Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Perasaan orang tua


__ADS_3

Satu cangkir berisikan teh panas Leni letakan diatas meja. Yang seketika menimbulkan wangi khas dari teh bercampur melati di sekitarnya.


"Terimakasih, Mam!" Ucap Jonathan.


Lalu dia beralih menatap pemandangan di sekitar rumahnya. Langit biru kehijauan, dengan siluet kuning emas saat percikan cahaya matahari mulai memperlihatkan dirinya dengan malu-malu.


"Pisang gorengnya masih di goreng, Bi Wiwin." Kata Leni, yang langsung dijawab anggukan oleh sang suami.


"Mami tidak minum teh?" Tanya Jonathan.


Leni menggelengkan kepalanya, lalu dia mengalihkan pandangan dari sang suami, ke arah depan. Dia menatap ranting-ranting pohon yang bergerak tertiup angin, juga orang-orang yang berlalu lalang untuk memulai aktivitas pada pagi hari ini.


"Ada sesuatu?"


Jonathan menyadari sikap gundah istrinya.


Leni menoleh, melirik sekilas, tersenyum dan mengangguk. Menjawab pertanyaan suaminya dengan segera.


"Belum ada kabar dari Jovian. Apa mereka sekarang baik-baik saja, … atau Kiana malah masih marah dan melanjutkan niat awal dia yang ingin menyudahi hubungan pernikahan yang bahkan baru seumur jagung." Raut wajah Leni memperlihatkan banyak ketakutan.


Tentu saja, dia tahu betul bagaimana terpuruknya Jovian tempo dulu. Lalu apakah itu akan terjadi kembali? Dan apakah dirinya mampu melihat keadaan Jovian yang terpuruk?


"Hhheuh!" Leni menghembuskan nafasnya.


"Kita berdoa saja, dan berpikir yang baik-baik. Tunggu sampai Kiana atau Jovian mengabari, jika belum maka tugas kita hanya menunggu. Masalah ini sedikit rumit, karena yang menyenggol perasaan Kiana adalah masa lalu dari suaminya sendiri. Dan yang lebih parah Jovian bersikap seperti tidak percaya, meskipun sebenarnya dia hanya sedang bingung saja harus bersikap bagaimana." Jonathan berusaha membesarkan hati Leni.


Namun, tampaknya kesedihan Leni begitu besar. Sampai dia tidak dapat membuat perasaannya tenang, meskipun Jonathan sudah berusaha.


"Kita memang berharap Kiana memaafkan Jovian. Tapi kita juga tidak bisa memaksa agar Kiana menerima rasa kecewa itu bulat-bulat."


Leni tidak langsung menjawab, apalagi saat dia mendengar suara pergerakan dari arah dalam. Dan benar saja, Wiwin muncul dengan membawa satu piring pisang goreng yang masih panas.


"Pisang gorengnya, Amih, … Apih!"


Keduanya segera menjawab dengan anggukan.


"Nuhun, Win." Ucap Leni.


"Iya Amih."


Dan setelah itu Wiwin kembali ke arah dalam, meninggalkan dua orang tua yang sedang serius membahas persoalan putra mereka.


"Memang menakutkan jika orang tulus kalau sudah kecewa." Wanita itu berbisik.


"Itu Mami tau."


"Hemmm, … seharusnya Jovian sadar dari awal. Jika Eva tidak ada apa-apanya dengan Kiana. Terlebih Pak Danu menerima dia dengan semua yang sudah terjadi.


Mereka tidak peduli Jovian bekerja apa sebelumnya, apalagi dengan status Jovian yang waktu itu menyandang Duda cerai hidup saat menikah dengan Kiana." Pandangan Leni menatap lurus kedepan.


"Sekelas pengusaha tambang batubara yang sudah cukup tersohor di kancah internasional. Bahkan dapat menerima seorang anak dari petani teh dan sayur, tanpa mempermalukannya di hadapannya siapapun. Sungguh mereka memiliki hati dan perasaan yang begitu lapang." Lanjutnya lagi.


Jonathan mengangguk.


