Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Tangerang-Pangalengan


__ADS_3

"Kenapa tidak bermalam saja? Masih ada beberapa ruangan yang kosong dan bisa kalian tempati."


Ucap Danu ketika Javier merangkul tubuhnya. Keluarga kecil yang baru sampai dari Belanda itu segera berpamitan untuk pulang, ketika suasana langit sudah benar-benar redup.


"Mungkin lain kali. Sekarang Kakek dan Neneknya Axel sedang tidak mau di tinggal. Mungkin tahun ini mereka sering bertemu karena ada beberapa acara besar, biasanya kami pulang satu atau dua tahun sekali."


Javier tersenyum pada ayah mertua dari adiknya.


"Begitu?" Danu tersenyum.


Javie menganggukkan kepala.


"Masih tinggal di daerah Tangerang?" Danu kembali bertanya.


"Iya, di Melati Mas." Ujar Javier.


Kini Danu yang mengangguk, kemudian saling menarik diri sampai keduanya cukup berjarak.


"Cukup jauh dari sini yah!?" Herlin ikut berbicara.


Yang langsung dijawab senyuman tipis oleh Adline dan Javier. Sementara Axel tanpa tak terganggu, berdiri di antara Kiana dan Jovian, dengan iPad menyala di dalam dekapannya.


"Kalau begitu kami pamit, ya. Terimakasih untuk berbagai macam sajiannya yang begitu luar biasa dan menggugah selera." Adline berjabat tangan dengan Herlin, yang dengan segera wanita paruh baya itu tarik secara perlahan, mencium pipi kiri dan kanan, saling merangkul, lalu melepaskannya.


Setelah itu Herlin beralih pada Danu, dan terakhir kepada Kiana.


"Kalian berangkat ke Bandung malam ini?" Tanya Adline.


Kiana menoleh ke arah suaminya, lalu mereka berdua menganggukan kepala.


"Oh iya. Minggu depan Axel ulang tahun, katanya dia ingin ada momen menyenangkan disini sebelum nanti pulang ke Belanda lagi. Aku harap Bapak, Ibu dan kalian berkenan datang yah!" Perempuan itu tersenyum.


"Oh ya? Pesta ulang tahun?"


Danu tersenyum kepada Axel yang tengah mengangkat pandangan, dan menatap semua orang bergantian.


Axel mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Hanya acara keluarga. Dan kami harap kehadiran kalian semua." Sambung Javier.


"Jika ada waktu kami datang, jika tidak ya Kiana ya Kiana yang akan mewakili kami." Ujar Danu.


"Baiklah kami pamit, sekali lagi terimakasih." Pamit Javie.


"Axel. Ayo Salim dulu sama Oma, Opa, Aunty dan Uncle." Titah Adline.


Axel memberikan benda pipih dengan ukuran besar itu kepada ibunya. Kemudian meraih tangan semua orang satu persatu, mencium tanganya takzim.


"Uncle, tolong belikan kado Lego untukku." Anak kecil itu berpesan.


Membuat semua orang tertawa.


"Belum apa-apa sudah meminta hadiah, padahal ulang tahunnya masih Minggu depan." Jovian terkekeh.


"Itu karena kamu terlalu memanjakannya, selalu menuruti apa yang dia mau. Kamu ingat? Waktu umurnya satu tahun bahkan dia menganggap kamu adalah ayahnya, dan Axel memang lebih dekat dengan dirimu?"


Kakak beradik itu tertawa pelan.


"Ah ya sudah, ini terlalu larut." Adline menginterupsi.


Dan setelah itu Javier berjalan melewati pintu utama berukuran besar, mendekati mobil milik orang tua Adline yang mereka pakai, mengantar Axel ke kursi bagian belakang terlebih dulu. Tak lupa Javier melilitkan sabuk pengaman yang setelah itu mereka masuk, dengan Kiana, Jovian, Herlin dan Danu berdiri di teras depan untuk mengantar kepulangan keluarga kecil itu dari kediamannya.


Pim pim!!


Setelah suara itu terdengar, mobil yang ada di bawah kendali Javier segera melaju dengan kecepatan rendah. Mendekati gerbang rumah yang sedang dibuka secara perlahan oleh beberapa petugas keamanannya yang berjaga disana.


Semua orang terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Danu menoleh dan menatap Kiana juga Jovian bergantian.


"Apa kalian juga mau pergi sekarang?" Danu bertanya.


"Ini sudah jam delapan malam. Mau sampai jam berapa kalian disana? Apa tidak berangkat pagi-pagi saja?" Herlin ikut bertanya.


"Kita udah undur terus acara fetting bajunya lho. Kita berangkat sekarang agar besok siang Mami dan Papi sudah ada disini." Jelas Kiana.


