
Satu kaos rumahan dengan ukuran besar Jovian simpan di atas tempat tidur, kemudian dia segera kembali ke arah ruang tengah, meninggalkan seseorang yang sudah melakukan ritual mandinya. Ketika suara gemericik air menjadi sebuah pertanda.
Cukup lama Kiana berada di dalam sana. Dan keluar setelah selesai, merasa semua keringat yang menempel di tubuhnya benar-benar bersih. Dia berjalan mendekati tempat tidur, dimana sebuah kain berwarna hitam tergeletak di sana.
Tanpa merasa ragu Kiana segera memakainya, meski tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali karena gadis itu lupa membawa pakaian ganti, dan parahnya di tertidur sampai jam sebelas malam.
"Sayang? Kamu punya hair dryer?" Kiana menyembulkan kepada di ambang pintu kamar.
"Aku tidak punya." Kata Jovian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Yah! Aku tidak bisa keringin rambut aku dong."
"Sekarang pakai handuk dulu yah! Besok kita beli kebutuhanmu untuk disimpan disini."
Kiana menghela nafas, apalagi saat dia melihat Jovian yang sangat acuh, dan hanya fokus pada game yang sedang dia mainkan.
"Kamu mau makan sekarang? Tadi aku pesankan nasi goreng, … dan baru saja datang. Sebaiknya cepat dimakan sebelum dingin." Titah Jovian.
"Nanti dulu lah, aku keringin rambut dulu, soalnya kalau tidak kering suka pusing." Jelas Kiana kepada suaminya.
Mereka sama-sama diam.
"Aku mau nyalain tv di kamar boleh? Mau nonton?"
"Ya, nyalakan saja."
"Baiklah." Kiana mundur, berbalik badan, lalu membawa remot televisi yang berada di atas meja, kemudian dia duduk diatas sofa, sambil mengusak rambutnya yang basah agar segera kering.
Sebuah film mulai di putar, dan dengan serius Kiana memperhatikannya dengan seksama. Hingga setelah beberapa saat, Jovian masuk. Membawa bungkusan dimana terdapat dua tempat di dalamnya, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat.
"Makanlah. Atau kalau tidak tidurmu tidak akan nyenyak." Kata Jovian sembari metelatan wadah makanan itu di atas meja. Terletak tepat di samping sofa besar kamarnya.
Kiana mengangguk, namun setelah itu tatapannya kembali tertuju kepada layar televisi, dengan raut wajah merona dan bibir yang terus menahan senyum.
"Film apa yang kamu lihat?" Jovian memicingkan mata.
Menatap gadis yang saat ini memakai kaosnya, yang sekilas terlihat seperti gaun, karena dapat menutupi paha mulus istrinya itu. Namun sesuatu di area dada jelas terlihat lebih menonjol, dan mampu membuat dada Jovian berdebar-debar.
"Nggg, … yang kemarin aku bilang!" Ucap Kiana sedikit ragu. Membuat pria itu mengalihkan tatapan darinya ke arah televisi.
Jovian memperhatikan setiap scane di dalamnya, dan barulah dia mengerti kenapa Kiana bisa bersikap seperti beberapa hari lalu.
"Handuknya sudah?" Tanya Jovian saat mendapati Kiana yang sudah melihat rambutnya tersisir rapih, namun dia hanya menggeletakkan handuk bekas pakaiannya begitu saja.
__ADS_1
"Sudah."
"Sini, aku bantu untuk menyimpannya."
Jovian menadahkan tangan, dan Kiana segera memberikannya kepada Jovian. Yang langsung pria itu simpan kembali ke dalam kamar mandi sana.
"Astaga, ayolah makan." Cicit pria itu setelah kembali ke dalam kamar. Dan masih mendapati wadah makanan yang masih tertutup dengan rapat.
Kiana menoleh sekilas, dia tersenyum dan hanya menganggukan kepalanya lagi dan lagi.
"Sayang kemarilah, temani aku nonton." Kiana menepuk sofa besar di kamarnya.
Jovian tidak langsung menjawab, tapi justru membuka gorden dan tirai tipis kamarnya.
"Mau lihat pemandangan yang indah?" Tanya Jovian kepada Kiana.
"Boleh."