"Jika harus membandingkan, … keluarga Pak Danuarta memang sangat terbuka. Mereka tidak melihat status sosial sebagaimana Pak Erik dulu. Semuanya berbanding terbalik. Tapi kita juga tidak bisa memungkiri, jika anak kita pernah sangat mencintai putri mereka." Jonathan menatap wajah istrinya lekat-lekat.


Dan begitu banyak rasa khawatir di dalam maniknya.


"Mami harus bicara kepada Kiana. Setidaknya meminta maaf agar dia mau tetap bersama Jovian. Dia pasti mau mendengarkan kita."


"Tidak bisa Mami! Kita tidak boleh ikut campur."


"Tapi bagaimana kalau mereka benar-benar akan berpisah? Jovian bahkan belum memberikan kabar apa-apa sampai saat ini!"


Leni menyapu wajah, lalu memijat pelipis dan pangkal hidungnya perlahan-lahan, ketika rasa pusing mulai menyerang. Dan itu berasal dari rasa ketakutan yang tak ada pernah ujungnya.


Tiba-tiba saja, gerbang besar kayu di pekarangan rumahnya terbuka. Dan itu membuat Jonathan juga Lenin sedikit terkejut saat mengenali siapa orang yang tengah berusaha membuka benda berukuran besar itu.


"Jovian!" Leni seketika berdiri.


Wanita itu terlihat sangat terkejut.


Pikirannya mulai menerka-nerka apa yang sudah terjadi pada putra keduanya. Terlebih belum adanya kepastian membuat wanita itu merasa begitu khawatir. Apalagi saat pikiran buruk mulai mengendalikan diri.


Dia berlari tunggang langgang menuruni setiap tangga yang menjadi salah satu akses rumah panggungnya. Membuat Jovian diam menatap sang ibu dengan ekspresi terkejut.


"Mam!" Suara Jovian terdengar sedikit memekik.


"Kenapa kamu tidak pernah memberi kabar? Lalu datang tiba-tiba seperti ini!" Katanya seraya memukul lengan kekar putra bungsunya lumayan kencang.


Pria itu diam, mendengarkan Leni yang terus meracau mengatakan banyak hal. Yang tentu saja membuat kening Jovian mengkerut.


"Mami ini bicara apa?"


"Sudah dua kali. Dan setelah ini kamu harus benar-benar bisa menjaga perasaan orang lain. Khususnya pada pasanganmu sendiri!" Kata Leni sambil terus menangis.


Jovian mendorong kedua bahu sang ibunda, membuat keduanya sedikit berjarak, dan dapat menatap satu sama lain. Bersamaan dengan itu pintu mobil sebelah kiri terbuka, dan kemunculan Kiana jelas membuat Leni semakin terkejut.


Bahkan wanita itu berteriak kencang memanggil nama suaminya, dan beranjak mendekati sang menantu untuk dia peluk sesuka hati.


"Mami sedang sakit?" Kiana segera bertanya.


Leni tidak menjawab.


Membuat Kiana menatap Jovian penuh tanya, lalu beralih pada Jonathan yang juga mulai berjalan mendekat.


"Sudah, … sudah! Biarkan Jovian dan Kiana masuk dulu. Mereka sampai sepagi ini, apa tidak kasihan? Mungkin anak dan menantu kita berangkat pagi-pagi sekali."


Jonathan menarik Leni dengan segera, sampai dia melepaskan tubuh Kiana, lalu mengusap kedua pelupuk matanya yang basah.


Dan kini disanalah mereka, duduk bersama-sama di sofa ruang tv, dengan Leni yang tak hentinya mendekap Kiana.

__ADS_1


"Kamu membuat Mami sangat takut. Kamu pergi dengan amarah yang sangat besar, … Mami takut kamu tidak akan kembali kesini, sementara Jovian sangat mengharapkan kamu." Tangan Leni mengusap-usap punggung Kiana.


"Mungkin kalau Jovian masih mau bersama masa lalunya, Kia tidak akan pernah kembali kesini." Dia tertawa pelan.


Kiana menarik diri, membuat dia dapat menatap ibu mertuanya dengan leluasa, lalu tersenyum. Seolah ingin memberitahukan jika saat ini semuanya sudah baik-baik saja.


"Kia sudah disini, … lalu apa yang masih membuat Mami takut?" Lantas perempuan itu segera bertanya.


"Mami hanya tidak menyangka saja."


