Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Gender reveal


__ADS_3

“Usia janinnya dua puluh tiga Minggu. Berat badan dari kedua bayi juga baik.” Jelas seorang Dokter seraya terus menggerakan alat USG di atas permukaan kulit perut Kiana.


Tak hentinya Jovian tersenyum, apalagi ketika melihat gambaran kedua anaknya. Yang menurut penuturan Dokter, dua jabang bayi itu sehat, dan semuanya normal.


“Apa sekarang bisa dilihat, Dok?” Kiana menatap Dokter wanita yang duduk tepat samping.


Orang yang di maksud pun menganggukan kepala, dan kembali mencari posisi, untuk mendapatkan hasil yang sudah sangat lama Kiana inginkan.


Usianya yang masih muda, juga menyandang predikat sebagai calon ibu baru. Membuat rasa keingintahuan Kiana begitu menggebu-gebu. Bahkan tidak jarang calon ibu itu terus merengek dan memaksa, hanya karena ingin tahu jenis kelamin calon kedua anaknya.


“Coba kita lihat yah? Mudah-mudahan Dede nya nggak Mali terus.”


“Istri saya sedikit sulit dikasih tahu, Dok. Apalagi kalau sampai sekarang masih belum ketahuan, bisa-bisa dua atau tiga hari berikutnya minta diantar kesini lagi.” Jovian berujar.


Kiana menatap suaminya, kemudian memukul lengan kekar Jovian, sambil tersenyum malu-malu. Karena apa yang dikatakan pria itu, memang benar adanya. Rasa penasaran yang terus muncul, membuat Kiana tidak betah jika untuk menunggu dalam waktu yang cukup lama.


“Saya bisa memaklumi, Pak Jovian. Sebagian besar calon ibu baru memang begini. Mereka sangat antusias.”


Jovian manggut-manggut saja, dan mulai diam untuk menunggu. Ketika tiba-tiba saja dadanya berdebar kencang.


Dokter menghentikan pergerakan alat USG di atas permukaan kulit perut Kiana. Kemudian menekan salah satu tombol di alat monitor, sehingga gambar yang ada di dalamnya terlihat semakin dekat.


“Oke, sudah bisa dipastikan.” Katanya, lalu menatap ke arah Kiana, dan beralih pada Jovian. “Tapi, sebelum saya kasih tahu, lebih baik kita bicara di sana yah, … agar lebih nyaman.” Dokter berujar sambil mengarahkan pandangan pada meja kerjanya.


“Baik, Dok.” Jovian dan Kiana menjawab bersamaan.


Lalu asisten Dokter yang sedari tadi berdiri di sisi lain ruangan itu pun mendekat, membawa beberapa helai tisu, untuk kemudian mengusap sisa gel di perut Kiana.


Jovian meraih kedua tangan Kiana, lalu membantunya untuk bangun, dan turun dari atas tempat pemeriksaan. Mereka berjalan mendekati meja Dokter, kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan.


“Sus, tolong ambilkan hasil USG nya.” Pinta Dokte.


“Baik, Dok.” Sahutnya.


Satu lembar hasil USG hari ini di letakan di atas meja, tepat di hadapan Dokter juga Kiana. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada satu beda itu, dengan raut wajah berbinar, terutama Kiana yang terlihat sangat bahagia. Tentunya Jovian pun merasakan hal yang sama, hanya saja pria lebih mampu menyembunyikan perasaannya.


“Mau mengadakan acara gender reveal?” Tanya Dokter.


Dan Kiana segera menjawab dengan gelengan kepala. Sementara Jovian tampak menoleh, dan menyenggol lengan istrinya.


“Baby? Kita harus bicarakan dengan para orang tua. Siapa tau mereka mau ada acara seperti yang sedang ramai di lakukan.”


“Nggak!” Tegas Kiana.


“Tidak boleh begitu, sayang. Semuanya harus …”


“Nggak, sayang. Pokoknya nggak, titik!” Kiana bersikukuh.


Dokter menyimak perdebatan tersebut.

__ADS_1


“Hhheuh, baiklah. Kuasa memang ada di genggamanmu!” Jovian mengalah.


Kiana pun tersenyum, lalu dia beralih pada Dokter yang duduk di hadapannya sambil memegangi secarik foto hasil USG.


“Baik.”


Dokter meletakan kertas di dalam genggamannya, menggeser agar benda itu lebih dekat kepada Jovian juga Kiana. Dan tampaklah yang ada disana, sebuah gambar yang tidak terlalu jelas, dan mereka tidak mengerti apa yang sedang Dokter perlihatkan.


“Agak bingung, ya? Tidak apa, memang sulit dimengerti.” Dokter melongakna candaan.


Dokter membawa ballpoint miliknya, dan mengarahkan pada satu gambar yang terdapat tanda (A) di sana.


“Dari posisi, saya bisa pastikan jika dia akan lahir lebih dulu. Kita panggil aja si Kakak yah! Nah si Kakak ini jenis kelaminnya perempuan." Jelas Dokter.


Sorot mata Kiana berbinar, pun dengan Jovian yang terlihat sangat antusias.


“Dan Adiknya laki-laki.”


"Aaaaa, … sepasang ya, Dok?" Kiana tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang sedang dia rasakan.


“Betul. Selamat ya.”


Kiana mengangguk.


