Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sarapan bersama & berkemas


__ADS_3

Gerbang rumah segera terbuka, dan munculah mobil hitam, melaju dengan kecepatan rendah sebelum akhirnya berhenti di antara mobil-mobil yang lain.


"Sayang cepatlah, Mama sudah menunggu kita untuk sarapan bersama." Ucap Kiana dengan raut wajah riangnya.


Bahkan dengan segera perempuan itu membuka seatbelt, lalu pintu mobil dan keluar terlebih dahulu meninggalkan Jovian yang saat ini masih terlihat memasang wajah masam.


"Hhhheuh!" Dia menghela nafasnya cukup kencang, seraya menyapu wajah dengan perasaan frustasi.


Bagaimana tidak, hasratnya yang sudah di ujung tanduk tidak bisa dia saluran, saat tiba-tiba saja Kiana memintanya agar segera pergi untuk menemui kedua orang tuanya pagi hari ini setelah meninggalkan Danu dan Herlin selama beberapa hari jauh ke Pangalengan sana.


Tok tok tok!!


Kiana mengetuk kaca mobil di samping kiri, saat perempuan itu tidak mendapati suaminya segera turun.


"Sayang? Cepatlah."


Panggil Kiana lagi, dengan pandangan yang semakin dia dekatkan ke arah kaca mobil itu. Sampai dia dapat menatap keadaan Jovian dengan sangat jelas.


Dengan malas Jovian menyentuh handle pintu, menariknya sampai benda itu terbuka, kemudian keluar dan berjalan memutari mobil.


"Jangan marah!" Ujar Kiana sambil meraih lengan Jovian, dan memeluknya dengan sangat erat.


Jovian tidak menjawab. Pria itu terus diam, bahkan sampai Kiana membawa masuk ke dalam rumahnya kekesalannya belum juga mereda.


"Akhirnya kalian datang. Lihat, Mama apa yang masak … jadi ayo kita sarapan bersama." Herlin menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman hangat.


Kiana membalas senyuman sang ibu sambil terus berjalan mendekat, pun dengan Jovian yang tiba-tiba saja menarik kedua sudut bibirnya sampai membentuk sebuah senyuman samar.


"Duduklah. Ayo kita makan sekarang!" Pinta Danu.


Jovian segera mendekat, terlebih dulu dia menarik kursi untuk sang istri, dan setelah Kiana duduk Jovian pun menempati satu kursi tepat berhadapan dengan ayah mertuanya, tidak lain dan tidak bukan adalah Danuarta. Sosok pengusaha yang cukup terkenal dikalangan para pebisnis lainnya.


Mereka memulai sarapannya dengan tenang. Menikmati hidangan yang Herlin masak khusus untuk menyambut anak menantunya yang baru saja datang dari Pangalengan sana.


***


Setelah sarapan bersama-sama. Jovian memilih berbincang-bincang bersama ayah mertuanya, sementara Kiana langsung naik ke atas, dengan alasan melakukan beberapa persiapan karena memang besok pagi sudah harus berangkat ke bandara.

__ADS_1


"Hari ini ada pertemuan?" Tanya Jovian.


"Ya, hanya ada beberapa saja. Biasanya Denis yang mengambil alih, tapi karena ada undangan makan siang juga, … saya dan Mama nya Kiana harus berangkat kesana bersama-bersama dan tidak bisa di gantikan Denis. Terlebih dia masih sibuk memantau pemulihan Sita saat ini." Jelas Danu.


Jovian mengangguk.


"Bu Herlin ikut?"


"Ya, mungkin jam sebelas kita sudah berangkat. Tidak apa-apa kalian kami tinggal?"


Mendengar itu Jovian hanya tertawa. Rasanya lucu saat Danu menanyakan hal itu, dan entah apa maksud dari ucapan dari ayah mertuanya.


"Memangnya kenapa? Bapak khawatir saat meninggalkan kamu berdua?" Tanya Jovian sambil terus tertawa.


Membuat Danu juga terkekeh, namun segera menggelengkan kepalanya juga.


"Bukan begitu. Tidak enak saja, … kalian disuruh kesini cepat-cepat, ketika sudah disini malah ditinggal."


"Justru saya yang merasa tidak enak. Karena belum bisa menempati janji untuk membantu Bapak menjalankan saham milik Kiana."


Dua pria yang saat ini duduk di kursi kayu berhadapan dengan sebuah kolam ikan koi yang cukup besar saling menoleh, menatap dan tersenyum satu sama lain.


