Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Keberuntungan hidup


__ADS_3

"Hari ini aku mau ke apartemen dulu. Kamu mau ikut atau tunggu disini?"


Dia mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke arah istrinya yang baru saja memasuki kamar. Lalu meletakan benda pipih itu di atas meja, seraya merentangkan tangan ketika perempuan itu berjalan semakin mendekat, dan berakhir duduk mengangkang di atas pangkuannya dengan kedua tangan yang Kiana letakan di atas bahu suaminya.


"Kenapa? Kamu bete yah nggak ada Papa?" Tanya Kiana sambil membingkai wajah Jovian, kemudian tertawa pelan.


Jovian mengulum senyum.


"Tidak juga. Sebenarnya aku sangat menikmati masa-masa santai seperti sekarang. Hanya saja aku harus segera bersiap-siap, siang hari ini aku berangkat ke Pangalengan lagi." Jelasnya.


Kiana tidak bereaksi apapun. Dia hanya diam memperhatikan wajah tampan pria di hadapannya lekat-lekat. Ada sedikit perasaan tidak rela, kala suaminya mulai sibuk dengan apa yang sedang dia geluti. Namun kembali lagi, itu adalah satu ke harusan dan apa yang Jovian kerjakan saat ini masih terhitung ringan.


"Bukannya mau Minggu depan? Masih ada waktu tiga hari?"


"Tidak bisa, ternyata semuanya akan bentrok kalau begitu. Persiapan wisuda, lalu fitting baju, sebar undangan, dan masih banyak lagi. Jadi sebaiknya aku selesaikan pekerjaan di Pangalengan dulu, sebelum nantinya fokus pada acara kita." Jelas Jovian sambil tersenyum.


Bola mata Kiana bergerak-gerak, menelisik wajah suaminya semakin dalam.


"Ah padahal kamu belum berangkat." Dia merangkul pundak suaminya, dan meletakan wajah di ceruk leher Jovian. "Tapi aku sudah merasa rindu. Berapa hari kamu di Pangalengan? Lalu kapan Mami, Papi dan Ka Adline datang? Bukankah kita harus fitting baju bersama-sama?" Matanya terpejam, menghirup aroma suaminya yang sangat ia sukai.


Jovian tersenyum saat Kiana bersikap lebih manja dari pada biasanya.


"Aku mau ikut boleh?" Perempuan itu kembali merengek.


Membuat tawa Jovian kembali terdengar.


"Ish, … malah ketawa."


"Apa setiap datang bulan kamu akan semanja ini, huh? Kenapa hari ini sangat berbeda? Sejak kapan kamu suka merengek begini?"


"Sejak menikah sama kamu, lah!"


Tangan Jovian bergerak melingkar di pinggang Kiana, dan memeluk tubuh istrinya erat-erat dengan perasaan gemas.


"Ah aku senang kamu yang seperti ini." Jovian bergumam pelan.


Namun, tentu saja masih dapat di dengar jelas oleh Kiana. Dia mengurai pelukannya, menegakan duduk, dan kembali menatap wajah tampan suaminya dengan senyuman manis yang Kiana perlihatkan.


"Aku ikut yah!?"


"Tidak Baby! Hanya sebentar, kalau kamu ikut nanti sakit semua badan kamu. Aku usahakan hanya semalam disana." Jovian tersenyum.


Kiana menghela nafasnya, lalu menghembuskan dengan raut wajah kecewa. Kemudian dia bangkit dan beralih berjalan mendekati tempat tidur, naik, dan berbaring di sana menyembunyikan diri di dalam selimut tebal.


"Baby?" Panggil Jovian.


"Ya sudah. Sana berangkat saja, aku tidak akan memaksa ikut biar kamu tidak repot!" Ucapnya dengan intonasi suara yang terdengar cukup ketus.


Jovian bangkit dari duduknya, berjalan mendekati tempat tidur, untuk kemudian menempatkan diri di tepi ranjang, dan menyentuh bahu istrinya, lalu membungkuk.


"Hey, kamu sedang sakit datang bulan. Lalu perjalanan jauh selalu membuat kamu mengeluh, apalagi dalam jangka waktu yang tidak sebentar, kamu akan mengarungi jalanan selama lima jam, beristirahat seharian, lalu setelah itu kamu akan memakan waktu yang lama lagi untuk perjalanan pulang. Aku hanya tidak mau kamu sakit, sebesar itu cintaku kepadamu sampai sakit badan pun aku tidak mengizinkannya." Jelas Jovian.


Kiana diam dengan posisi memunggungi.


"Baiklah, kalau mau ikut ayo. Pilih pakaian yang mau kamu bawa, lalu masukan ke dalam tas." Ujar Jovian seraya menatap satu tas berukuran besar yang berada di atas sofa.


