
"Saya menyesal kejadian ini harus menimpa kita. Andai saja waktu itu saya tidak berbicara sembarangan kepada Kiana, dan sedikit menurunkan ego. Mungkin acaranya sudah selesai dilaksanakan tanpa harus terlunta-lunta tanpa kepastian seperti ini! Sebagai orang tua Kiana, saya minta maaf sebesar-besarnya, jauh-jauh datang dari Pangalengan kesini, tapi semuanya terasa sia-sia karena entah kapan Kiana akan kembali kesini."
Pandangan Danu lurus ke depan, menatap rimbunnya pepohonan yang tumbuh subur di halaman belakang rumahnya, kemudian menoleh, menatap Jonathan yang duduk tepat di kursi samping.
Dua pria paruh baya itu saling menatap dalam diam dalam waktu yang tidak sebentar. Sampai akhirnya Jonathan terdengar menghela nafas, memperlihatkan senyuman tipisnya, seperti sedang membuang rasa kecewa dan takut jauh-jauh. Bagaimana tidak, menantu kesayangannya kini sedang pergi jauh, seolah sedang ingin menghukum semua orang.
"Pak Danu? Saya juga mau minta maaf. Sepertinya tidak bisa terlalu lama disini! Ada kebun teh yang harus saya urus, … mungkin untuk kebun sayuran Maminya Jovian masih agak santai karena belum waktunya panen. Tapi tidak dengan kebun teh, para pekerja sudah membutuhkan saya, memang seharusnya ini semua pekerjaan Jovian karena saya sudah memberikan tanggung jawab ini kepadanya. Tapi keadaan Jovian saat ini memang tidak memungkinkan." Jonathan berujar, seraya memperlihatkan senyuman tipis menyejukkan.
"Tidak bisa tinggal disini sampai kita benar-benar bisa memutuskan bagaimana kelanjutan acaranya? Ya meskipun sudah di pastikan acara resepsi akan benar-benar diundur, atau bahkan di batalkan. Karena Kiana sudah mengutarakan niatnya kepada Jovian." Ujar Danu.
Dia mengingat setiap kata yang Jovian katakan, setelah pria itu dapat menemui istrinya.
"Kita lihat nanti saja, Pak. Sekarang kita beri mereka berdua waktu, … kita juga harus mengerti perasaan Kiana. Mungkin yang tidak mengalami akan berbicara bahwa sikap Kiana berlebihan. Tapi sesungguhnya menjadi Kiana pun sangatlah berat."
Sekali lagi Jonathan berusaha mengerti perasaan menantunya. Dia memang kecewa karena acara yang dia tunggu-tunggu selama ini akan batal begitu saja. Tapi harapan Jonathan beserta Leni saat ini bukanlah itu. Jumlah kerugian sudah pasti tidak sedikit, tapi uang bisa dicari. Yang mengkhawatirkan saat ini adalah hubungan antara Jovian dan Kiana yang tidak dapat diselamatkan.
Danu merapatkan punggungnya pada sandaran kursi. Menengadahkan pandangan, menatap langit sore hari yang begitu indah. Tampak serpihan awan-awan kecil yang bergerak cepat karena tertiup angin.
Rasa bersalahnya semakin besar, begitu juga dengan penyesalannya kali ini. Bagaimana tidak, dia benar-benar menggoreskan luka batin pada putrinya, hanya karena tidak ingin dicap tidak becus mendidik anak. Namun, kini dia mengerti! Bagaimana pun Kiana, apapun kata-kata orang di luar sana, tidak akan pernah menghapus fakta jika Kiana adalah putri kandungnya. Bagus ataupun buruk perilaku perempuan itu, dia tetaplah putrinya yang tidak bisa diubah dengan cara apapun.
"Jadi Pak Jonathan benar-benar mau pulang?" Danu memastikan.
"Ya, mungkin nanti kembali setelah Kiana pulang. Atau Bapak dan Bu Herlin saja yang kesana, selama anak-anak kita menikah Pak Danu belum menyambangi kediaman kami di Pangalengan. Disana suasananya sejuk, Bapak dan Bu Herlin pasti betah." Jonathan tersenyum.
Danu menjawab ucapan dari besannya dengan anggukan.
"Mungkin acara ini tidak benar-benar digagalkan begitu saja. Acaranya akan tetap berjalan, mungkin hanya beralih acara saja! Dari resepsi pernikahan jadi acara berbagi, … makan bersama anak Yatim
saja." Jelas Danu.
"Itu lebih bagus, Pak. Lalu bagaimana dengan undangannya? Atau saudara-saudara Pak Danu?"
"Saya dan Mama nya Kiana yang akan mengabarinya nanti. Pak Jonathan tenang saja!"
Jonathan mengulum senyum.
"Acara bisa kita adakan lain waktu jika keadaan Kiana sudah membaik. Uang juga bisa di cari, sekarang kita hanya harus sabar menunggu Kiana menenangkan diri."
"Saya menyesal sudah menjadi Papa yang buruk. Padahal dulu kami sangat dekat, kemudian renggang, lalu setelah dengan Jovian kami kembali dekat, dan sekarang malah jadi lebih renggang sampai Kiana pergi jauh, dan mengadukan masalah ini kepada Tuhannya." Danu meluapkan isi hatinya.
