
Tok tok tok!!
Suara ketukan dari balik pintu terdengar sangat jelas, membuat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tengah menoleh ke arah suara terdengar.
"Adline? Ad? Itu siapa tolong dibukain!" Wanita yang akrab disapa Ingeu itu memanggil-manggil putrinya.
Tidak lama setelah Ingeu memanggil, Adline tampak berjalan ke luar dari arah kamar, melewati sofa besar yang sedang diduduki ibunya, lalu kemudian meraih handle pintu, dan menariknya sampai benda itu benar-benar terbuka.
Adline terdiam untuk beberapa saat, menatap seorang wanita sebayanya yang saat ini berdiri tepat hanya berjarak beberapa langkah saja. Dia yang menjadi penghubung antara dirinya juga Javier dulu, dan hal yang tidak disangka-sangka hubungan keluarga kecilnya saat ini bisa dibilang cukup bagus, jika mengingat bagaimana hubungan perempuan di hadapannya bersama pria yang dia ketahui sebagai adik kandung dari Javier.
Padahal dialah yang mengikat hubungannya lebih dulu, membentuk sebuah keluarga yang terlihat begitu manis, tapi siapa sangka dirinya akan mengambil keputusan yang keliru, pikir Adline.
"Eva?" Raut wajah Adline seketika berubah berbinar setelah beberapa detik diam karena merasa cukup terkejut.
"Datang nggak bilang-bilang. Untung liat postingan kamu semalam, jadi aku kesini tanpa minta izin dulu, takutnya kamu nggak lama disini, jadi sebelum pergi lagi ke Belanda kita meet up dulu dong!" Eva tersenyum, seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Adline semakin mendekatkan diri, kemudian membuka tangan selebar mungkin, lalu memeluk teman dekatnya dengan sangat erat.
"Maaf. Aku kira kamu sibuk sekarang, salon kecantikan kamu semakin ramai kalau aku lihat, jadi agak takut kalau mau ajak ketemu. Nanti mengganggu!" Jelas Adline.
Eva mengangguk, kemudian mengurai pelukan keduanya sampai benar-benar terlepas.
"Sesibuk apapun. Memangnya aku bisa menolakmu jika kamu meminta datang?" Ujar Eva.
"Ayo masuk." Adline menggiring Eva masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Dan tanpa di sangka-sangka Axel keluar dari dalam kamar, lalu berlari ke arah sang ibu dengan raut wajah berbinar ketika melihat Eva bersamanya.
"Aunty!?"
Eva bersimpuh, merentangkan kedua tangan selebar-lebarnya, untuk menyambut sosok pria kecil yang sedang berlari ke arahnya.
Brugh!!
Suara benturan terdengar sangat kencang, membuat tubuh Eva sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung, wanita itu dapat menyeimbangkan diri, sampai dia dapat menahan Axel yang saat ini sudah melingkarkan tangan kecil di pundaknya.
Eva terkekeh kencang, seraya mengusap-usap punggung Axel dengan lembut.
"Hati-hati, Axel!" Ucap Eva.
"Hmmm, … I'm sorry." Axel mendorong pundak Eva, dan menatap wajah perempuan yang sangat dia kenali lekat-lekat. "I Miss you!" Ucap Axel dengan senyuman khasnya.
Eva tersenyum manis, dia mengangguk, lalu mengusap pipi Axel, dan membingkai wajah tampan putra dari teman dekatnya.
"Ya, tidak mungkin aku memanggil dia mantan keponakan, … tidak pantas! Apapun yang sempat mempunyai ikatan yang erat, tidak mungkin harus berakhir dengan panggilan buruk. Walaupun pada kenyataannya memang aku tidaklah lagi ada kaitan apapun karena hubungan kami sudah benar-benar berakhir." Eva membatin.
Wanita itu diam dalam beberapa waktu. Sebelum akhirnya suara Axel membuyarkan lamunannya.
"Aku tahu Aunty akan datang. Tiga hari lagi ulang tahun aku, … aku mau Aunty ada seperti dulu dan memberikan hadiah yang sangat bagus." Kata Axel dengan wajah berbinar.
"Setidaknya biarkan Tante Eva bangun dulu, lalu katakan apa yang Axel mau." Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk di sofa ruang tengah segera bereaksi setelah memperhatikan interaksi keduanya yang masih terjalin baik.
"Nenek benar, Axel." Adline tertawa cukup kencang.
Axel menatap Ingeu, Adline dan Eva bergantian.
"Baiklah, Tante. Ayo kita duduk di sofa."
Axel segera meraih tangan Eva, kemudian menariknya sampai wanita itu bangkit, dan berjalan mengikuti kemana Axel membawanya. Eva tidak pernah menyangka, kedekatan Axel dan Jovian dulu membawa anak itu tidak pernah melupakannya, bahkan sampai saat ini.
Mereka berdua berjalan saling bergandengan tangan, sementara Adline menatap interaksi itu dengan perasaan tidak tega. Bagaimana bisa seorang yang mendekatkannya dengan Javier justru tidak beruntung dengan rumah tangganya sendiri.
