
Keesokan harinya di apartemen milik Kevin.
Jarum jam baru saja menunjukan pukul tujuh pagi, namun tempat itu sudah terlihat ramai, karena Kevin sengaja memanggil teman-temannya yang lain saat Kiana memutuskan untuk bermalam disana.
"Kayaknya serius banget, ya?" Zayna menatap Kevin lekat-lekat. "Dia nggak bakalan menjauh kalo nggak ada masalah serius!" Sambung Zayna dengan pikiran yang semakin menerka-nerka.
Sementara yang lain hanya diam menyimak. Keberadaan Kiana disana mampu membuat Zayna, Hilmi, Starla dan Sharla kebingungan. Mengingat benteng besar yang sudah Kiana bangun untuk menjauhi mereka. Namun, tiba-tiba Kiana kembali dengan keadaan hati yang tidak baik-baik saja.
Ya, bahkan mereka terus berusaha menenangkan Kiana saat perempuan itu terus menangis tanpa henti.
"Dia belum cerita apa-apa. Tahu sendiri semalaman dia hanya terus menangis, dan benar-benar berhenti saat dia tertidur, … itu pun karena dia merasa kelelahan." Ujar Kevin.
"Duh, kasian deh! Om Jovian memang kelihatannya galak banget." Hilmi sedikit berbisik.
Membuat semua orang yang sedang berkumpul di sofa ruang tengah diam, dan mengarahkan pandangan kepada Hilmi.
"Shutttt!" Hilmi meletakan jari telunjuk di bibirnya, lalu menatap ke arah pintu kamar yang tertutup, dimana Kiana berada, dia tidak ingin Kiana mengetahuinya. "Aku pernah di interogasi, dan rasanya campur aduk, udah judes, galak, dingin lagi! Beuh bulu kuduk aku sampe merinding!"
"Apa hubungan Lo sama suaminya Kia?" Starla menatap Hilmi curiga.
"Nggak ada. Cuman …." Hilmi menggantung kata-katanya, dan menatap setiap orang bergantian.
"Kenapa?" Mata Kevin memicing.
"Sorry, … tapi sebenernya gue yang nempel foto Kia di papan pengumuman kampus. Waktu itu ada seseorang yang nyuruh, dan aku terima karena upahnya lumayan gede, bisa aku pake modal jualan ibu sama biaya kuliah!" Hilmi kelihatan sedikit ragu, tapi pada akhirnya dia berbicara juga.
Mendengar itu semua orang terkesiap. Behkan mata Zayna membulat, dengan telapak tangan yang menutupi mulutnya karena merasa sangat terkejut.
"Apa lo bilang?" Mata Kevin memicing.
Dan kilatan amarah jelas langsung terlihat Dimata Kevin, membuat pria itu bangkit lalu mencengkram pakaian yang Hilmi kenakan, membuat pria itu berdiri karena tertarik, dengan rasa takut yang luar biasa.
Klek!!
Suara gagang pintu kamar terdengar, membuat Kevin langsung melepaskan cengkeramannya. Dan mereka semua berusaha bersikap biasa saja, meski gugup jelas terlihat di raut wajah Kevin dan ketiga teman perempuannya.
Kiana diam.
"Kenapa?" Perempuan itu bertanya, kala menatap Hilmi yang sedang ketakutan.
"Kamu sudah selesai? Bagaimana? Bajunya nyaman tidak?" Zayna mengalihkan pembicaraan.
Kiana mengangguk, kemudian dia menundukan pandangan, menatap dirinya sendiri yang saat ini mengenakan pakaian milik Zayna, yang sengaja Kevin pinjam agar dirinya dapat berganti pakaian.
__ADS_1
"Nyaman. Tapi aku baru ngeuh kalo size pakaian kamu lebih besar dari aku!" Ucap Kiana.
"Ya badan kamu kan memang kecil. Kebiasaan pake XS, pake M ya kebesaran jadinya!" Zayna terkekeh.
Dia bangkit, berjalan mendekati Kiana, lalu tanpa basa-basi Zayna merangkul pundak Kiana, dan memberikan usapan lembut di punggungnya.
"Sorry!" Dan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Zayna. "Gue tau gue salah, nggak bersyukur! Padahal kamu tulus banget sama kita, tapi apa yang kita sudah lakuin keterlaluan." Lanjut Zayna.
Tetapi Kiana diam mendengarkan, dengan kepala mengangguk dan senyum samar yang terlihat di kedua sudut bibir.
Setelah Zayna mengatakan itu, dua teman perempuan lainnya ikut mendekat, lalu memeluk Kiana sama hal nya yang Zayna lakukan untuk sahabat mereka.
"Beginilah sahabat!" Kevin tersenyum, dia ikut mendekat dan memeluk teman-temannya.
"Eikeu nggak di ajak!" Dia segera berlari, dan ikut bergabung, sampai mereka kini berdiri saling memeluk satu sama lain.
Sementara itu di kediaman Danuarta.
Semua orang menoleh, ketika suara orang berlari menuruni tangga terdengar. Dan disanalah Jovian, berdiri di tangga paling ujung menatap ke arah meja makan dimana para orang tuanya berada.