"Kami sudah baik-baik saja, … bahkan kita punya sesuatu untuk Mami dan Papi!" Ujar Kiana.


Jovian mengulum senyum saat Kiana mengarahkan pandangan kepadanya. Lalu dia bangkit, berjalan mendekati koper dimana satu tas kecil milik Kiana berada disana, dan membawa keluar sebuah amplop berwarna putih untuk Jovian perlihatkan kepada kedua orang tuanya.


"Apa ini?" Tanya Jonathan.


"Di buka saja." Balas Jovian sembari meletakan benda itu di atas meja.


Leni menundukan pandangan, menatap seonggok amplop berukuran sedang. Kemudian dia menatap anak dan menantunya bergantian.


"Surat apa ini?"


"Bukan kejutan kalau kita kasih tau duluan. Lebih baik Mami buka dan lihat apa isi di dalamnya." Ucap Kiana sambil tersenyum.


Leni menuruti apa yang menantunya katakan. Dia meraih amplop tersebut, dan membukanya dengan segera.


"Apa itu?" Jonathan penasaran.


"Kertas." Balas Leni sembarangan.


Membuat Kiana dan Jovian tertawa cukup kencang.


"Ya nggak salah sih, … kan emang kertas." Kiana menatap suaminya.


"Hemmm!" Jovian mengangguk.


Leni menatap benda itu bolak-balik dengan mata yang memicing tajam. Usia lanjut jelas membuat penglihatannya sedikit memburuk, sampai dia harus melihat dengan seksama untuk memastikan.


Dan setelah menyadari. Leni terlonjak kaget, yang seketika menatap Jovian dan Kiana untuk memastikan jika apa yang ada di dalam benaknya adalah benar.


Kiana mengangguk.


"Kemarin kita periksa. Mereka sehat!" Kiana tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Jonathan jelas merebut benda itu, lalu melihatnya lebih dekat lagi.


"Kembar?" Katanya, lalu mendongakan kepala. Menatap Kiana yang sudah pindah duduk di tepi sofa bersama Jovian.


"Janinnya kembar, … mereka sehat, … dan usianya sudah mau memasuki dua belas Minggu."


Jovian merengkuh pundak Kiana, menariknya perlahan, lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di keningnya.


"Benarkah?" Leni tersenyum harus.


"Semalaman aku berpikir. Jika usianya mau dua belas Minggu. Masa waktu itu aku haid sambil hamil, … eh gimana sih?!" Dia terkekeh.


Leni bangkit, lalu memeluk Jovian juga Kiana.


"Banyak kehamilan yang seperti itu. Mami juga pas hamil Jovian begitu, … lebih parahnya sudah tahu hamil tapi masih haid. Cuman ya waktunya nggak lama, mungkin beberapa Dokter bisa menjelaskan itu." Katanya sambil mengusap-usap punggung sang menantu.


Kiana mengangguk.


"Atau bisa juga perkiraan alatnya salah. Soalnya aku lupa hari pertama haid terakhir aku kapan."


"Kalau begitu kamu tahu hamil saat masih di Makkah?"


Jonathan berjalan mendekat.


"Iya, mungkin seminggu sebelum pulang."


"Benar begitu?" Jonathan memeluk tiga orang yang dia cintai sekaligus.


"Iya, dan mungkin ini jawaban dari Tuhan. Agar kita mempertahankan rumah tangga ini." Ucap Kiana.


Jonathan mengusap sudut matanya. Rasa sedih, senang, dan bahagia beradu padu menjadi satu, sampai pria itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis bahagia.


"Selamat, Cucu Mami dan Papi akan bertambah dua sekaligus!"


Jovian berusaha membuat situasi sedikit lebih ceria. Meskipun pada kenyataannya perasaan dia pun terenyuh, dan membuatnya ingin menangis, tapi malu karena sudah semalaman dia melakukan itu di hadapan Kiana langsung.


***


Klek!!


Pintu kamar mandi yang terletak di salah satu sudut kamar Jovian terbuka. Kemudian munculah Kiana, dengan pakaian serba panjang, dan handuk yang melilit di atas kepala. Membungkus rambut basah yang baru saja dia cuci. Dia menatap sekitar. Dan ruangan itu masih terlihat sepi, tidak ada Jovian disana, karena seperti yang dia ketahui pria itu masih betah duduk berbincang-bincang bersama kedua orang tuanya setelah selesai membersihkan diri terlebih dahulu.