Dimana di dalamnya terdapat beberapa pakaian untung ganti, dan segala hal untuk keperluannya selama dia ada di Pangalengan sana.

__ADS_1


Namun, perempuan itu tetap diam.


"Cepatlah. Nanti sore harus berangkat kalau benar mau ikut!" Jovian membujuk.


Kiana terdiam, dia memikirkan apa yang tadi suaminya jelaskan. Karena memang benar, perjalanan Tangerang-Pangalengan sangat memakan waktu.


"Baby? Come on! Masukan pakaianmu ke dalam tasku. Kita mampir ke apartemen sambil berangkat saja." Kata Jovian, lalu dia mencium pipi sang istri. "Baby? Ayolah kalau mau, kalau terlalu sore kita bisa sampai larut malam disana." Pria itu terus berusaha meredakan kekesalan istrinya.


Mereka diam untuk waktu yang cukup lama. Sampai pada akhirnya Kiana berbalik badan, dan menatap Jovian yang saat ini tengah menunggu dengan ekspresi wajah menyejukkan.


Mata Jovian bergerak-gerak, menelisik lebih jauh wajah perempuan di hadapannya. Yang selalu bersikap menyebalkan beberapa hari terakhir, namun Jovian tidak bisa berbuat apapun, karena dia sangat mencintainya.


"Ya sudah. Aku tidak ikut, kamu boleh berangkat sekarang, aku akan menunggu kamu disini bersama Mama dan Papa. Atau sesekali ke apartemen saat aku merasa bosan."


"Ikut saja. Aku tidak mau kamu marah, jika aku berangkat nanti!" Jovian mewanti-wanti.


"Emmm, … setelah aku pikir-pikir, kayaknya nggak deh. Pinggang akunya masih suka panas, perut bagian bawah juga masih terasa sakit. Jadi kamu berangkat sendiri saja, tapi dengan syarat jangan terlalu lama."


Jovian menyelami netra milik istrinya, berusaha mencari sebuah rasa kekeliruan di dalam sana. Apakah perempuan itu benar-benar berkata demikian? Atau hanya karena merasa gengsi? Meskipun ingin ikut tapi Kiana tetap bertahan karena masih menyisakan rasa kesal kepada Jovian. Namun dia tidak menemukan itu, sepertinya kali ini Kiana jujur, bahkan dia semakin yakin jika Kiana sudah sedikit membaik dari kemarahannya dengan kedua sudut bibir yang tertarik, membuat senyuman samar di bibir sana.


"Benar? Tidak akan marah?"


"Iya. Tapi besok pulang yah! Jangan lama-lama ninggalin aku."


"Kalau sudah selesai langsung pulang. Makanya hari ini mau berangkat lebih cepat, agar sampai di sana tidak terlalu malam."


Kiana tersenyum, kemudian menganggukan kepala, beringsut mendekat dan membenamkan wajah di dada Jovian, seraya memeluk pinggang pria di sampingnya dengan sangat erat.


"Hhheuh! Mood kamu berubah-ubah terus yah! Tadi kesal karena aku tidak mengajakmu, tapi sekarang terlihat seperti tidak ada apa-apa." Ucap Jovian.


"Nggak tau, aku juga kadang merasa aneh." Kiana menyahut.


Kiana mengangguk, dia melepaskan lilitan tangannya, membuat Jovian segera bangkit, membawa tas, dan berjalan ke arah pintu, yang setelahnya di susul Kiana dengan segera.


***


"Hati-hati ya, tidak usah memacu mobilnya terlalu kencang. Lalu selesaikan saja pekerjaan kamu dengan baik, tidak usah terburu-buru! Kiana akan baik-baik saja bersama Mama." Kata Herlin kepada menantunya saat pria itu berpamitan.


Jovian meraih tangan wanita yang saat ini berdiri di teras depan rumah, lalu mencium punggung tangannya.


"Tadinya mau ajak Kia, tapi karena dia selalu mengeluh sakit pinggang, … jadi Jovian rasa tinggal disini lebih baik, toh tidak akan lama, besok sore mungkin Jovian sudah sampai disini."


"Bener yah! Jangan lama-lama." Todong Kiana.


Membuat Herlin menepuk pundak sang putri, dan menatapnya cukup tajam.


"Suaminya mau pergi kok malah begitu!"


"Ish Mama!"


Jovian menatap Kiana dan ibu mertuanya bergantian.


"Baiklah, kalau begitu berangkat dulu yah!" Pamit Jovian.


Herlin mengangguk, pun dengan Kiana.


Kemudian pria itu berbalik badan, membawa tasnya mendekati mobil, membuka kunci dan meletakan benda itu di kursi penumpang bagian belakang.

__ADS_1


"Hati-hati yah! Kalo sudah sampai jangan lupa telepon aku!" Teriak Kiana.


Dia mengangkat satu tangannya, kemudian bergerak melambai-lambai.


