Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Night routine.


__ADS_3

Malam beranjak semakin larut. Suasana di sekitaran rumah kayu bergaya panggung itu terasa semakin sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan bermotor yang lewat, dan suara jangkrik yang begitu jelas terdengar dari segela penjuru tempat. Keempat orang itu duduk di kursi rotan, menikmati teh tawar hangat dengan martabak manis dan telor, yang Jovian dan Kiana bawa setelah mereka berada di luar rumah berjam-jam lamanya.


"Mami sama Papi kalau berdua juga seperti ini? Minum teh di luar rumah?" Kiana menatap kedua mertuanya bergantian.


"Kadang-kadang." Jonathan menyahut.


"Seringnya kita langsung tidur, atau kalau tidak nonton tv sampai ketiduran." Timpal Leni.


Sementara Kiana mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia beralih menatap Jovian yang tengah asik membaca pesan dari orang kepercayaannya.


"Tidak takut? Disini sepi?" Kiana beralih kepada Leni dan Jonathan.


"Takut apa? Hantu?" Jonathan tertawa.


Namun Leni langsung menepuk lengan suaminya cukup kencang, membuat pria itu itu mengalihkan pandangannya dengan cepat.


"Jangan nakut-nakutin Kia!" Leni memperingati.


"Mami tenang saja. Aku nggak percaya adanya hantu, mereka hanya tertanam di dalam pikiran kita saja, tidak berwujud nyata." Kiana tersenyum.


"Maksud aku sama orang yang niatnya nggak baik. Disini kan sepi, jarak rumah Mami dan Papi sama warna lain juga cukup jauh, belum lagi rumah besar yang sangat mencolok, … mereka bisa langsung menebak jika rumah ini pemiliknya orang kaya. Pemilik hektaran kebun sayur dan kebun teh." Kiana tersenyum lagi.


Karena hanya itu yang mampu dia lakukan, saat kehangatan di dalam hatinya terus terasa. Sempat tidak menyangka dirinya akan disambut baik oleh keluarga Jovian, mengingat mereka masih menerima baik Eva, dan mungkin saja tidak akan menerima orang baru seperti Kiana. Namun perempuan itu ternyata salah, Leni dan Jonathan jelas memperlakukannya dengan baik, sama persis saat dua orang tua itu memperlakukan anaknya.


"Ada orang ronda, Baby! Tiap bulan Papi bayar uang keamanan." Jovian tiba-tiba menjawab. Lalu dia meletakan ponselnya di atas meja begitu saja.


"Ah, … lagi pula ada kamu! Bapak-bapak ronda mah nggak ada apa-apanya sama mantan ajudan pribadi. Mana pernah ikut Paspampres lagi." Kiana menatap tiga orang yang berada di sana bergantian.


"Ya, kamu benar." Leni mengamini.


Dan dua perempuan itu tertawa kencang.


Jonathan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menatap ke arah dalam. Dimana sebuah jam besar menempel di dinding ruang tamu.


"Pantas saja suasana semakin sepi. Ternyata sudah hampir jam sebelas malam." Jonathan menatap istrinya.


"Kalau begitu ayo kita masuk. Angin malam tidak baik untuk kesehatan Kakek-kakek dan Nenek-nenek seperti kita."


Leni hampir saja membawa beberapa cangkir bekas minumnya untuk di bawa ke arah dalam. Namun dengan segera Kiana menghentikannya.


"Nanti Kia yang bawain ke dalam. Mami bisa masuk duluan sama Papi." Kiana menatap ibu mertuanya.


Leni tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih!" Katanya. "Kalau begitu ayo, Pih." Leni membantu suaminya untuk berdiri, kemudian berjalan memasuki rumah bersama-sama.


"Ahh, … kenapa kau selalu mengingatkan aku? Padahal akhir-akhir ini aku merasa dua puluh tahun lebih muda, tapi kamu selalu mengatakan jika aku ini sudah kakek-kakek." Jonathan sedikit menggerutu.


"Sudahlah, kamu memang sudah menjadi kakek-kakek. Kita sudah mempunyai Axel. Dan mungkin sebentar lagi anak dari Jovian, … ah Mami sudah tidak sabar, pasti Bayi mereka menggemaskan seperti Kiana." Ekspresi Leni terlihat lebih berbinar.


"Jangan terlalu berlebihan. Mungkin saja Kiana menundanya, … mengingat usia dia yang masih sangat muda." Jonathan berujar.


"Aku hanya berandai-andai." Leni tersenyum.