"Aunty, Nenek mau hias rumahnya dengan banyak balon warna-warni. Terus nanti Papa beli kue, dan kita semua menyanyikan lagu selamat ulang tahu, lalu tiup lilin." Axel meracau.
Eva hanya tersenyum dan mengangguk.
"Adline? Kamu tidak mau membawakan minum untuk temanmu?" Ingeu kepada putrinya.
"Memangnya masih harus diambilkan yah? Biasanya juga ambil sendiri?" Adline tertawa.
"Yang benar saja!" Cicit Ingeu.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku buatkan teh dulu!"
Dan setelah itu Adline berjalan perlahan mendekati pintu penghubung antara ruang tengah dan dapur, terdengar memanggil nama seseorang, lalu kembali dengan cepat.
"Om Ilyas sedang di luar kota, Tante?" Eva menatap wanita paruh baya yang duduk tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Tidak. Hanya memenuhi undangan rekannya saja, mungkin nanti sore juga pulang." Jelas Ingeu.
Adline duduk di satu sofa yang kosong, diam dan menyimak obrolan antara teman dan ibunya yang mulai terdengar.
"Mama? Uncle Jo tidak di suruh kesini?"
Adline menimpali pertanyaan putranya dengan gelengan kepala.
"Tidak. Tante Kia sedang sakit, mungkin nanti malam hanya Amih dan Apih saja!" Jelas Adline sambil tersenyum tipis.
Axel mengangguk, lalu dia mengalihkan perhatiannya kembali kepada Eva.
"Tante. Ayo bantu Axel pasangin Lego!"
"Lego?"
Axel mengangguk.
"Tadi Nenek belikan, tapi yang kecil. Padahal aku mau yang besar!" Dia merentangkan kedua tangan kecilnya.
"Nenek tidak punya uang sebanyak itu, Axel. Mungkin kamu bisa minta sama Mama dan Papa saja, … lagi pula sayang uang tiga belas juga hanya untuk membeli Lego, mending uangnya ditabung untuk beli tanah, atau rumah. Itu akan lebih untung!" Tukas Ingeu.
Axel mengendikan kedua bahunya.
"Aku tidak mau seperti Kakek! " Sergah Axel. "Aunty, come on! Kita pasang Lego!"
"Nanti dulu! Minumannya belum jadi!" Sang ibu berkelakar.
Namun, Axel tidak mau mendengar. Dia kembali meraih tangan Eva, lalu menariknya masuk ke dalam salah satu kamar yang memang dikhususkan untuk Axel.
Ingeu dan Eva diam, kemudian saling beradu pandang.
"Lihat! Dia itu cerdas. Axel bisa mengingat siapa yang selalu berada dekat dengannya." Ingeu sedikit berbisik.
"Tidak aneh. Umi kan tahu betul bagaimana Axel dulu, bahkan dia lebih dekat dengan Jovian dari pada Papanya sendiri. Mereka sering membawa Axel menginap di rumahnya jika Jovian sedang ada waktu luang, jadi mereka memang sudah sedekat itu, … sampai aku bingung dengan pertanyaan-pertanyaan Axel satu bulan terakhir ini."
Ingeu menghela nafas.
"Sudahlah, nanti kalau sudah besar dia akan mengerti. Tidak usah terus menerus diberi pengertian, nanti Axel akan semakin bingung."
Adline menganggukan kepala.
"Jika Axel masih tidak bisa diberi pengertian. Maka kamu yang harus terus meminta maaf kepada istri Jovian, takutnya dia tersinggung atau bagaimana, kan?"
"Hu'um."
"Teh hangatnya, Bu."
Tiba-tiba saja seorang asisten rumah datang, bersimpuh di samping meja, lalu meletakkan nampan berisikan teko berbahan dasar kaca, juga beberapa cangkir.
"Makasih ya, Mbak?" Kata Adline.
"Iya Non."
Satu teko berisikan teh hangat diletakkan diatas meja, begitu juga dengan cangkir-cangkirnya. Kemudian dia bangkit, dan segera beranjak pergi.
"Aku panggil Eva dulu." Pamit Adline, kemudian dia pergi, berjalan mendekati salah satu pintu kamar yang terbuka sangat lebar, dimana terlihat Eva juga Axel bersimpuh di atas lantai berbalut karpet, tengah membuka satu kotak berisikan Lego yang beberapa waktu lalu di belikan oleh orang tuanya.
***
Klek!!
Handle pintu bergerak ke arah bawah, kemudian pintu kamar itu terbuka dari arah luar dengan perlahan-lahan.
"Baby?" Jovian menatap Kiana yang saat ini berbaring memunggungi, dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya.
Kiana berbalik, membuat posisinya segera berubah.
"Bagaimana? Masih pusing?"
Jovian duduk di tepi ranjang, kemudian meletakan punggung tangannya di atas kening, beralih menyentuh tengkuk, dan dia melakukan itu hanya untuk memeriksakan keadaan sang istri setelah seharian ini hanya berbaring di atas tempat tidur.
