
Sekitar pukul 20.00 malam hari Jovian membelokan mobilnya, memasuki sebuah pekarangan rumah yang sangat luas. Dimana terdapat sebuah bangunan besar bergaya panggung dengan ornamen kayu, dan warna coklat mengkilap. Lampu-lampu bohlam berwarna kuning menyala hampir di setiap sudut, menambah kesan hangat yang mempunyai ciri khas tersendiri.
Pintu rumah itu tampak terbuka dari arah dalam, dan keluarlah Jonathan dengan pandangan yang terarah pada mobil yang pria itu ketahui sebagai milik anak juga menantunya.
"Kamu datang? Kenapa tidak bilang?" Jonathan langsung bertanya dengan suara sedikit berteriak kala putranya keluar dari dalam mobil sana.
"Seharusnya Minggu depan kesini. Tapi banyak hal yang harus disiapkan, … jadi hari ini saja!" Jovian menjawab.
Dia berjalan mendekati pintu bagian belakang, membukannya, dan membawa keluar satu tas berukuran besar. Berisikan barang-barang yang pria itu perlukan. Yang dia bawa dari Tangerang sana.
Namun, Jonathan terlihat keheranan saat Jovian menutup pintu mobil, menekan tombol remote control, lalu mulai menaiki tangga satu-persatu.
"Kiana?" Ucap Jonathan dengan raut wajah aneh.
"Tidak ikut. Dia sedang sakit datang bulan, kalau aku bawa nanti dia malah tersiksa di perjalanan. Di rumah saja kerjaannya rebahan, kalau di mobil mau bagaimana? Nanti pinggangnya tambah sakit." Jovian menjelaskan.
Tasnya diletakkan begitu saja, meraih tangan Jonathan, lalu mencium punggung tangan secara takzim. Kemudian memeluk sang ayah saat Jonathan merangkul pundaknya.
"Hhheuh!" Jonathan terdengar menghela nafasnya kencang. "Kamu membuat Papi takut, … rasanya kejadian beberapa tahun kembali teringat, saat kamu pulang malam-malam begini dengan kabar yang tidak baik." Pria tua itu menepuk-nepuk pundak kokoh putra keduanya.
Jovia menarik diri, membuat rangkulan Jonathan terlepas, lalu saling memandang satu sama lain. Jovian tersenyum simpul, sementara Jonathan tampak begitu serius.
Nyatanya perceraian itu tidak hanya membekas di benak Jovian, melainkan orang tuanya merasakan hal yang sama. Hingga kejadian itu membekas sampai saat ini.
"Mana mungkin. Kalaupun Kiana melakukan hal yang sama seperti apa yang Eva lakukan dulu, Jovian tidak akan semudah itu melepaskan dia. Lagi pula sekarang datang, ya untuk pekerjaan yang Papi berikan, coba saja kalau Papi nggak maksa untuk aku menjalankannya, mungkin aku tidak akan datang se sering ini, apalagi malam-malam begini!" Jovian terkekeh.
"Baiklah, ambil tasnya! Ayo masuk. Mamimu akan sangat terkejut saat melihat anaknya datang malam-malam."
Jovian mengangguk, dia kembali meraih pegangan tas miliknya, lalu berjalan ke arah dalam, menyusul sang ayah yang sudah memasuki rumah lebih dulu. Suasana hangat selalu terasa di dalam rumah sana, walaupun malam hari selalu terasa begitu hening, tapi dia merindukan masa-masa dimana dia tinggal di dalam rumah bergaya panggung itu. Tidak ada hal yang mewah, jauh dari hingar-bingar kota, namun siapa sangka, banyak hal yang yang selalu Jovian rindukan.
Dia duduk di sofa ruang tengah, meraih satu botol air minum kemasan berukuran kecil, untuk kemudian meneguknya perlahan-lahan. Sementara Jonathan memasuki kamar, hendak memberi kabar kepada Leni yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi.
