Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sidang skripsi.


__ADS_3

Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu. Dan waktu bergulir sebagaimana mestinya, menjadi sebuah saksi bisu bagi Kiana yang saat ini tengah memfokuskan diri untuk sidang skripsinya.


Dia duduk di kursi tunggu, menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, berusaha menenangkan perasaan gugup yang mulai menguasai diri. Bahkan beberapa materi yang berusaha dia hafal tiba-tiba hilang dan lenyap di dalam ingatannya, membuat gadis itu berusaha semakin keras untuk kembali mengingat, agar dapat lulus dengan nilai terbaik.


Tentu saja, dia harus mengembalikan nama baiknya, dengan nilai yang cukup bagus.


Jika memang mustahil, setidaknya dia harus benar-benar dinyatakan lulus, walaupun nilai yang Kiana mau tidak tercapai.


"Semuanya akan baik-baik saja, Kiana. Buat semua orang bangga kepadamu!" Gadis itu mencoba menyemangati dirinya sendiri. "Kamu sudah dicap buruk karena sering kali terjerat kasus dan hal-hal bodoh. Jadi sekarang waktunya membuktikan, jika kamu tidak seburuk yang mereka kira." Dia terus berbicara kepada dirinya sendiri.


Tidak ada siapapun yang menemaninya. Tidak ada Danu dan Herlin karena mereka harus menghadiri beberapa pertemuan penting yang benar-benar hanya mereka yang harus menghadiri, tidak ada Jovian karena pria itu pun sama, dia harus mengurus sesuatu jauh di Pangalengan sana.


Sedih sudah pasti. Namun apa yang bisa dia lakukan? Sekarang ini Kiana hanya harus fokus untuk sidang skripsinya, agar dia dapat berbicara lancar di hadapan para dosen penguji, tanpa banyak mengucapkan kata-kata yang salah.


Dan setelah menunggu cukup lama. Seseorang terdengar memanggil namanya, membuat Kiana yang sedang tenggelam dalam lamunannya tersentak kaget.


"Jasmine Kiana Danuarta."


Dengan segenap keberanian, juga rasa percaya diri yang masih tersisa, Kiana masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar, dimana terdapat beberapa dosen penguji duduk dengan nyaman, menatapnya dengan senyuman tipis.


"Bagaimana Kiana? Sudah siap?" Seorang pria bertanya, seraya menatapnya lekat-lekat.


Kiana mengangguk.


"Baik, silahkan dimulai."


Lebih dulu Kiana menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan melalui rongga mulut. Lalu dia memperlihatkan senyumannya, dengan raut wajah berbinar.


Kiana mulai menjelaskan beberapa hal yang sudah gadis itu pelajari sebelumnya. Dengan penuh kepercayaan diri dia terus berbicara, sambil menekankan sebuah rasa gugup, agar tidak dapat mempengaruhi cara bicaranya saat ini.


Beberapa dosen memberikan pertanyaan kepada Kiana, lalu kemudian dengan lantang Kiana menjawabnya tanpa merasa ragu sedikitpun. Entah kenapa kepercayaan dirinya tiba-tiba berkobar, persis seperti api kecil yang disiram sekaligus oleh bahan bakar. Hingga saat ini Kiana terlihat lebih bersemangat lagi, bahkan tak jarang dia memberikan jawaban seraya memberikan senyuman yang paling manis.


Dan setelah itu Kiana diam dengan hati yang berdebar-debar, ketika para dosen mulai berunding untuk memberikan satu keputusan.


Yaitu antara lulus atau tidak.


"Jasmine Kiana Danuarta. Kami sudah mendengarkan apa saja yang kamu presentasikan, … lalu kamu juga menjawab beberapa pertanyaan dari kami dengan sangat tepat! Jadi untuk apa lagi mempertimbangkan, saya tegaskan kamu lulus."


Pria dengan setelah rapih itu menjelaskan. Membuat mulut Kiana segera terbuka lebar, namun dengan cepat gadis itu menutupnya dengan telapak tangan.


"Sekali lagi selamat yah!" Dosen lain berbicara.


Kiana menganggukan kepala. Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya, setelah sekian lama dengan usaha yang tidak mudah, Kiana dapat mengakhiri masa pembelajarannya dengan baik.