Dia membuka pintu kamarnya, lalu masuk dan menutup pintu ruangan itu kembali. Meninggalkan Kiana dan Jovian yang sedang merapikan area luar. Dan membawa beberapa cangkir kotor ke arah dapur, untuk Kiana letakan di dalam bak cuci.


"Sayang, aku simpan di bak cuci saja. Tidak apa-apa!?" Kiana menatap suaminya.


"Tidak apa-apa, memangnya kenapa? Besok pagi akan ada yang datang untuk membersihkan rumah ini beserta isinya." Jovian meletakan sisa martabak di atas meja makan, lalu menutupnya dengan tudung saji.


Gadis itu tampak tersenyum malu-malu.


"Aku nggak bisa cuci gelas atau piring. Mungkin kalau dipaksakan bisa saja, … tapi aku tidak janji mereka akan utuh. Kamu tahu? Air sabun membuatnya sangat licin, aku takut menjatuhkannya."


Jovian hanya mengangguk.


"Kalau tidak bisa, jangan dipaksakan."


"Kalau begitu ayo masuk kamar. Sudah larut malam, istirahatlah!"


Jovian meraih pundak istrinya, lalu membawa perempuan itu masuk kedalam kamar. Setelah memastikan jika pintu dan jendela tertutup dan terkunci dengan benar.


Klek!!


Jovian menutup pintu kamarnya, tak lupa memutar kunci, sebelum akhirnya berjalan mendekati ranjang tidur, dan duduk disana. Menunggu Kiana yang saat ini berada di dalam kamar mandi.


"Sayang, kamu punya handuk kecil?" Kiana menyembulkan kepalanya dari arah dalam kamar mandi, dengan keadaan wajahnya yang basah.


"Ada." Jovian segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan melewati Kiana.


"Nah, ambilah." Ucap Jovian saat pria itu membuka salah satu laci. Dimana terdapat beberapa gulungan handuk, dari ukuran paling kecil sampai ukuran paling besar.


Kiana mengangguk, dia membawa satu handuk kecil berwarna hitam, lalu mengusap wajahnya yang basah, seraya menatap cermin besar yang ada di hadapan wastafel.


Perempuan itu mulai membawa beberapa perawatan kulit khusus malam hari.


Sementara Jovian kembali mendekati pintu kamar mandi, menutupnya rapat-rapat, mendekati bathtub dan membuka kran air hangat agar dapat memenuhi bak berendam tersebut.

__ADS_1


"Kamu mau mandi?" Tanya Kiana tanpa mengalihkan pandangannya dari arah cermin.


"Hemmm."


"Apa tidak masuk angin? Hampir tengah malam kamu masih mau mandi?"


"Pakai air hangat! Jadi tidak apa-apa."


Kiana mengangguk.


"Pantas saja kulitmu terlihat sehat dan sangat terawat yah. Mau tidur saja kamu harus repot-repot melakukan ini! Mencuci wajahmu, lalu memakai beberapa rangkaian dari wajah dan bagian tubuh lainnya."


"Memangnya apa harapan kamu? Aku memiliki kulit sehat ini hanya dengan memejamkan mata?" Kiana tertawa.


Jovian tidak menjawab. Namun dirinya segera berjalan mendekat, berdiri di belakang Kiana dan memeluknya.


"Mau ikut?" Jovian berbisik tepat di daun telinga istrinya, dan memberikan sedikit gigitan disana.


"Sayang, terlalu kencang!" Dia meringis.


Kiana mengendikan bahunya, lalu mendorong tubuh Jovian agar segera menjauh dari dirinya.


"Aku sudah pakai night cream." Tegas Kiana.


Jovian tersenyum. Dia tampaknya tidak akan menyerah, sampai pria itu terus mendekat, dan memeluk tubuh Kiana lebih erat lagi.


"Nanti tinggal pakai lagi." Bujuk rayunya kepada sang istri.


"No!"


Kiana melepaskan lilitan tangan Jovian dengan paksa, kemudian beranjak mendekati pintu kamar mandi yang tertutup, membukanya dengan segera, lalu keluar meninggalkan Jovian begitu saja.


"Baby?"


"Cepatlah sayang, nanti kamu masuk angin." Sahut perempuan itu di balik pintu kamar mandi yang sudah tertutup kembali.


"Tahu begini, … kenapa tidak aku bawa dulu check-in hotel dulu tadi!" Pria itu bermonolog.


Jovian menarik lepas pakaiannya satu-persatu, mendekati bak berendam setelah dirinya benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Masuk, dan menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya di dalam air hangat itu.


......................


Like, komen, vote dan hadiahhhhh ...

__ADS_1


Cuyung kalian😘


__ADS_2