Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Broken hearted.


__ADS_3

"Papi, ini Kiana!" Jovian menatap sang ayahanda, kemudian beralih kepada gadis mungil yang terus menerus berdiri di sampingnya . "Kiana, ini Papi." Sambung Jovian lagi.


Kiana memperlihatkan senyuman yang paling manis, maju beberapa langkah, meraih tangan pria tua itu, lalu menciumnya seperti yang dia lakukan kepada ibu dari calon suaminya.


Tubuh tinggi besar, hidung mancung, rambut berwarna putih, dengan mata berwarna biru.


"Disini Mamii akrab disapa Bu Leni. Sementara Papi akrab disapa Bapak Jonathan." Jovian menjelaskan, yang langsung saja Kiana jawab dengan anggukan pelan dan ekspresi wajah malu-malu.


Bahkan kedua pipinya terlihat terus memerah, membuat Jonathan dan Leni saling menatap, lalu tersenyum.


"Ayo duduk. Mau langsung makan atau minum teh dulu?" Tawar Leni.


"Sebaiknya minum teh dulu, Mam. Ada hal yang sangat penting yang harus Jovian sampaikan."


Leni mengangguk, kusian beranjak pergi ke arah dapur.


Pria itu menarik satu kursi, dan membiarkan Kiana duduk di sana. Sementara Jovian beralih ke arah kursi lain yang terletak tepat di samping Kiana, berhadapan dengan sang ayah yang saat ini tengah terus menatapnya.


"Ada sesuatu? Dari tadi Mami dan Papi tersenyum, tapi sepertinya ada hal lain?" Jovian memicingkan mata ke arah Jonathan, ayahnya.


Jonathan terdiam.


"Pih?"


"Kita tunggu Mamimu kembali, kita bicarakan dengan keadaan tenang sambil minum teh."


Mendengar itu Kiana dan Jovian kembali saling memandang. Dan mulai mengerti kekhawatiran masing-masing. Tidak, lebih tepatnya Jovian yang sangat mengerti raut ketakutan yang Kiana perlihatkan.


Tidak lama setelah itu. Leni kembali datang, membawa sebuah teko yang terbuat dari kaca, sampai memperlihatkan air berwarna kemerahan di dalamnya.


Dia meletakan itu di meja, membawa beberapa cangkir, lalu mengisinya dan menyimpan masing-masing satu di hadapan masing-masing.


Leni segera duduk.


"Emmm, … Kiana, kalo Mami boleh tau, berapa usia kamu sekarang? Sepertinya terlihat jauh dari Jovian?" Leni tampak tersenyum.


Kiana membalas senyuman wanita di hadapannya.


"Tahun ini 21 tahun. Mungkin 6 bulan lagi!" Jawab Kiana, dia mencoba untuk tenang meski sudah jelas dirinya merasakan gugup yang teramat sangat.


"21 tahun? Ah kamu bukan muda lagi, tapi baru saja dewasa." Jonathan terkekeh.

__ADS_1


"Kamu tahu usia Jovian berapa?" Leni kembali bertanya. Dan keadaan tiba-tiba saya terasa sangat serius.


Kiana mengangguk.


"Sudah tahu status Jovian juga?"


Lagi-lagi Kiana kembali menjawab dengan anggukan, kepalanya tiba-tiba terasa kosong, tatapannya tertuju kepada Leni, dengan kedua tangan yang menggenggam erat cangkir berisikan teh hangatnya.


"Jovian adalah Duda cerai hidup. Apa kamu yakin mau menerima Jovian?"


"Menerima? Maksudnya bagaimana?" Jonathan masih terlihat bingung.


Jovian berdehem. Pria itu membetulkan posisi duduknya, kemudian menatap sang ayah lekat-lekat.


"Jovian pulang bersama Kiana, bukan semata-mata Jovian membawanya saja. Ada sesuatu yang mau Jo katakan, … bahwa Kiana calon istri Jovian Pih! Dan mungkin persiapan sudah dimulai. Akan ada dua tahap rangkaian acara. Pertama akad dulu sementara Kiana menyelesaikan kuliahnya, dan setelah wisuda baru resepsi akan digelar."


Raut wajah Jonathan seketika berubah. Menatap Jovian dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan oleh kata-kata.


"Kenapa? Aku yakin kalian akan tetap menyetujui soal ini. Bukankah dari dulu kalian tidak mau ikut campur hal yang lebih pribadi lagi? Termasuk urusan hati?" Jovian menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Tapi …" Leni baru saja membuka mulut, namun Jovian segera bersuara.


Dan tentu saja Jonathan menganggukan kepalanya.


"Ini ada hubungannya dengan apa yang mau kamu sampaikan. Sebentar kami mau langsung memberi tahu, tapi akhir-akhir ini kamu sangat susah dihubungi, dan setelah tadi pagi kamu memberi kabar, mungkin memang ini waktunya kita berbicara." Kata Leni.


