Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Antara jajan dan pengalihan.


__ADS_3

Klek!!


Jovian keluar dari kamar dengan Hoodie dan celana joger panjang yang membalut tubuhnya. Pandangan pria itu seketika tertuju kepada Jonathan dan Leni yang tengah duduk nyaman di atas sofa, menyaksikan berita petang hari ini.


"Kia masih tidur?" Leni langsung bertanya.


Pasalnya sudah beberapa kali Jovian terlihat keluar kamar. Sementara menantunya masih belum menampakan batang hidungnya, setelah selesai melakukan makan bersama beberapa waktu lalu.


"Sedang berendam air hangat. Dia merasakan kaki dan telapak tangannya beku, jadi aku suruh berendam air hangat! Ya … siapa tahu bisa sedikit membantu." Jovian menjelaskan.


Dia berjalan mendekati beberapa lemari penyimpanan yang ada di dapur. Lalu membawa cangkir, dan kopi setelahnya. Dengan sangat telaten Jovian mengisi panci dengan air, meletakkannya di atas kompor, kemudian menyalakannya.


"Beneran Kiana sedang berendam air hangat?" Leni kembali berbicara.


"Kalau aku bohong untungnya apa?" Sahut Jovian.


"Siapa tahu kamu gempur sampai Kiana kelelahan dan tidak bisa keluar dari kamar!"


Jovian menghela nafas, kemudian dia menoleh ke arah dimana ibunya duduk. Mungkin dirinya memang sedikit keterlaluan, tapi tentu saja tidak sampai membuat Kiana kesulitan karena ulahnya.


"Nggak Mami! Tanya Kia saja langsung kalau tidak percaya." Jovian kembali berbicara untuk membela diri.


"Lagian Mami aneh, … kenapa pembahasannya dari tadi soal itu terus!" Jonathan menatap istrinya lekat-lekat.


"Perjalanan Tangerang-Pangalengan itu panjang, Kiana pasti kelelahan. Jangan sampai pulang dari sini Kiana malah sakit!" Jelas Leni.


"Maka dari itu bicaranya yang baik-baik saja." Tukas pria berdarah Belanda itu kepada istrinya.


"Hhhheuh, … Mami cuma kasian sama Kiana! Buah kan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Cukup Mami saja yang sakit-sakitan karena keseringan mandi, jangan Kiana. Kasihan dia masih sangat muda!"


Ucapan itu sontak membuat Jonathan bungkam. Sementara Jovian tidak mau menggubris ibunya kembali, dia hanya fokus pada kopinya saat ini.


Setelah selesai. Jovian segera membawa cangkir kopinya ke arah luar, duduk di kursi rotan, memandang cakrawala dunia yang tampak mempesona saat cahaya matahari mulai meredup, dan menghasilkan warna kemerahan di area sekitar.


Suasana sejuk, hilir angin terus berhembus, menerpa pepohonan hingga berbunyi nyaring karena setiap dahan bergesekan satu sama lain.


"Sayang."


Jovian lantas menoleh saat mendengar suara yang sangat dia kenali.


"Yes, Baby? Kamu sudah selesai? Bagaimana? Apa kamu sudah merasa lebih baik? atau tangan dan kakiku masih terasa beku?" Jovian mencerca Kiana dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Kiana hanya tersenyum, beringsut mendekati Jovian, dan duduk di atas pangkuan suaminya tanpa merasa malu, mengingat kali ini mereka sedang berada di kediaman Jonathan dan Leni.


Pun dengan Jovian, dia hanya membiarkan Kiana melakukan apapun sesukanya, karena dia jelas menyukai apa yang perempuan itu lakukan.


Tangan Jovian bergerak melingkar di pinggang ramping Kiana, dan memeluknya dengan sangat erat.


"Sekarang aku yakin kamu sudah baik-baik saja." Jovian tersenyum.


"Aku baik. Hanya saja aku belum terbiasa dengan cuaca dingin disini."

__ADS_1


"Nanti juga terbiasa. Karena kunjungan kesini akan menjadi hal baru dan rutin kita lakukan."


Mereka saling menatap, dengan kedua sudut bibir yang tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis di antara mereka berdua.


"Kamu punya usaha sekarang, apa masih bisa membantu aku menjalankan bisnis Papa juga?"


"Pak Danu tidak akan melepaskanmu begitu saja, Baby." Jovian berbisik.


"Kamu tidak mau membimbing aku? Setidaknya bantu sedikit sampai aku bisa menjalankan bisnis Papa dengan baik."


"Bisnismu, sayang!" Pria itu tersenyum, lalu menyentuh helaian rambut Kiana, dan menyelipkannya di daun telinga. "Nanti kamu akan menjalankan bagianmu, tanggung jawab yang sempat Pak Danu ambil. Karena sekarang kamu sudah mampu, sebentar lagi lulus, maka tidak ada alasan lagi." Dia terus menatap Kiana dengan raut wajah berbinar, membuat senyuman di bibir Kiana pun terus terlihat.


"Bukannya Papa juga memberi sepuluh persen sahamnya? Kenapa nggak sekalian aja, urus punya kamu sekian yang punya aku." Ucap Kiana.


Jovian tidak menjawab. Matanya terus bergerak-gerak, menatap wajah cantik istrinya dari jarak yang sangat dekat.


"Sayang, ayo kita urus semuanya sama-sama." Kiana merengek manja.


Pria itu masih diam. Dia membiarkan Kiana memeluk lengannya, dan bergelayut manja.


