
Danu terus berdiri, dengan kedua telapak tangan yang dia sembunyikan di balik saku celana, menatap tajam ke arah gadis yang terus menundukan kepala, seraya mempermainkan jemari-jemari tangannya.
Gadis itu terlihat sangat ketakutan.
Sementara Jovian duduk di sisi lain, menatap Danu, seolah meminta jangan lepas kendali, dan mencoba untuk mengerti keadaan Kiana.
"Hheeuh!" Danu menghela nafas.
Matanya terpejam, dengan tangan kanan yang bergerak menyentuh kening, dan memberikan pijatan pelan disana, saat tiba-tiba saja kepala pria paruh baya itu terasa sangat pusing.
"Apa yang kamu lakukan, Kia?" Suara rendah itu akhirnya terdengar.
Dan membuat Kiana semakin merasa gelisah, karena sudah pasti ayahnya kini akan benar-benar marah.
"Kamu mencekik anak orang? Sampai dia dilarikan ke rumah sakit?" Danu menggeram.
Kiana masih bungkam.
"Tunggu saja sebentar lagi pasti ada Surat panggilan dari kantor polisi, … dan Papa bersumpah kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan." Tegas Danu, menjadi seperti petir yang menggelegar di siang bolong.
Deg!!
Dadanya terasa di hujan godam yang sangat besar. Kiana langsung mengangkat pandanganya, melihat wajah Danu yang terlihat sedang menahan amarahnya.
"Papa …" Sorot matanya terlihat sendu.
"Jangan membela diri!" Danu mengangkat satu tangan dengan satu jari telunjuk yang pria itu acungkan.
Kiana kembali mengatupkan mulutnya. Diam dan menunduk seperti semua.
"Emmm, … Pak Danu. Sepertinya anda harus membiarkan Kiana menjelaskannya dulu, jangan sedari tadi tidak ada orang yang mau mendengarkan Kia, bahkan Dosen nya sekali pun." Jovian mulai bersuara, dia mulai merasa tidak tega dengan Kiana yang semakin tersudutkan.
Menjadi Kiana pastilah tidak mudah. Jovian bahkan yakin jika jiwa lain yang berada di dalam tubuh Kiana mencoba untuk memberontak, tapi karena dia mencintai Jovian, jelas gadis itu tidak mau menyusahkannya lagi seperti yang sempat dia lakukan.
Setidaknya begitulah pengakuan Kiana ketika mereka berada dalam perjalanan pulang.
"Rasanya sudah tidak ada lagi cara lain. Mungkin jika hanya terkena razia tidak membuat dia jera. Maka biarkan saja Kiana mendekam di dalam sel untuk waktu yang hakim tentukan nanti sesuai hukum yang di tentukan undang-undang!" Ucap Danu penuh keyakinan.
Kiana kembali mengangkat pandanganya.
"Papah!" Suara teriakan itu terdengar memenuhi ruang tengah.
Dan muncullah Herlin dari arah tangga, dengan raut wajah panik dan hampir menangis, apalagi ketika suaminya mengatakan hal itu kepada Kiana, putri sematang wayang kesayangannya.
"Tidak boleh seperti itu kepada putriku!" Herlin segera duduk, dan memeluk Kiana dengan sangat erat.
Insting seorang ibunya tiba-tiba bekerja, dan sinyal itu mengatakan jika dirinya harus melindungi Kiana dari ancaman ayahnya sendiri.
"Jika kamu mau membuat putriku dalam kesulitan, … maka aku juga akan keluar dari rumah ini. Tidak peduli dimana aku tidur nanti!" Herlin memperingati.
Wanita itu menatap wajah Kiana untuk memastikan. Kemudian menoleh ke arah Jovian berada.
"Jo! Tolong berbicaralah kepada calon Papa mertuamu, … bukan sebagai seorang ajudan dan atasan. Tapi berikan penjelasan sebagai seorang calon suami untuk membela istrinya." Pinta Herlin penuh permohonan.
Dan ucapan itu jelas membuat Jovian membeku.
Danu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perasaan tidak percaya, sampai Danu mengusap wajahnya kasar, lalu menghempaskan tubuh ke arah sofa.
"Kamu selalu membelanya! Lihat hasil dari itu, Kiana menjadi sangat bebal dan susah di kasih tahu!"
"Pak, Kiana melakukannya bukan tanpa sebuah alasan. Ada beberapa hal yang terjadi, dan itu mengusik privasi dan harga dirinya, … maka Kiana melakukan hal tersebut karena memang merasa harus." Jovian menatap Danu lekat-lekat.
Danu menghela nafas.
__ADS_1
"Kiana diteriaki pelacur. Apa tidak boleh dia membela dirinya?" Jovian bertanya lagi.
