Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Bayi Rubah.


__ADS_3

Jovian meletakan satu cup minuman, juga satu bungkus rokok beserta korek miliknya di atas meja cafetaria yang terletak di luar bagunan itu. Dia duduk, pandangannya tertuju ke arah sebuah bangunan besar, seolah mencari keberadaan Kiana disana yang saat ini memang berada di dalam sana untuk menimba ilmu.


"Kekonyolan mulai kamu lakukan satu-persatu, Jovian!" Ucapnya kepada diri sendiri, lalu dia tersenyum dan menggelengkan kepala, saat mulai menyadari banyak hal yang terjadi, dan itu tidak pernah dia duga sebelumnya.


Siang hari ini contohnya, Jovian bahkan memilih untuk segera kembali, agar dapat menemui Kiana. Dan mempunyai waktu yang sama dengan gadis pujaan, di sela kesibukan yang mulai terasa karena pria itu harus mulai menyiapkan segala sesuatunya.


Satu batang rokok Jovian keluarkan, meletakkannya di antara kedua celah bibir, menghidupkan korek dan menghisapnya dalam-dalam, sebelum akhirnya dia meniupkan asapnya di udara.


Dia mengangkat tangan sebelah kirinya, menatap arloji yang saat ini melingkar di pergelangan tangan. Jarum jam sudah menunjukan pukul 14.00 siang, namun Kiana dan murid-murid lainnya belum memperlihatkan tanda-tanda jika pelajaran sudah berakhir, padahal jam pulang kuliah sudah tiba.


Dengan satu batang rokok, dan satu cup minuman dingin Jovian terus menunggu Kiana. Entah kenapa hatinya meminta terus untuk segera kembali menemui Kiana, walaupun tadi pagi mereka sudah bertemu dan melakukan banyak hal bersama-sama.


Tanpa merasa canggung Jovian datang ke rumah Kiana, meminta Yanto untuk segera ikut dengannya, mengantar hingga gerbang masuk, lalu pria yang di ketahui sebagai supir pribadi keluarga Kiana itu segera membawa mobil Jovian kembali, meninggalkan dirinya sendiri disana.


Menunggu sang kekasih hati dengan perasaan yang tidak menentu. Sesuatu di dalam dirinya bahkan terus berdebar-debar, bahkan hanya saat mengingat Kiana saja.


Tiga batang rokok sudah Jovian habiskan, begitupun dengan satu cup minuman miliknya. Dan setelah itu terdengarlah suara bell kampus, bersahutan dengan suara riuhnya para siswa yang berhamburan ke arah luar.


Termasuk Kiana, gadis itu tampak berjalan kencang ke arah dimana mobilnya terparkir, sambil memeluk beberapa buku yang gadis itu memang bawa dari rumahnya.


"Hey!" Jovian meraih korek juga bungkusan rokok miliknya, memasukan cup bekas minuman ke dalam sebuah tong sampah, lalu berlari mendekati Kiana.


Sementara gadis itu mematung, cukup terkejut dengan keberadaan Jovian disana.


Keadaan pria itu jelas berbeda. Kaos hitam lengan pendek yang terlihat begitu pas di tubuh berototnya, dipadukan dengan celana chinos berwarna senada, membuat ketampanan Jovian bertambah berkali-kali lipat. Meskipun kali ini dia tidak memakai setelah lengkapnya, yang selalu membuat Jovian terlihat gagah.


Rambut sedikit memanjang yang dibiarkan tidak terlalu rapih, juga kacamata hitamnya yang selalu dia kenakan, membuat siapapun tidak akan menyangka jika pria itu kini sudah berusia 37 tahun.


"Om kesini? Sama siapa? Dimana mobil Om?" Kiana mencerca dengan beberapa pertanyaan sekaligus, pandangannya mengedar, menatap ke segala arah, untuk mencari keberadaan mobil hitam yang selalu Jovian bawa kemanapun pria itu akan pergi.


"Sudah dibawa Pak Yanto. Mana kunci mobilmu!" Jovian menadahkan telapak tangannya ke arah Kiana ketika jarak mereka sudah saling berdekatan.


"Pak Yanto?" Kiana meracau. "Kok mobil Om bisa sama Pak Yanto!" Katanya lagi, dengan pandangan yang terus tertuju pada wajah Jovian.


Pria itu tidak menjawab, dia hanya meraih kunci mobil milik Kiana sambil tersenyum, menekan salah satu tombol, lalu meraih pergelangan tangan Kiana untuk digiring sampai masuk dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang.


Setelah itu Jovian menutup pintu mobil di samping Kiana, berjalan memutari mobil, kemudian menyusul masuk ke dalam mobil sana. Kiana menoleh, kembali menatap Jovian tanpa merasa puas.


Calon suaminya benar-benar terlihat mempesona, dengan kaos hitam ketat yang dia pakaian.


"Papa suruh Om jemput aku?" Tanya Kiana.


"Tidak ada. Saya yang mau sendiri untuk datang kesini!"

__ADS_1


Jovian mulai memutar mobilnya, menatap spion bergantian kala kendaraan itu melaju mundur dengan sangat perlahan-lahan.


"Om mau ajak aku pergi?"