Lalu Jovian berjalan mendekati saklar lampu, menekannya sampai ruangan itu menjadi gelap. Cahaya televisi jelas membuat ruangan itu menjadi temaram, sementara pemandangan di balik kaca sungguh terlihat begitu mempesona.
Gedung-gedung tinggi dengan lampu warna-warni yang menyala, lampu-lampu kecil yang terlihat begitu indah, dan itu mampu membuat Kiana diam untuk beberapa saat.
"Aku tidak pernah menutup gordennya kalau hendak tidur, pemandangan seperti ini membuat aku sedikit tenang.
"Kamu nyuruh aku makan, tapi lampunya malah dimatikan?" Kiana segera memeluk Jovian, dengan kekehan pelan yang terdengar.
"Memangnya mau makan sekarang?"
"Belum."
"Ya sudah, nyalakan lagi saja nanti."
Setelah itu Jovian berbaring diatas sofa yang sama, begitupun dengan Kiana, pandangannya menatap lurus kedepan. Tiba-tiba saja keadaan menjadi sangat hening, hanya terdengar volume televisi yang sedikit tinggi.
Kiana menoleh ke arah belakang, mencoba memeriksakan keadaan Jovian, karena sedari tadi pria itu hanya diam.
Tatapan mata elang Jovian yang sedang tertuju kepada televisi seketika mengarah kepada dirinya. Dengan raut wajah datar dan dingin, namun sangat menggoda. Karena tidak mengurangi kadar ketampanan dari suaminya.
"Aku kira kamu tidur?" Dia tersenyum.
"Belum, aku sedang menikmati film kesukaanmu." Sahut Jovian.
Kiana yang berbaring membelakangi suaminya, segera berbalik, dan membuat mereka saling berhadapan satu sama lain. Dan sesuatu tanpa penghalang jelas menyentuh Jovian, sampai tangan pria itu bergerak dan memastikan sesuatu.
__ADS_1
Tangannya mengusap kulit paha Kiana, terus naik keatas, dan menemukan sesuatu tanpa celana yang biasanya selalu menjadi penghalang utama.
Kiana diam membiarkan Jovian melakukannya. Dengan tatapan keduanya yang tidak teralihkan sama sekali.
"Kamu suka aku tidur dalam keadaan seperti ini?"
Jovian tersenyum samar.
"Atau mungkin kamu suka aku memakai dress tidur yang mempunyai bahan tipis seperti lingerie. Katakan saja nanti aku akan melakukan apapun yang kamu sukai." Gadis cantik itu terlihat manja.
Kiana menyentuh tulang rahang Jovian, mengusapnya lembut dan bermain-main disana.
"Aku suka bagaimanapun keadaanmu, Baby!" Jovian berbisik. Sentuhan tangannya semakin tak tentu arah.
Kedua tangan Kiana semakin bergerak ke arah belakang, dan memeluk pundak suaminya sangat erat, sampai dada mereka saling menempel.
Mata Jovian bergerak-gerak, meneliti wajah Kiana. Yang menurutnya terlihat semakin cantik saja.
Kiana memejamkan mata, saat tangan Jovian kini mengusap-usap kulit punggung. Sementara pria itu menikmati ekspresi menggemaskan yang istrinya perlihatkan.
Cupp!!
Jovian mencium bibir Kiana sekilas. Membuat Kiana kembali membuka matanya.
"Cantik sekali." Jovian berbisik tepat di dekat wajah Kiana, sampai gadis itu mampu merasakan hembusan nafasnya.
"Kamu juga sangat tampan."
Jovian tersenyum, lalu dia menghembuskan nafasnya. Berusaha menekan perasaan yang mulai memburu.
"Sayang?" Panggil Kiana dengan suara pelan.
"Yes, Baby." Suaranya semakin parau, tatapan matanya juga terlihat sudah berkabut. Menatap ke adaan Kiana saat ini sudah cukup membuat sesuatu di bawah ana berdiri dengan tegap.
"Apa kita akan melakukannya malam ini?" Tanya Kiana.
Tampaknya Kiana memang masih penasaran dengan hal itu, namun dia sedikit ragu karena sebuah rasa yang dia ketahui.
Jovian tidak menjawab, dia hanya menatap Kiana sambil mengulum senyum.
......................
Mau up lagi nggak?
__ADS_1
Like sama komennya mana? ayo timpukin mawar sama kopi lagi 🤪🤪