Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Axel birthday


__ADS_3

Suasana kediaman Ilyas dan Ingeu terlihat sedikit ramai. Balon-balon berwarna-warni tampak menempel memenuhi ruang tamu, tak lupa dengan hiasan pelengkap pesta ulang tahun lainnya, hingga membuat suasana rumah cukup meriah.


Kue ulang tahun sudah terletak tepat di tengah-tengah meja kayu berukuran besar. Dimana terdapat banner menempel dengan tulisan;


Selamat ulang tahun Axel.


Acara yang Adline buat sesederhana mungkin. Dia bahkan tidak mengundang siapa-siapa, selain teman dekat dan keluarga inti.


Axel duduk di sofa memegangi iPad dengan keadaan siap. Kemeja putih lengan panjang yang sengaja digulung hingga siku, di padukan dengan celana jeans dan jangan lupakan rambut kecoklatan yang disisir rapih, membuat Pria kecil itu terlihat begitu tampan dan menggemaskan.


"Papa? Amih sama Apih tidak akan datang? Uncle Jo juga ya? Kok lama?" Axel mendongakan kepalanya ke arah Javier dengan ekspresi wajah yang terlihat sendu.


Pria yang baru saja keluar dari kamarnya mengalihkan pandangan sekilas pada Axel, lalu beralih menatap layar ponselnya kembali.


"Sabar. Kan sedang antar Tante Kia wisuda!"


Adline tiba-tiba muncul, membawa nampan berisikan satu piring besar puding, disusul Eva setelahnya, lalu dia letakan di atas tatanan meja memanjang yang tersedia.


"Mereka sedang di jalan." Javier menjawab.


Dia menoleh ke arah Axel, kemudian mengulum senyum, berusaha membuat raut wajah masam putrinya menghilang. Namun, tampaknya itu tidak mempan sana sekali, malah membuat Axel semakin mengerucutkan bibir.


"Hahahaha, … sebentar lagi sampai, Nak! Kenapa kau ini tidak sabaran sekali. Lagi pula Mama dan yang lain belum selesai menata hidangan." Javier hampir menyentuh kepala putranya.


Namun Axel segera menghindar, menjauhkan diri dari tangan sang ayah yang mungkin saja akan mengacak-acak rambut kecoklatan yang terlihat sangat rapi pada hari ini.


"Papa! Don't touch it!" Cicit Axel dengan raut wajah ketus.


Membuat tawa Javier semakin kencang terdengar. Sementara Adline menggelengkan kepalanya kala melihat kejahilan sang suami, yang senang sekali menggoda putra pertama mereka.


"Kamu temani Axel sajalah, … sisa brownies kan? Biar aku yang potongin, terus Tante Ingeu yang menata di dalam wadah." Ucap Eva kepada temannya.


Adline menatap wanita sebayanya lekat-lekat.


"Nggak apa-apa, sesekali. Toh kita juga jarang bersama seperti ini!" Dia menepuk pundak Adline, lalu kembali ke arah dimana dapur berada.


Adline tidak menjawab lagi, lalu beralih menatap Javier, yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Apa tidak akan terjadi sesuatu?" Tanya Adline sambil berbisik kepada suaminya.


Javier menggerakan tangannya, lalu menepuk sisi kosong sofa yang saat ini pria itu duduk.


"Kemarilah!" Pinta Javier sambil mengulum senyum.


Adline menurut. Dia segera mendekat, mendudukan diri tepat di samping Javier, kemudian bersandar pada bahu suaminya.


"Bagaimana Kiana? Apa dia akan marah kepadaku? Sementara aku juga tidak bisa melarang Eva untuk tetap disini!" Gumam Adline, lalu dia mengangkat pandangannya. "Posisi aku serba salah. Yang satu adik ipar aku, dan sudah sepantasnya aku menjaga perasaan dia, … dan satunya lagi teman dekatku sudah sejak dari lama, bahkan dia juga jalan diantara hubungan kita." Wanita itu berkeluh kesah.


Entah mengapa Adline merasa menjadi sangat gelisah, padahal tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Kita tahu bagaimana Kiana. Dia gadis yang santai, sejauh ini aku melihatnya seperti itu!" Javier mengusap puncak kepala istrinya, memainkan rambut, dan tidak lama setelahnya mencium kening dengan perasaan penuh cinta dan kasih.

__ADS_1


Axel mencondongkan tubuh, kemudian menepuk lengan sang ayah cukup kencang.


"Apa?" Javier sedikit terkejut, lalu tertawa.


"Don't do that!" Axel kesal. "She's my Mom, … tidak boleh cium-cium, Papa!" Dan setelah mengatakan itu Axel turun dari sofa, untuk kemudian duduk diantara ibu dan ayahnya.


Yang seketika membuat Adline tertawa, merengkuh tubuh mungil putranya dan mendaratkan ciuman di pipi Axel bertubi-tubi.


"Oh anak Mama. Kamu sudah besar sekarang, tahun depan benar-benar masuk sekolah dasar yah!"


"Ya, … and i wont a little brother." Celetuk Axel.


Adline hendak menjawab. Namun suara derum mobil terdengar memasuki garasi rumahnya yang berukuran tidak terlalu luas. Dia bangkit untuk memastikan, dan benar saja, dua mobil baru saja tiba, dan membuat orang-orang di dalamnya keluar satu-persatu.


"Mereka datang?" Javier ikut berdiri.


Tak terkecuali dengan Axel yang begitu semangat atas kedatangan Kakek dan Neneknya.


