Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Trimester pertama


__ADS_3

Sebuah saung bambu yang terletak di tengah-tengah perkebunan teh menjadi tempat para pria berbincang-bincang santai. Dengan satu teko teh hangat yang menjadi teman Jovian, Danu dan Jonathan berbicara banyak hal tentang bisni yang sudah mereka geluti masing-masing.


"Kapan-kapan, sebelum Kiana benar-benar mengelola usaha batubara. Bisakah kamu menggantikan dia dulu? Tadinya mau langsung Denis ajarkan, mengingat dia sedang berbadan dua, … mengandung bayi kembar juga. Sepertinya keadaan Kiana tidak memungkinkan." Danu menatap wajah menantunya lekat-lekat.


Jovian diam sebentar. Pria itu tampak berpikir tentang keinginan dari mertuanya. Banyak hal yang harus di pertimbangkan, salah satunya karena saat ini dia mulai menjalankan usaha yang dulunya digeluti oleh sang ayah.


Mengelola hektaran kebun teh yang Jonathan wariskan.


"Jika tidak kalian, maka siapa lagi yang akan meneruskan? Kami hanya memiliki Kiana, dan sudah pasti bisnis ini jatuh ke tangan kalian berdua dan anak-anak nantinya." Danu kembali berbicara.


Jovian mengangguk, kemudian dia meraih gelas yang ada di hadapannya.


"Itu urusan gampang." Balas Jovian setelah meminum teh hangat di dalam cangkir miliknya. "Kalau senggang, Jovian bisa bantu bisnis Papa, … jika memang bisa, mungkin sebaiknya Kiana di rumah, mengurus anak-anak saja. Kasihna kalau mereka tumbuh tanpa kami berdua. Setidaknya ada salah satu dari orang tuanya yang diam dan menemani keseharian mereka." Pria itu menjelaskan.


Dia mengingat masa-masa kecilnya dulu, dimana dirinya hanya di tinggalkan dengan seorang pengasuh, sementara kedua orang tuanya sibuk bekerja, dan itu cukup membuat Jovian merasa jika kasih sayang dari Leni dan Jonathan sangtlah kurang. Namun, jauh dari itu, keduanya tidak semata-mata sengaja berbuat demikian. Karena jika tidak seperti itu, mungkin kehidupan mereka tidak akan mudah seperti saat ini.


Jonathan yang mendengar itu pun tampak mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalau kebun kita itu bisa diatur. Ada beberapa orang yang sudah bisa kita percaya. Memantau perkembangan kebun, dan lain-lainnya bisa kamu serahkan kepada Mang Adang atau Johar."


Jonathan sedikit tidak tega saat melihat Danu. Harapan satu-satunya adalah Kiana. Namun, kini perempuan itu sudah memutuskan untuk mengabdi kepada putranya, dan tentu saja Jonathan tidak bisa hanya tinggal diam. Sementara sikap Danu terhadap keluarganya sudah sangat luar biasa baik.


"Ayo kita urus bisnis sama-sama. Mungkin nanti kalau anak-anak kalian sudah besar, kamu bisa sedikit bersantai karena bisa menyerahkannya kepada mereka." Danu tersenyum.


Pun dengan Jonathan dan Jovian.


"Kalau sudah selesai, … bagaimana kalau kita lihat-lihat ke pabrik. Mungkin Pak Danu mau melihat proses pembuatan teh disini secara langsung?" Kata Jonathan.


Danu mengangguk setuju. Tetapi suara nyaring di dalam tas kecil milik Jovian membuat perhatian ketiganya tertuju ke arah suara terdengar. Jovian membuka resleting tas tersebut, kemudian merogoh sesuatu di dalam sana, dan membawa sebuah benda pipih yang terus berbunyi keluar.


"Mami!" Gumam Jovian, seraya menatap Jonathan dan Danau bergantian.


"Jawab saja dulu, siapa tahu ada yang penting." Ujar Jonathan, yang langsung dijawab anggukan oleh Jovian.


Dia menekan tombol berwarna hijau, kemudian mendekatkan benda pipih itu pada daun telinga.


"Iya, Mam?" Sapa Jovian dengan pandangan yang menatap lurus kedepan, dimana hamparan kebun teh berwarna hijau terlihat sejauh mata memandang.


"Kamu masih lama disana?"


Suara Leni terdengar sedikit panik. Membuat Jovian menjengit dengan pikiran menerka-nerka.


"Mungkin. Soalnya baru mau lihat pabrik, … belum menerima laporan dari Mang Adang sama sekali. Dia sedang sibuk mencatat beberapa hal yang belum sempat Mang Adang hitung."


"Kamu tidak bisa meminta Papi mu untuk tetap disana?"


Jovian semakin bingung.


"Bisa."

__ADS_1


"Ya sudah, cepat pulang. Sekarang!"


"Tunggu, tunggu! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Mami terdengar panik?"


"Kiana muntah terus menerus. Bahkan tidak berhenti sedikitpun, … baru keluar dari kamar mandi dia sudah merasa pusing dan mual lagi, dan sampai sekarang masih tetap begitu. Mami khawatir terjadi sesuatu, jika bisa pulang, pulanglah dulu. Takutnya terjadi hal serius!"


Penjelasan itu membuat hati Jovian bergetar. Rasa takut dan khawatir beradu padu menjadi satu.


"Sekarang sedang ditemani Bu Herlin. Jadi cepatlah datang, … Mami takut terjadi sesuatu, jadi bisa kita bawa ke klinik terdekat saja dulu!"


"Baiklah, Jovian pulang sekarang."


Tanpa pikir panjang Jovian memutuskan sambungan telepon itu, kemudian kembali memasukan handphone ke dalam tas kecil miliknya.


