
Setelah pertemuan mereka beberapa Minggu sebelumnya. Kini Jovian memutuskan untuk kembali bertemu dengan Hilmi, mencoba menggali informasi lebih dalam lagi, berharap dia dapat mengingat salah satu ciri-ciri yang akan memperkuat praduga terhadap sosok wanita yang sudah sangat dia curigai.
Tidak ada lagi tempat gelap dan sunyi. Kini mereka memutuskan untuk bertemu di salah satu restoran yang berada di Tengah-tengah kota Tangerang Selatan.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, dengan pikiran masing-masing. Tidak, lebih tepatnya Jovian menunggu Hilmi yang sedang berusaha mengingat salah satu ciri khusus dari seorang yang sempat memberinya tugas dan upah yang cukup besar.
"Waktu kejadian suasananya malam, jadi aku butuh waktu untuk mengingatnya lagi, Om!" Ujar Hilmi.
Jovian memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafas dengan kencang.
"Sudah dipastikan dia bukan orang biasa kan? Dia mampu memberikanmu uang sebanyak itu?" Mata Jovian memicing.
Kemudian dia melipat kedua tangannya di dada, dan merapatkan punggung pada sandaran kursi di belakangnya.
Hilmi bungkam, pandangannya meneliti sekitar, seolah sedang berusaha keras untuk mengingat sesuatu.
"Dari segi tampilan memang kelihatan bukan orang biasa juga, Om. Dia memakai jaket dengan logo merk ternama di dunia, kacamata juga. Tapi intinya bukan itu, kalau tidak salah …." Hilmi menjeda ucapannya.
Lalu dia mengarahkan pandangan pada Jovian, sehingga keduanya dapat saling menatap dengan ekspresi wajah masing-masing.
Jovian dengan raut wajah datar dan sorot mata tajam. Sementara Hilmi terlihat sangat terkejut.
Tampaknya pria gemulai itu mulai mengingat sesuatu.
"Saya tidak suka reaksi berlebihan. Langsung saja katakan apa yang kamu ingat!" Cicit Jovian.
Pria itu mulai kesal dan tidak sabar. Pasalnya hampir satu jam mereka duduk bersama untuk mengungkap satu perkara. Bahkan makanan dan minuman yang dipesan sudah mulai habis, tapi sampai saat ini Hilmi belum memberikan satu ciri-ciri yang akan membuat Jovian semakin mudah untuk mencari pelaku yang sempat meminta Hilmi menempelkan foto di papan pengumuman kampus.
"Aku inget Om!" Hilmi dengan penuh semangat dan keyakinan.
"Katakan." Tukas Jovian singkat.
"Waktu itu memang dia memakai topi, yang otomatis rambutnya di ikat. Nah, aku lihat ada tato kecil di belakang telinganya, … sebelah kiri!" Hilmi menyentuh bagian bawah belakang telinganya sendiri. "Huruf sambung, antara G atau J." Ungkap Hilmi lagi.
__ADS_1
Setelah mendengar itu Jovian berusaha mengingat. Apakah Eva memiliki tato itu di belakang telinganya. Namun, seingatnya ketika mereka menikah Jovian tidak pernah melihat jika Eva memiliki tato.
Lalu siapa wanita itu? Sosok yang mulai menimbulkan banyak teka-teki.
"Dia memintamu melakukan itu, dan datang dengan penyamaran. Jadi hal yang bisa kita simpulkan, dia sengaja melakukan ini, dan sudah lama mengincar Kiana bukan? Wanita itu berniat mempermalukan istriku, sampai dia menjadi bahan cibiran di kampus, kemudian memutuskan hubungan kita karena merasa malu memiliki hubungan dengan saya? Yang notabene nya adalah bodyguard pribadi Kiana? Dan tentu saja dengan perbedaan umur yang sangat jauh?"
"Bisa jadi, Om." Hilmi mengangguk-anggukan kepalanya. "Memangnya Om curiga sama siapa?" Dia penasaran.
Jovian menghela nafas.
"Entah benar atau tidak. Sebenarnya saya juga masih merasa ragu karena tidak banyak barang bukti yang saya miliki. Tapi dari segala masalah yang muncul, mungkin pelakunya adalah mantan istri saya!" Tatapan Jovian seketika menjadi kosong.
Ya, bagaimana bisa orang yang pernah dia cintai. Lalu tiba-tiba pergi tanpa sebuah alasan yang kuat, kemudian datang dengan membawa kekacauan sampai kini hubungan antara dirinya dan Kiana sudah benar-benar ada di ujung tanduk.
Hilmi diam menatap wajah tegas Jovian yang saat ini terlihat sendu.
"Orang galak juga bisa sedih, ya?" Batin Hilmi bicara.
