Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Berpura-pura?


__ADS_3

Dengan langkah cepat Jovian menaiki tangga rumah panggung itu satu persatu. Kemudian menerobos masuk, dan samar suara Kiana yang terbatuk-batuk terdengar.


"Sayang?" Panggilnya dengan nada panik.


Jovian masuk ke dalam kamarnya. Dan mendapati Leni duduk di tepi ranjang, dengan tatapan nanar ke arah pintu kamar mandi yang terbuka lebar, sehingga suara Kiana semakin jelas terdengar.


Wanita itu kebingungan.


Hatinya terasa diremas kencang, saat mendengar rintihan sang istri, hingga meninggalkan rasa sesak di dalam dada sana.


"Mam? Bagaimana Kiana?" Jovian meletakan tasnya di atas meja rias.


Lalu berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi berada.


"Entah kenapa muntahnya tidak berhenti sama sekali, Jo!" Leni ikut bangkit, dan berjalan di belakang putranya. "Yang keluar hanya air, karena memang belum sempat memakan apapun." Wanita itu terus berbicara kepada putranya.


"Mami juga sudah buatkan susu jahe agar rasa mualnya sedikit reda, tapi Kiana tidak mau beranjak dari sana. Dia merasa kesal karena harus bolak-balik ke toilet hanya untuk berusaha memuntahkan sesuatu yang ada di dalam perutnya."


Mendengar itu Jovian hanya mengangguk.


Dia tertegun di ambang pintu kamar mandi. Menatap punggung Kiana yang tampak membungkuk, dengan Herlin yang terus setia berada di sisi putrinya.


"Uhuk, … uhuk, … uhuk!!"


Setelah terbatuk-batuk Kiana terdengar kembali menangis, dan mengucapkan kata-kata yang tidak dapat Jovian pahami.


"Jangan menangis, apa yang harus Mama lakukan? Mama juga tidak tahu, Nak!" Ucap Herlin yang kembali memijat tengkuk bagian belakang Kiana.


"Baby?" Panggil Jovian.


Rasanya tidak tahan jika hanya berdiam diri dan memperhatikan keduanya.


Kiana menoleh.


Wajah yang terlihat sangat pucat, rambut panjang yang terlihat berantakan, dan jangan lupakan mata bengkak dan hidung yang sangat merah.


Tangis Kiana semakin pecah. Kehadiran Jovian justru membuat perasaannya semakin tidak menentu. Tidak ada dua jam pria itu pergi, tetapi rasa rindu jelas menggulung di dalam relung hatinya.


Jovian masuk, dia berjongkok di hadapan Kiana, lalu meraih tubuh mungil sang istri yang sudah sangat lemas.


"Sayang aku muntah-muntah terus." Adunya sambil menangis kencang.


Bahkan tangisan itu semakin menjadi ketika pria itu tiba. Dan sedikit membuat Herlin terheran-heran, karena tangisan Kiana tadi tidak terdengar meraung-raung seperti setelah Jovian tiba.


"Ya, Mami telfon tadi." Jovian menjawab.


"Emm, … Mama tunggu di luar yah." Pamit Herlin, lalu dia keluar dari area kamar mandi sana.


Jovian menoleh, dia tersenyum, kemudian menganggukan kepala.


"Mari, Bu. Sepertinya mereka butuh waktu berdua dulu. Apalagi Kiana, tidak biasanya dia terlihat lebih manja seperti ini." Bisik Herlin ketika berjalan melewati Leni.


Wanita yang di maksud menatap Kiana, lalu Jovian, dan berakhir pada Herlin.


Keduanya saling beradu pandanga.


"Bawaan bayi?" Leni ikut berbisik.


"Bisa jadi. Si kembar hanya ingin Papa nya, bukan kita."


Herlin tersenyum tipis.


Kedua wanita itupun berjalan beriringan, keluar dari kamar milik Jovian, tak lupa menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Meninggalkan Kiana dan Jovian hanya berdua di dalam sana.


Tangisan Kiana perlahan menghilang, hanya isakan pilu yang masih tersisa. Jika saja mereka berada di luar rumah, mungkin orang-orang akan menyangka jika Jovian sudah melakukan kekerasan terhadap istrinya.


Jovian menyentuh jepit rambut yang istrinya pakai, membuka benda itu, dan menata rambut Kiana agar terlihat sedikit rapi.


"Baiklah, ayo kita ke kamar. Sepertinya gejala ini membuat kamu sangat lemas." Ujar Jovian setelah selesai menata kembali rambut istrinya.


Kiana tidak menjawab, dia hanya terus terisak dengan wajah yang perempuan itu benamkan di dada bidang suaminya.


