
Jovian berjalan melewati pintu rumah milik Danu yang terbuka sangat lebar. Melalui beberapa ruangan saat hendak mendekati tangga untuk segera naik ke lantai atas. Namun kaki Jovian berhenti melangkah, ketika terdengar suara panggilan Danu dari arah pintu taman belakang yang terbuka lebar.
"Jovian, kemarilah!" Katanya.
Pria yang di maksud pun menoleh, dan mendapati sang mertua yang berdiri di ambang pintu taman belakang.
"Ada satu hal yang mau saya sampaikan, kita bicara di gazebo." Kata Danu lagi.
Jovian menganggukan kepala. Dan segera berjalan ke arah Danu berada. Dua pria itu pergi ke arah taman belakang, melewati rerumputan hijau, lalu menapakan kaki di gazebo sana.
Danu duduk di salah satu sofa, dan di susul Jovian setelahnya.
"Malam ini kalian akan pulang?" Danu berbasa-basi terlebih dahulu.
"Pulang ke apartemen saya maksud Bapak?" Danu mengangguk.
Dia menatap Jovian lekat-lekat, dengan seulas senyuman samar yang terus pria paruh baya itu perlihatkan.
"Ya, Kiana sudah menjadi istri kamu, tanggung jawab kamu. Kami disini tidak akan memaksa kalian harus tinggal dimana. Mau di apartemen silahkan, mau tinggal disini juga lebih bagus." Ujar Danu.
"Emmmm, … kalau soal itu nanti saya tanya Kiana dulu Pak. Saya juga tidak mau memaksakan kehendak Kiana, jika dia masih mau tinggal bersama orang tuanya, … ya tidak apa-apa untuk sementara sambil nyari rumah yang cocok juga."
Danu meraih dompet berukuran besar yang tadi dia bawa, mengeluarkan sesuatu di dalam sana dan meletakkannya di atas meja, kemudian Danu geser sampai terletak tepat di hadapan Jovian.
Pria itu diam, menatap sebuah amplop coklat dan wajah mertuanya bergantian.
"Ini hadiah dari kami. Mungkin keadaan kalian setelah pesta nanti akan sangat sibuk, kamu dengan usaha keluargamu, dan Kiana yang juga pasti ikut berkecimpung di dunia bisnis orang tuanya. Tapi, jika nanti kalian mau saling membantu, … itu pasti lebih bagus."
Jovian diam, berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Danu.
"Itu tiket bulan madu. Pergilah sebelum kalian benar-benar disibukkan dengan banyak aktivitas." Kata Danu.
__ADS_1
"Bulan madu?" Jovian mengulangi ucapan Danu.
Pria itu mengangguk.
"Coba di buka, setelah itu kamu boleh memberitahu Kiana. Dia pasti akan sangat senang, apalagi hanya pergi berdua saja."
Jovian meraih amplop itu, membuka nya, dan mengeluarkan secarik kertas. Yang tidak lain adalah tiket pesawat dengan tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta-Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.
"Bali?"
Danu mengangguk dengan senyuman yang semakin merekah.
"Apa seminggu cukup? Semuanya sudah diurus, kalian hanya tinggal berlibur disana. Villa dan semua fasilitas sudah siap." Danu menjelaskan.
Jovian tidak bisa lagi berkata-kata. Dia terus menatap tiket itu dengan perasaan sangat bahagia.
Bagaimana tidak. Kini dirinya benar-benar merasa diterima dengan sangat baik oleh keluarga istrinya, walaupun bisa dikatakan ekonomi keluarganya dengan ekonomi keluarga Kiana jauh berbeda.
"Bapak berlebihan." Cicit Jovian dengan suara rendah.
"Tidak sama sekali. Kita tahu kamu mampu, apalagi hanya membawa Kiana ke Bali. Tapi anggap saja ini bentuk dari cinta dan kasih kami kepada kalian, jadi pergilah dan bersenang-senang di sana. Jika Kiana mau pergi ke luar negeri, … maka itu urusanmu." Ucap Danu penuh candaan.
Membuat Jovian segera tertawa karenanya.
"Mungkin kalau ada waktu, ada rejeki. Saya akan membawa Kiana ke Belanda. Mengunjungi kota dimana Papi saya dilahirkan."
