Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Problem


__ADS_3

Tepat pukul 19.00 malam, di Indonesia bagian lain.


Setelah sehari menghabiskan waktu di usaha salon miliknya. Eva memutuskan untuk menyambangi kediaman Erik, yang entah sudah berapa Minggu dia tidak datang kesana.


Klek!!


Dia menutup pintu utama rumahnya seperti semula, lalu berjalan ke arah dimana ruang keluarga dan ruang makan berada. Suasana di rumah itu terlihat sepi seperti biasa, karena hanya dihuni kedua orang tuanya, ditemani beberapa orang asisten, sementara 2 adiknya berada di luar kota untuk menimba ilmu.


"Kebetulan sekali kamu datang!" Wanita paruh baya dengan penampilan modis tersenyum. Menyambut kedatangan Eva dengan suka cita.


Sementara pria yang duduk di sampingnya hanya menoleh, lalu kembali pada piring berisikan makan malamnya.


"Ya, sekalian dari salon. Terus mampir kesini, sepertinya sudah sangat lama aku tidak pulang dan memastikan keadaan kalian!" Eva mengulum senyum.


Perempuan itu menarik kursi meja makan tepat di hadapan ayahnya, meletakan tas, kemudian duduk merapatkan punggung pada sandaran kursi meja makan.


"Mau makan?" Erna segera bertanya.


Namun Eva menjawab tawaran ibunya dengan gelengan kepala.


"Cappucino dong!"


Eva meraih tasnya, membuka benda itu, membawa keluar sebuah benda pipih, untuk segera dia nyalakan dan menekan salah satu logo sosial media. Salah satu fitur yang ada di dalam handphone canggih keluaran terbaru.


"Bi? Bibi? Tolong cappucino panas untuk Eva yah!" Erna segera berteriak. Yang langsung terdengar sahutan dari arah belakang rumahnya.


Eva diam. Dengan ibu jari yang terus bergerak-gerak, mengusap layar ponsel ke arah atas, melihat beberapa foto dan video yang temannya unggah. Hingga dia tertegun, kala menatap akun Jovian membuat sebuah story. Segera Eva mengetuk foto profil pria itu, dengan senyuman samar yang dia perlihatkan.


Kedua sudut bibirnya terus tersenyum, saat melihat pemandangan sebuah area yang begitu asri, terdapat pepohonan rimbun disana, dengan latar belakang langit berwarna magenta yang terlihat sangat cantik. Namun, seketika senyuman memudar, ketika melihat caption yang pria itu tuliskan, lengkap dengan sebuah akun yang dia tag.


Sekian lama dia memilih menonaktifkan salah satu akun sosial media. Hingga akhirnya, beberapa hari ini Eva memilih untuk menghidupkan kembali, dan banyak kejutan yang tentu saja Eva dapatkan. Beberapa teman yang sudah menikah, memiliki momongan, bahkan video keseharian Axel yang sahabatnya unggah. Lalu malam ini dia melihat Jovian yang sedang berbulan madu, dengan seorang gadis belia yang dia ketahui sudah beralih status, dari seorang kekasih menjadi seorang istri.


"Secepat itukah? Lima tahun kita habiskan bersama-sama, dan hanya dua tahun saja kamu sudah dapat melupakan aku sepenuhnya? Padahal selama ini aku sedang menunggu tindakan seriusmu terhadap hubungan kita? Bukankah kamu mau memperbaikinya? Tapi kenapa malah jadi seperti ini? Kamu tahu betul, jika bukan karena Papa aku tidak pernah mau benar-benar berpisah." Sesuatu di dalam kalbunya terus berbicara.


Mengucapkan banyak hal dengan rasa sesal yang begitu besar.


"Ini coffenya, Non!"


Seorang asisten rumah meletakan cangkir di hadapan Eva yang terlihat sedang memandang layar handphone dengan tatapan kosong.


"Terimakasih, Bi." Erna menjawab, yang langsung dijawab anggukan sebelum akhirnya wanita itu pergi kembali ke arah belakang.