Jovian meraup tubuh mungil sang istri, dan mengangkatnya tanpa merasa kesulitan, lalu membawa Kiana keluar dari dalam kamar mandi sana, menuju ranjang tidur yang terletak di ujung ruangan. Perlahan dia meletakan tubuh mungil itu di atas sana, tapi ketika hendak bangkit, lilitan tangan Kiana tak kunjung terlepas, membuat pria itu tidak bisa bergerak banyak.


"Baby …"

__ADS_1


"Jangan pergi lagi!" Rengek Kiana.


"Tidak, aku disini. Aku tidak akan pergi lagi, … tapi aku harus bersih-bersih dulu!"


Kiana menggelengkan kepala dengan cepat.


"Hanya mencuci kaki dan tangan, sayang!"


Dan setelah itu Kiana melepaskan lilitan tangan di pundak suaminya. Membiarkan Jovian melakukan apa yang sempat dia katakan. Tidak memakan waktu yang lama, pria itu segera kembali, bahkan dengan keadaan bertelanjang dada, untuk kemudian Jovian ganti dengan pakaian yang baru.


Kiana mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, lalu menata beberapa bantal untuk dia jadikan sandaran.


Jovian tersenyum ketika pandangan keduanya bertemu. Berjalan mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang.


"Ada susu jahe, apa kamu mau meminumnya? Kebetulan masih hangat?" Jovian meraih mug di atas nakas.


Dimana isinya masih terlihat penuh.


Kiana mengangguk, seraya menerima apa yang suaminya berikan, dan meminumkannya hingga hampir tandas.


Jovian tersenyum lagi.


"Sejak kapan kamu merasa mual?" Dia menerima mug yang Kiana sodorkan, lalu menyimpannya kembali di atas nakas.


"Tidak lama setelah kamu pergi. Kepala aku rasanya sangat berat, dunia berputar hebat, lalu di dalam sini rasanya seperti di aduk-aduk sampai aku tidak bisa berhenti muntah." Kiana mengusap-usap perutnya.


Jovian terdiam, menatap wajah istrinya yang masih pucat, tapi terlihat sedikit lebih baik. Terbukti dari raut wajah yang tampak sedikit ceria.


"Lalu bagaimana sekarang? Masih merasa pusing, mual dan ingin muntah?"


Kiana terlihat berpikir, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Yang sontak membuat kekehan Jovian terdengar memenuhi ruangan itu.


"Kamu baik-baik saja sekarang?"


Kiana mengangguk.


Jovian tersenyum gemas. Bahkan pria itu terlihat mengetatkan rahang, sampai decit gesekan gigi berbunyi.


"Apa kamu sedang berpura-pura?" Senyuman Jovian kini tampak tertahan.


"Memangnya aku terlihat berpura-pura? Lalu meminta Mama dan Mami untuk membohongi kamu juga?" Raut wajah Kiana terlihat sendu.


Jovian mengulum senyum, dia naik ke atas tempat tidur, kemudian berbaring tepat di samping Kiana. Menghadapkan wajah pada perut sang istri yang masih terlihat rata.


"Hey? Kenapa kalian membuat Mama mual dan muntah, hum?" Dia mulai berbicara.


Tangannya bergerak menyentuh perut Kiana, dan mengusapnya lembut.


"Hari ini kalian nakal, … karena membuat Mama pusing mual dan muntah, dan membuat Papa tidak bisa bekerja." Katanya lagi, kemudian mencium perut Kiana beberapa kali.


Sementara perempuan itu diam, memperhatikan tingkah suaminya dengan perasaan bahagia.


"Hari ini sudah makan?"


Jovian menengadahkan wajah, menatap Kiana yang saat ini tengah menundukan kepala sembari mengusap-usap rambutnya yang terlihat sudah memanjang.


"Aku nggak bisa makan. Aku lapar, aku pusing, aku lemas juga. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, selain minum air putih hangat, itu pun keluar lagi." Jelas Kiana.


"Oh ya?"


"Hu'um. Hamil membuat aku merasa aneh, … tadi rasanya aku sudah tidak sanggup lagi, badan lemas, rasa mual yang tidak kunjung hilang. Tapi sekarang! Semuanya bahkan terasa baik-baik saja, seolah tidak terjadi apa-apa."


Jovian tersenyum, dengan tangan yang tak hentinya bergerak mengusap perut Kiana.


Dadanya berdesir, menghadirkan sebuah rasa yang tidak dia pahami. Mengetahui Kiana hamil saja sudah membuat Jovian sangat bahagia, lalu sekarang tingkah Kiana membuat dirinya semakin bahagia.