"Mau Papa minta Pak Yanto untuk mengantar kalian?"

__ADS_1


Danu memberi sebuah saran. Namun tampaknya Jovian tidak setuju, sampai pria itu menggelengkan kepala, dengan senyum tipis yang terlukis di kedua sudut bibirnya.


"Tidak usah, Pak. Biar saya saja bersama Kiana yang kesana."


Herlin menatap suaminya lekat-lekat, lalu tersenyum penuh arti.


"Papa ini memang kurang peka. Namanya pengantin baru ya mana mau ada yang ganggu. Memangnya siapa peduli jauhnya perjalanan Tangerang menuju Bandung, menurut Kia dan Jovian ya tidak ada apa-apanya." Tawa Herlin terdengar.


Setelah mengatakan itu Herlin segera berbalik badan, melangkah masuk disusul Danu setelannya. Meninggalkan Jovian dan Kiana yang kini masih diam dengan kedua pipi yang sedikit merona.


"Pipimu merah, Baby!" Jovian berbisik.


Kemudian tangannya bergerak menyentuh pipi sang istri, dan memberikannya cubitan pelan.


"Ish, kalian suka mulai!" Dia mendelik.


Kiana langsung menepis tangan Jovian, berbalik, dan segera berjalan mendekati pintu masuk rumah yang masih terbuka dengan sangat lebar. Sementara Jovian terkekeh seraya terus menatap punggung Kiana yang kini terlihat semakin menjauh.


Dia menyembunyikan kedua tangannya di saku celana, lalu mengikuti kemana istrinya pergi, dengan langkah perlahan seperti biasa.


Satu-persatu anak tangga Jovian lewati, sampai setelah dirinya menapakan kaki di lantai 2. Pria itu segera mendekati pintu kamar yang tertutup, meraih handle, dan menekannya sampai benda tersebut dapat terbuka dengan lebar.


"Tidak usah bawa baju banyak kan yah? Cuma sehari besok siang juga pulang lagi." Kata perempuan itu sambil berdiri di hadapan pintu lemari yang terbuka.


Jovian tidak langsung menjawab, dia berjalan masuk setelah menutup pintunya terlebih dahulu, kemudian mendudukan diri di tepi ranjang, menatap Kiana dengan perasaan yang entah bagaimana Jovian harus menyebutnya.


Rasanya begitu menyenangkan, ketika menemui seseorang yang tidak dapat membiarkannya pergi sendirian.


"Kamu benar mau ikut?" Tanya Jovian.


Dia kembali bertanya, meskipun sudah puluhan kali Kiana menjawab pertanyaan yang sama.


"Ish kamu mah. Dibilang aku ikut ya ikut, masih nanya lagi aja!" Katanya, kemudian dia berjalan mendekat sambil membawa beberapa pasang baju.


Jovian tertawa.


"Bawa mobilnya bisa gantian kalo kamu cape." Ujar Kiana.


"Kamu meragukan keadaan fisik aku yah? Padahal aku sempat masuk Paspampres lho, … tidak bisa dibandingkan dengan manusia biasa." Jovian sedikit membanggakan diri.


"Jadi kamu bukan manusia biasa?" Kiana melirik sekilas, lalu kembali pada lemari, dan mulai memilah beberapa pakaian milik suaminya.


Kiana tidak menyahut, dia hanya fokus untuk memilihkan baju yang akan mereka bawa ke Pangalengan nanti.


"Baby kamu tidak mau tahu power aku apa?"


"Apa memangnya?"


Kiana kembali, sembari membawa beberapa pasang pakaian. Lalu kemudian beralih membawa tas bepergian berukuran sedang, dan meletakkannya di atas tempat tidur untuk memasukan apa yang sudah Kiana siapkan.


"Aku dapat membuat seorang gadis mencintaiku." Jovian dengan bangga.


Dan ucapan itu mampu membuat Kiana menghentikan aktivitasnya. Sementara Jovian hanya tersenyum samar, namun terdapat arti yang begitu dalam.


"Siapa?"


"Menurutmu siapa? Masa begitu saja tidak tahu!"


"Ya tidak tahu. Kamu sudah dua kali menikah, dan sudah pastinya mendapatkan dua gadis juga bukan?" Celetuk Kiana.


Jovian menghela nafasnya cukup kencang, meraih pinggang Kiana, dan dengan sekali tarikan kencang kini perempuan itu berada di dalam dekapan Jovian.


"Dasar nakal!" Dia menggeram gemas.


Kiana tertawa kencang, apalagi saat jari-jari Jovian mulai menggelitiknya.


"Ahahahahah, … sayang stop!!" Teriak Kiana.


"Tidak. Kamu ini kebiasaan suka membuka obrolan yang menjurus ke masa lalu yang sangat buruk itu."