Erna dan Erik saling memandang satu sama lain, lalu beralih menatap Eva, dimana keadaan wanita berusia 30 tahun itu terlihat tidak baik-baik saja. Lingkaran hitam di bawah mata, menunjukan jika Eva tak lagi merawat dirinya, entah itu dari luar maupun dari kebiasaan hidup sehat yang selalu dia lakukan.


"Diana Eva?" Erik mencoba memanggil sang putri.


Tidak ada jawaban, Eva terus bungkam dengan mata yang terus tertuju ke arah layar ponselnya.


"Hey? Ada apa denganmu?" Erik sedikit meninggikan suaranya.


Eva tersentak, sampai segera tersadar dari lamunannya.


"Oh, … aku ba-baik. Tidak ada hal serius, jadi Papa tenang saja!" Eva tersenyum gugup.


Dia meletakan ponselnya, lalu meraih cangkir, meniup-niup cappucino panas di dalamnya, sampai kepulan asap terlihat keluar sedikit demi sedikit. Dan setelah merasa cukup hangat, Eva segera meneguknya dengan sangat hati-hati.


"Ada apa denganmu? Jika lelah ya jangan terus pergi ke salon setiap hari. Biarkan saja para pegawai yang mengerjakannya, kamu hanya duduk manis dan tinggal terima bersih." Kata Erik.


Eva tersenyum, mengangguk dan kembali meletakan cangkir cappucino miliknya.


"Kalau aku tidak datang, mereka suka malas-malasan. Kalau aku datang mereka suka rajin, … semua pekerjaan diambil, sampai debu-debu di setiap sudut saja tidak ada." Eva terlihat sedikit kesal.


Erik menatap wajah putrinya lekat-lekat, lalu beralih pada piring makan malamnya yang sudah kosong, menggesernya dan meraih segelas air minum yang sudah disediakan, kemudian meneguknya sampai habis.


"Oh iya, Papa sudah mendengar kabar itu!" Erik berujar.


Membuat Eva yang sedang fokus meniup-niup cappucino nya berhenti, mengarahkan pandangan ke arah ayahnya.


"Pah!" Erna meraih tangan suaminya, berusaha menghentikan obrolan yang mungkin saja akan membuat Eva kembali terpuruk.


Dia tahu betul keadaan Eva, yang masih belum benar-benar bisa terlepas dari bayang-bayang mantan suaminya, walau sudah 2 tahun berpisah. Dan apa yang Erik ketahui mungkin saja akan membuat rasa sedih Eva kembali timbul, padahal akhir-akhir ini perempuan itu sedang mencoba untuk berdamai dengan keadaan.


"Oh, itu … aku sudah tahu."

__ADS_1


Semua orang diam, memandang satu sama lain, dengan pikirannya sendiri-sendiri. Dan setelah beberapa menit diam, akhirnya Erik tertawa cukup kencang.


"Incaran dia itu pasti gadis-gadis dari anak orang kaya. Apa dia tidak malu? Malah Papa dengar sekarang dia menikahi seorang gadis belia, putri tunggal dari Danuarta." Cerca Erik.


Eva diam.


"Dia itu terlalu suka memaksakan diri! Makanya Papa tidak pernah suka dengan dia. Dan akhirnya kamu memilih jalan yang benar, … kamu pantas mendapatkan yang lebih dari Jovian, Eva."


"Papah!" Cicit Erna. "Bagaimana anaknya mau move on? Setiap waktu yang dibahas Jovian saja. Terserah dia mau bagaimana sekarang ini! Mau cari gadis kaya, miskin, tua ataupun muda, … bukan lagi urusan kita." Sambungnya dengan raut wajah masam.


Lalu Erna beralih kepada Eva yang terus diam.


"Jangan diambil hati. Papamu kan memang begitu!" Dia tersenyum kepada putrinya.


"Tidak, Ma. Sepertinya ini salah Eva, dulu selalu membawa masalah rumah tangga kesini, mengadu kesini. Awalnya Papa memang tidak suka, dan karena aku, kalian semakin tidak suka kepada Jovian. Percayalah, sesibuk apapun Jovian, dia tetap memenuhi kewajibannya sebagai suami."