“Ada yang mau ditanyakan lagi? Selain keluhan sudah kesulitan dalam berjalan?”


“Untuk makanan, bagaimana Dok?” Tanya Jovian.


Jovian mengangguk paham.


“Saya hanya akan memberikan asam folat yah? Untuk susunya tidak usah diminum lagi, kalaupun mau bisa dua hari sekali, … dan untuk ide kursi roda, itu baik. Karena kalo sakit, tapi masih dipaksakan sama sekali tidak baik. Jadi mulai sekarang anda harus stop memaksakan diri.”


“Baik Dokter.” Kiana mengangguk.


“Nah, ini resepnya. Dan ini hasil USG tadi, si Kakak dan si Adik.”


Jovian meraih semua yang di sodorkan Dokter, berjabat tangan, kemudian pamit dengan segera.


“Terimakasih untuk hari ini, Dok. Kalau begitu kamu pamit.”


Dokter tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya.


“Jangan lupa dua Minggu lagi check up, oke?”


Kiana yang sudah berpegangan erat pada tangan Jovian pun kembali menoleh, lalu mengacungkan satu jempolnya ke arah Dokter, sambil terus berjalan dengan sangat pelan, ketika sedikit rasa nyeri dia rasakan di pangkal paha.


“Mari, Suster. Terimakasih!” Pamit Kiana juga Jovian saat mereka melewati seorang asisten Dokter yang berdiri di ambang pintu, menahan benda itu agar terus terbuka.


***

__ADS_1


Klek!!


Pintu ruangan yang cukup luas terbuka, kemudian munculah Jovian dengan membopong Kiana. Perempuan itu melangkah dengan sangat hati-hati, bahkan tak hentinya Kiana memegangi bagian bawah perut, dengan bibir yang sesekali terlihat meringis.


“Bagaimana? Sudah nyaman?”


Jovian menatap Kiana yang kini duduk setengah berbaring, menyandarkan punggung pada beberapa tumpuk bantal di belakangnya.


“Sudah, Papa. Terimakasih sudah jagain aku seharian ini, … sama bantuin jalan juga.” Kiana tersenyum, lalu menyentuh pipi Jovian, dan mengusapnya lembut.


Jovian menyentuh tangan mungil yang tengah mengusap-usap tulang rahangnya, dengan pandangan yang tidak dia alihkan sama sekali. Wajah cantik itu kini terlihat lelah, bahkan di momen-momen tertentu terlihat pucat yang luar biasa. Bobot tubuhnya pun mulai bertambah, tapi sepertinya Kiana masih tidak bisa menahan bobot kedua bayi di dalam perutnya.


Kiana yang seharusnya masih menikmati masa muda. Berkumpul bersama teman-temannya, pergi ke suatu tempat bersama-sama di akhir pekan. Namun, itu tidak dia lakukan, Kiana bahkan memilih untuk mengabdi menjadi seorang istri. Dan tidak ada lagi alasan Jovian untuk tidak memberikan seluruh cintanya kepada gadis yang terpaut 17 tahun lebih muda darinya itu.


“Malam melamun!”


Jovian tersenyum, meraih tangan Kiana yang masih berada di pipinya, lalu mencium telapak tangan perempuan itu.


“I love you.” Katanya sambil berbisik.


“Hemmm, … i love me too.” Balas Kiana dengan tawa konyol.


“Dasar nakal!”


Kiana tertawa.


“Sepertinya kita harus pindah dulu di kamar bawah untuk sementara. Susah juga kan kalau harus naik turun? Kalau di bawah kursi rodanya masih bisa masuk ke dalam kamar.”


”Memangnya sudah selesai di beresin?”


“Kita minta tambahan asisten rumah. Tapi Gibran baru saja menemukan satu, … susah juga ya cari yang mau kerja di rumah.”


Kiana mengulum senyum.


“Atau nanti aku minta Ipah kesini, sementara saja untuk bantuin Mbak berbenah. Kasian kalau harus sendirian, rumah yang kamu beli ini cukup besar.”


Jovian bangkit, memutari ranjang tidur dengan langkah pelan. Lalu kemudian dia naik, dan membaringkan diri di samping Kiana, seraya mengusap perutnya yang sudah sangat membulat.


“Papa lelah, ayo kita tidur.”


“Ya tidurlah.”


“Kamu tidak mau aku usap punggungnya?”


“Aku sedang ada di dalam posisi nyaman, sayang. Jadi tidurlah, kalau ada apa-apa nanti aku bangunkan.”


“Baiklah.”


Jovian mencium perut Kiana terlebih dahulu, memejamkan mata, lalu akhirnya terlelap, hingga terdengar suara dengkuran halus.

__ADS_1


“Ahhh, … Om-om yang satu ini manis sekali!” Kiana bergumam, sambil terus mengusap-usap puncak kepala suaminya, yang saat ini tertidur menelungkup, menghadapkan wajah pada perutnya.


“Maaf ya, kalau malam-malam nggak bisa tidur aku pasti minta di temenin terus, padahal kamu capek. Kadang bantuin Papa ngerjain sesuatu di ruang kerjanya, lalu setelah itu menerima laporan tentang kebun teh dari mang Adang. Belum lagi aku yang kadang rese, minta di manja, … maaf ya!” Katanya sambil terus mengusap kepala Jovian.


__ADS_2