Jovian merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Pandangannya menengadah, menatap langit-langit ruangan itu, dengan suara-suara jangkrik yang memenuhi area sekitaran rumah orang tuanya.
Klek!!
Pintu kamar orang tuanya terbuka sangat kencang. Membuat Jovian menoleh dengan seketika, sampai pandangan antara ibu dan anak itu beradu.
"Kenapa Kiana tidak ikut?" Katanya, lalu duduk setelah dia menerima uluran tangan Jovian.
"Tidak. Kiana sedang sakit, tidak bisa bepergian jauh!"
"Sakit?" Leni mengulangi ucapan Jovian.
"Hemmm, … sakit datang bulan. Tidak parah, hanya saja sudah tiga hari terakhir dia selalu marah-marah tanpa sebab yang jelas. Aku bingung, tapi ya biarkan sajalah yang penting semuanya aman." Jovian terkekeh.
"Kedatangan kamu secara tiba-tiba, lalu membawa tas besar seperti ini membuat kita terkejut, Jo!" Tukas Leni.
Kemudian dia mengarahkan pandangan kepada suaminya yang tampak berdiri di ambang pintu masuk kamar.
"Jika ada sesuatu. Tidak apa-apa, kamu boleh bercerita, dan lebih terbuka agar semuanya bisa kita wanti-wanti." Ucap Leni lagi.
Dan sepertinya apa yang wanita itu katakan, karena ada dorongan dari Jonathan yang mungkin saja tidak mempercayai saat kedatangan Jovian pada malam hari ini, hanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Mami ini bicara apa?"
"Tidak apa-apa, hanya mengusulkan sesuatu. Jika ada masalah sebaiknya tidak ditutupi, agar kami bisa membantu." Leni terlihat sedikit cemas.
Ucapan itu tentu saja membuat Jovian semakin merasa lucu.
"Ya, setidaknya sedikit memberi solusi. Orang tua tidak akan pernah keberatan jika anaknya meminta saran." Jonathan berujar.
"Astaga! Tidak ada apapun yang sedang aku sembunyikan. Aku datang memang ada sedikit pekerjaan dengan Mang Adang. Memangnya dia tidak memberi tahu yah!?"
Leni menatap wajah suaminya, kemudian kembali pada Jovian.
"Kamu serius? Tidak ada yang disembunyikan?" Leni memicingkan mata, seolah sedang mencari kebohongan yang mungkin saja anaknya tutup-tutupi.
Jovian mengangguk. Lalu dia meraih tas berukuran sedang yang terletak di dalam tas pakaian, dimana handphone genggaman berada di dalamnya. Untuk kemudian mencari nomor kontak Kiana, dan melakukan panggilan Video dengan segera.
Tuuttttt …
Suara itu mendominasi ruang tengah yang begitu sunyi. Cukup lama sambungan telepon itu berbunyi, hingga setelah beberapa waktu panggilan Video itu tersambung, dan tampaklahh wajah cantik Kiana, memenuhi layar handphone milik Jovian.
Kulit wajah yang sehat dan terawat. Putih bersih, mata mengkilat, juga bibir yang terlihat merah alami. Dengan bando menggemaskan yang menghiasi kepala perempuan itu, dan Kiana terlihat menggemaskan seperti biasa.
__ADS_1
"Oh, Mami? Maaf ya aku angkatnya lama, tadi sedang pakai skincare dulu, tidak boleh pegang handphone kalau belum selesai, nanti tangan akunya kotor lagi." Kiana menjelaskan dengan senyuman manis yang perempuan itu perlihatkan.
"Sayang, kamu sehat?" Leni merebut ponsel dari genggaman putranya. "Mami terkejut saat Jovian datang sendirian." Leni tersenyum, pun dengan Jovian juga Jonathan yang mulai duduk di pinggir sofa.
"Sehat. Mami sama Papi gimana? Sehat juga kan?" Kiana balik bertanya.
