Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Bawaan Hamil


__ADS_3

"Dimana Kiana?"


Tanya Jonathan dengan segera, setelah dia masuk kedalam rumah, dan mendapati Jovian duduk di sofa ruang tengah tanpa keberadaan menantu kesayangannya.


Kediaman Jonathan dan Leni memang selalu terasa hening. Namun, kali ini terasa begitu hidup saat Jovian ada disana, apalagi dengan suara televisi yang cukup terdengar kencang.


"Sedang tidur." Jovian menjawab dengan singkat, kemudian dia mengalihkan pandangannya lurus ke arah depan setelah menatap wajah ayah dan ibunya beberapa detik.


"Sudah kamu belikan makan? Mami lupa minta Wiwin masak yang banyak tadi."


Leni berbicara sambil berjalan ke arah dapur, mendekati bak cuci, lalu membasuh tangannya disana. Salah satu kebiasaan yang tidak pernah hilang, walaupun dia tidak datang ke tempat kotor, tapi mencuci tangan setelah bepergian adalah hal wajib bagi dirinya dan sang suami.


Jovian menghela nafasnya, seraya merapatkan punggung pada sandaran sofa.


"Kenapa? Apa hamilnya cukup rumit?" Jonathan yang sudah selesai membasuh tangannya pun mendekat, lalu duduk tepat di samping Jovian.


"Dia tidak mau makan nasi hari ini. Dia mengeluh mual dan tidak suka bau nasi itu sendiri, … padahal sebelumnya masih bisa dipaksakan." Jelasnya.


Leni dan Jonathan saling beradu pandang. Di satu sisi mereka merasa prihatin, tapi perasaan lain justru tumbuh, kebahagiaan karena apa yang Kiana alami saat ini adalah sebuah pertanda dari jabang bayi yang tengah perempuan itu kandung.


"Lalu bagaimana?"


"Tidak bagaimana-bagaimana, … cuma merengek saja." Ujar Jovian tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.


"Merengek bagaimana!?" Cicit Leni.


Sementara pandangan Jovian masih fokus pada tayangan berita di salah satu stasiun televisi.


"Mau mangga muda di pohon sebelah. Untuk Mak Icih nya ada, kalo nggak ada mungkin Kiana udah nangis guling-guling."


Dan ucapan itu sontak membuat Jonathan dan istrinya tersenyum penuh arti.


"Jadi sore-sore makan rujak?" Leni terkekeh.


"Nggak, Kiana memakannya hanya dengan cocolan garam saja." Jelas Jovian, yang langsung mendapatkan anggukan dari Leni juga Jonathan.


"Ya sudah. Mami mau minta Wiwin datang kesini buat bantu-bantu masak."


Leni bangkit dari tempat duduknya semula, lalu berjalan mendekati salah satu pintu ruangan yang tertutup, dan masuk sembari menutup pintunya kembali. Tinggallah dua pria yang masih betah duduk berdiam di atas sofa. Menonton tayangan berita pada hampir menjelang malam hari ini.


Pandangan Jonathan beralih melirik pria muda di sampingnya, menatap dengan ekspresi tak menentu, juga senyuman sama dan mata berbinar.


Jovian menoleh.


"Papi kenapa?" Katanya dengan raut bingung.


Jonathan segera menggelengkan kepala.


"Ada yang aneh? Atau sesuatu mengganggu wajahku?"


Pria tua itu kembali menjawab pertanyaan Jovian dengan gelengan kepala.


"Papi makin tua makin aneh!" Celetuk Jovian.

__ADS_1


"Oh ya? Apa kebahagiaan ini membuat ayahmu terlihat aneh, Jovian?"


Jovian diam, memandang wajah tua pria di sampingnya dengan hati terenyuh. Tentu saja, senyuman itu jelas menggambarkan kebahagiaan, lalu kenapa dirinya berbicara seperti itu? Memangnya yang boleh bahagia hanya dirinya? Lalu tidak dengan yang lain sampai dengan entengnya dia menyebut jika sang ayah terlihat begitu aneh?