"Aku berangkat, jangan jauhkan handphone kamu, oke?"


"Iya."


Dan setelah itu Jovian masuk, menghidupkan mesin, kemudian melaju dengan perlahan-lahan mendekati pintu gerbang yang sudah terbuka lebar, dan suara klakson menjadi penanda jika Jovian akan segera memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


"Ayo masuk." Ajak Herlin setelah mobil hitam yang Jovian kendarai menghilang.


Kiana menjawab dengan anggukan.


"Tidak apa-apa, Jovian hanya pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tidak usah terlihat tidak bersemangat seperti ini!"


Herlin meraih tangan Kiana, dan membawa perempuan yang tampak ke hilangan semangatnya masuk ke arah dalam.


"Haih, … kenapa juga dia ada pekerjaan saat aku sedang begini?"


"Tapi dia begitu perhatian. Duduk di sofa saja terkadang membuat kamu tidak nyaman, … apalagi membawa kamu bersamanya? Perjalanan dari sini ke Pangalengan tidak sebentar lho. Lihat? Betapa sayangnya Jovian kepadamu?"


Kiana menoleh ke arah dimana Herlin berjalan di sampingnya.


"Dia seorang pemilik perkebunan teh. Jadi tidak aneh kalau dia akan sibuk, … begitupun kamu, suatu saat nanti kamu akan mengambil alih pekerjaan Papamu."


Mendengar itu Kiana menghela nafasnya semakin kencang.


"Nanti kita makin nggak ada waktu dong yah!?" Katanya sambil terus berjalan menyusuri setiap ruangan.


"Ada. Memangnya mau bekerja terus-menerus? Diantara pekerjaan kamu dan Jovian, kalian pasti akan memiliki waktu luang bersama-sama."


Mereka duduk di sofa ruang tengah.


"Lagian kenapa aku nggak punya Abang sih?" Kiana menatap ibunya. "Kalau punya kan itu bisa Abang aku saja yang urusin, aku tinggal diam dan menunggu suami bekerja, tanpa harus terjun ke usaha Papa. Kalau Mama bilang waktu kita untuk berlibur memang ada, tapi lihat Papa? Dulu sering banget pergi ke luar kota, lalu ke luar negeri, dan waktunya jelas berkurang untuk kita."


Herlin tersenyum.


"Jika tidak begitu, maka hidup kita tidak akan seenak sekarang. Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau." Jelas Herlin kepada Kiana.


Dan ucapan itu mampu membuat Kiana diam. Apa yang ibunya katakan memang benar adanya, tidak semua orang beruntung dengan kehidupan yang mereka miliki.


"Fasilitas, sekolah tinggi, rumah yang nyaman. Itu kamu dapatkan karena kegigihan Papamu. Apa menurutmu dia mau seperti itu? Bekerja dan meninggalkan kita berhari-hari? Tidak sayang, dia ingin tetap di rumah, bersama kita. Namun jika Papa melakukan itu, maka kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau."


"Mama benar." Kiana menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. "Tapi aku heran, … kenapa sekarang Jovian ngasih aku kartu juga! Katanya buat belanja sama membeli semua kebutuhan aku, padahal aku masih punya kartu dari Papa."


"Itu namanya nafkah. Dia memberikan itu untuk semua kebutuhan kamu, maka gunakan dengan baik. Pakailah untuk melakukan perawatan, buatlah Jovian senang dengan penampilanmu, … kalau untuk belanja dapur kan belum, kalian masih tinggal disini jadi biar Mama saja yang berbelanja kebutuhannya. Dan kartu yang Papa berikan, simpan saja. Untuk uang jajan kamu!"


"Hemm, … mungkin kapan-kapan belanja buat di apartemen saja. Tidak mungkin juga aku terus tinggal disini."


"Tinggal saja. Mama dan Papa lebih senang kalian ada disini, rumah masih terasa sangat hangat, dan kamu tahu? Galak-galak begitu, Papa selalu merasa sedih, karena dia sudah kehilangan putrinya, yang sudah dia serahkan kepada Jovian, yang otomatis tanggung jawab Papa sudah beralih tangan sekarang."


Kiana mengangguk-anggukan kepala, kalu dia berbaring di atas sofa sana, dengan kaki sang ibu yang Kiana jadikan sebagai pengganjal kepala.


"Aku tidak kemana-mana, Ma. Aku disini bersama kalian.


"Ya, memang. Tapi Papamu berbeda, dia berpikir setelah ini kamu akan pergi jauh, dan sangat jarang menemuinya.

__ADS_1


"Aku tinggal disini, mungkin sampai nanti bisa beli rumah sendiri." Jelas Kiana.


Herlin tersenyum, seraya mengusap-usap kepala Kiana dengan sangat lembut. Membuat perempuan yang saat ini sedang berbaring nyaman mulai memejamkan matanya.


__ADS_2