Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Siraman


__ADS_3

Halaman kosong di depan rumah Jonathan yang cukup luas, kini terlihat sangat berbeda. Tenda berdiri kokoh di tengah-tengah tanah berlapis rumput Jepang area rumah panggung itu, dekorasi pelaminan sudah terlihat hasilnya, dengan berbagai macam bunga hidup yang mendominasi, membuatnya terlihat menyatu dengan alam.


Kursi-kursi berjejer rapi, dengan alunan musik khas daerah Pasundan terdengar mengalun. Menandakan jika rangkaian acara memang sudah benar-benar dimulai.


Beberapa orang mulai berdatangan, memenuhi undangan sang tuan rumah untuk melakukan pengajian, sekalian melakukan syukuran atas kehamilan Kiana yang hendak menginjak usia 4 bulan.


Seorang pemuka agama setempat mulai berbicara. Mengucapkan salam serta sedikit pidato untuk pembukaan acara. Sampai akhirnya Jovian datang, membawa Kiana bersamanya, yang disusul Leni, Herlin, Jonathan dan juga Danu. Tak lupa beberapa keluarga dari pihak Leni turut hadir, ikut bersukacita atas apa yang sedang kerabat mereka rasakan.


Semua pandangan tertuju kepada Kiana. Sosok gadis belia yang begitu menawan. Kulit putih bersih, berperawakan kecil, mengenakan dress serba panjang berwarna putih, dengan rambut sebahu yang di tata sedemikian rupa, membuat warga-warga desa tak hentinya berdecak kagum.


Bagaimana tidak. Sosok pemuda kampung yang sangat dikenal sebagai putra sang tuan takur, kini kembali menikah, dan yang paling mengejutkan adalah perbedaan umur keduanya yang cukup jauh. Kabar jika Kiana adalah seorang putri tunggal dari pengusaha batubara ternama jelas sampai di telinga warga desa, hal itu pula yang membuat semua orang merasa tidak percaya.


"Hari ini, kita semua datang untuk memenuhi undangan dari Pak Jonathan, Ibu Leni dan kedua besannya. Seperti yang kita ketahui, dalam beberapa hari kedepan acara ngunduh mantu akan diadakan. Dan sebelum acara itu dimulai, kita mulai dengan acara syukuran. Kita doakan semoga semuanya berjalan lancar, rumah tangga Aden dan Eneng nya awet, sama kandungan istrinya Aden Jovian sehat, juga selamat sampai nanti lahiran yah." Katanya, yang langsung mendapatkan anggukan dari orang yang di maksud.


Dan doa segera di lantunkan.


Setelah selesai. Kiana diperintahkan duduk di salah satu kursi, dengan satu kendi berukuran besar, berisikan air dan tujuh macam jenis bunga.


"Duh!" Kiana tersenyum canggung saat menatap suaminya. "Pasti dingin." Perempuan itu terkekeh, seraya mempersiapkan diri, sesaat dirinya melihat sang ibu mengambil gayung yang terbuat dari batok kelapa.


Jovian tersenyum, seolah sedang memberikan isyarat pada Kiana jika dirinya akan baik-baik saja.


"Tidak akan terlalu dingin, tadi airnya pakai air hangat." Jovian berbicara dengan suara pelan.


"Mau Jovian dulu atau Mama dulu?" Herlin menatap menantunya, kemudian beralih pada sesepuh perempuan yang sengaja mereka hadirkan disana untuk membimbing acara siraman tersebut.


"Mama saja, aku nanti." Sahut Jovian, membuat Herlin segera menganggukan kepala.


Kiana memejamkan mata, ketika Herlin mulai menyiramkan air dari atas kepala dengan perlahan-lahan. Dan seketika hawa dingin begitu terasa menusuk setiap jengkal di tubuhnya, apalagi saat hembusan angin bertiup cukup kencang.


Semua orang tampak tersenyum.


Sesudah Herlin, beralihlah kepada Danu, kemudian Leni, lalu Jonathan dan berakhir pada Jovian.


Tubuh Kiana mulai menggigit, dengan bibir memucat yang terus bergetar. Namun, tak hentinya perempuan itu memperlihatkan senyum, karena apa yang sekarang dia alami jelas membuat perasaan bahagia nya terus muncul.


Pandangan Jovian menunduk, menatap gaun putih Kiana yang sudah basah. Terlihat tidak menerawang, tapi bulatan kecil mulai terlihat menyembul dari perut istrinya.


"Semoga acaranya lancar, dan bayi juga Mama nya sehat sampai lahiran nanti." Wanita tua tadi berbicara.