Bahagia sudah pasti. Tidak ada lagi yang akan menghantuinya sekarang, dia sudah benar-benar lulus dan hanya tinggal menunggu waktu wisuda tiba. Meski disisi lain hatinya merasa sedih, tidak akan ada orang yang akan menyambutnya ketika mendengar kabar dari Kiana untuk pertama kali.


Seperti beberapa mahasiswa yang sudah melakukan sidang skripsi terlebih dulu. Mereka keluar membawa kabar baik, yang seketika disambut oleh orang-orang terkasihnya.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan dirinya? Dia hanya akan keluar dengan kehampaan. Orang tuanya sedang berada jauh di Kalimantan sana untuk beberapa hari kedepan, sementara calon suaminya juga memiliki kesibukan yang cukup padat.


Dia menghela nafasnya.


"Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Bapak dan Ibu dosen. Kalau begitu saya akan segera pulang dan memberikan kabar baik ini kepada keluarga saya." Pamit Kiana, yang langsung dijawab anggukan oleh beberapa dosen penguji.


Dengan perasaan campur aduk, Kiana berjalan ke arah sebuah pintu kaca yang tertutup. Mendorongnya dengan perlahan, lalu keluar dengan sebuah kabar baik yang dia simpan.


Namun kakinya berhenti melangkah, matanya membulat sempurna, dan tiba-tiba saja tubuhnya membeku, kala mendapati Jovian yang saat ini berdiri tepat di dekat pintu keluar, membawa sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar.


Jovian tersenyum, merentangkan kedua tangannya. Sementara Kiana masih terdiam, menatap Jovian dari atas hingga bawah.


Kaos hitam berkerah lengan pendek, Jovian padukan dengan celana denim, yang memang membuat penampilan pria itu tidak pernah gagal sama sekali, meski hanya berbalut pakaian yang terlihat sederhana.


"Kia? Kau tidak mau memelukku?" Ucap Jovian, dia berusaha membuyarkan lamunan Kiana


Dan tanpa banyak berbicara Kiana langsung berlari ke arahnya, lalu kemudian melompat, yang langsung Jovian raih sampai gadis itu memeluk pundaknya, dengan kedua kaki yang melingkar di pinggang Jovian cukup erat.


Seketika tangis Kiana pecah. Membuat beberapa mahasiswa yang masih menunggu disana menatap ke arah Jovian juga Kiana, dengan senyum hari yang menghiasi wajah mereka.


"Hey!" Satu tangan Jovian mengusap punggung Kiana.


Namun gadis itu tetap menangis, dan sepertinya tidak ingin bicara lebih dulu. Dia hanya merasakan rindu yang saat ini mulai terobati, ketika hampir dua Minggu lamanya mereka tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing.


"Baiklah, ayo kita ke mobil sekarang. Keadaan yang seperti sekarang, membuat orang menerka-nerka tahu." Katanya lalu membawa Kiana pergi dari sana, tanpa mengubah posisi sama sekali, dia terus berjalan dengan tubuh Kiana yang saat ini ada dalam gendongan, bak seperti bayi Koala yang sedang memeluk tubuh induknya.


***


Dia meraih tali sabuk pengaman di sisi lain, menariknya, dan memasangkan seperti biasa. Tanpa mengganggu buket bunga yang saat ini ada dalam dekapan Kiana.


"Kapan kamu datang?" Kiana menguap kedua sudut matanya bergantian. "Aku kira aku akan benar-benar sendiri. Tidak ada orang yang mau aku ajak kesini, … termasuk Bibi, Mbok sama Mbak Ipah. Mereka semua menolak." Jelas Kiana dengan sisa tangisan yang tersisa, sampai suaranya beberapa kali tercekal.


Jovian tersenyum, lalu mencium kening Kiana. Dan setelahnya pria itu segera menutup pintu mobil di samping calon istrinya, berjalan memutari mobil, kemudian menyusul masuk.


"Sekarang tidak boleh sedih lagi. Aku datang jauh-jauh dari Pangalengan hanya untuk menemui kamu."


Kiana mengangguk.


"Bagaimana dengan sidangnya? Apa lancar? Kamu lulus atau harus mengulanginya?" Jovian yang mulai menyalakan mesin mobil bertanya.


"Lancar. Dosen penguji mengatakan aku lulus, saat aku dapat menjawab pertanyaan mereka dengan benar. menurut mereka jawaban aku cukup memuaskan, dan itu menjadi pertimbangan untuk nilai skripsi aku."