Keadaan hening untuk beberapa saat. Semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing, terutama Kiana yang memang sudah merasakan kegelisahan di dalam hatinya.


"Mami tidak akan melarangmu melakukan apapun selama apa yang kamu jalani itu baik. Termasuk ketika mencari pasangan, Mami tidak akan menuntut harus mencari yang seperti apa. Hanya saja Mami mohon, selesaikan dulu masa lalu kalian."


Deg!!


Segumpal daging yang terkurung di dalam tulang rusuk Kiana terasa di remat keras, sampai menimbulkan rasa sesak yang teramat sangat.


"Maksudnya masa lalu siapa?" Jovian memekik pelan.


"Kamu dan Eva." Jelas Leni.


"Eva?"


Leni mengangguk, lalu dia menoleh Eva arah lain sudut rumahnya.

__ADS_1


"Eva! Kemarilah, sekarang Jovian ada disini. Bukankah mau ingin meminta maaf? Maka bicarakan ini baik-baik dan selesaikan dengan segera." Leni memanggil


Dan pintu dari salah satu kamar terbuka, kemudian munculah wanita berambut panjang berwarna coklat emas, dengan postur tubuh tinggi, dan pakaian santai namun terlihat sangat elegan.


Kiana menatap Jovian, sementara pria itu mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik itu berada. Eva menatap Jovian dengan tatapan sendu. Menyiratkan sebuah perasaan yang begitu besar.


"Eva datang tiga hari yang lalu. Dia datang karena merasa bingung. Dia takut untuk menemuimu, sudah beberapa kali datang ke apartemen, tapi kamu selalu tidak ada disana."


Wajah Eva memerah, dan tangisan pecah seketika, berlari kemudian memeluk Jovian.


Kiana mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari pemandangan yang sangat menyakitkan itu.


"Mami tidak bermaksud menyakiti hati kamu, Kiana. Tapi kenyataannya memang seperti ini."


Kiana hanya tersenyum.


Sementara Jovian mematung ketika Eva memeluknya dengan sangat erat, dengan tangisan kencang tersedu-sedu.


Jonathan menatap keadaan Jovian dan dua perempuan berbeda usia dengan perasaan rumit.


Dia tahu benar bagaimana perasaan Jovian kepada mantan istrinya. Pun dengan Eva yang tiba-tiba datang, merasa sudah sangat bersalah meninggalkan cinta Jovian yang waktu itu tentu saja sangat besar. Sampai dia mendatanginya, dan meminta bantuan untuk berbicara kepada Jovian, agar pria itu ingin Eva ajak bicara, tanpa saling menghindar atau dengan amarah yang masih tersisa.


"Maafkan aku, … sungguh maafkan aku! Aku sadar sekarang. 2 tahun ini aku berusaha melupakan kamu, Jo. Tapi nyatanya aku tidak bisa, dan bodohnya aku justru meninggalkan kamu hanya kamu terus bekerja tanpa mempunyai waktu untukku." Ucap Eca di sela tangisannya. "Aku datang ke apartemen kamu sudah hampir satu bulan ini, tapi aku tidak menemukanmu di sana, dan aku kehilangan cara, … dan akhirnya aku memutuskan untuk kesini, berbicara dengan Papi dan Mami." Ucapnya lagi.


Jovian terus terdiam. Tidak menerima, tapi tidak menolak juga.


"Hey? Papi mempunyai kebun sayuran yang sangat luas. Mau lihat? Orang-orang di luar sedang panen wortel!" Jonathan menatap Kiana, lalu tersenyum.


Tentu saja pria tua itu mengerti perasaan Kiana.


"Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama Papi, hanya biarkan mereka berbicara dan menyelesaikan masalah mereka masing-masing agar tidak terus merasa saling terikat." Dia berbisik, dan Kiana benar-benar dapat mendengarnya dengan jelas.


Jonathan bangkit, dia berjalan sedikit tertatih, meraih tangan Kiana dan membawa gadis itu ke arah pintu belakang yang terbuka, dimana sebuah perkebunan luas terlihat dari sana.


Leni menatap Eva yang terus memeluk Jovian, beralih kepada Jovian yang terlihat linglung dengan segala yang terjadi begitu cepat, kemudian Leni bangkit, dan memutuskan untuk mendekati gadis yang mungkin saat ini hatinya tidak baik-baik saja.


"Kenapa malah jadi seperti ini! Aku kira Jovian pulang karena dia sudah tau Eva ada disini!" Batin Leni berbicara. "Lalu bagaimana dengan persiapan yang sudah di mulai, sementara dia terlihat kembali goyah seperti itu!" Leni terus merutuki kejadian yang terjadi hari ini.


......................


...Jangan lupa like, komen, masukin rak buku, sama hadiahhhhhhhhnya :)...

__ADS_1


__ADS_2