"Memangnya apa yang kamu harapkan, Jo? Seorang gadis, keluar masuk club' malam. Apa mereka akan berpikir jika Kiana wanita baik-baik?"
Jovian sedikit kehilangan kata-kata. Nyatakan Danu lebih keras kepada lagi dari pada Kiana. Jika gadis itu masih bisa menerima sebuah masukan, tidak dengan Danu. Pria itu akan mempercayai apa yang menurutnya benar, meski kejadiannya tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya.
"Jadi Papa nggak mau bantuin aku? Papa nggak mau dengerin aku? Ya sudah, … tidak usah ada yang membela aku sekarang. Yang harus terjadi maka terjadilah, jika nanti aku harus masuk penjara karena sebuah kasus percobaan pembunuhan, biarkan saja aku membusuk di dalam jeruji besi sana!"
Kiana melepaskan diri dari dekapan menenangkan ibunya.
"Dan untuk Om! Batalkan saja semuanya, Om boleh mencari gadis lain, atau kembali kepada masa lalu Om. Aku tidak akan melarang, toh kenyataannya aku memang akan benar-benar dipenjara setelah ini!"
Kiana bangkit, lalu berlari ke arah tangga dengan sangat cepat, hingga suara pintu dibanting pun menjadikan pertanda jika amarah Kiana sudah benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.
Herlin memicingkan mata ke arah suaminya. Amarah jelas sudah berkobar, terdengar dari deru nafasnya sampai membuat dada wanita itu naik turun dengan sangat kencang.
Herlin berdiri.
"Coba saja Kiana benar-benar masuk penjara karena tidak mendapatkan pembelaan darimu. Aku akan pergi dan setelah itu mengirimkan surat gugatan."
Herlin beranjak mendekati tangga, menaikinya dengan sangat hati-hati, lalu terdengar mengetuk-ngetuk pintu kamar, dan memanggil-manggil nama putrinya dengan nada suara yang terdengar sangat lembut.
"Ah dia memang selalu membela putrinya!" Danu terlihat sedikit frustasi.
Bahkan beberapa kali pria itu menyapu wajahnya, dan menghembuskan nafas cukup kencag.
Jovian dia menatap Danu. Menunggu sebuah perintah yang mungkin Danu berikan kepada dirinya.
"Jika tidak ada lagi …"
Jovian baru saja hendak membuka suara, sampai akhirnya Danu kembali berbicara, memotong ucapannya.
"Tangani semuanya besok, Jo!" Pinta Danu dengan suara yang lirih.
Danu menatap ajudan pribadi putrinya. Dia sedikit terlihat kacau. Mungkin di satu sisi dia merasa kecewa dengan apa yang Kiana lakukan, tentu saja sebagai orang tua dia pasti merasa malu. Namun di sisi lain hati kecilnya merenung atas apa yang baru saja Jovian katakan.
Mungkin kali ini Kiana benar. Dia melakukan itu hanya untuk membela dirinya, terlebih kata-kata kurang pantas Kiana dapatkan.
"Apa waktu kejadian kau ada, Jo?"
Jovian mengangguk.
"Saya mendengar teriakan Kiana. Hanya saja ketika saya ingin memastikan kedalam, seorang petuga keamanan di sana menghadap saya."
Danu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lalu, … bagaimana dengan obrolan kita waktu itu? Apa kau masih mau menikahi Kiana?"
Jovian mengangguk tanpa merasa ragu.
"Saya hanya akan meminta waktu. Saya harus memikirkan waktu yang tepat untuk berbicara kepada kedua orang tua saja."
"Kau belum berbicara?"
"Sepertinya tidak etis jika membeicarakan hal baik melalui telepon. Saya mau langsung pulang saja ke kampung, dan jika waktunya sudah tiba mungkin saya akan meminta izin untuk berlibur beberapa hari, … atau Bapak aku saya perintahkan beberapa orang kepercayaan saya untuk mengawasi Kiana?"
"Baiklah. Tapi sepertinya dia tidak butuh ajudan lagi, cukup kamu dan Denis saja."
"Baik."
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat, dengan pikiran masing-masing, sampai pada akhinya Danu kembali membuka suara, menayakan hal yang menurutnya selalu mengganggu pikiran.
"Bagaimana dengan sahamnya? Saya sudah berjanji akan memberikan itu jika kamu mau menikahi Kiana?"
__ADS_1
"Bapak simpan saja untuk Kiana."
"Ya. Saya sudah melakukannya, sudah saya katakan bukan? Nilainya 20%. Kiana 10% dan kamu 10% setelah itu pekerjaanmu tidak mungkin sebagai Bodyguard lagi, kau yang akan mengurus tambang punya kalian berdua, … atau mungkin nanti Kiana pun akan ikut terjun."
