Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
A girl.


__ADS_3

Jovian menghentikan mobilnya begitu saja, lalu dia melirik ke arah dimana Kiana duduk, dan keluar terlebih dahulu.


"Bukannya kamu tidak enak badan, Jo?" Seseorang muncul dari dalam rumah. Mereka segera datang ketika mendengar gerbang rumahnya di buka.


Jovian menoleh, melihat ke arah Danu yang saat ini berdiri di teras depan, bersama Herlin di sampingnya.


"Sudah kuduga!" Jovian membatin.


"Di apartemen saya tidak ada lagi ruangan kosong, Pak. Kasihan jika Kiana harus bermalam dan tidur di atas sofa." Dia menjawab.


Tangan Jovian terulur, meraih handle pintu mobil dan membukanya. Tampaklah Kiana yang masih duduk menundukan pandangan, sembari memainkan sepuluh jarinya karena merasa sangat gelisah.


"Cepatlah, mereka sudah menunggu." Ujar Jovian.


Kiana menengadahkan pandangannya, dia menggelengkan kepala, dengan raut sendu penuh ketakutan.


"Om jangan bilang ke Papa kalau aku bohong." Kiana berbisik, namun tentu saja pria itu masih dapat mendengarnya dengan jelas.


Dia memejamkan matanya, mengangguk, lalu membungkuk untuk membukakan sabuk pengaman yang masih melilit erat di tubuh Kiana, menggenggam tangannya, lalu menarik gadis itu keluar.


"Tasnya besok saya antar." Kata Jovian kepada Danu juga Herlin.


Dua orang itu mengulum senyum, lalu mengangguk dan merentangkan tangan, menyambut kedatangan putrinya.


"Kalau begitu saya pamit, sudah terlalu larut." Katanya sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


"Tidak mau mampir sebentar saja?" Tawar Danu.


"Mungkin lain kali."


Danu menimpali ucapan Jovian dengan anggukan.


"Terimakasih, Jo. Maaf sudah merepotkan kamu, tadinya saya mau minta Denis untuk menjemput. Tapi kata Kiana dia juga merasa sangat lelah, … jadi saya biarkan jika memang dia benar-benar harus menginap. Perjalanan kalian kan memang sangat jauh, saya bisa memaklumi itu, padahal tidak usah memaksakan diri untuk mengantarkan Kiana kalau kamu sedang kelelahan." Danu menundukan pandangannya, menatap Kiana seraya mengusap-usap bahu putrinya.


Jovian tersenyum.


Sementara Kiana hanya terus diam, sesekali melirik Jovian, namun dia lebih banyak menundukan pandanganya, menghindari tatapan tajam Jovian yang malam ini terlihat begitu menyeramkan. Bahkan keduanya sempat berdebat beberapa waktu sebelum Jovian benar-benar memaksa Kiana untuk pulang.


"Baiklah, kami masuk duluan yah!" Kata Danu.


Ketika melihat gelagat Kiana juga Jovian, yang seperti ingin menyampaikan sesuatu.


Danu beralih merangkul istrinya, kemudian masuk lebih dulu, meninggalkan Kiana bersama Jovian, yang tidak lain adalah calon suaminya saat ini.


Kiana masih diam dengan posisi yang sama. Sementara Jovian menatap Kiana dengan kedua tangan yang pria itu sembunyinya di dalam kedua saku celana.


"Emmmm, … aku masuk yah! Om kalau mau pulang, silahkan. Tapi janji yah besok jangan marahin aku lagi."


Dia memberanikan untuk mengangkat pandangan, sampai pandangan antara dirinya dan Jovian kembali saling beradu.

__ADS_1


Jovian bungkam, dia hanya terus menatap Kiana dengan posisi yang tidak berubah.


"Maaf!" Akhirnya kata itu keluar dari mulutnya. "Jangan marah terus, aku janji nggak akan bohong lagi, entah itu sama Papa, Mama atau Om." Suaranya terdengar lirih.


"Hhheuh!" Jovian menghela nafas, dia berjalan mendekat, yang langsung Kiana sambut dengan pelukan.


Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang sana, memeluk pinggang Jovian erat, sampai suara detak jantung pria itu dapat Kiana dengan dengan jelas.


"Saya tidak marah." Kata Jovian dengan suara yang terdengar begitu lembut.


Kiana mengangguk.


"Tapi jangan melakukan itu lagi. Kamu membahayakan diri kamu sendiri, … mungkin jika kamu melakukan itu kepada saya, saya masih bisa berpikir panjang. Bayangkan jika kamu melakukan itu kepada laki-laki lain? Mungkin kamu sudah tidak akan selamat. Satu yang harus kamu ingat Kiana! Saya itu laki-laki dewasa yang pernah menikah, tidak mudah mengendalikan sesuatu yang sengaja kamu pancing secara terus-menerus!"


Jovian menundukan pandangan, hingga dia dapat menatap wajah Kiana yang saat ini menempel di dadanya, dengan raut ketakutan yang begitu terlihat jelas.


Sementara Kiana hanya kembali mengangguk tanpa menyangkal kata-kata yang Jovian ucapkan.


Cup!!


Dia mencium kening Kiana.