Jovian hanya mengangguk, dia benar-benar sedang memfokuskan diri, memarkirkan mobilnya hingga mereka dapat melaju dengan aman di jalanan utama yang selalu terlihat padat, apalagi ketika jam-jam seperti sekarang, kendaraan para siswa juga memenuhi area sana.


"Ya, ke toko pakaian. Mencari bsju yang cocok untuk kita. Awalnya saya ingin menjahit saja agar sesuai dengan keinginan masing-masing, … tapi waktu tidak memungkinkan." Jelas pria itu kepada calon istrinya.


Kiana terpaku, dan setelah beberapa detik diam mengagumi Jovian, akhirnya dia menganggukan kepala juga.


Keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara musik yang mengalun dengan volume sedang. Sementara dua manusia di dalamnya hanya diam, Jovian dengan konsentrasinya, dan Kiana yang tak henti menatap ke arah Jovian.


"Malam ini kami akan ke rumahmu." Dia memulai pembicaraan lagi setelah beberapa menit terdiam.


"Oh ya?" Kiana memperlihatkan keterkejutannya.


Jovian mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dengan kedua telapak tangan yang terus mencengkram setir mobil, agar kendaraan roda empat itu tetap melaju di jalur yang seharusnya.


"Kamu tidak tahu?"


Kiana menggelengkan kepala.


"Tidak ada yang memberi kabar kalau Om dan keluarga akan datang ke rumah." Kiana berujar.


"Benarkah? Saya kira Pak Danu atau Bu Herlin sudah memberitahukan kamu. Tadinya pertemuannya mau besok saja, tapi tadi Bu Herlin meminta agar segera dipercepat, … jadi kami memutuskan untuk datang malam ini!"


"Langsung lamaran?" Cicit Kiana.


Namun Jovian langsung menggelengkan kepalanya.


"Hanya bertemu, Baby!"


Kiana semakin mematung. Ekspresi wajahnya juga semakin berubah, bahkan kali ini terlihat memerah hanya karena mendengar kata-kata terakhir yang pria itu ucapkan.


Perlahan kecepatan mobil menurun, dan benar-benar berhenti di salah satu persimpangan jalan, ketika lampu lalu lintas berubah menjadi warna kuning, kemudian merah.


Dia merapatkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian memalingkan wajah ke arah samping, dimana Kiana sudah mengarahkan pandangannya ke depan.


"Hey? Kamu baik-baik saja?" Jovian terkekeh.


Tangan kirinya kemudian bergerak, dan dia letakan tepat di atas punggung tangan sang kekasih hati, lalu menggenggamnya.


"Apa tidak boleh? Saya memanggilmu dengan sebutan tadi? Kamu keberatan?"

__ADS_1


Kiana langsung menggelengkan kepala. Tentu saja dia menyukai panggilan istimewa itu, hanya saja pria itu selalu melakukan segala hal dengan tiba-tiba, sampai membuat dirinya selalu terkejut, dan semakin berdebar.


"Om kebiasaan! Suka bikin aku jantungan."


"Saya tidak bermaksud. Sepertinya panggilan itu cocok untukmu." Mereka saling menatap satu sama lain. "Bayi rubah yang sangat cantik, dan aku sangat menyukainya!" Sambung Jovian.


Kiana merasakan dadanya sesak, seperti di penuhi ribuan kupu-kupu berterbangan.


"Dan aku masih terbiasa dengan panggilan seperti kita biasanya." Tukas Kiana dengan suara bergetar.


Jovian mengangguk.


"Tidak apa jika masih belum terbiasa, tidak ada salahnya kamu memanggil saya dengan sebutan Om. Mungkin itu salah satu panggilan sayang kamu kepada saya." Dia terkekeh.


"Tapi sekalian aku pikirin panggilan apa yang cocok jika kita sudah menikah nanti."


Senyuman di bibir Jovian semakin merekah.


"Atau mau panggil Papa juga tidak apa-apa."


"Kok Papa." Kiana menggigit bibirnya cukup kencang.


Gadis itu benar-benar menahan rasa gemas kepada pria yang saat ini duduk di samping kanannya.


"Sekalian ngajarin anak kita nantinya!" Jovian memperjelas.


Kedua pipi Kiana semakin merona. Dan dengan secepat kilat dia mencubit pinggang Jovian cukup kencang, sehingga membuat Jovian mengaduh kesakitan.


"Lampunya sudah hijau, … lepas atau saya tidak bisa fokus! Berbahaya Kiana."


"Habisnya Om bikin aku gemes melulu tahu nggak sih!"


Dia kembali duduk dengan benar, menatap lurus kedepan, dengan perasaan yang semakin menggila. Seperti ada sesuatu yang ingin dia lakukan, namun sekuat tenaga Kiana tahan.


Apa yang akan Jovian pikirkan, jika dirinya terus berbuat lebih liar, padahal jelas-jelas pria itu yang sudah memiliki pengalaman lebih banyak banyak.


Dan Kiana pun benar-benar diam, duduk tenang. Sementara Jovian kembali memfokuskan diri pada jalan raya di hadapannya.


"Hem, … setidaknya biarkan ragamu tenang! Walaupun sesungguhnya batinmu terus menjerit kegirangan." Kiana berbicara dalam hati.


......................


...Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya lemparin kesini ya bestot !!...

__ADS_1




__ADS_2