"Itu ide yang bagus."
"Sekali lagi terimakasih. Banyak sekali yang anda berikan kepada saya, … sampai terkadang saya merasa malu, karena …"
"Tidak ada kesetaraan sosial di keluarga kita. Jadi tidak usah merasa minder atau malu, semuanya sama saja. Apa yang saya atau Mamanya Kiana lakukan, itu semata-mata rasa sayang kami, … itu saja! Tidak ada sedikitpun niat untuk mempermalukan kamu." Danu menjelaskan.
__ADS_1
Jovian menatap amplop itu lekat-lekat. Dengan ingatan yang kembali tertarik pada 7 tahun silam. Tidak pernah dia mendapatkan perlakuan istimewa ini dari Erik, orang tua Diana Eva, mantan istrinya. Bahkan pria itu cenderung selalu menatapnya hina, hanya karena dirinya yang dibesarkan oleh keluarga seorang petani sayur dan teh. Jangankan kepada dirinya, orang tuanya pun tidak pernah mendapatkan apresiasi setinggi itu dari kedua orang tua Eva.
Lalu, kenapa baru sekarang dia sadar? Kemana saja dirinya dulu? Bahkan dia selalu membiarkan mereka berbuat apapun, dan menggunakan uang hanya untuk membuktikan dirinya mampu. Sampailah pada waktu dimana dirinya dan Eva selalu berselisih paham, bertengkar hanya karena sebuah pekerjaan Jovian yang sedikit tidak tahu waktu. Entah apa yang Eva adukan, sampai mereka ikut turun tangan mengurus rumah tangganya, dan keputusan Eva menggugat cerai Jovian adalah hasil dari usulan Erik, yang menurut pria itu Jovian tidak pantas dipertahankan, hanya karena Erik merasa putrinya tidak pernah diprioritaskan.
Kemudian Jovian bertemu dengan Danu, sifat keduanya jelas jauh berbeda. Sampai lagi-lagi dirinya membandingkan antara keduanya.
"Ah tidak seharusnya aku membandingkan mereka. Entah itu Eva dan Kiana, atau Pak Danu dan Pak Erik. Keduanya jelas mempunyai pola pikir yang sangat berbeda." Batin Jovian berbicara.
Setelah cukup lama diam menatap tiket pesawat itu. Jovian mengangkat pandangan, menatap Danu dengan penuh rasa haru.
"Terimakasih karena sudah membuat Kiana berubah. Menjauhkan dia dari segala macam keburukan yang selalu dia dekati." Ucap Danu.
"Sebenarnya bukan saya. Tapi karena dia takut dengan Asrama yang Bapak janjikan kepada Kiana, kalau dia tidak mengikuti setiap aturan yang saya terapkan."
"Benarkah? Berarti kita bekerja sama dengan baik yah!" Danu terkekeh. "Dan satu lagi! Kamu ini sudah menjadi bagian dari keluarga ini, jadi berhentilah bersikap formal. Kamu sudah bukan Bodyguard Kiana sekarang, kamu menatu rumah ini. Jadi panggil Papa dan Mama saja seperti biasa, … tidak usah bersikap seperti saat kamu masih menjadi Bodyguard Kiana, Jo!" Pinta Danu.
"Baiklah." Jovian tersenyum.
"Nah sekarang kau bisa memberitahukan hal ini kepada Kiana. Pergilah dan temui dia di kamarnya, mungkin keadaan Kiana sudah lebih baik dari pada tadi pagi." Danu tersenyum penuh arti.
Jelas pria itu mengetahui sesuatu, namun tidak mengatakannya karena bisa saja membuat Jovian malu.
"Aku pamit dulu." Jovian segera bangkit.
Dan Danu hanya menganggukan kepalanya, membiarkan Jovian masuk lebih dulu, membawa amplop yang dia berikan.
"Hhheuh, … akhirnya aku bisa tenang. Kiana menikahi pria yang tepat, yang mampu menjaga dan membimbingnya." Danu menghempaskan punggung pada sandaran sofa, dengan rasa lega yang dia rasakan saat ini. Sesuatu seperti terlepas, dan itu membuat dadanya terasa sangat lapang.
......................
Jangan lupa like, komen, mawar, kopi , vote kalo ada.
__ADS_1
cuyung kalian😘