"Panasnya sudah turun." Jovian tersenyum.
Membuat Kiana segera mengangguk, beringsut mendekat, dan meraih pinggang Jovian, untuk kemudian memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Mau makan sesuatu?"
__ADS_1
"Dari tadi kamu terus menawarkan makanan!" Kiana mengakat kepalanya, menoleh ke arah belakang, dimana berbagai macam makanan terletak di atas meja yang berada di hadapan sofa kamarnya.
Jovian tertawa.
"Ternyata masih banyak yah!" Katanya seraya memindai setiap makanan yang ada di sana.
Sebuah keranjang berisikan buah-buahan. Anggur, kiwi, jeruk dan pisang. Tak lupa dengan beberapa toples kue kering, dan beberapa botol air minum kemasan.
"Aku baik-baik saja. Mungkin hanya masuk angin, kita berangkat malam, dan sampai hampir pagi?" Perempuan itu mengingatkan.
"Tapi keadaanmu sangat mengkhawatirkan, Baby. Kamu harus cepat sembuh, tiga hari lagi kamu akan memakai baju wisuda, dengan toga yang melingkar di kepalamu!"
Kedua sudut bibir Kiana tertarik saling berlawanan, membuat senyuman sumringah, sampai membuat deretan gigit putih Kiana terlihat dengan sangat jelas.
"Kamu harus kasih aku hadiah!" Ujar Kiana. "Aku akan lulus dengan nilai terbaik!" Lanjut Kiana dengan bangga.
"Benarkah?"
"Cium aku kalau bohong!" Celetuk Kiana.
Dan ucapan itu mampu membuat Jovian tertawa kencang. Pria itu menaikan kedua kakinya ke atas ranjang, kemudian ikut berbaring, sampai wajah keduanya berjarak sangat dekat.
"Mau hadiah apa?" Jovian berbisik tepat di hadapan wajah Kiana.
Satu tangannya terangkat, menyentuh pipi Kiana, lalu membingkai wajah pucat tanpa polesan makeup sang istri, yang tentu saja tidak mengurangi paras cantiknya sedikitpun.
Dia semakin mendekatkan wajah, dan mendaratkan kecupan hangat penuh cinta di bibir Kiana.
Kiana diam, dengan mata bulat berbinar yang terus bergerak-gerak. Memindai wajah tampan di hadapannya yang terus memperlihatkan senyuman manis.
"Apa yah?" Kiana tampak berpikir. "Mobil sudah kamu berikan, tempat tinggal sudah ada apartemen." Katanya lagi.
"Oh, aku tahu." Ujar Jovian sambil tersenyum.
"Apa?"
Jovian menyentuh pinggang Kiana, lalu menariknya sampai tubuh perempuan itu kini menempel erat pada tubuhnya.
"Apa? Ih kamu aneh!" Kiana menepuk-nepuk dada Jovian cukup kencang.
Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum, kemudian menunduk untuk menyatukan kening keduanya.
"Anak!" Suara Jovian terdengar begitu rendah.
Hembusan nafas hangatnya terasa memburu, menyapu wajah Kiana seketika dengan debaran dada yang juga terdengar begitu jelas.
"Aku akan menghadiahi kamu anak! Bagaimana? Kamu mau?"
Kiana mendorong dada Jovian, sampai keduanya kembali berjarak, dan dapat memindai wajah satu sama lain.
"Maksudnya kamu mau adopsi anak?" Dahi Kiana mengkerut.
Jovian menjawab pertanyaan Kiana dengan gelengan kepala. Lalu kembali mendekatkan diri, dan meraih bibir mungil sang istri, untuk saling merasai satu sama lain.
"Bukan begitu!" Jelas Jovian setelah melepaskan tautan bibirnya.
Kiana diam.
"Aku akan menitipkannya disini!" Dia mengusap perut Kiana. "Dan sudah aku pastikan akan menjadi hadiah terbesar dariku. Bagaimana? Mau?" Jovian tersenyum samar.
Dia yang sedang menggoda Kiana, namun entah kenapa justru dirinyalah yang merasa gemas sendiri.
"Mau." Tanpa diduga jawaban itu keluar dari mulut Kiana.
Sorot matanya tampak berbinar, kedua sudut bibirnya saling tertarik sampai membentuk sebuah senyuman tipis, namun membuat Kiana terlihat begitu menggemaskan.
Kiana bergerak, kedua tangannya dia letakan di atas dada Jovian, bergerak naik ke atas, lalu melingkar erat di pundak suaminya.
"Ide yang bagus. Itu hadiah yang sangat berharga, dan tidak ada siapapun yang mampu memberikannya selain dirimu!" Kiana tersenyum.
"Jadi, … ayo berikan aku bayi yang lucu."
......................
Maaf ya belum bisa Cray up 🥲
Tapi nanti akan crazy pada waktunya ☺️
__ADS_1
Cuyung kalian banyak-banyak ♥️