Erik tertawa lagi. Bahkan sekarang lebih kencang, sampai punggungnya menempel pada sandaran kursi, dengan kepala mendongak ke belakang dan kedua mata yang terpejam.


"Benarkah? Tapi kamu selalu mengeluh. Anak itu selalu sibuk menjaga wanita tua, sementara istrinya dibiarkan begitu saja. Setidaknya itu yang Papa dengan dari mulutmu dulu."


Eva menghela nafas.


"Tadinya aku pikir datang kesini adalah jawaban kegundahan hati aku. Ternyata aku salah, datang kesini justru membuat hati aku semakin gelisah."


Wanita itu memasukan handphonenya kembali kedalam tas, bangkit, lalu pergi tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya terlebih dahulu.


"Eva?"


Erna hendak berdiri, berniat mengejar putrinya. Namun, tangan Erik mencekalnya dengan sangat kencang.


"Pah …"


"Biarkan saja. Biarkan dia sadar jika pria di dunia ini tidak hanya Jovian. Aneh saja kenapa harus selalu pria itu? Lagi pula ada dua adik Eva yang harus kamu pikirkan, tidak hanya dia!"


"Ya aku tahu. Tapi berhentilah membuat hatinya sakit! Dia sedang berusaha bangkit, … setidaknya dia sudah benar-benar terlepas dari Jovian, dan dia mendengarkan apa yang kamu sarankan. Jadi cukup! Sekarang waktunya kita merangkul dia, tanpa harus membahas apa yang pernah ada di masa lalunya." Tegas Erna.


Wajah wanita itu terlihat sangat memerah. Menandakan jika Erna sedang menahan amarah yang begitu besar terhadap suaminya, yang memang memiliki sifat yang sangat angkuh dan egois.


"Cih! Dia hanya seorang pesuruh, apa istimewanya sampai Eva harus menunggu waktu yang sangat lama agar mampu melupakan dia." Erik berdecak sebal.


***


Satu ayam utuh diletakkan diatas piring dengan bumbu betutu khas Bali. Tak lupa dengan sate lilit, dan makanan-makanan khas Bali lainnya yang Jovian minta kepada pekerja villa.


"Sudah semua, Pak. Ini kembaliannya, tadi Bapak ngasih uang kelebihan." Seorang pria menyodorkan beberapa lembar uang kepada Jovian setelah menata makanan di atas meja.


"Memangnya kalian tidak beli makan?"


"Tidak usah, Pak. Kami masak yang ada saja, … tadi sempat belanja, tapi tidak masak soalnya Non Kia bilang mau makan malam di luar."


"Ya, awalnya memang seperti itu! Tapi dia masih tertidur, dan tidak mungkin ke restoran pada hampir tengah malam bukan?"


Pria itu mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi. Jika ada apa-apa bisa telepon saja!"


"Baik." Jovian tersenyum.


"Terimakasih, Pak, uangnya saya terima."


Jovian menjawab dengan sebuah mengangguk, dan tidak lama setelah itu seorang pekerja Villa segera pergi.


Dia berbalik badan. Melangkahkan kaki menuju pintu kamarnya yang tertutup rapat.


Klek!


"Baby?" Panggil Jovian.


Dia menatap punggung terbuka Kiana, yang saat ini tampak berbaring menelungkup, memeluk bantal yang menjadi penopang kepala.


"Hey, bangunlah. Kenapa kau ini?" Jovian terkekeh sendiri.


Pria itu duduk di tepi ranjang, mengusap punggung Kiana dengan lembut, lalu kemudian mengusap pipi istrinya dan memberikan tepukan pelan, berusaha membuat perempuan itu agar segera terbangun. Namun, Kiana terlihat begitu kelelahan. Dia bahkan terus terlelap dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Rambut acak-acakan, juga wajah yang terlihat sangat pucat.