Adline menatap penampilan Kiana yang masih mengenakan setelan kebaya, polesan makeup yang cukup tebal, membuat perempuan itu sangat berbeda, apalagi dengan riasan mata yang terlihat indah, saat Kiana memakain kontak lensa berwarna hijau gelap.


"Amih, … Apih!" Axel segera menghambur memeluk pinggang Jonathan. "Look, … rumahnya sudah di penuhi balon!" Dia berujar dengan raut sumringah.


"Ah, siapa yang menghiasinya?" Leni segera bereaksi.


"Yang tiup Kakek, sama Papa. Yang pasang Mama, Nenek sama Tante Eva!"


Deg!!


Kiana terhenyak mendengar pernyataan itu. Dan Jovian yang menyadari, segera berjalan mendekat, lalu meraih telapak tangan Kiana, kemudian menggenggamnya erat.


"Salim sama Oma, Opa dulu." Pinta Jonathan.


Axel mengangguk, dia tersenyum, dan mencium punggung tangan Herlin juga Danu bergantian.


"Hay Uncle, … Aunty!" Dia beralih pada Kiana dan Jovian.


Yang membuat keduanya tidak menyangka sama sekali.


"Oh, Aunty mempunyai hadiah untuk Axel." Ujar Jovian.


"Really?" Katanya, lalu mendongakan kepalan, menatap Kiana yang juga sedang menundukan pandangan.


Perempuan itu tersenyum.


"Baik, ayo masuk. Hadiahnya biar Uncle yang bawa!" Javier memanggil.


Mereka berjalan beriringan, memasuki sebuah ruang tamu yang tidak terlalu luas. Sementara Jovian kembali pada mobilnya, dan mengeluarkan hadiah yang Kiana belikan setelah mengetahui apa yang Axel inginkan.


"Ya ampun selamat datang." Ingeu menghampiri tamu-tamunya sambil tersenyum. "Silahkan duduk, maaf rumahnya sempit." Katanya lagi saat dia berjabat tangan dengan Danu dan Herlin.


"Ah, ini juga sudah sangat nyaman." Jawab Herlin.

__ADS_1


"Kalau begitu silahkan, … hidangannya disana." Ingeu menunjuk meja-meja yang di atasnya sudah terdapat berbagai macam hidangan.


Tidak lama setelah itu seorang pria datang dari arah dalam, tersenyum dan menyambut kedatangan tamunya satu-persatu.


"Pak Danu. Senang sekali anda ada disini, terimakasih sudah datang dan berkenan meramaikan ulang tahun cucu kami." Ilyar dengan senyum sumringah.


Tentu saja. Siapa yang tidak kenal dengan Danuarta, seorang pengusaha tambang batubara yang cukup terkenal di kalangan para pembisnis. Begitupun dengan Ilyas, pria itu beberapa kali menemuinya saat menjadi makelar tanah yang akan Danu beli.


"Axel! Lihat apa yang Tante Kian bawa." Jovian berteriak.


Membuat semua perhatian tertuju kepadanya, tak terkecuali Eva yang baru saja hendak bergabung setelah Adline memanggilnya ke arah dapur beberapa menit lalu.


Mata Axel membulat sempurna, ketiak dia melihat sebuah kotak berukuran besar, yang saat ini ada di dalam genggaman sang paman, dimana gambar peraru yang cukup melegenda menempel disana.


"Whoaaa, … Lego Titanic!" Axel berjingkrak.


Sementara semua orang diam dengan tatapan tidak percaya.


"Kalian bercanda?" Adlien menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Kiana?" Javier beralih pada adik iparnya.


"Hanya hadiah kecil, Ka. Biar Axel senang, dan semangat sekolah!" Kiana terkekeh.


Senyuman di bibir Axel semakin terlihat. Lalu tanpa basa-basi ataupun merasa canggung, pria kecil itu segra menghambur, memeluk Kiana dengan sangat erat.


"How kind you are to me, thank you." Suaranya terdengar begitu menggemaskan.


Membuat Kiana merasa gemas sendiri. Dia membungkuk, lalu membalas pelukan dari keponakannya.


"Hemmm, … berjanjilah untuk rajin dan mendapatkan nilai bagus oke? Nanti Tante berikan hadiah yang lebih bagus lagi." Kiana mengusap punggung Axel.


"Tiga belas juta, Jo!" Javier berbisik kepada adik.


"Hemm, … dia royal kalau untuk orang-orang yang dekat dengan dirinya. Kau tidak tahu saja, seberapa gila dia kepada teman-temannya dulu." Balas Jovian.


"Dia luar biasa." Javier masih tidak percaya. "Dan setelah ini dia akan meminta kita untuk merakitnya!" Lanjut pria itu, yang seketika membuat tawa Jovian terdegar.


"Hemmm! Bagaimana aku tidak mencintainya, dia memiliki hati yang begitu lembut." Jovian terus berbisik.


Tanpa menyadari keberadaan Eva yang saat ini berdiri di belakangnya tanpa banyak berbicara. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah muram, karena merasa kepercayaan dirinya mulai turun.


"Hey ayo duduk!" Adline memanggilnya.


Eva hanya mengangguk.


"Kia? Ayo Kakak pinjamkan baju ganti agar kamu merasa sedikit nyaman." Kata Adline, kemudian segera membawanya memasuki salah satu ruangan.


......................


Jangan lupa seperti biasa. Like, komen, hadiah sama apa aja deh yang kalian punya🤪

__ADS_1


Oh iya, yang belum mampir ke Master Cecep, mampir dulu yuk, di jamin nggak kalah seru🤩



__ADS_2