"Sudah. Sekarang masuklah, istirahat yang cukup." Dia mengusap puncak kepala kekasihnya.


Kiana melepaskan lilitan kedua tangan di pinggan Jovian, mendongak, lalu mundur beberapa langkah.


"Sampaikan kepada Pak Danu dan Bu Herlin. Mungkin Minggu depan Papi dan Mami akan datang." Jovian mengulum senyum.


"Ya sudah, ayo masuk. Setelah itu saya harus pulang, rasanya sangat lelah seharian berkendara."


Namun Kiana menolak, dia menggelengkan kepala.


"Aku masuk kalau Om sudah pergi." Ujar Kiana dengan suara pelan.


Jovian terkekeh.


"Baiklah. Saya pulang kalau begitu, besok saya jemput pagi-pagi seperti biasa."


Pria itu segera berbalik badan setelah mendapatkan sebuah anggukan samar dari Kiana, kembali masuk ke dalam mobil, kemudian mulai melajukan mobil hitam itu.


Suara klakson terdengar beberapa kali, sementara Kiana membalas dengan lambaian tangan. Dan setelahnya mobil itu benar-benar pergi, keluar melewati gerbang besar rumahnya, yang langsung ditutup oleh seorang petugas keamanan yang sedang bertugas malam ini.


***


Sekitar 45 menit berkendara.


Akhirnya Jovian sampai di dalam sebuah unit miliknya. Dia mematikan beberapa lampu di ruang tengah, yang hanya membiarkan lampu dapur yang menyala. Lalu dia berjalan ke arah kamar, yang masih tampak temaram karena hanya mengandalkan cahaya yang masuk dari luar.


Sebuah kaca yang membentang, dan menyuguhkan pemandangan yang begitu mempesona pada malam hari. Gedung-gedung tinggi, dengan gemerlap lampu yang terlihat, sampai Jovian memutuskan untuk tidak menutup gorden tebal di dalam kamarnya.

__ADS_1


Klek!!


Jovian menutup ruangan itu, kemudian berjalan ke arah sofa, dan duduk di sana untuk menikmati pemandangan malam hari dari atas ketinggian.


Tiba-tiba saja dia tersenyum, ketika ingatannya kembali tertarik pada beberapa jam yang lalu.


"Astaga!" Jovian mengusap wajah, berusaha menahan senyuman dengan menggigit bibirnya cukup kencang.


"Hhheuh, Kiana." Dia mendesah pelan.


Jovian merogoh ponsel yang berada di saku celananya, pun dengan dompet yang segera dia letakan di atas sebuah meja yang terletak tepat di samping sofa.


Tiba-tiba saja dia kembali mengambil ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi pesan, dan mencari nomor Kiana.


"Kia."


Jovian mengirim pesannya, dengan tanda ceklis abu-abu yang berubah menjadi hijau, pertanda jika Kiana langsung membukanya.


"Iya, Om?" Kiana membalas.


Lagi-lagi lengkungan di antara kedua sudut bibir kembali tertarik, menciptakan sebuah senyuman samar.


"Kenapa belum tidur?"


"Ini baru mau. Baru selesai mandi sama pakai night routine."


"Baiklah, saya juga mau mandi. Letakan ponselnya, jauhkan dari jangkauan mu dan tidurlah!"


Mengetik ….


"Sudah lewat tengah malam, Om mau mandi lagi? Bukannya tadi sebelum antar aku Om juga sudah mandi?"


Jovian tertawa ketika membaca pesan balasan dari Kiana. Pikirannya sudah benar-benar kacau, dan pelakunya adalah seorang gadis mungil yang sangat keras kepala.


"Ini semua ulahmu. Pikiran saya benar-benar kacau dan sangat sulit dikendalikan!"


"Om mau ngomongin apa sih? Kadang-kadang aku suka bingung sama obrolan kita."


Jovian tertawa lagi.


"Nanti setelah menikah, kita akan ujian praktek. Sekarang tidurlah, dan jangan balas pesannya lagi, … kalau tidak kita akan tetap terjaga seperti ini."


Dan balasan itu benar-benar hanya Kiana baca, yang setelahnya tanda online ponsel gadis itu langsung menghilang.


Jovian menekan tombol power untuk mematikan ponselnya, dia bangkit, berjalan ke arah sebuah nakas dan meraih kabel charger, lalu menekan benda pipih itu di atas nakas sana.


Dia berjalan ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, membuka kemudian menutupnya kembali.


Dia mulai menanggalkan pakaiannya satu-persatu. Dan setelah semuanya terlepas, Jovian segera berjalan mendekati shower, berdiri di sana dan membiarkan air dingin mengalir dari atas kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


Rasa yang sempat tidak pernah dia rasakan, kini kembali dengan ukuran yang cukup besar, bahkan lebih gila daripada sebelumnya. Dan pelakunya adalah seorang gadis yang baru beberapa bulan dia kenal, sebagai seorang gadis yang berada dalam pengawasannya.


Sebuah ketidak sengajaan yang sangat bagus bukan? Niat hati hanya mengalihkan pikirannya dari masa lalu, dia kini benar-benar mendapatkan gantinya yang lebih dari apa yang Jovian dapatkan sebelumnya.


__ADS_2