Jovian mengangguk lagi.


"Kalau begitu kita harus segera masuk. Mama nya Kiana pasti sudah menunggu untuk bersiap-siap, sementara Kiana juga pasti butuh bantuan kamu berkemas untuk acara bulan madu kalian." Danu berujar, yang langsung di timpali anggukan oleh Jovian.


Danu bangkit, kemudian dia berjalan ke arah dalam terlebih dulu. Diikuti Jovian setelahnya, dan berpisah saat keduanya menyambangi pintu masing-masing ruangan yang terletak di lantai 2 rumah besar itu.


Klek!


Jovian menutup pintu kamar Kiana rapat-rapat, lalu menoleh sampai dia dapat menatap Kiana yang tampak sendang menata beberapa pakaian yang suda perempuan itu pilih terlebih dahulu.


"Sayang, aku kalau bawa baju enam cukup nggak yah!?" Tanya Kiana seraya menghitung dengan jemari tangannya. "Eh nggak cukup yah, kita di Bali saja seminggu, belum main air, baju tidur sama pakaian untuk pergi." Katanya lagi, dan kembali mendekati lemari pakaiannya.


Jovian duduk di tepi ranjang, menatap satu koper besar berwarna pink yang sudah tampak siap di pakai. Namun dengan segera pandangannya tertuju pada salah satu setel pakaian, yang Jovian ketahui selalu dipakai untuk berkunjung ke pantai.


Pria itu menyeringai.

__ADS_1


"Baby?"


"Tunggu dulu sayang, aku pilih baju dulu buat di Bali nanti. Soalnya biar selesai satu-satu, setelah ini kita pulang dan kemas pakaian untuk kamu. Jadi kita berangkat dari apartemen saja yah!" Katanya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


"Kemarilah sebentar!" Jovian sedikit memaksa.


Namun Kiana tetap tidak mendengar, perempuan itu fokus memilah pakaian yang menurutnya pantas. Atau mungkin memang ingin terlihat luar biasa, terlebih saat ini dia liburan bersama Jovian.


Tidak, lebih tepatnya berbulan madu, dengan sosok pria yang baru beberapa hari resmi mempersuntingnya.


Jovian sedikit merasa gemas. Dia segera bangkit, berjalan mendekati Kiana, lalu menarik pergelangan tangannya sampai perempuan itu berdiri tepat di dekat ranjang tidur berukuran besar di dalam kamar sana.


"Sayang!" Cicit Kiana.


"Aku hanya memintamu datang sebentar, tapi kamu terus sibuk dengan pakaianmu." Keluh Jovian.


Kiana menghela nafasnya kencang, memejamkan mata untuk beberapa saat, lalu kemudian membukanya kembali sampai sorot mata keduanya kembali saling beradu.


"Aku pilih pakaian juga buat kamu tahu. Biar nggak malu-maluin jalan sama sugar Daddy-nya aku di Bali nanti. Kita kan bulan madunya cukup lama, … tidak mungkin hanya pantai dan Villa, pasti kita akan mengunjungi La Favela, atau Potato Head Beach Club Bali, misalnya." Ucap Kiana sambil tersenyum penuh arti.


Bahkan kedua alias Kiana bergerak naik turun, memberi sinyal rahasia kepada Jovian, yang tentu pria itu tahu tanpa banyak Kiana jelaskan.


Satu tangan Jovian terulur, menyentuh pinggang Kiana, dan menarik perempuan itu sampai mendekat kepadanya.


"Clubbing, huh!?" Suara Jovian memekik rendah. Dengan raut wajah datar yang dia perlihatkan.


Bola matanya bergerak-gerak, menelisik bola mata indah milik istrinya.


Kiana tampak menahan senyum, kemudian mengangguk pelan. Dengan kedua pipi yang terlihat merona.


"Bulan madu kita akan sangat indah bukan? Kita akan berpetualang sebelum akhirnya nanti kita di sibukan oleh aktivitas masing-masing. Kamu dengan kebun teh kamu, dan aku dengan dua puluh persen saham milik kita." Senyuman indah perempuan itu tampak merekah.


"Saham itu milikmu sayang." Jovian meralat ucapan istrinya.


"Ya ya ya, bagaimana saja asal kamu senang." Kiana tersenyum.


Dan tentu saja, senyuman dari Kiana membuat Jovian juga merasa bahagia.

__ADS_1


......................


...Ayoooooo like, komen, vote sama tabur-tabur nya mana nic🤪🙈...


__ADS_2