Rangkaian demi rangkaian dilakukan saling bertahap. Dan acara siraman tersebut ditutup oleh doa bersama kembali.


"Calon pengantinnya boleh diantar ganti baju dulu, … untuk tamu undangan, silahkan datang ke sebelah kanan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan." Wanita tua itu kembali berbicara.


Leni mengangguk, dan dia mempersilahkan tetangga kampungnya untuk menikmati apa yang sudah mereka sediakan.


Tangan Jovian terulur, yang segera Kiana sambut sampai keduanya saling menggenggam. Kemudian pria itu menariknya perlahan, membatu Kiana untuk bangkit. Mereka beranjak pergi naik ke atas rumah panggung, sementara para orang tua mulai disibukan menyambut para tamu undangan.


"Tadi airnya hangat, sungguh." Ucap Jovian setelah mereka berada di dalam kamar, kemudah menutup pintunya kembali.


"Airnya tidak dingin Papa. Tapi udaranya, … tahu sendiri disini bagaimana!" Katanya seraya berjalan memasuki kamar mandi.


Jovian mengikuti dari arah belakang, kemudian berdiri di ambang pintu, menahan benda yang hampir saja tertutup.


"Jangan di tutup!"


"Ish, … orang aku mau ganti baju." Cicit Kiana.


"Iya tidak usah ditutup, biarkan saja terbuka agar aku bisa tetap mengawasimu. Dan memastikan anak dan istriku baik-baik saja!"

__ADS_1


"Nggak lah, nanti kamu tergoda!"


Kiana kembali mendorong pintu kamar mandinya, tapi lagi-lagi Jovian tahan sampai perempuan itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain membiarkan Jovian melihatnya yang mulai melucuti pakaiannya sendiri.


Jovian tersenyum samar. Apalagi ketika dia melihat tubuh istrinya yang mulai memperlihatkan banyak perubahan. Lebih berisi, dada yang ranum, bokong yang lebih besar, dengan perut yang terlihat sedikit membulat.


Selesai membilas tubuhnya dengan air hangat, Kiana meraih handuk yang biasanya Jovian kenakan, melingkarkan kan benda itu sehingga menutupi area dada hingga paha.


"Apa kita harus keluar lagi?" Tanya Kiana setelah jaraknya dengan Jovian cukup dekat.


"Tentu saja, kita harus menemui para tamu. Dan saudara-saudaraku yang ada disini." Dia mengikuti kemana Kiana pergi, lalu berhenti dan mendudukan diri di tepi ranjang.


Pria itu menunggu.


"Aku harus pakai baju ini sekarang?" Kiana menatap gaun berwarna merah maroon yang kini menggantung di dekat lemari.


Gaun berbahan brokat, dengan mutiara-mutiara kecil hampir di setiap sisi. Membuat benda tersebut tampak sangatlah mewah, apalagi saat terkena sorot cahaya. Dia menatap pakaian itu, kemudian beralih pada Jovian. Pria yang saat ini memakai setelan baju muslim berwarna putih.


"Masa aku pakai baju merah sendiri? Sementara semua orang memakai baju putih?"


"Agar orang-orang tahu kaulah sosok yang kini mendampingi aku," Jovian tersenyum.


"Apa harus?"


Jovian mengangguk.


"Karena dulu mereka …"


"Tahunya Tante Eva? Bukan aku? Begitu?" Sergah Kiana. "Baiklah, aku akan berdandan secantik mungkin, agar dunia tahu. Jika wanita yang mendampingi kamu kali ini lebih cantik, lebih imut, dan lebih menggemaskan."


"Baiklah, sayang. Kalau begitu pakai gaunmu, aku akan memanggil perias untuk segera datang."


Kiana diam untuk beberapa saat, menatap kepergian suaminya dengan seulas senyum yang terlihat di kedua sudut bibir.


"Lihat? Papamu semakin tampan saja. Wangi lagi!" Katanya, dia menunduk, lalu mengusap perutnya lembut.


***


"Dimana adik sepupuku?" Seorang pria yang jauh lebih muda dari Jovian segera bertanya, setelah dia dapat menemukan Jovian.


Saudara sepupunya yang sudah lama tidak dapat dirinya temui karena kesibukan masing-masing.


"Sebentar lagi turun. Sekarang sedang ganti pakaian dulu." Jovian meninju lengan saudaranya.