Jovian membetulkan posisi duduknya. Menarik nafas sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya melalui mulut dengan sangat perlahan.
"Apa Pak Dan takut saya tidak bisa menghidupi Kiana?"
Akhirnya Jovian memberanikan diri untuk bertanya.
"Bukan begitu. Tapi saya harus mempersiapkan ini, … saya tidak tahu umur saya sampai kapan. Jika kalian sudah bisa mengurusnya dengan baik dan benar, maka saya akan merasa tenang. Satu hal yang harus kamu tahu, Jo! Ada beberapa sepupu Kiana yang mungkin saja merebut semuanya. Ini tambang keluarga, maka dari itu saya berikan yang 20% ini untuk kalian berdua. Jika kamu mau saya memberikannya untuk Kiana saja, maka terima dan kelola semuanya dengan tanganmu sendiri."
Dan setelah mendengar penjelasan itu Jovian mengangguk. Pertanda menyetujui apa yang Danu inginkan, terlebih pria paruh baya itu memintanya untuk menjaga bagian dari milik Kiana, tidak benar-benar murni menjalankan bisnis miliknya semata.
"Mau saya ambilkan berkasnya sekarang untuk kamu tanda tangani?" Danu bertanya, namun Jovian segera mengelengkan kepalanya.
"Mungkin nanti saja setelah urusan Kiana selesai."
"Baiklah, Jo. Saya juga berharap kamu menyegerakan niat baikmu kepada Kiana, … ah maksudku permintaanku, … kau tidak akan menikahi Kiana tanpa sebuah permintaan dari kami bukan?"
Jovian tersenyum.
Dia sangat ingin memberitahukan jika dirinya mau bukan karena permintaan Danu. Melainkan cinta Kiana yang dia lihat sungguh sangatlah besar. Mungkin jika tidak melihat itu, maka dirinya akan tetap menolak tawaran Danu.
Tapi setelah semuanya terlihat lebih jelas lagi, apa salahnya untuk membuka diri. Toh sekarang dirinya mulai membiasakan diri dengan Kiana, begitu pula dengan Kiana, dia menjadi lebih penurut dan tidak membuatnya dalam keadaan susah.
Cinta mengubah sebagalan, termasuk sikap seseorang. Gadis yang sangat sulit di taklukan, kini bertekuk lutut kepada Jovian, hanya sebuah rasa ketertarikan yang Kiana miliki kepada pria yag 17 tahun lebih tua darinya.
"Kiana gadis yang cantik, Pak. Apa bisa saya menolak permintaan seorang ayah? Dan itu sangat menguntungkan, saya tidak usah susah payah berbasa-basi untuk mendapatkan putri anda." Jovian terkekeh.
Membuat Danu pun ikut tertawa.
"Kau menyukainya?"
Jovian mengulum senyum, lalu mengangguk.
"Lebih tepatnya sedang berusaha, Pak!" Kata Jovian dalam hati.
"Ah aku tidak menyangka kau tertarik kepada Kiana, padahal dia gadis yang berbeda dari banyaknya perempuan."
"Ya begitulah, Pak."
Jovian terus tersenyum. Ingatannya tertarik pada waktu beberapa jam lalu, dimana dirinya mulai bermain gila dengan gadis polos yang terpaut 17 tahun lebih muda darinya. Memang terdengar aneh, namun itu menyenangkan.
"Sudah hampir jam lima. Kiana sudah masuk kamar, apa kau mau pulang lebih cepat?" Danu bertanya.
"Sepertinya Bapak banyak memberikan keringan kepada saya, padahal saya pegawai baru. Belum genap 2 bulan saya bekerja."
"Tidak apa. Kamu calon menantu rumah ini! Dan setelah menikah kau akan sering bersamaku, mengurus bisnis bersama, pergi memantau tambang ke Kalimantan bersama juga."
Jovian tersenyum.
"Pulanglah, jika ada sesuatu nanti saya segera hubungi."
"Kalau begitu, … saya pamit pulang. Jika ada sesuatu nanti saya segera kembali."
Jovian bangkit dari duduknya.
"Hati-hati, Jo!" Danu ikut bangkit, dia mengantar calon menantu idamannya sampai teras depan rumah, memperhatikan pria itu sampai benar-benar masuk kedalam mobilnya, dan pergi.
Seulas senyuman penuh arti terbit di kedua sudut bibir Danu. Entah kenapa rasanya begitu bahagia, saat mendengar pernyataan jika Jovian memang sudah memiliki ketertarikan kepada putrinya.
"Berarti Kiana tidak seburuk itu bukan? Sampai Jovian pun sudah tertarik kepada putriku. Dia memang cantik, hanya satu kekurangannya, dia terlalu liat." Danu bermonolog seraya berjalan masuk kembali kedalam rumah.
__ADS_1