Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Makan malam atau kencan.


__ADS_3

Sebuah mobil Pajero hitam terlihat melewati gerbang rumah yang sengaja di buka dengan sangat lebar. Berhenti tepat di jejeran beberapa mobil, lalu keluarlah Danu bersama sang istri.


"Jo? Bagaimana kabarmu satu Minggu terakhir?" Danu langsung bertanya saat Jovian berjalan mendekat.


"Baik." Pria berkarisma itu menjawab.


"Kiana?"


"Sejak pulang langsung masuk, katanya tidak enak badan. Saya ajak untuk menjemput Ibu dan Bapak dia tidak mau, saya ajak ke Dokter pun dia juga tidak mau." Jelasnya yang langsung dijawab anggukan oleh Danu.


"Benarkah dia sakit, Jo? Sakit apa?" Herlin tampak langsung panik.


Bagaimana tidak. Putri kesayangannya jatuh sakit, bahkan hanya karena dia tinggalkan untuk satu Minggu, karena harus menemani suaminya memantau perkembangan tambang batu bara milik keluarga. Segera Herlin berlari ke arah dalam, menenteng sebuah tas branded miliknya.


"Kau boleh pulang, Jo. Terimakasih sudah menjaga Kiana dengan baik satu Minggu ini." Danu menepuk-nepuk pundak Bodyguard pribadi putrinya.


"Emmmm, … masih sangat sore, Pak!"


"Tidak apa-apa. Ambilah waktu luangmu untuk pergi. Entah itu bersama keluarga atau gadismu." Kata Danu sambil terkekeh. "Kalau begitu saya masuk dulu, saya juga harus periksa bagaimana keadaan Kiana, apa sakitnya parah, butuh penanganan Dokter atau tidak."


Jovian mengulum senyum.


"Pak Yanto. Kopernya tolong dibawa kedalam yah." Pinta Danu.


Dan setelahnya pria itu melenggang masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Jovian yang masih berdiri di dekat mobil Pajero hitam yang terparkir di garasi sana.


Suasana sore hari ini terlihat begitu cerah. Langit kebiruan mulai berubah menjadi warna hijau yang sangat cantik, ketika cahaya teriknya matahari mulai meredup dengan sangat perlahan.


Pria itu segera berbalik arah, memasuki satu bangunan yang sudah menjadi tempatnya bersantai jika sedang tidak ada kesibukan bersama Kiana, dan keluar kembali setelah memastikan barang bawaannya sudah diambil.


"Pak Yanto saya pamit pulang." Kata Jovian, seolah sedang menitipkan pesan jikalau Danu tiba-tiba menanyakannya.


Ini memang masih terbilang sore. Bahkan masih sangat awal untuk pulang, tapi jika Danu sudah mengizinkan, maka tidak ada salahnya dia ambil, dan mencoba menikmati waktu luangnya.


"Baik, Pak Jovian. Selamat beristirahat, hati-hati di jalan." Yanto berujar.


"Mari Pak Yanto."

__ADS_1


Jovian segera mendekati mobil miliknya, kemudian membuka pintu dan segera masuk untuk meninggalkan kediaman keluarga Danuarta.


Sementara di balik tirai tipis sana seorang gadis tengah menatap kepergiannya dengan perasaan tak menentu, dan tak dia mengerti.


"Apa yang kamu lihat?" Suara Herlin kembali terdengar, setelah beberapa saat lalu memeriksakannya, lalu pergi untuk membawa beberapa makanan yang Kiana minta.


Gadis itu cukup terkejut, hingga refleks membenahi tirai kamarnya, dengan senyuman yang terlihat sedikit dipaksakan.


"Ada makanan lain? Yang kamu mau?" Sang ibu meletakan beberapa biskuit dan keripik singkong.


Kiana menggelengkan kepala.


"Kamu tidak demam!" Lagi-lagi Herlin menyentuh kening dan pipi sang anak dengan punggung tangannya, berusaha untuk memastikan keadaan gadis itu.


Namun sejauh ini Kiana terlihat baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda jika dia sakit, entah itu dari suhu tubuh atau dari keadaan fisiknya.


"Kata Jovian kamu tidak enak badan. Lalu kamu juga bilang iya, … tapi Mama rasa kamu baik-baik saja."


"Nggg, … aku sedikit pusing, Mah! Sama badan aku pegal-pegal."


"Iya kah?"


"Baiklah, Mama bersih-bersih dulu oke? Nanti ada Mbak yang datang membawa susu hangat."