"Papi sehat." Jonathan segera menyahut.
Pria itu terlihat sangat bahagia saat melihat wajah Kiana di dalam layar handphone sana.
"Ya, seperti yang kamu lihat. Kami dalam keadaan baik-baik saja, … lalu bagaimana dengan Mama dan Papamu?" Tanya Leni.
"Mama ada di kamar, Papa juga baru pulang. Mereka sehat seperti Mami dan Papi."
Jawaban itu membuat senyum Leni semakin merekah. Bagaimana tidak, penjelasan Kiana membuat perempuan itu persis seperti anak kecil yang sedang ditanya keberadaan orang tuanya.
Leni hampir kembali membuka mulut, dia terlihat belum puas berbincang dengan menantunya. Namun, dengan segera Jovian merebut benda pipih itu, lalu beranjak pergi memasuki kamar, dan menutup pintu ruangan tersebut rapat-rapat.
Leni dan Jonathan saling beradu pandang.
"Biarkan saja. Putramu sedang puber kedua, jadi dia merasa seperti abege yang baru saja mengenal bagaimana indahnya cinta." Tukas Jovian.
"Dia aneh!"
Leni kembali menatap ke arah pintu kamar Jovian yang kini tertutup sangat rapat.
"Hay, Baby?" Sapa Jovian sambil tersenyum-senyum.
Dia berjalan mendekati tempat tidur, kemudian menghempaskan tubuhnya sampai terjatuh di atas sana cukup kencang.
"Kamu baru sampai?"
Jovian mengangguk. Bibirnya tak henti memperlihatkan senyuman, dengan pipi merona dan dada yang berdebar-debar.
"Iya."
"Dih kamu senyum-senyum terus."
"Untung aku tidak membawamu, disini dingin." Katanya lalu menghela nafas, berusaha untuk menenangkan debaran yang terus meningkat.
Dan itu terjadi hanya karena melihat Kiana.
Meskipun begitu dia tersenyum, seolah mengerti arah dan maksud dari ucapan suaminya.
"Sudahlah! Aku jadi merindukan kamu sekarang." Jovian menghela nafasnya lagi.
Jovian terlihat menahan senyumannya, dengan pipi yang semakin memerah dan hembusan nafas yang terdengar memburu.
"Kamu salah makan yah!?" Kiana yang menyadari tingkah konyol suaminya tertawa kencang. Membuat perempuan itu mendongak kepala ke arah belakang, dengan kedua bola mata yang terpejam.
Sementara Jovian terdiam, merasakan darahnya terus berdesir hebat, dan itu semua karena istri cantiknya.
"Aku harap nanti pulang semuanya sudah berakhir ya. Tiga hari saja sudah membuat aku tersiksa, jangan di tambah hari lagi, oke?"
"Haid aku tidak pernah lama. Biasanya lima hari sudah bersih, … hanya saja rasa sakitnya sangat luar bisa, dan baru benar-benar sembuh setelah haidnya selesai." Jelas Kiana.
Jovian diam. Dia merasakan dadanya hampir pecah, kala sesuatu di dalam sana terasa di penuhi ribuan kupu-kupu berterbangan memenuhi rongga dada. Hingga menimbulkan rasa geli dan sesak di waktu yang bersamaan.
"Jadi aku kesini sebenarnya mau bekerja atau menghindar dari kamu yah!?" Jovian terkekeh.
Dia mengusap wajahnya kasar.
"Tidak tahu. Entah mau kerja beneran atau memang sedang menghindar karena tidak bisa melakukan apapun."
Jovian diam.
"Ah mana ada aku seperti itu. Aku kesini benar-benar mau bekerja, tidak sedang menghindari kamu, Baby!"
"Hemm, … kalau begitu pergilah makan, lalu mandi, dan setelah itu istirahat. Lima jam kamu mengendarai mobil, itu melelahkan, sayang."
Jovian mengulum senyum.