Kiana duduk di kursi yang berhadapan dengan cermin besar, menarik salah satu laci yang Kiana ketahui tempat penyimpanan alat pengering rambut. Dan benar saja, benda itu masih tersimpan dengan baik setelah terakhir kali ia menaruhnya di sana.


Suara hair dryer mulai bergemuruh memenuhi langit-langit kamar dengan ornamen yang didominasi oleh kayu.


Lalu pintu kamar itu terbuka, dan munculah Jovian dengan pandangan yang langsung dia tujukan pada cermin besar di hadapan sang istri, sampai membuat keduanya saling menatap dari arah pantulan cermin.


"Kamu sudah selesai mandi, Baby?" Jovian berjalan mendekat.


Pria itu membungkuk, lalu mencium aroma mint dan teh hijau di rambut Kiana.


Kiana mengangguk.


"Mau aku bantu?" Jovian hampir saja merebut benda itu.


Namun, dengan segera Kiana menepisnya.

__ADS_1


"Nggak usah, kamu istirahat saja! Perjalanan kita cukup jauh, … dan kamu harus menahan kantuk dari jam dua belas malam." Kiana berteriak, berusaha membuat Jovian mendengar suaranya dengan jelas.


Jovian mengangguk, dia segera pergi. Tentunya setelah meraih bibir Kiana untuk dia kecup.


Pandangan Jovian mengarah pada jam yang menempel di dinding kayu, dimana jarum jam baru saja menunjukan hampir pukul 11.00 siang hari.


"Kamu meninggalkan Mami dan Papi?"


Kiana menggulung kabel hair dryer nya, lalu memasukan benda itu kembali pada laci semua.


"Papi sama Mami pergi tadi, … katanya ada bisnis sama Mang Adang. Mungkin bisnis tanah lagi, biasanya Mang Adang kalau nawarin tanah suka ke Mami atau kalo nggak ke Papi."


Kiana tidak menjawab, dia berdiri, lalu berjalan mendekati Jovian yang sudah ada di atas ranjang tidur.


"Kamu tidak ikut?"


"Untuk apa? Aku tidak tega meninggalkan kamu sendiri di rumah."


"Ada Bi Wiwin."


Kiana menatap bantal agar mendapatkan posisi yang nyaman. Dia menarik selimut sampai leher, meskipun di luar cahaya matahari begitu terik, tapi hembusan angin terasa dingin hingga menusuk tulang.


"Sudah pulang, … dia juga punya anak-anak yang harus diurus dan diperhatikan." Jovian bergerak beringsut mendekat.


Bahkan satu tangannya terulur meraih pinggang Kiana, menariknya perlahan, sampai kini mereka saling berdekatan.


"Ah pantas tiba-tiba rumah ini terasa sepi." Ujar Kiana.


Jovian mengangguk, lalu senyuman penuh arti tersungging jelas di kedua sudut bibirnya.


"Ya, … hanya kita berdua." Dia berbisik tepat di daun telinganya.


Cup!!


Mata Kiana terpejam erat, dengan hembusan nafas yang tiba-tiba saja terdengar berat saat bibir Jovian mulai menyentuh bagian belakang telinga.


"I Miss you so badly, Baby." Suaranya terdengar semakin rendah.


Sementara Kiana meringis, ketika sesuatu terasa menggigit daun telinganya cukup kencang.


Kecupan demi kecupan mulai terasa di setiap inci tubuh Kiana. Membuat kesadaran perempuan itu mulai memudar, bersamaan dengan munculnya rasa rindu yang mungkin saja Jovian rasakan juga.


Tentu saja, 2 Minggu bukanlah waktu sebentar. Dan perpisahan tiba-tiba keduanya membuat segala sesuatu tertahan oleh rasa amarah masing-masing, terutama Kiana yang saat itu bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan pernikahan yang baru saja terjalin.


Melihat respon Kiana yang cukup baik, membuat Jovian tidak lagi merasa ragu atau takut akan penolakan yang mungkin saja Kiana lakukan.


