
Jovian meletakan kembali ponselnya, setelah mengirimkan pesan balasan dari Danu yang sudah menanyakan keberadaan mereka.
"Papa ya, Om?" Tanya Kiana sembari menjejalkan potongan kue balok rasa coklat yang sempat Jovian pesankan untuk dirinya.
Pria itu mengangguk.
"Terus Om jawab apa?" Kiana kembali memakan kue tersebut. Sepertinya dia sangat menyukai kue jadul dengan toping kekinian itu.
"Hanya mengatakan kamu sedang makan. Dan saya akan mengantarkan kamu sebentar lagi."
"Aneh! Padahal kemarin-kemarin nggak pernah bawelin Om. Kok sekarang malah nanya-nanya terus!?"
Jovian tidak menjawab, dia hanya fokus menikmati kopi dingin miliknya.
Pandangan Kiana mengedar. Menatap suasana yang semakin ramai, meski malam sudah semakin merangkak larut. Beberapa pedagang terlihat dipenuhi beberapa pembeli, dan tentu saja itu membuat Kiana sedikit penasaran.
"Kamu mau itu?" Jovian langsung bertanya saat menyadari kemana pandangan Kiana tertuju.
Kiana menoleh ke arah Jovian, sampai pandangan keduanya kembali saling beradu.
"Nggak usah deh! Kapan-kapan kita kesini lagi. Sekarang kita pulang saja, sudah malam. Besok aku ada mata kuliah, Om juga harus kerjakan? Kerja ngikutin aku?" Dia terkekeh.
"Memang sudah begitu dari awal bukan?" Jovian tersenyum.
Kiana mengangguk pelan. Dan hanya itu yang mampu dia lakukan untuk merespon setiap kali pria itu tersenyum.
Rasanya sangat luar biasa, dan ini pertama kalinya Kiana merasakan hal seperti itu. Jantungnya terus berpacu, dengan desiran yang tak kunjung hilang, seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam rongga dadanya.
"Om tahu? Aku merasa semakin kacau sekarang, jadi sebaiknya ayo antar aku pulang, … sebelum aku meninggal karena terkena serangan jantung."
Dengan lugunya Kiana mengatakan itu. Hal yang juga membuat Jovian tidak percaya, bagaimana ada seorang gadis yang sangat jujur dengan apa yang dia rasakan. Bukankah seharusnya Kiana merasa malu dan menyembunyikan perasaan aneh itu?
Jovian meraih beberapa tempat bekas makanan di mejanya, bangkit kemudian membawa ke arah tempat sampah yang berada tidak terlalu jauh dari posisi duduk Kiana saat ini. Setelah itu dia kembali mendekat, dengan tangan kanan yang dia ulurkan.
Kiana menatap dalam diam.
"Tadi kamu bilang mau pulang? Lalu kenapa terus diam disana dan menatap saya seperti itu?"
Gadis itu masih duduk. Menatap tangan juga wajah Jovian bergantian.
"Om mau gandeng aku lagi?"
"Cepatlah, malam beranjak semakin larut. Sudah mau jam satu, jadi jangan mengulur waktu terus!"
Kiana mengangguk, dia bangkit kemudian meraih tangan pria itu, sampai keduanya kembali saling menggenggam.
Tak hentinya Kiana terus menatap tangannya, yang saat ini sedang di genggam Jovian dengan begitu erat.
"Kita beneran pacaran? Atau Om lagi sandiwara aja sih!?" Kiana masih ragu.
"Sudah aku katakan. Aku sedang mencobanya, jadi jangan terus berbicara seperti itu!"
Dan akhirnya Kiana diam, dia bungkam sampai benar-benar masuk kedalam mobilnya, yang sudah beralih di bawah kendali Jovian semenjak pria itu memutuskan untuk menjadi Bodyguard pribadinya.
"Hemmm, … dan aku justru mengalami hal yang tidak terduga. Aku mencintai Bodyguardku sendiri, aneh tapi beginilah, bahkan aku belum pernah merasakan ini saat berdekatan dengan siapapun, termasuk Kevin ataupun Hilmi." Hatinya terus berbicara.
Sementara raganya diam dan terlihat tenang, duduk nyaman menatap lurus kedepan.
Lampu-lampu yang menyala di setiap tiang jalanan. Jalanan kosong melompong di beberapa titik rawan macet, menandakan jika memang malam sudah semakin larut.
Dan setelah memakan waktu yang cukup lama. Jovian membelokan mobilnya ke arah gerbang rumah yang tertutup, yang segera dibuka oleh satu orang petugas keamanan rumah.
__ADS_1
Mobil itu kembali melaju memasuki sebuah garasi terbuka yang sangat luas, dan berhenti diantara beberapa kendaraan milik Danu dan Herlin.
Kiana menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya.
"Om mau masuk?"
"Tidak usah, saya langsung pulang saja. Sampaikan maaf saya kepada Pak Danu dan Bu Herlin karena terlambat membawa kamu pulang."
Kiana mengangguk, dia membuka seatbelt kemudian turun bersamaan dengan Jovian.
Kiana berjalan mendekati teras depan rumah, dimana pintu utama berada disana. Sementara Jovian mendekati mobil hitam miliknya, yang terparkir tepat di hadapan sebuah bangunan yang dia jadikan sebagai tempat melepas penat jika sudah seharian mengawasi Kiana.