"Mau kemana?" Herlin langsung bereaksi, saat melihat Jovian dalam ke adaan siap.
Kaos hitam polos berlengan pendek, dia padukan dengan celana jeans berwarna senada.
"Duduklah, ayo kita sarapan bersama!" Pinta Danu, namun Jovian segera menggelengkan kepalanya.
Jovian tersenyum, lalu mendekat untuk segera berpamita. Namun, alangkah terkejutnya semua orang, ketika melihat Jovian dalam keadaan tidak terlalu baik.
Sorot mata lelah, dengan garis hitam di bawah kantung mata.
"Kamu tidak tidur, Jo?" Danu menatap wajah menantunya lekat-lekat.
Jovian menjawab pertanyaan Danu hanya dengan senyuma kembali, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Jovian?" Sang ayah menatapnya dengan pandangan yang berbeda.
"Hemmm, … aku tidak bisa tidur. Dan baru benar-benar memejamkan mata setelah jam empat pagi tadi."
"Lalu kamu mau berkendara? Dalam keadaan tidak tidur dengan baik seperti sekarang? Itu bahaya!" Ujar Leni.
"Aku baik-baik saja."
Jovian mencium punggung tangan keempat orang yang sedang duduk di kursi meja makan. Dan setelah itu dia segera pergi, meninggalkan kediaman istrinya tanpa banyak berbicara. Dia menyapa beberapa pekerja terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia memasuki mobil, dan segera menyalakan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Seorang petugas keamanan mendekati pintu gerbang, kemudian membukannya perlahan-lahan, dan membiarkan mobil Jovian melewatinya setelah gerbang rumah terbuka dengan sempurna.
Jovian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan yang pagi hari ini terlihat ramai lancar seperti biasa. Dia merogoh saku celananya, lalu membawa handphone keluar, dan segera menghubungi Gibran untuk mengetahui informasi yang mungkin saja sudah pria itu ketahui.
"Halo, Pak Jovian?"
"Bagiaman? Kamu sudah mendapatkan informasi yang pasti tentang keberadaan istriku?" Jovian langsung bertanya.
"Setelah saya selidiki, ya. Istri anda mendatangi apartemen dari salah satu temannya, bahkan beberapa teman yang lain segera menyusul dan memilih tinggal disana." Jelas Gibran.
Jovian tidak langsung menjawab. Pandangannya lurus kedepan, dengan satu tangan yang mencengkram setir mobil cukup kencang.
"Siapa saja yang mencari tahu? Aku tidak mau salah sasaran kali ini! Bagaimana kalau sudah aku dobrak tapi yang keluar bukan anak-anak itu!?"
"Saya jamin seratus persen, Pak. Dari informasi keamanan setempat, lalu rekaman cctv yang ada. Istri anda memang menyambangi tempat itu, dan sampai saat ini mereka masih ada disana." Gibran terdegar bersungguh-sungguh.
"G-town lantai 17 pintu Q001?"
"Betul."
"Baiklah. Aku kesana sekarang!"
Jovian menjauhkan handphone dari daun telinganya, lalu melemparkan benda itu ke arah kursi penumpang sebelah kiri, tanpa memutuskan sambungan telepon lebih dulu.
Raut wajah Jovian terlihat berubah. Sorot mata tajam dengan ekspresi wajah dingin, apalagi saat dirinya mengetahui jika wanita yang dia cintai pergi menemui pria lain. Bahkan sampai memilih untuk berdiam diri disana, padahal hari sudah berganti.
"Dari sekian banyak manusia, kenapa harus anak itu yang kamu sambangi kediamannya!" Jovian menggeram, seraya mencengkram setir mobil semakin kencang.
Dia cemburu, dan rasa itu terus membakar dadanya hingga apa yang ada di dalamnya terasa mendidih.
Dan setelah menempuh perjalanan selama 20 menit lamanya. Mobil yang Jovian kendalikan memasuki sebuah kawasan apartemen. Dia memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah di sediakan, lalu kemudian keluar, dan berlari kencang memasuki pintu lobby, bahkan Jovian mengacuhkan sapaan dari sang petugas keamanan yang ada disana.
Jovian berjalan memasuki pintu lift, yang dengan segera tertutup, dan membawanya menuju lantai paling atas.
"Apartemen G-town, lantai 17. Pintu apartemen Q001." Jovian terus mengingat-ingat, alamat yang sempat Gibran informasikan.
Tring!!
Pintu lift segera terbuka, dan tanpa menunggu lebih lama Jovian melangkah ke arah luar, berlari menyusuri lorong sambil mencari-cari nomor pintu yang dia ketahui sebagai salah satu unit milik teman istrinya.
Jovian berhenti tepat di hadapan pintu Q001. Menatap benda itu lekat-lekat, sebelum akhirnya dia menekan tombol bell beberapa kali dengan perasaan tidak sabar.
......................
__ADS_1
Seperti biasa cuyung😍 jangan lupa like, komen, hadiah sama vote nyaaaaa!!
Dukungan kalian sangat berarti untuk othor remahan kaleng kongguan ini 🫂