Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Kecemburuan Kiana.


__ADS_3

Punggung Kiana semakin merapat ke arah belakang dimana sandaran sofa berada. Satu tangan Kiana menyentuh dada bidang Jovian, sementara satu tangan yang lain bertumpu di atas sofa, berusaha menyeimbangkan diri, saat calon suaminya semakin memperdalam ciuman yang sudah berlangsung sejak beberapa menit lalu.


Pautan bibir itu terlepas, keduanya berhenti untuk beberapa saat, dengan nafas yang terdengar menderu-deru.


Jovian tersenyum, kemudian pria itu mengusap bibir basah Kiana dengan ibu jarinya.


"Pulang sekarang?" Tanya Jovian, dia kembali mendekatkan diri, dan mencium bibir Kiana lebih singkat.


Kiana membalas senyuman Jovian, lalu dia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Baiklah. Ayo! Sudah hampir jam sepuluh malam, takutnya Pak Danu menghubungi orang rumah, lalu mereka tidak mendapatkanmu disana … dan itu bahaya, kepercayaan mereka akan hilang."


Jovian segera berdiri, meraih tangan Kiana dan membantu gadis itu untuk bangkit.


"Papa sudah tahu aku disini." Ucap Kiana.


"Lalu apa kata mereka?"


"Tidak ada. Mereka senang ada kamu disini." Katanya yang seketika membuat senyum di bibir Jovian merekah.


Pria itu mengikuti Kiana dari arah belakang, dimana dia kini memasuki kamarnya, dan membawa satu Tote bag berisikan pakaian kotor juga beberapa barang lain yang berada di dalam sebuah tas kecil berwarna kuning.


"Sayang, bajunya nanti aku kembalikan kalau sudah bersih." Kepala gadis itu sedikit mendongak, menatap wajah Jovian yang terlihat berseri-seri, hingga rasanya ketampanan pria itu terus bertambah berkali-kali lipat.


"Simpan saja. Siapa tahu nanti aku butuh, … jadi ada cadangan."


"Kamu mau nginep gitu ceritanya?"


Mereka berdua berjalan perlahan ke arah pintu keluar. Seolah tengah sama-sama enggan untuk pergi dari apartemen sana.


"Mungkin aku butuh. Jika sudah menikah aku pasti akan tidur, makan, dan mandi di rumahmu." Jovian berujar.


Namun, tiba-tiba senyuman Kiana terlihat. Ketika mendengar apa yang baru saja Jovian ucapkan. Tentang pernikahan, dan dimana mereka akan melakukan keseharian bersama-sama.


"Memangnya kalau kita menikah, … aku masih boleh tinggal di rumah Papa dan Mama? Emmm, … maksud aku kita akan tinggal disana?"


Jovian tidak langsung menjawab, dia terlihat meraih handle pintu, dan membukakan nya untuk Kiana.


"Kita pikirkan itu nanti. Sekarang biarkan aku memikirkan sesuatu untuk meminta acara akadnya di percepat." Jovian tersenyum saat Kiana berjalan melewatinya.


Dan keluar terlebih dahulu.


Setelah itu Jovian melangkahkan kaki ke arah luar, menutup pintu apartemennya rapat-rapat, kemudian menyambut uluran tangan Kiana, sampai mereka kini saling berpegangan tangan.


"Sayang?" Kiana mengangkat pandangannya ke arah samping.


"Hemmm?"


Kiana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku manggil aja." Senyuman manis gadis itu terus terlihat.


Langkah kaki keduanya berhenti tepat di hadapan pintu lift yang tertutup rapat. Jovian maju satu langkah, menekan salah satu tombol, dan kembali memundurkan tubuh sambil menunggu, tanpa melepaskan genggaman tangan keduanya.


Kiana terlihat sedikit kebingungan, meraba setiap saku pakaiannya, lalu beralih kepada tas kecil yang selalu dia bawa kemanapun Kiana pergi.


"Sayang, … handphone aku kayaknya ketinggalan!" Gadis itu menatap Jovian.


"Benarkah?"


"Hu'um. Aku ambil dulu boleh? Kalo tidak salah tadi aku charger di kamar kamu."


"Mau aku antar?"


"Tidak usah. Nanti kamu macem-macem, … terus aku malah nggak mau pulang. Bahaya!"


Jovian tersenyum.