"Ka Vier tidak pulang? Kenapa? Sayang sekali padahal ini momen paling langka. Dulu kau yang menyaksikan pernikahan Ka Vier bersama Eva. Seharusnya kini dia menyaksikan pernikahanmu dengan Adline."


Mereka berdua tertawa.


"Dulu juga dia menyaksikan pernikahanku!"


"Ya, tapi belum menikah. Kau jahat, Jo! Mendahului dia, padahal sudah jelas orang yang seharusnya menikah lebih dulu itu Ka Vier, bukan kau!"


"Sama saja!" Balas Jovian, dan tawanya semakin terdengar kencang.


Tiba-tiba saja dua pria berbeda usia itu diam, mengalihkan pandangan ke arah tangga rumah, dimana seorang wanita berpenampilan memukau turun, di ikuti beberapa wanita di belakangnya.


"Wow!!" Dia menyenggol lengan Jovian. "Dia cantik bro, … asli dan fotonya terlihat sangat berbeda." Pria yang akrab disapa Ardan itu berbisik.


Membuat Jovian segera menoleh, kemudian mengusap wajah sepupunya kasar.

__ADS_1


"Jaga matamu!" Cicit Jovian. "Dia istriku tahu! Kau tidak boleh macam-macam." Pria itu memperingati.


Ardan tersenyum jahil.


"Tapi sepertinya usia istrimu denganku tidak terlalu jauh, … jadi cocok bersamaku sepertinya!"


Plak!!


Jovian memukul sepupunya kencang, menyalurkan rasa cemburu yang tiba-tiba saja bergejolak memenuhi relung hati. Ardan memang terlihat sedang bercanda, tidak ada unsur keseriusan dalam setiap ucapannya, namun entah kenapa dia benar-benar merasa marah saat sang sepupu mengatakan jika Kiana juga cocok bersanding dengannya.


Tentu saja tidak, dia hanya milikku!


Jovian membatin.


"Kakak sepupu macam apa kau ini? Sudah lebih muda, kurang ajar pula!" Celetuk Jovian dengan perasaan gusar.


"I'm just kidding, Jo!" Ardan menepuk pundak Jovian.


Sementara pria itu tampak mendelik, yang seketika membuat Ardan kembali tertawa kencang.


Kiana mendekat pada kursi yang memang disediakan khusus untuk dirinya juga sang suami. Pandangannya terarah pada Jovian, beralih pada Ardan dengan raut wajah penuh tanya. Bagaimana tidak, sikap keduanya benar-benar membuat Kiana merasa penasaran, apalagi saat melihat Ardan terus tertawa terbahak-bahak, sementara suaminya yang tampak diam dengan raut wajah masam.


"Halo Adik sepupu!" Ardan mendekat, dia mengulurkan tangan berniat untuk berkenalan.


Namun, Jovian menepisnya sebelum Kiana menerima uluran tangan itu.


"Tidak perlu!" Ucap Jovian ketus.


"Ayo sayang, Kita tunggu disini, sebentar lagi orang-orang akan datang untuk mengucapkan selamat. Tentunya setelah mereka selesai makan."


Jovian membawa Kiana menjauh dari saudara sepupunya.


Ardan tersenyum seraya menggelengkan kepala. Sementara Kiana menatap wajah suaminya dengan ekspresi bingung.


"Jangan terlalu dekat dengan Ardan, dia agak aneh. Kalau diajak bicara tidak nyambung, … pokoknya jangan dekat-dekat dengan Ardan." Jovian berbisik.


Kiana terlihat berpikir, lalu menoleh untuk memastikan.


"Jangan dilihat!" Jovian menarik wajah istrinya.


Pria itu tersenyum, yang tentu saja membuat Kiana semakin merasa heran.


"Tetaplah bersamaku, tidak boleh jauh, oke?"


"Kamu aneh, sayang!"


"Tidak aneh, hanya memberi aba-aba saja." Tukas Jovian.


Kiana tidak menjawab lagi, dia hanya menurut, dan mendudukan diri di sofa yang sudah tersedia, dengan Jovian yang terus meremat jari-jari tangannya seolah takut mereka akan terpisah jika saja dirinya tidak melakukan hal tersebut.


Tidak akan aku biarkan siapapun mendekati istriku, tidak terkecuali saudara-saudaraku sendiri, tidak peduli mereka akan berpikir apa, yang penting Kiana harus tetap aman bersama diriku.


Batinnya kembali berbicara.


......................


Maaf ya baru bisa setor bab 🤭


Seperti biasa yahhhhhh 🤩🥳😘🥰

__ADS_1


Aylopyu banyak-banyak ♥️


__ADS_2