__ADS_1


Jovian bergerak semakin mendekatkan diri, kemudian membungkuk, untuk menatap Kiana dari jarak yang sangat dekat.


"Baby? Kamu membuat aku takut sekarang. Kamu tidur di atas seprei yang basah."


Kiana masih tak bergeming.


"Astaga Tuhan! Apa aku keterlaluan hari ini? Kenapa dia tidak bangun-bangun? Saking lelahnya dia tidak dapat mendengar suaraku!" Jovian menegakkan tubuhnya. Berdiam diri untuk beberapa waktu, menatap Kiana dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Dia menghirup nafas sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya pelajaran. Dan itu Jovian lakukan beberapa kali, berusaha menetralisir perasaan takut yang semakin menggunung.


"Baby?" Panggilnya sambil mengguncang tubuh Kiana. Awalnya dia melakukan dengan perlahan, namun setelah beberapa kali mencoba dan terus gagal, akhirnya Jovian mengguncang dengan kencang.


Dan berhasil.


Mata Kiana mulai mengerjap, dengan tubuhnya bergerak perlahan-lahan.


"Sayang, kita makan. Sudah jam sepuluh malam, dan sepertinya hari ini kita tidak bisa makan malam di luar, restorannya pasti sudah mulai tutup."


Kiana benar-benar menarik kesadarannya, membuka mata selebar mungkin, hingga dapat melihat wajah Jovian yang saat ini duduk di tepi ranjang.


"Kamu benar-benar membuat aku takut, kau tahu?" Cicit Jovian dengan suara rendahnya.


Kiana tersenyum samar. Segera mengubah posisi tidurnya yang menelungkup, menjadi duduk setengah berbaring.


"Jam berapa tadi kamu bilang?" Perempuan itu bertanya dengan suara paraunya.


"Jam sepuluh."


Jovian turun dari tepi ranjang, lalu bersimpuh di samping tempat tidur, menggenggam telapak tangan istrinya dengan sangat erat.


Pria itu tersenyum.


Kiana tampak berpikir.


"Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh!" Dia bergumam seraya menghitung dengan jarinya sendiri. "Selama itu aku tidur?" Dia beralih kepada Jovian, yang langsung pria itu jawab dengan anggukan pelan.


"Aku takut terjadi sesuatu kepadamu. Hari ini sepertinya kita terlalu bersemangat, sampai membuat kamu kelelahan seperti sekarang." Jovian terkekeh.


Kiana mengangguk.


"Kita satu Minggu ada disini. Dan baru satu hari ini kamu sudah membuat aku lupa caranya bangun dari tidur. Semua otot di tubuh aku rasanya menjadi lemas!" Perempuan itu mengeluh.


"Maafkan aku." Ucap Jovian sambil tersenyum.


"Aku lapar!"


"Aku sudah meminta Bayu untuk membeli makanan tadi. Semuanya sudah siap di meja makan!"


"Ya sudah, aku mandi dulu yah."


"Hemmmm, … jangan lama-lama, nanti kamu sakit!"


Jovian bangkit, dia mengulurkan tangannya, berniat untuk membantu sang istri berdiri.


Kiana merapatkan selimut yang dia sengaja lilitkan untuk menutupi seluruh tubuhnya yang polos, meraih tangan Jovian, kemudian turun dari atas tempat tidur dan berjalan mendekati pintu kamar mandi, dengan Jovian yang membantu membopongnya.


"Kamu tunggu di meja makan, oke?"


Jovian segera mengangguk, dia melepaskan Kiana begitu saja, membuat perempuan itu segera menutup pintu kamar mandinya.


"Baby? Jangan lama-lama yah!" Dia berteriak cukup kencang.


"Nggak, hanya mandi biasa." Teriak Kiana di dalam sana.


Dan setelah itu Jovian melangkah keluar, meninggalkan Kiana yang saat ini melakukan ritual mandinya dengan benar.


......................


...Jangan lupa!!...


Like, komen, vote sama tabur-tabur 😍😍


Cuyung kalian ♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2