"Bagaimana perasaanmu? Lima tahun menunggu, tapi justru kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dari perempuan yang bahkan belum genap satu tahun kamu nikahi?"


Jovian menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan-lahan melalui mulut, sampai menimbulkan rasa yang begitu melegakan di dalam dada sana.


"Bukankah Tuhan itu maha baik, Jovian? Bahkan semua yang kamu mau terjawab sekarang. Rumah tangga yang harmonis, istri yang cantik dan baik, mertua yang sangat pengertian, … lalu anak yang kamu inginkan sejak lama. Bukankah Kiana sudah mewujudkan apa yang kamu mau? Jadi Papi harap kamu menjaga Kiana sebagaimana mestinya."


"Papi bercanda ya?" Jovian semakin dalam menatap manik ayahnya. "Memangnya aku ini gila? Sampai tidak mau menjaga Kiana dan harus diingatkan oleh Papi?" Lalu dia tertawa.


"Hanya mengingatkan! Setelah ini tidak ada lagi Eva di antara kalian. Entah itu secara langsung, atau hanya ada di dalam pikiranmu saja."


Mendengar itu Jovian mengangguk.


Jonathan mengulum senyum, dengan satu tangan yang bergerak menepuk-nepuk pundak Jovian.


"Cukup kemarin Kiana pergi dalam waktu yang tidak sebentar, jangan sampai istri kamu berbuat lebih keras lagi! Karena Kiana selalu terlihat bersungguh-sungguh dalam setiap keputusannya. Dan lagi, … kamu tidak ada apa-apanya Jovian, Kiana tidak akan pernah takut jika harus meninggalkan kamu."


"Iya Pih."


"Lalu bagaimana dengan Eva? Sudah sepatutnya dia mendapatkan sedikit balasan meskipun Kiana meminta kamu agar tidak melakukan apa-apa selain melupakan kejadian itu dan fokus melangkah kedepan."


"Jovian sedang meminta bantuan Pak Cendana, Pih. Papi ingat?"


Jonathan sedikit terlihat berpikir, sampai akhirnya pria itu mengangguk saat mengingat orang yang Jovian maksud.


"Seorang Jaksa?"


"Kamu memakai orang dalam? Ah licik sekali kamu ini!"


"Tidak licik, aku juga tidak meminta memberikan Mereka tuntutan apapun. Hanya saja kalau bisa cari masalah yang mungkin sedang mereka tutup-tutupi, dan aku bisa menyerangnya dari sana."


Jonathan diam.


"Maksudnya dengan mereka? Siapa saja yang sedang kamu incar?"


Jovian menatap wajah ayahnya, lalu senyum penuh makna terlihat. Membuat kening Jonathan semakin mengkerut kencang.


"Eva dan Pak Erik! Memangnya siapa lagi? Anaknya membuat istriku marah, sementara ayahnya membuat orangtuaku merasakan sakit hati dan malu karena perbuatan di masa lalu. Apa menurut Papi aku harus tetap diam? Aku rasa tidak untuk saat ini! Mereka bisa menginjak-injak aku dulu, dan aku hanya diam menerima dengan suka rela. Tapi kali ini, semua yang mereka lakukan harus dibalas setimpal."


Jonathan menggelengkan kepalanya, kemudian helaan nafas terdengar.


"Apa tidak akan timbul masalah baru kalau kamu juga menyerangnya?"


Pria tua itu menyandarkan punggungnya, seraya menatap langit-langit ruang tengah yang terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi cat berwarna coklat mengkilap.


"Tidak peduli se jahat apa lisannya kepada kami dulu, … hanya saja bagaimana dengan Kiana? Kita tahu betul bagaimana Pak Erik!" Jonathan kembali berujar.


"Sudah Jovian jelaskan. Kita masuk dari celah yang sudah terbuka, … dan bermain seolah-olah Jovian tidak tahu apa-apa. Ah pokoknya begitu deh, nanti juga Papi tahu sendiri."