"Mau aku tutup teleponya?" Tanya Kiana.
Perempuan itu tampak terus bergerak-gerak, mengatur posisi, lalu duduk setengah berbaring. Dan tidak lama setelah itu suara volume televisi terdengar pelan.
__ADS_1
"Baby?"
Panggil Jovian saat Kiana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hmmm?" Jawab Kiana dengan gumaman pelan.
"I Miss you."
"Apa?" Dia mengarahkan pandangannya kembali pada layar ponsel.
Dan kini keduanya saling menatap satu sama lain.
"I Miss you so badly, Baby!" Suara Jovian terdengar rendah, dengan pandangan mata sayu.
"Ya. Bahkan aku sudah merindukanmu sebelum kamu berangkat tadi!" Balas Kiana.
Jovian diam, menatap wajah istrinya lekat-lekat yang terpampang jelas di layar handphone miliknya. Begitu pula dengan Kiana, dia bungkam dengan retina mata yang terus bergerak-gerak, menelisik wajah tampan Jovian dengan raut lelah yang tampak kentara.
"Sayang, kamu harus membersihkan diri, lalu beristirahat." Ujar Kiana dengan suara yang terdengar lembut.
Pria itu tersenyum.
"Rasa kantuk, lelah, pegal-pegal. Semuanya sirna ketika aku melihat kamu."
"Tapi kamu harus istirahat!"
"Memangnya kamu sudah mau tidur?"
Kiana terlihat menggelengkan kepala.
"Kamu tahu sendiri, setelah menikah dengan kamu, aku tidak bisa tidur cepat saat kamu tidak ada. Dan aku sedang memikirkan caranya, jadi jika nanti kita sudah sama-sama sibuk, aku sudah dapat menanganinya dengan baik. Cepat atau lambat, mau tidak mau, kamu dan aku harus menerima kenyataan jika suatu waktu kita tidak mempunyai waktu bersama yang cukup banyak."
Tiba-tiba saja Kiana terlihat cukup serius.
"Kamu tahu, sayang? Jika saja aku mempunyai saudara, aku memilih hidup mengabdi kepada dirimu saja, biarkan dia yang mengambil alih usaha Papa. Aku ingin ikut kemanapun kamu pergi, aku ingin hidup dengan caramu."
"Kamu sudah hidup dengan caraku. Dan itu terjadi setelah kamu tidak lagi melakukan hal-hal buruk." Dia menjawab.
Yang langsung di jawab Kiana dengan anggukan.
"Jangan sedih. Aku tidak menyukainya!" Jovian berujar.
"Mana ada aku sedih, aku hanya sedang membayangkan betapa sibuknya kita nanti."
"Kita bisa cari jalan keluarnya nanti."
"Ya sudah. Kalau begitu bersihkan dulu dirimu, dan jangan lupa makan, … tidak ada aku disana, dan patikan makanan akan tetap membuatmu hangat, oke sayang?"
Jovian terkekeh mendengar itu.
"Baiklah, Baby. Kamu boleh menutup sambungan Videonya."
"Tidak ah, kamu saja." Kiana menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamu saja, Baby!"
"Tidak mau."
"Lalu bagaimana?" Jovian ikut tertawa.
Mereka sangat konyol malam ini. Ingin mengakhiri sambungan video call, namun tidak ada yang mau menutupnya terlebih dahulu.
"Baby? Aku harus mandi sekarang."
"Baiklah, baiklah! Aku tutup dulu yah!?"
Jovian mengangguk.
"Sayang kamu." Kiana melambaikan tangannya.
"Aku lebih menyayangi kamu, Baby. See you, have a nice dream, oke!"
Dan setelah itu panggilan video keduanya benar-benar terputus. Jovian bangkit, meletakan handphone di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur, kemudian bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
......................
__ADS_1
Seperti biasa 🤭🤭
Cuyung kalian banyak-banyak 🥳🥳