh, dia melontarkan kata-kata candaan.


Kiana mengangguk.


"Bahkan rumahnya kelihatan dari sini, masa iya aku tersesat." Balas Kiana.


"Baiklah." 


"Mami bawa itu daun wortel? Untuk apa?" 


"Ya, untuk kelinci. Ada indukan yang baru saja melahirkan, ada 9 bayi dan itu sangat menggemaskan." 


"Nanti aku mau lihat." Kiana mulai membiasakan diri.

__ADS_1


"Kandangnya ada di samping rumah." Jonathan menjawab.


"Oke."


Dua lansia itu berjalan beriringan, meninggalakn Kiana sendirian di bawah gazebo yang terlihat di tengah-tengah kebun.


Hilir angin berhembus kencang, menyapu wajah Kiana yang saat ini sedang lurus menatap kedepan, menerpa rambut pendeknya sampai terus bergerak-gerak hingga menghalangi wajah.


Baru kali ini dia merasa serumit ini. Bahkan dia tidak mengerti, kenapa dadanya terus terasa sesak, bahkan hanya mengingat bagaimana Jovian kembali bertemu, meskipun itu hanya dengan mantan istrinya.


"Dan satu yang harus kau ingat, Kiana. Dia belum benar-benar sembuh dari masa lalunya, … jadi persiapkanlah dirimu dari hal yang mungkin akan sangat menyakitkan." 


Dia bergumam, kemudian menggigit wortel pemberian Jonathan tadi.


"Apa yang kau makan?"


Suara yang sangat Kiana kenali terdengar, hingga membuat gadis itu menoleh dan mengangkat pandangan untuk menatapnya.


Jovian tersenyum. 


"Om?" 


"Kenapa masih disini? Mami dan Papi sudah kembali ke dalam." Katanya, lalu duduk merapat di samping Kiana.


Gadis itu tidak menjawab.


"Kamu marah?" 


Kiana masih diam.


"Kia …"


"Sepertinya kita tidak akan berhasil." Dia mulai membuka suara. "Maksudnya bukan kita, tapi aku! Saingan aku sangat berat, dia seseorang dari masa lalu, yang bahkan aku tahu kalau Om masih men …" 


Kiana menghentikan ucapannya, ketika satu jari telunjuk Jovian letakan di bibirnya.


"Saya tidak mengijinkan kamu mengatakan itu. Cukup kita berdua yang tahu, … dan aku sedang berusaha." 


Kiana menepis tangan Jovian dengan segera.


"Percayalah ini tidak akan berhasil. Aku memilih berhenti dari sekarang, … atau hal paling menyakitkan akan aku terima." 


"Tidak. Saya sudah berjalan sejauh ini, … tidak mungkin saya mundur. Begitupun denganmu, mereka sudah mulai mempersiapkan segalanya. Mama dan Papamu!"


Gadis itu menghela nafasnya cukup kasar. Mengeluarkan segala beban yang mulai terasa berat.


"Om tahu? Ini hubungan pertama untukku, Om pria kedua yang aku cintai selain Papa. Tapi rasanya aneh, ada sesak di dalam dada aku kalau ingat itu! Aku tahu Om sedang berusaha, tapi apa akan berhasil? Sementara orang yang Om rindukan kini sudah ada disini? Sangat dekat dengan Om. Bahkan Papi dan Mami menerima Tante Eva dengan sangat baik."


Jovian terdiam, dia kehilangan kata-kata.


"Aku bukan tidak mau berjuang. Tapi rasanya lawan aku sangat berat."


Jovian menatap gadis yang duduk di sampingnya dengan perasaan bersalah yang sangat besar. 


"Saya yang memilihmu. Jadi siapapun yang datang, entah itu dari masa lalu, atau dari masa depan, saya tidak peduli." 


Jovian menarik tangan Kiana, membuka gadis itu mendekat, dan masuk kedalam pelukan Jovian, tenggelam di dalam dekapan tubuh kekar pria itu.


"Saya tegaskan. Tidak akan ada yang bisa mengubah itu." Katanya lagi, lalu mencium kening Kiana tanpa merasa malu, meski disana terdapat beberapa pekerja kebun kedua orangtuanya.


"Om janji?"


"Tentu saja."


"Baiklah, jika Om ingkar, aku akan bertindak. Dan melakukan hal yang sangat gila setelahnya." 


"Kamu sedang mengancam?" Jovian terkekeh, dengan tangan yang terus mengusap-usap punggung gadis yang sedang berada di dalam pelukannya.


"Tentu saja. Kita mempunyai komitmen dari awal! Dan jika Om melanggarnya, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan."

__ADS_1


"Baiklah baiklah." Jovian kembali menunduk, dan mencium kening Kiana.


Gadis berambut pendek yang sangat cantik.


__ADS_2