Setelah mengatakan itu Jovian bangkit, memberikan senyuman kepada sang ayah terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia mendekati pintu kamar, dan masuk kedalam sana.

__ADS_1


"Haih! Terkadang dia berbuat berlebihan. Tapi begitulah Jovian jika sedang bersungguh-sungguh mengatasi sesuatu. Sudah tidak ada yang bisa menghentikannya!" Gumam Jonathan.


Sementara di dalam kamar. Jovian tertegun di daun pintu saat dirinya tidak mendapatkan Kiana yang semua berbaring di atas tempat tidur semenjak mereka berdua menuntaskan rasa rindu masing-masing.


"Baby?" Lantas Jovian segera berteriak.


Yang dengan segera berjalan cepat mendekati pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Klek!!


Jovian mendapati pitnu tersebut tidak terkunci, sehingga membuatnya masuk dengan sangat mudah. Dan disanalah Kiana, membungkuk di hadapan sebuah closet dengan keadaan yang tidak begitu baik.


Menyadari kedatangan seseorang, Kiana sempat menoleh, lalu dia menekan tombol sampai suara air berbunyi nyaring, sebelum akhirnya dia bangkit dan berbalik badan untuk menatap suaminya.


Rambut yang mulai memajang dan terlihat sedikit berantakan. Mata sayu yang terlihat memerah, belum lagi wajah yang terlihat pucat.


"Hey! Kamu mengalami mual dan muntah lagi?" Kaki Jovian melangkah lebar, meraih tubuh mungil Kiana, lalu mendekapnya sampai ia tenggelam di balik tumbuh tinggi besar milik pria itu.


Kiana mengangguk.


"Mungkin karena kamu belum makan." Jovian menyingkirkan beberapa helai rambut, lalu menyelipkannya di telinga.


"Mami sedang meminta Bi Wiwin datang, nanti makan yah!" Pinta Jovian.


"Nggak ngaruh. Mau makan atau tidak, setiap sore pasti perut aku rasanya di aduk-aduk. Terus pusing tiba-tiba, dan mau muntah. Meskipun tadi aku tidak memuntahkan apapun, tapi rasanya sudah sangat lemas."


Kiana mengeluh.


Tangan Jovian beralih ke arah bawah, menyentuh perut Kiana dan mengusapnya dengan lembut.


"Jangan muntah lagi yah! Kasihan Mama nya jadi lemes." Ujar Jovian.


Pria itu sedikit membungkuk, menyentuh kedua kaki Kiana, lalu mengangkatnya dengan sangat mudah.


"Setelah ini aku minta Mami buatkan susu jahe. Mudah-mudahan rasa mulanya reda." Kata Jovian saat dia meletakan tubuh Kiana di atas tempat tidur. "Dulu kalau aku masuk angin, atau tidak enak badan, susu jahe buatan Mami selalu menjadi penyelamat." Katanya dengan senyuman khas seperti biasa.


Pria itu tidak langsung beranjak, ia menatap wajah cantik istrinya cukup lama, lalu mendaratkan ciuman di kening, kedua pipi, dan berakhir di bibir.


"Tunggu, aku tidak akan lama." Jovian tersenyum, dan kembali mengusap perut Kiana.


Setelah itu dia menegakan tubuh, berbalik, dan berjalan mendekati pintu kamar yang tertutup rapat.


Klek!!


"Ini bawaan hamil atau gimana yah? Kok dia terlihat semakin tampan saja!" Kiana berbisik, dengan kedua pipi yang merona.


......................


Ish ish sih, ... Mama utuh genitttttt ...


Cuyung, jangan lupa selalu dukung othor, saweran sama komen dan likennyaaaa oke?


Eh othor lupa.

__ADS_1


Mohon maaf lahir batin yah 😊 cuyung kalian banyak-banyak ♥️♥️


__ADS_2