Tanpa berpamitan, atau sebuah kata basa-basi dan perpisahan.
Kiana berdiri di ambang pintu, menekan beberapa kode karena rumah sudah benar-benar terkunci dari dalam. Baru saja meraih gagang pintu, suara Jovian kembali memanggilnya dari arah belakang.
"Seperti kunci mobil saya tertinggal di gazebo." Ucap Jovian.
"Om ambil sendiri?" Tanya Kiana sambil membuka pintu besar rumah itu.
"Tidak kamu ambilkan saja?"
Kiana menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan berani." Katanya saat melihat suasana di dalam sana sudah gelap, karena lampu-lampu di setiap ruangan sudah di matikan.
"Sepertinya semua orang sudah tidur. Termasuk Mama dan Papa!" Kiana berjalan masuk, di ikuti Jovian yang berjalan di belakangnya.
Mereka berdua mendekat ke arah pintu kaca, yang menghubungkan ruang tengah dan taman belakang rumah.
Klek!!
Suara gemericik air kolam ikan terdengar jelas. Diselingi dedaunan yang bergerak karena diterpa angin. Kakinya terus melangkah sampai memasuki gazebo sana, dengan Jovian yang terus mengekor di belakangnya.
"Om simpan dimana?"
"Tadi di meja, atau di sofa yah!?" Pria itu sambil mencari.
Kiana ikut membantu menyisir tempat tersebut, namun nihil mereka tidak menemukannya.
"Oh mungkin sudah Pak Danu simpan di ruangan Pak Yanton!"
"Yakin?"
"Mungkin saja. Saya harus periksa kesana dulu!"
Jovian berjalan lebih dulu, dan menunggu di ambang pintu, sehingga setelah Kiana masuk, dia segera menutup dan menguncinya kembali.
"Sudah malam, bawa saja mobil aku. Besok Om lanjutkan cari kuncinya!" Ujar Kiana.
Jovian yang sudah kembali melangkahkan kakinya segera berhenti, lalu melihat ke arah Kiana.
"Tidak …"
"Bawa saja, Om akan pulang pagi hari jika harus mencari kunci mobil, Om dulu."
Jovian diam untuk beberapa saat, sampai pandangan keduanya beradu, melihat satu sama lain dalam keadaan ruangan yang temaram.
"Kuncinya tadi masih Om pegang. Kalau begitu aku naik dulu yah!" Kiana segera berjalan ke arah tangga.
"Kia?"
__ADS_1
"Ya?" Gadis itu menoleh.
"Terimakasih." Ucap Jovian, pria itu memperlihatkan senyuman samarnya.
Kiana diam, dia berusaha menekan sebuah perasan yang tiba-tiba muncul. Namun sayang, dia kalah sampai kakinya melangkah kembali mendekati Jovian, lalu memeluk tubuh itu dengan erat.
"Ah perasaan bodoh ini menyusahkan!" Gimana Kiana.
Tapi tanpa Kiana sangka justru Jovian membalas pelukannya.
"Segera naik dan tidurlah!"
Kiana mengangguk, dia sedikit mengurai pelukannya, mendongak sampai dia dapat menemukan Jovian yang juga sedang menundukan pandangan.
Kiana berjinjit, dan mendaratkan ciuman kembali di bibir pria pujaannya.
"I love you." Ucap Kiana dengan suara rendah.
Jovian tersenyum samar.
"Naiklah, atau Pak Danu akan mengamuk karena dia menemukan kita dalam keadaan berpelukan seperti ini!"
"Baik." Kiana melepaskan lilitan tangannya, melangkah mundur lalu melambaikan tangan.
"Saya pinjam mobilnya."
"Hemmm, … hati-hati!" Debaran di dadanya terus meningkat.
Jovian diam untuk beberapa detik, kemudian mengangguk dan berjalan cepat mendekati Kiana, sedikit membungkukan tubuh, lalu mencium gadis itu seperti yang dia lakukan kepada dirinya.
"Saya pulang Kia." Dan setelah mengatakan itu Jovian beranjak pergi, meninggalkan Kiana yang masih mematung, karena terkejut dengan apa yang Jovian lakukan.
Klek!!
Pintu rumah itu terdengar di tutup.
Tubuh Kiana masih mematung. Gadis itu diam seraya memegangi bibirnya.
"Kia? Kamu disana?"
Suara Danu membuyarkan lamunannya.
Kiana menoleh ke arah suara berasal. Dan memang ayahnya sedang berdiri di ambang pintu kamar, yang terletak di lantai 2.
Kiana mengangguk.
"Jovian sudah pulang?"
"Su-sudah!"
Kiana segera melangkahkan kaki untuk menaiki anak tangga satu-persatu, dengan tangan kanan yang terus memegangi dadanya.
"Kenapa? Asmamu kambuh?"
"Hmmm, … sepertinya besok aku harus memeriksakannya ke dokter." Kiana menjawab, kemudian masuk kedalam kamarnya begitu saja, membuat kening Danu mengkerut karena merasa bingung.
"Kenapa dia itu!" Gumam Danu, seraya kembali masuk kedalam kamarnya.
......................
Like, komen, vote, hadiahhhhhhhhnya mana?
__ADS_1