Kiana mengangguk. Dan setelah itu Herlin beranjak pergi, keluar dari dalam kamar sana sembari menarik handle pintu sampai membuat benda itu benar-benar tertutup.


"Hhhhah!" Kiana menghela nafasnya lega.


Matanya terpejam untuk beberapa saat, dengan telapak tangan yang mulai mengusap dadanya. Debaran di sana semakin kentara, tapi Kiana benar-benar tidak tahu penyebabnya apa.


Dia tidak baru saja berlari kencang, atau melakukan olahraga apapun, namun jantungnya terus berpacu bahkan puluhan kali lipat lebih kencang dari pada biasanya.


"Apa aku memiliki penyakit serius di jantung? Ah ini sangat menakutkan." Katanya, lalu menghempaskan punggung pada tumpukan bantal di belakang tubuh.


***


"Hari ini waktu senggangmu cukup banyak?" Mayden menoleh, menatap pria tinggi yang sedang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


Sebuah parkiran mobil yang cukup luas.


"Lumayan. Gadis yang saya awasi tidak terlalu banyak tingkah, sampai membuat semua pekerjaan bisa lebih santai dan membuat jam pulang lebih maju sedikit." Jovian menjawab.


Dua orang yang baru saja dekat itu memutuskan untuk pergi keluar bersama. Hanya sekedar untuk bersantai atau melakukan makan malam bersama. Berbeda dengan Mayden yang sudah terang-terangan menunjukan rasa ketertarikannya kepada Jovian. Justru pria itu masih terlihat biasa saja, karena memang hanya sedang berusaha membuka diri, menjauhkan ingatannya dari orang-orang dimasa lalu, khususnya Diana Eva sang mantan istri.


Sebuah restoran bintang lima. Salah satu tempat yang Mayden pilih, kala Jovian memberinya sebuah kabar jika sore hari ini pria itu sedang memiliki waktu senggang yang cukup banyak.


Jovian tidak mempermasalahkan itu. Tentu saja, uang tabungannya tidak akan langsung habis hanya karena membayarkan satu gadis untuk makan di restoran mewah yang ada di salah satu kota Tangerang.


"Untuk berapa orang, Pak?"


"Dua."


"Baik, silahkan sebelah sini."


Seorang pria dengan setelan jas berjalan lebih dulu, dan menunjukan salah satu meja dengan dua kursi, tepat di sebelah kaca besar, yang langsung menunjukkan pemandangan sebuah taman kecil yang terdapat hiasan-hiasan lampu disana.


Mayden terus menyunggingkan senyum. Sementara Jovian dengan ekspresi wajah datarnya seperti biasa.


Sebuah kemeja putih lengan panjang Mayden pilih untuk malam ini. Dengan dua kancing di atasnya yang dibiarkan terbuka, hingga membuat bagian sana sedikit terekspos, membuat penampilannya terlihat seksi dengan aksesoris kalung liontin berbentuk oval, tak lupa dengan skinny jeans membuat penampilannya terlihat sempurna.


Sementara Jovian terlihat lebih santai daripada biasanya. Pria itu hanya memakai sebuah kaos berwarna hitam, yang terlihat begitu pas di tubuhnya sampai memperlihatkan siluet dari otot-otot yang dia miliki. Di padukan dengan celana chinos berwarna abu-abu, sendal slop dengan merk ternama di dunia (Kremes).


Bahkan Mayden sampai tertegun saat melihat penampilan Jovian yang santai, namun sangat berkelas.


Keduanya memilih menu makanan masing-masing, dan memberikan buku menu setelah selesai. Lalu menunggu dengan waktu yang cukup lama, ditemani satu botol red wine yang memang segera waiter sediakan.


Ruangan temaram. Hanya lampu-lampu kecil yang terlihat menyala, alunan musik jazz yang terdengar begitu lembut, juga terdapat beberapa pasang kekasih di sana, membuat suasana menjadi lebih syahdu.


Keduanya bahkan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan pada malam hari ini.


"Jovian? Mari bersulang!" Mayden mengangkat gelasnya.


Pria itu mengangguk.


Dia meraih gelas berisikan minuman berwarna merah pekat itu, mengangkatnya, dan mendekatkan dengan gelas wine milik Mayden hingga denting benda tersebut berbunyi.

__ADS_1


"Ini untuk kita. Semoga kedepannya semakin baik, dan ada kemajuan, … untuk apa yang sedang kita jalani." Ucap Mayden, lalu meminum winenya dengan perlahan.


Jovian tidak menyahut, pria itu tidak menolak atau mengamini. Dia hanya bersikap sebagaimana mestinya.


__ADS_2