"Untuk sekarang cukup. Tapi mungkin nanti saya akan meminta bantuanmu lagi untuk mencari tahu lebih dalam, saya yakin semua yang sudah terjadi itu saling bersangkutan." Kata Jovian yang langsung dijawab anggukan oleh Hilmi.
Jovian menggelengkan kepalanya.
"Dia sedang pergi jauh, mungkin mau membiasakan diri tanpa saya." Ujar Jovian.
"Pergi jauh? Setahu aku dia tidak ada teman jauh selain kami berlima."
"Dia pergi umroh. Mungkin karena sudah tidak ada orang yang dia percaya, makanya Kiana mengadukan kesalahan saya kepada Tuhannya." Dia terkekeh getir, dan tidak lama setelah itu Jovian mengusap sudut matanya yang mulai dialiri air. "Saya tidak bisa membiarkan dia pergi, tapi rasanya apa yang sudah saya lakukan memang keterlaluan. Saya tidak akan bersikap biasa saja jika Kiana bersikap berlebihan kepada temanmu, … mungkin begitu juga dengan Kiana, tapi apa yang sudah saya lakukan jelas telah melampaui batas normal, sampai benar-benar membuat Kiana marah dan memilih pergi jauh untuk menenangkan diri."
Dan untuk kali pertama Jovian berbicara banyak hal, kepada seseorang yang jelas tidak pernah ada dalam lingkungan hidupnya.
Rasa rindu, rasa bersalah, dan penyesalan beradu padu menjadi satu, sampai dia tidak dapat menahan diri untuk membendungnya, dan membiarkan semuanya tersimpan di dalam hati.
"Kiana memang keras, Om. Dia juga memiliki ego dan harga diri yang selalu dia pertahankan. Mungkin saat ini Kiana hanya sedang benar-benar ingin menyendiri, pergi jauh hanya untuk membuat hati dan pikirannya tenang."
__ADS_1
Jovian mengangguk.
"Aku tahu Om akan lebih paham bagaimana perlakuan aku dan ketiga teman perempuan Kiana. Tapi lihat? Setulus apa dia sama kita, karena Kiana tahu. Kita memang keterlaluan sudah memanfaatkan apa yang dia miliki, tapi Kiana juga tahu kita ini tulus, kita hanya memanfaatkan apa yang Kiana punya untuk mewujudkan impian kita, tapi tidak sedikitpun terbesit untuk menghianati Kiana, atau membuat dia benar-benar kecewa, dan kejadian terakhir benar-benar membuat kita berpikir, bahwa apa yang sudah kita lakukan sangat keterlaluan sampai bisa membuat Kiana menjauhkan diri dari kita." Hilmi mengingat beberapa momen.
Dan ucapan itu jelas menohok perasaan Jovian, yang saat ini larut dalam rasa sesal yang teramat dalam.
"Ya, saya tahu. Dan kali ini saya benar-benar sudah sangat keterlaluan!"
Hilmi mengangguk.
"Kalau begitu aku pulang, Om. Untuk case selanjutnya aku ingat-ingat lagi, … sekarang aku cuma bisa ingat jika orang yang meminta aku melakukan itu memiliki tato di bawah bagian belakang daun telinga."
"Terimakasih, seperti biasa kalau ada apa-apa mungkin Gibran akan menghubungimu lagi!"
Mendengar itu Hilmi tersenyum penuh arti.
"Tidak usah senyum-senyum. Gibran itu laki-laki, kamu juga sama. Bertaubatlah dan segera kembali ke jalan yang benar!"
Hilmi mendelik, kemudian dia bangkit.
"Kalau aku suka cewek. Mungkin aku udah rebutan Kiana sama Kevin, Om!"
"Astaga pergilah Hilmi! Kau akan benar-benar membuat kepala saya pecah!" Jovian mendesah frustasi, apalagi saat mendengar nama salah satu dari pria yang sempat mencintai istrinya dengan perasaan yang sangat besar, membuat dirinya semakin merasa tidak nyaman.
Jovian memejamkan matanya, lalu memijat pangkal hidung yang terasa sedikit ngilu.
"Terimakasih minum dan makanannya, Om. Kalau begitu mari!"
Hilmi segera beranjak, meninggalkan Jovian yang masih duduk di tengah-tengah keramaian restoran yang mereka datangi hari ini. Setelah Hilmi menghubunginya, dan memberikan kabar jika ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan.
Dan terbukti, satu petunjuk Jovian dapatkan. Yang mungkin saja bisa membantunya membongkar siapa dalang dari setiap permasalahan yang ada.
......................
__ADS_1
Ayo ramein lagi komennya. Yang punya vote boleh, Hadian juga boleh😘😘
Cuyung kalian banyak-banyak ♥️