Jovian terus menggelitiki istrinya, membuat perempuan itu menggeliat, dan bergerak-gerak tak tentu arah saat berusaha melepaskan diri dari Jovian, tapi tentu saja tidak semudah itu.


"Sayang ampun!"


"Tidak kamu harus di hukum!"

__ADS_1


"Iya iya. Aku tidak akan membahas apapun lagi tentang masa lalu kamu. Tapi cukup, aku nggak kuat … perut aku kram!"


Jovian menghentikan kejahilannya, namun tidak langsung melepaskan Kiana. Terlebih dulu dia mencium tengkuk istrinya, lalu beralih ke pipi.


"Aku tidak mau mengingat apapun yang pernah ada di dalam masa laluku. Jadi untuk sekarang, biarkan aku hanya memikirkanmu, Baby!" Dia semakin mempererat pelukannya.


Kiana mengangguk. Dan setelah itu Jovian benar-benar melepaskannya.


Wajah memerah, mata berkaca-kaca, dengan dada yang naik turun lebih cepat saat hembusan nafas perempuan itu terdengar tersengal-sengal.


"Hheuh!" Kiana menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. "Sisanya kamu yang beresin yah! Salah sendiri kamu bikin aku cape." Kiana kepada suaminya, yang langsung Jovian jawab dengan senyuman sama.


"Baiklah. Aku siapkan keperluan lainnya, kamu hanya perlu bersiap-siap. Pakai baju dan celana yang panjang."


"Begini sajalah!" Balas Kiana.


Jovian menatap istrinya tajam. Kaos oversize yang perempuan itu padukan dengan celana jeans super pendek, membuat paha Kiana yang mempunyai kulit mulus terlihat.


"No, Baby!"


"Kan aku di dalam mobil."


"Ya, dan kamu akan membeku setelah kita sampai di Pangalengan nanti."


"Nggak akan. Nanti aku pakai selimut, aku punya yang kecil dan bisa di bawa kalau bepergian."


Tatapan Jovian semakin tajam, membuat Kiana sedikit merasa gugup.


"Baby? Ganti pakaianmu, … atau tidak usah ikut sama sekali!" Tegas Jovian.


Kiana mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, lalu berdiri dan mengikuti kemana Jovian melangkah, lalu memeluknya dari arah belakang, membuat Jovian berhenti dengan segera.


"Kamu galak lagi sekarang." Rengek Kiana.


"Ya, karena kamu mulai tidak menurut. Masa mau pergi dengan celana sangat pendek begini!"


"Baiklah, aku ganti pakaiannya. Tapi sun dulu dong!"


Tanpa menunggu lama, Jovian segera berbalik badan, sedikit membungkukkan tubuh, lalu meraih bibir Kiana. Awalnya dia hanya memberikan kecupan singkat, namun Kiana tidak melepaskan Jovian begitu saja, membuat bibir merek kembali bersatu, dan saling merasai satu sama lain.


"Nah, sekarang pergilah ganti pakaianmu!"


Kiana mengangguk.


"Sepertinya kita harus membawa baju lebih banyak." Kiana berujar sambil menahan senyum, dan pipi yang bersemu merah.


"Tiga setel juga cukup."


"Nggak. Soalnya aku mau kita bermalam dulu di Bandung."


"Kita memang mau ke Bandung."


Jovian mulai paham arah pembicaraan Kiana, tapi dia terus bersikap seolah tak mengerti apa yang Kiana inginkan.


"Sayang!" Kiana merengek lagi. "Yah? Kita cari hotel di kota Bandung, tidur di sana terus pagi-pagi baru ke Pangalengan." Pinta Kiana.


"Hanya mampir ke hotel?"


"Hu'um." Perempuan itu mengangguk, dan memasang wajah memelas.


"Hanya menginap?"


"Iya."


"Tapi di Bandung itu lebih seru jika kita berburu kuliner disana. Kalau hanya tidur bisa di rumah Mami."


"Itu lain kali lagi. Sekarang aku mau honeymoon di hotel! Boleh ya?" Kiana bergelayut manja di lengan kekar suaminya.


Jovian tersenyum, kemudian menundukan kepala, dan mencium kening Kiana.


"Baiklah, sayang. Memangnya apa yang mampu aku tolak jika kamu sudah seperti ini? Jadi ayo ganti pakaian dan bersiap-siaplah kita berangkat."


Kiana mengangguk dengan semangat, dan setelah itu melepaskan lilitan tangan di tangan Jovian, untuk kemudian beralih pada lemari, untuk mencari pakaian serba panjang, yang akan menjaga Kiana dari suasana dinginnya malam ketika mereka mengarungi perjalanan yang cukup memakan waktu pada malam hari ini.


......................

__ADS_1


Seperti biasa.


Cuyung kalian 😘😘


__ADS_2