Mereka yang sempat diterpa masalah rumah tangga, kemudian perempuan itu memutuskan untuk pergi menenangkan diri. Bahkan niat awal Kiana sudah benar-benar ingin berpisah. Tapi sekarang? Dia justru terlihat tak bisa jauh sedikitpun darinya.


"Mau aku buatkan roti bakar?" Tawar Jovian.


Namun, reaksi Kiana cukup berbeda. Dia terlihat tidak berminat sehingga memperlihatkan mimik wajah yang sedikit berbeda.


"Aku mual kalau ingat roti bakar." Katanya sambil bergidik ngeri.


"Lah, bukannya kemarin suka?"

__ADS_1


"Sekarang nggak." Kiana menjawab singkat.


"Buah? Kalau mau nanti aku potongin?"


Lagi-lagi Kiana menggelengkan kepala.


"Aku, … mau mie ayam grobakan. Ada?"


Tiba-tiba saja makanan itu melintas di dalam pikirannya. Membuat selera makan Kiana meningkat, sampai air liur terus terasa bercucuran karena merasa makanan itu sudah berada di dalam mulutnya.


"Ada, tapi harus cari pakai motor. Kalau jalan kaki kita tidak tahu akan menemukannya dimana. Mereka berjualan keliling kampung, Baby."


Senyum Kiana terlihat merekah.


"Ya sudah. Ayo kita naik motor cari mie ayam grobakan!" Pinta Kiana dengan wajah berbinar.


Mata Jovian memicing.


"Ayo Papa. Kami mau makan mie ayam!" Kiana mengguncang tubuh Jovian.


"Kalian bersekongkol?"


Kiana tertawa kencang. Bahkan saking kencangnya dia sampai mendongakan kepala hingga sedikit terjerembab ke arah belakang.


"Tidak Papa!" Ucap Kiana sambil tertawa.


"Nakal!" Geram Jovian.


Dia bangkit, menyentuh wajah Kiana dengan kedua tangannya, lalu menciumi seluruh wajah Kiana.


"Sayang, ayolah! Kita keliling pakai motor, cari mie ayam grobakan. Tadi kata kamu ada!" Kiana mendorong wajah Jovian, berusaha menjauh pria itu dari dirinya.


"Kamu sedang sakit!"


"Tidak, aku sudah sembuh." Suara Kiana terdengar manja dan mendayu-dayu.


"Harus ada balasannya. Kamu sudah membuat pekerjaan aku amburadul hari ini!" Jovian berbisik.


Tatapannya terlihat tajam dan sedikit nakal.


"Baiklah. Nanti malam aku bayar yah!"


Jovian tersenyum.


"Aku serius. Itu juga kalau kamu mau." Kiana terlihat bersungguh-sungguh.


Jovian bangkit, kemudian turun dari atas tempat tidur.


"Kalau begitu ayo kita cari apapun yang kamu mau." Dia berjalan mendekati nakas, membuka salah satu dari lacinya, dan membawa kunci motor yang sudah lama Jovian simpan di dalam sana.


"Ayo!"


Dengan senyum bahagia Kiana mengangguk, dia turun dari atas tempat tidur dengan semangat, lalu meraih uluran tangan Jovian saat hendak pergi.


Klek!!


Suara pintu ruangan yang terbuka membuat dua wanita yang sedang menunggu terlonjak. Menoleh bersamaan ke arah suara terdengar.


Herlin dan Leni yang sedari tadi menunggu kabar Kiana dengan cemas, tiba-tiba terlihat bingung saat melihat perempuan yang tengah hamil muda itu tampak lebih ceria dan baik-baik saja.


Berbeda dengan keadaan saat Jovian belum tiba.


"Mau pergi cari mie ayam dulu, ya Mam!" Pamit Kiana kepada kedua ibunya dengan senyum ceria.


Keduanya melenggang berjalan keluar rumah. Sementara Leni dan Herlin memandang satu sama lain dengan raut wajah bingung.


"Bukankah tadi Kiana terlihat sangat lemas?" Gumam Leni.


"Hemmm, … jangankan untuk berjalan. Tadi untuk senyum saja tidak sanggup." Herlin menjawab dengan suara sedikit berbisik.


Seketika keduanya diam, dan mengarahkan pandangan ke arah pintu rumah, dimana punggung Jovian masih terlihat, sebelum akhirnya hilang saat pria itu turun dari rumah panggung sana.


......................


Seperti biasa ya cuyung 😘😘

__ADS_1


Like, komen, sama sawerannya 🥳


__ADS_2