Sementara Kiana segera berbalik badan, berlari ke arah pintu unit apartemen milik Jovian.


Ting!!


Dentingan nyaring terdengar, dan terbukalah pintu besi itu perlahan-lahan. Membuat seseorang yang ada di dalam sana terlihat dengan sangat jelas.


Pandangan kedua orang itu beradu. Wanita di dalam lift sana jelas langsung tersenyum sumringah, sementara Jovian terdiam dengan raut datar seperti biasa. Bahkan hawa dingin lebih terasa lagi, setelah sekian lama Mayden tidak menemuinya.


"Jo, kebetulan sekali. Malam ini aku masak cukup banyak, dan berniat memberikannya kepadamu!" Mayden segera melangkah keluar.


Berbarengan dengan Kiana yang juga muncul balik pintu apartemen yang sempat tertutup.


Jovian menoleh, jarak antara pintu lift dengan unit miliknya yang tidak terlalu jauh. Jelas membuat pria itu menyadari jika Kiana sudah mulai keluar dari sebuah hunian yang dia tempati hampir tujuh tahun lamanya.


Lantas Jovian tersenyum saat pandangan mereka kembali bertemu.


"Sudah selesai?" Tanya Jovian.

__ADS_1


Dia mengacuhkan Mayden yang saat ini berada di dekatnya, membawa sebuah wadah yang sedang dia sodorkan kepada pria itu.


Kiana mengangguk. Dia menatap Jovian dan Mayden bergantian dengan ekspresi wajah bingung. Begitu pula dengan Mayden, wanita itu cukup terkejut ketika melihat Kiana, sosok gadis yang sempat di temui beberapa bulan terakhir, yang datang hanya untuk mengunjungi calon suaminya.


"Lalu? Apa artinya calon suami gadis itu adalah Jovian? Pria tampan yang aku kagumi." Batin Mayden berbicara.


"Kalian?" Mayden mulai bereaksi.


"Sayang, ini Mayden. Kita sempat bertemu di gym, dan dia pemilik unit juga disini." Jelas Jovian sambil tersenyum.


Kiana mengangguk, dia menatap Mayden dengan senyuman yang terlihat dia paksakan.


"Mayden ini Kiana, calon istri saya. Kami akan menikah dalam hitungan bulan kedepan, … mungkin undangannya nanti saya langsung berikan kepadamu."


Mayden tidak bereaksi. Dia hanya diam menatap wajah Kiana dan Jovian bergantia, dengan perasaa berkecamuk. Dimana dia harus menyaksikan pria yang dia cintai kini memperkenalkan seorang gadis.


"Kamu …" Mayden hendak kembali berbicara.


"Maaf Mayden. Kami harus Pergi!" Pamit Jovian, yang langsung menyambar tangan Kiana untuk dia genggam. "Dan untuk makanannya, … mungkin kamu bisa berikan kepada Pak Security di bawah, terimakasih."


Dan setelah mengatakan itu, Jovian segera menarik Kiana pergi dari sana, mencari pintu lift lain yang menjadi salah satu fasilitas di gedung apartemen itu.


"Dia siapa?" Tanya Kiana kepada pria yang saat ini berjalan menarik tangannya.


"Mayden."


"Iya, … maksudnya siapa Mbak Mayden?"


Gadis itu tampaknya menyadari sesuatu, hingga membuatnya banyak bertanya seperi malam hari ini.


Mereka berhenti tepat di hadapan pintu lift. Seperti biasa, Jovian akan menekan tombol agar benda itu segera terbuka.


"Bukan siapa-siapa, sayang! Hanya Mayden. Wanita pemilik unit disini juga!" Jelas Jovian, dia berusaha membuat Kiana agar tidak menaruh curiga yang berlebihan kepada dirinya.


Mata Kiana memicing. Sepertinya dia benar-benar merasakan sesuatu yang janggal diantara calon suami dengan wanita yang sempat dia temui beberapa waktu lalu. Terutama sikap Mayden yang memang terlihat lebih mencilok.


Mereka sama-sama wanita, dan tentu saja Kiana mengerti apa yang Mayden rasakan. Sampai perempuan itu repot-repot mengantarkan masakan untuk calon suaminya.


"Jangan menatapku seperti itu!" Jovian terkekeh.


Ting!!


Pintu lift terbuka, dan dengan segera Jovian menarik Kiana masuk kedalamnya.