Dia bangkit, segera mengungkung tubuh Kiana dengan cumbuan yang tak pernah Jovian hentikan.


"Dua Minggu lebih kamu pergi, … apa kamu tidak merasa tersiksa? Apa hanya aku saja yang merasakan hal itu, Kiana?" Jovian menempelkan keningnya pada kening Kiana.


Mata Kiana yang sempat terpejam pun kembali terbuka.


Keduanya terdiam dan saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Hingga akhirnya cumbuan itu kembali Kiana mulai, dan Jovian membalasnya dengan lebih menggebu-gebu.


Suara decapan mulai mengudara, bersahutan dengan hembusan nafas yang memburu. Bahkan tangan dua sejoli yang sedang di mabuk rindu itu tak pernah diam, terus bergerak menyentuh satu sama lain.


Dan entah kapan dan bagaimana. Kini mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun, hanya selimut tebal yang melindungi tubuh keduanya dari hawa dingin lingkungan sekitar.


Jovian melepaskan pautan bibirnya, lalu menegakan tubuh, untuk menatap Kiana yang juga sedang menatapnya.


"Eeeee, … sayang …"


Kiana mengulurkan tangan, menyentuh perut Jovian hanya sekedar untuk membuat pria itu berhenti.


"Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati."


Jovian menyentuh kedua kaki Kiana, lalu membukanya lebar-lebar. Dan kembali mendekatkan miliknya yang sudah siap untuk bertempur.


Namun, lagi-lagi tangan Kiana menahannya. Membuat Jovian mengalihkan pandangan dari pusat tubuh Kiana, pada wajah cantik yang saat ini terlihat sedikit ketakutan.


"It's okay, … semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"


Dan setelah mendengar itu Kiana hanya mengangguk, dan membiarkan Jovian mendekatkan miliknya, sampai dapat terbenam perlahan.


"Ngghhhhhh!!" Leguhan Kiana terdengar pelan.


Membuat Jovian berhenti sebentar, untuk memberi ruang Kiana menenangkan diri. Mungkin saja saat ini perempuan itu merasa sedikit kurang nyaman, karena beberapa Minggu terakhir tidak pernah mendapatkan sentuhan seperti itu.


Jovian menyentuh perut Kiana, lalu kemudian memberikan sentuhan lembut.


"Mereka tahu Mama dan Papanya sedang saling merindukan. Jadi, … rileks saja! Jika kamu merasa semakin tegang, maka semuanya akan terasa semakin menakutkan." Jovian tersenyum.


Kiana mengangguk. Namun raut wajahnya masih terlihat sedikit gelisah, apalagi saat mengingat ada dua janin di dalam perutnya saat ini.


Jovian mulai bergerak maju-mundur, membuat mata Kiana segera terpejam, dengan kulit kening yang tampak sedikit mengkerut.


"It's okay sayang, … it's okay!" Jovian berupa menenangkan.


Dan setelah beberapa menit lamanya. Mereka sudah sama-sama tenggelam di dalam lautan asmara. Bahkan keduanya seperti mulai hilang kesadaran sampai melupakan sesuatu yang Dokter sarankan.


Jovian menghentak dengan sangat kencang, yang tentu saja membuat Kiana merintih dan mendesah kencang juga secara bergantian.


"Oh Kiana!"


Mata Jovian terpejam erat, saat merasakan perasaan yang begitu luar biasa indahnya. Lalu terbuka sebentar untuk menatap Kiana, sebelum akhirnya dia kembali merapatkan diri dan melakukan cumbuannya.


Suasana semakin mencekam, tatkala rintihan dan geraman terus terdengar bersahutan. Dua sejoli itu benar-benar tenggelam di dunia mereka sendiri, sampai tidak menyadari kini keduanya sedang berada dimana.


Gerakan semakin tak terkendali, eragan terus menerus terdengar. Hingga setelahnya suasana kamar Jovian menjadi benar-benar hening, tergantikan dengan suara deru nafas yang tersengal-sengal dari dua manusia yang siang hari ini basah karena keringat masing-masing yang terus bercucuran, setelah menyelesaikan kegiatan rutin yang sempat terjeda.


......................

__ADS_1


Ayo taburannya manaaaaaaaaa, ...


__ADS_2