"Kenapa?" Jonathan bertanya.


"Jovian harus pulang, Pih. Tidak apa-apa kan kalau Jovian tinggal?" Dia menatap Danu juga Jonathan bergantian.


Danu melirik Jonathan sekilas.


"Kenapa?" Dia beralih menatap menantunya.


"Kiana terus merasakan mual dan muntah. Mungkin harus di antar ke klinik sekarang juga karena tidak berhenti sama sekali."


"Kiana harus di bawa ke klinik!?" Cicit Danu.


Jovian mengangguk.


"Baiklah." Danu menganggukan kepala.


"Papa disini saja, lihat-lihat kebun dan pabriknya. Kiana biar Jovian hamb tangani, jadi tidak usah khawatir." Katanya sambil bersiap untuk pergi.


"Ya sudah. Urusan kebun biar Papi yang handle, kamu fokus kepada Kia dulu saja, mungkin dia sedang sangat membutuhkan kamu. Ngidam di awal-awal kehamilan tidaklah mudah, … dia butuh banyak dukungan, khususnya dari kamu, Jo!"


Jovian mengangguk, kemudian beranjak pergi meninggalkan sebuah bangunan kecil yang berdiri di antara luarnya hamparan kebun teh.


"Hati-hati, Jo. Jika terjadi sesuatu yang serius langsung kabari." Teriak Danu.


Jovian menoleh, kemudian dia mengangkat satu tangannya untuk memberikan sebuah jawaban. Dan setelah itu Jovian benar-benar berlari, menyusuri jalanan kebun yang menurun tajam. Pikirannya sudah melayang entah kemana, sesuatu yang buruk bahkan terus menghantui di dalam isi kepala, sehingga tidak ada lagi yang Jovian pikirkan selain Kiana.


***


"Huwek, … uhuk, … uhuk, … uhuk!!"


Suara itu nyaring terdengar sampai keluar kamar. Membuat Leni semakin kebingungan, dan menunggu dengan perasaan gusar. Bahkan raut wajahnya terlihat pias, ketika mendapati Kiana yang tak kunjung membaik setelah mengalami mual dan muntah usai kepergian Jovian.


"Apa yang membuat kamu seperti ini, Nak?" Herlin membungkuk, memijat tengkuk Kiana.


Sementara perempuan itu bersimpuh di hadapan closet. Dengan keadaan yang terlihat semakin lemas.

__ADS_1


"Mama mertuamu bahkan meminta Bi Wiwin memasak nasi di luar rumah. Tidak ada juga kami menumis bawang, … tapi kenapa kamu seperti ini?" Wanita itu beralih mengusap punggung putri kesayangannya.


Kiana menggelengkan kepala, seraya meraup wajah dan menyembunyikannya di balik telapak tangan. Dia pun bingung, tidak ada pemicu yang membuat rasa mualnya terasa, tapi entah kenapa muntah yang Kiana alami justru tidak bisa berhenti.


Isak tangis mulai terdengar.


"Mama, aku capek!" Suaranya terdengar lirih.


"Ya, Mama tahu. Karena kamu tidak berhenti sama sekali, berapa detik diam di kamar, belum sempat minum air hangat yang disediakan, sudah kembali lagi kesini."


Rintihan Kiana terdengar semakin jelas. Dan itu membuat perasaan seorang ibu benar-benar hancur. Apalagi tidak ada yang bisa Herlin lakukan, karena sejatinya apa yang Kiana alami saat ini adalah sebuah gejala yang memang tidak bisa dihindari.


"Aku capek! Kenapa pusing, mual dan muntahnya tidak berhenti? Aku capek Mama!"


"Harus sabar. Jangan sedih, nanti si kembar ikutan sedih kalau Mamanya seperti ini!"


Herlin berusaha membuat Kiana untuk berbesar hati. Setidaknya itulah dukungan yang mampu Herlin berikan.


"Jika saja ada obatnya. Maka sejauh apapun, pasti Mama belikan. Tapi gejala seperti ini hanya akan berhenti jika sudah waktunya tiba. Merasa sedih, capek, kesal. Itu sudah pasti, kamu manusia biasa. Tapi ingatlah, apa yang akan Kia dapatkan jika berhasil melewati masa-masa ini?"


Kiana semakin terisak.


Kepalanya masih terasa berputar, mata kunang-kunang, otot-otot tubuh terasa lemas, dengan perut yang terasa di aduk-aduk, sehingga tidak meredakan rasa mual itu sedikit pun.


"Kia? Mami buatkan susu jahe. Ayo diminum?"


Leni berbicara di ambang pintu kamar mandi.


Kiana menjawab dengan gelengan kepala.


"Ya sudah, ayo Mama bantu untuk kembali ke kamar. Lama-lama disini juga kurang baik!"


"Nggak mau! Nanti mual lagi." Kiana mengusap kedua pelupuk matanya yang basah. "Disini saja, kalau mual tinggal muntah, nggak harus jalan dulu, lari dulu, sambil nahan biar nggak bablas."


Herlin menghela nafasnya, dia menegakan tubuh, kemudian menoleh ke arah Leni berada.


Sorot mata dua wanita itu terlihat sendu.


"Jalan satu-satunya membawa Kiana ke klinik, Bu!" Kata Leni kepada besannya.


Helaan nafas Herlin terdegar berat.


"Maaf karena membuat anda repot, Bu Leni."


"Tidak sama sekali."


Leni melangkah masuk, dan mendekati Kiana yang masih betah bersimpuh di atas ubin sambil menangis.


......................

__ADS_1


Selamat hari Sabtu cuyung 😘


__ADS_2