"Sayang?" Perempuan itu kembali memanggil.


"Hemmmm, … baiklah. Kita akan melakukannya sama-sama. Tapi satu yang harus kamu ketahui, sepuluh persen yang sempat Papamu berikan, sudah aku alihkan menjadi milik istriku." Kata Jovian.


Senyuman Kiana tampak merekah.


"Benarkah?"


"Kenapa tidak mau menjalankannya sendiri? Aku rasa kamu terlihat seperti independent woman. Dapat melakukan segala hal sendirian, … atau tidak mau bergantung kepada siapapun termasuk orang terdekatnya."


"Aku memang mau seperti itu. Aku tidak mau bergantung kepada siapapun! Tapi nyatanya aku tidak bisa, apalagi setelah ada kamu, … rasanya aku ingin menjadi istri yang sangat manja saja, membebankan segala hal kepada suamiku ini!"


"Baiklah. Sekarang duduk yang benar, jangan seperti ini … atau akan ada sesuatu yang bangun tanpa di duga-duga!" Jovian berbisik.


Kiana menurut, dia bangkit dan duduk di kursi kosong tepat di samping suaminya. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat, menikmati suasana sore hari yang begitu menakjubkan. Di tambah hawa sejuk yang terus mendominasi tempat itu, membuat suasana memang menjadi sangat berbeda, dan Kiana menyukainya.


"Kamu mau sesuatu?" Tawar Jovian.


Namun, Kiana menjawab tawaran suaminya dengan gelengan kepala.


"Serius! Kalau mau teh, coklat, atau susu hangat. Aku buatkan sekarang." Kata Jovian.


Dia meraih cangkir kopinya, lalu menyesap minuman panas itu yang mulai terasa dingin.


"Suasananya memang dingin. Aku juga butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuh aku. Tapi bukan minuman itu yang aku mau."


Jovian meletakan cangkir kopinya kembali di atas meja, lalu kemudian menatap istrinya dengan tatapan penuh tanya.


"Apa? Kamu mau bakso? Mie ayam? Atau apa? Katakan saja, tapi kita harus membelinya kebawah, disini mana ada yang jualan seperti, … mungkin kalau bakso ada saja, tapi biasanya lewat nanti malam." Kata Jovian.


"Oh, bakso gerobakan gitu yah?"

__ADS_1


Jovian mengangguk-anggukan kepala.


"Kalo tidak mau ayo aku antar untuk beli apapun yang kamu mau."


"Nggak ih! Aku pernah makan bakso gerobakan, enak-enak aja. Tapi sekarang aku bukan mau makan!" Sergah Kiana sambil tertawa pelan.


"Ya sudah. Ayo siap-siap, kita cari jajanan di bawah!" Jovian segera bangkit, meraih tangan Kiana dan membawanya ke arah pintu kamar mereka berada.


"Kita mau ke bawah dulu ya. Kiana mau jajan yang hangat-hangat." Jovian langsung menjelaskan sebelum kedua orang tuanya bertanya, lalu benar-benar membawa Kiana masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Leni dan Jonathan saling memandang satu sama lain.


"Ayo cepat ganti pakaianmu." Jovian menatap keadaan Kiana. Dimana saat ini perempuan itu mengenakan gaun tidur, dan jaket yang menjadi pelapis bagian luar, agar dapat melindunginya dari hawa dingin.


"Sayang?"


"Atau tidak apa-apa jika mau seperti ini juga. Kita hanya memberi makan bukan? Kalau begitu ayo!"


Jovian hampir saja meraih tangan Kiana dan menariknya kembali ke arah luar. Namun dengan segera perempuan itu mundur beberapa langkah dari hadapan Jovian.


"Kenapa?"


"Itu terlalu jauh sayang. Lagi pula kita tunggu saja sampai ada yang lewat."


Jovian bungkam.


"Aku memang mau yang hangat-hangat, tapi bukan mie ayam, bakso atau yang lainnya. Tapi aku cuma butuh kamu, lalu kenapa harus repot-repot pergi jauh?" Kedua pipi Kiana merona.


Dia kembali mendekat, membuka tangan untuk kemudian memeluk tubuh suaminya, dan membenamkan wajah di dada bidang milik Jovian.


"Padahal dari tadi aku cuma butuh kamu peluk. Tapi kamu malah jaga jarak." Kiana mendongakkan kepala, sampai pandangan mereka kembali beradu.


"Kamu kenapa? Marah?"


Jovian menggelengkan kepala, lalu tertawa pelan dan mencubit ujung hidung Kiana sedikit kencang sampai menimbulkan bekas kemerahan.


"Kenapa aku harus marah, hum? Aku hanya sedang menjaga dirimu saja. Udara dingin seperti ini sangat rawan kamu tahu? Dan ini bukan apartemen atau kamarmu yang memiliki peredam suara, … suara indahmu akan terdengar kemana-mana jika kita melakukannya sekarang." Jovian mengeratkan pelukannya.


"Jadi harus malam?"


Dengan polosnya Kiana bertanya demikian.


Jovian terkekeh, dan semakin mengeratkan pelukannya saat sudah tidak mampu berkata-kata.


Cup!!


Pria itu mencium kening istrinya.


"Ayo kita cari pengalihan dulu. Kita jalan kebawah untuk mencari jajanan misalnya."


......................

__ADS_1


Ayokkkk like, komen sama taburan mawarnya mana🤭


__ADS_2