"Apa tidak boleh? Kalau aku mencurigai kalian?"


Tawa Jovian semakin kencang terdengar.


Namun, tidak dengan Kiana. Sorot matanya terlihat sangat tajam, dengan bibir yang mengerucut, seolah ingin memberitahukan jika dirinya sedang merasa kesal.


Jovian segera merangkul pundak Kiana, membuat jaraknya sangat dekat, lalu memeluk tubuh semampai itu dengan perasaan gemas.


"Singkirkan pikiran buruk itu dari dalam kepalamu, Baby!"


"Tapi tingkah wanita tadi membuat aku curiga. Pasti kalian pernah ada hubungan yah!?"


Pandangan Kiana menengadah, menatap wajah Jovian dengan ekspresi serius.


"Mungkin dia menyukaiku. Memangnya wanita mana yang tidak terpesona dengan aura Duda tampan ini? Seorang gadis cantik, anak dari pengusaha batubara saja bisa takluk, apalagi wanita seperti Mayden." Ucap Jovian penuh candaan.


Tapi reaksi Kiana justru sangat berbeda.


"Apa!?"


Kiana mendorong tubuh Jovian sampai pria itu sedikit terjerembab kebelakang. Kemudian gadis itu mengambil langkah cepat untuk keluar setelah pintu liftnya terbuka.


Jovian tersenyum sumringah. Melangkahkan kaki keluar dari dalam lift, dan berjalan santai mengikuti Kiana, dengan kedua telapak tangan yang dia sembunyikan di balik saku celana.


"Ahhh, … dia sangat cantik kalau sedang merajuk seperti itu." Jovian terkekeh pelan.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu. Akhirnya mobil Jovian memasuki sebuah pekarangan rumah yang sangat luas. Dia memberhentikan mobilnya begitu saja, lalu menoleh ke arah gadis yang sedang melakukan protes. Sampai dia terus bungkam sedari mereka memasuki mobil.


Gadis itu membuka sabuk pengamannya. Diahampir keluar, tapi Jovian segera menahannya. Memang Jovian merasa gemas dengan sikap Kiana yang sedang cemburu seperti sekarang. Namun membiarkan masalah sampai berlarut-larut juga tidak baik, mengingat sikap Kiana yang memiliki sifat keras kepala.


"Baby?"


Kiana menatap Jovian tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Dia memang sempat mengutarakan rasa sukanya. Tapi sungguh, aku tidak peduli dengan itu." Jovian menjelaskan.


Gadis itu masih bungkam.


"Waktu itu memang saya sudah mulai untuk membuka diri. Tapi tidak sedikitpun aku tertarik kepadanya, bahkan setelah berkali-kali aku coba, … sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerimamu."

__ADS_1


Kiana mengangguk.


"Kamu mau karena Papa memberikan sepuluh persen perusahannya kepadamu." Kiana dengan ketus.


Sementara Jovian langsung diam. Karena yang di katakan Kiana memang benar adanya. Tapi itu dulu, karena perasaannya sekarang benar-benar murni, bahkan dia tidak peduli dengan saham itu. Jika Danu menawarkan hal itu sekarang, mungkin tanpa menunggu lama dirinya akan segera menerima Kiana.


"Itulah kesalah aku dari awal. Tapi percayalah aku tidak pernah mau menerima saham itu, … aku bahkan sudah berusaha membuka diri, dan itu berhasil. Kamu berhasil membuat aku melupakan segala hal yang ada di masa lalu yang sangat menyedihkan itu."


Kiana menatap wajah Jovian lekat-lekat. Mencari sebuah kebohongan yang kemungkinan besar pria itu lakukan. Namun dia tidak dapat menemukan itu.


"Apa aku seburuk itu yah? Sampai Papa harus melakukannya, agar ada pria yang mau menikahiku? Dengan segala kekurangan yang aku miliki."


Jovian menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tentu saja tidak seperti itu. Mungkin Papamu hanya memiliki kemurahan hati yang begitu besar. Sampai dia ingin melakukan itu untuk seorang yang mau menerima keadaan putrinya dengan baik." Jovian semakin mempererat genggaman tangannya.


Keadaan menjadi hening. Jovian maupun Kiana sama-sama diam dengan pandangan yang terus saling beradu.