Jovian tidak langsung menjawab. Dirinya hanya fokus mengendalikan mobil, agar segera dapat keluar dari area parkiran luas itu, dimana kini antrian kendaraan terlihat cukup panjang.


Suasana memang sangat ramai, membuat Jovian melajukan mobilnya dengan sangat perlahan-lahan.


"Lalu kenapa menangis? Seharusnya kamu tertawa tadi." Kata Jovian.

__ADS_1


"Aku nangis bukan karena sidang skripsinya gagal. Tapi karena aku nggak bisa lagi menyembunyikan perasaan aku. Om tahu? Beberapa Minggu terakhir rasanya sangat berat, … tiba-tiba saja Mama dan Papa selalu pergi melihat bisnis bersama-sama, lalu Om malah tidak pulang-pulang! Waktu itu aku merasa benar-benar hanya sendirian, dan aku jenuh." Jelas Kiana panjang lebar.


Gadis itu seperti sedang mengutarakan keluh-kesahnya. Dan Jovian hanya diam mendengarkan, dengan seulas senyuman yang terus tersungging di antara kedua sudut bibir.


Hal yang sama Jovian rasakan. Bahkan mungkin lebih besar dari rasa rindu yang Kiana miliki untuk dirinya. Namun laki-laki selalu tidak bisa mengekspresikan diri, jika dirinya juga benar-benar sangat merindukan Kiana. Dan mereka akan memilih diam, karena tidak tahu harus berbuat apa ketika mereka merindukan seseorang yang menempati bagian terdalam dari hatinya.


Bagaimana tidak. Beberapa bulan terakhir keduanya selalu pergi bersama, kemanapun Kiana ingin pergi maka akan ada Jovian bersamanya. Tapi semuanya segera berubah, setelah dia memutuskan berhenti bekerja, dan mulai menjalankan salah satu usaha miliknya yang di hadiahkan Jonathan semenjak anak-anaknya masih sangat kecil. Dan pria itu baru memberikan kepercayaan sepenuhnya ketika Jovian dan Javier sama-sama beranjak dewasa.


"Mau pergi ke tempat lain dulu tidak?" Jovian melirik sekilas, menatap Kiana yang saat ini sedang fokus melihat ke arah depan.


"Kemana?" Dia membenahi posisi duduknya, hingga dapat saling menatap satu sama lain.


"Kemana saja, mumpung kita ada waktu bersama." Kiana berujar.


"Ke mall? Mau?" Usul Jovian.


"Mall terlalu ramai." Katanya.


"Restoran?" Pria itu kembali mengusulkan.


Tapi Kiana masih menolak. Berbagai macam alasan dia berikan, dan itu membuat Jovian sedikit mengerti.


"Jadi tidak mau keluar? Kamu mau pulang saja?"


"Di rumah jenuh, Om. Cuma aku sama asisten rumah. Mereka bertiga asik ada temen ngobrol, aku kadang cuma seharian di kamar."


Jovian menghela nafasnya.


"Terus? Kamu mau kemana?"


Jovian memelankan laju mobilnya, kemudian berhenti tepat di antrian kendaraan lain, saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah.


"Ke apartemen kamu boleh? Nonton disana sajalah. Dari pada di bioskop, disana terlalu rame, kita bukannya me time, tapi malah sibuk memperhatikan orang lain." Pinta Kiana.


"Film apa? Di aplikasi berbayar hanya itu-itu saja!" Jovian menatap Kiana.


"Ya kita carilah. Kan bisa nonton film yang belum pernah aku tonton sebelum."


"Baiklah. Kalau begitu kita harus membeli makan terlebih dulu. Di apartemen tidak ada apa-apa."


Lampu di hadapannya tiba-tiba berpindah ke arah warna kuning, lalu hijau. Membuat motor dan mobil yang berada di antrian paling depan segera melaju.


Begitu juga yang Jovian lakukan. Dia kembali menggenggam setir mobilnya, dan mulai melajukan kendaraan roda empat itu, kembali menyusuri jalanan kota pada lewat tengah hari ini.


......................


...Kalau ada yang janggal, mohon di mengerti yah :) othor nggak pernah mencicipi bangku kuliah. Ini pun hasil search seadanya eheheheh ......

__ADS_1


...Seperti biasa, jangan lupa like, komen sama timpukin pake mawar atau kopi yah! yang ada vote juga boleh di lempar kesini😘😘...


Cuyung kalian♥️


__ADS_2