"Jika Mayden menyukaiku, lalu kita sempat mencoba mendekat satu sama lain. Itu sudah menjadi bagian dari masa lalu, … buktinya aku sudah mencintaimu, dan usaha Mayden gagal. Dia tidak dapat membuat hatiku memilihnya, tapi justru memilih seorang gadis keras kepala, susah di atur, pemarah, dan selalu melanggar apapun atauran yang sudah di tetapkan." Jovian tersenyum.


Tangannya bergerak mendekati wajah gadis yang duduk di samping, lalu menyentuh pipi Kiana dan mengusapnya lembut.


"Coba kamu pikirkan. Se-istimewa apa kamu? Sampai mampu membuat hati yang sudah membeku ini kembali terasa hangat seperti semula. Bahkan perasaan yang hadir sekarang jelas jauh lebih menggebu-gebu, … aku tahu kamu merasakan itu."


"Hhheuh!" Kiana menghela nafasnya cukup pelan, bahkan gadis itu sampai memejamkan mata, hanya untuk mengusir rasa tidak nyaman di dalam hatinya, yang baru dia rasakan saat ini.


Jovian terus mengusap pipi Kiana.


"Jika ada yang mengganjal, katakan saja. Tidak usah di pendam, karena akan menjadi boom waktu di kemudian hari."


"Hemmm, … aku hanya kesal. Bayang-bayang Tante Eva saja belum benar-benar hilang, meskipun kamu terus mengatakan jika diantara kalian sudah tidak ada apa-apa lagi, termasuk perasaan yang tersimpan dalam dua tahun lamanya, bahkan setelah bercerai kamu masi …."


Belum selesai Kiana berbicara, Jovian seegra menempelkan telunjuk di bibir Kiana. Menghentikan gadis itu yang mungkin akan berbicara lebih jauh lagi.


"Ini sudah malam. Selain kelelahan, kamu juga minum wine malam ini, … dan itu mempengaruhi gaya bicaramu sekarang, karena pikiran yang bercabang kemana-mana."


Kiana diam.


"Sekarang ayo masuk. Dan tidurlah dengan segera, besok pagi aku kesini, … kita jalan-jalan oke?"


"Baiklah." Akhirnya Kiana berbicara.


"Masih kesal?"


"Tinggal sedikit. Benar kata kamu, mungkin ini ada sangkut pautnya sama wine yang aku minum, sampai membuat pikiran aku berantakan kemana-mana seperti ini." Gadis itu mulai tersenyum.


Dan tentu saja membuat Jovian merasa lega. Rasanya menyenangkan jika ada seseorang yang merasa cemburu terhadapnya, namun hal yang lebih menakutkan justru Jovian rasakan. Dia merasa gelisah ketika melihat Kiana dalam kondisi seperti itu.


"Mau aku antar?"


"Tidak usah. Nanti aku malah meminta kamu menginap di rumah." Kiana tersenyum.


"Kalau kamu meminta, aku akan melakukannya."


"Tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin?"


"Karena aku mau kita tidur bersama di kamarku!"


"Baiklah, Jasmine Kiana Danuarta. Besok aku akan menghubungi Papamu! Meminta izin, agar kita bisa tidur bersama-sama, seperti apa yang kamu mau."


"Hmmm." Jawab Kiana.


Kiana mencondongkan tubuh, mengikis jarak diantara keduanya dan mendaratkan kecupan basah di pipi Jovian.


Cupp!!


"I love you."


"Love you more, Baby!" Jovian menjawab.


Dan setelah itu Kiana keluar dari dalam mobilnya, membawa Tote bag dan tas kecil, berlari mendekati sebuah pintu utama yang tampak di buka dari arah dalam oleh salah satu asisten rumah itu.


Kiana melambaikan tangan, kemudian masuk dan menutup pintu rumahnya dengan segera.


......................


...Ayo dong. Jangan lupa like, komen, sama votenya yah!!...


...Dukungan kalian sangat berarti bagi othor remahan kaleng kongguan ini. Yang belum rate, di rate bintang lima dulu, yang belum masukin rak, masukin juga biar ada notifikasi kalau si Om gentayangan ♥️♥️...


Othor seneng kalo bacain komen dari kalian, kadang sampe senyum-senyum sendiri, ... eh ketawa kenceng juga sering deg :)


~Aylopyu~

__ADS_1


__ADS_2