Suara Danu terdengar lirih. Raut wajah penuh kesedihan terus pria itu perlihatkan, sampai beberapa orang di sekelilingnya menyadari jika dia sedang tidak baik-baik saja. Lebih tepatnya tenggelam dari rasa bersalah karena telah membuat hubungannya dengan Kiana semakin berjarak.
Bahkan Danu terus mempercayakan setiap pekerjaan kepada Denis, karena kali ini dia benar-benar tidak bisa fokus. Selain memikirkan keadaan Kiana, dan hubungan mereka setelah ini.
***
"Besok kalian mau antar Mami dan Papi ke Pangalengan? Sebelum nanti terbang lagi ke Belanda?"
Jovian duduk di sofa ruang tamu kediaman Ilyas. Dimana Adline, Axel dan Javier masih menghabiskan waktu disana.
"Ya, aku tidak tega melihatnya yang masih terpuruk begini pergi berkendara jauh. Tidak baik juga, takutnya kamu melamun sepanjang perjalanan, dan itu bahaya!" Ujar sang Kakak.
Jovian mengangguk, lalu kemudian dia mengalihkan pandangan kepada Adline, yang saat ini duduk tepat di samping suaminya. Sementara Axel tengah asik dengan Ipad-nya di ruang keluarga bersama kedua orang tua Adline. Mereka terus menemani Axel bermain, apalagi setelah mengetahui jika kedua orangtuanya akan kembali membawa Axel pulang ke Belanda sana.
__ADS_1
"Boleh aku meminta sesuatu? Sekali ini saja tolong bantu aku meyakinkan sesuatu." Jovian menatap wajah iparnya lekat-lekat.
Adline menoleh, menatap Javier seolah sedang memastikan sesuatu.
"Biasakan kamu meminta Eva untuk datang? Tidak disini, tapi mungkin di luar rumah. Entah cafe atau restoran terserah!" Ucap Jovian lagi.
Mendengar itu Javier tampak terkejut. Bahkan kedua bola matanya membulat dengan raut wajah tidak percaya.
"Kau gila? Tidak kah cukup membuat Adline merasa bersalah kepada Kiana?"
"Aku tidak mau Kiana semakin benci kepadaku, Jo! Meski pada kenyataannya aku tidak bermaksud demikian. Tapi keadaan sekarang jelas membuat aku merasa tidak enak hati kepada Kiana juga Mami dan Papi."
Jovian menggelengkan kepalanya.
"Ini untuk kebaikan kita semua. Satu-persatu akan aku buka apa yang sedang dia lakukan sekarang."
"Maksudnya?" Suami istri itu bereaksi bersamaan.
"Jauh sebelum kejadian itu. Sepertinya Eva sudah melakukan banyak hal." Kata Jovian dengan keyakinan yang kuat.
Namun, Javier terlihat masih belum mengerti, sampai pria itu hanya diam menatap wajah adiknya dengan raut wajah aneh.
"Sekali saja." Jovian sedikit memohon.
"Aku harus bagaimana? Maksudku apa yang mau kamu lakukan?" Adline segera bereaksi.
"Hanya memeriksakan sebuah tato. Di bawah bagian belakang telinga sebelah kiri." Kata Jovian.
"Tunggu!"
"Kenapa kamu ingin tahu? Katakan inti masalahnya agar kita tidak salah lagi dalam hal ini. Cukup Kiana, jangan menyakiti orang lain lagi!" Dia memperingati.
Jovian menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, dan mulai menceritakan semua yang ada di dalam benaknya perlahan-lahan. Dari kasus penempelan foto di papan pengumuman, keberadaan Eva di Pangalengan tanpa Jovian ketahui, lalu kejadian satu Minggu lalu, dan perubahan yang Eva alami yang seolah-olah sedang berusaha menyerupai Kiana.
Mungkin beberapa orang bisa saja menyebutnya kebetulan. Hanya saja ini terlalu mencurigakan, dan segala hal yang sudah terjadi, jika diingat kembali memang selalu terhubung satu sama lain.
"Kau yakin?" Javier bertanya setelah mendengar penjelasan dari adiknya.
Jovian mengangguk.
"Setidaknya setelah ini aku bisa menghalau dia, dan ada banyak alasan agar dia tidak lagi mendekat. Apapun alasannya! Entah dia berasalan karena kau sahabatnya, atau apapun itu, … karena aku tidak mau lagi melihat Eva. Kalau bisa aku jebloskan saja ke penjara!" Jovian bersungguh-sungguh.
"Penjara?"
Adline dan Javier terkesiap.
"Dia sudah merugikan aku dan Kiana. Hubungan kami benar-benar di ujung tanduk. Tidak peduli sepintar apa dia berbicara jika Kiana lah yang brutal, tapi sekarang aku tahu Kiana tidak akan berbuat demikian jika tidak Eva yang memancingnya."
"Masalahnya tidak semudah itu. Jika yang kamu ucapkan tadi ada satu saksi. Apa saksi itu cukup untuk melaporkan Eva atas tuduhan tindakan yang tidak mengenakkan? Dan untuk masalah di sini? Kita juga tidak punya bukti apapun, jadi jika memang Eva pelakunya, kita hanya mampu membuat dia mundur dan menjauh, tidak untuk menjebloskan dia ke dalam penjara." Javier menatap adiknya lekat-lekat.
Kekhawatiran jelas terlihat di manik kelam pria berparas tampan itu. Bagaimana tidak, Jovian mulai blunder, dan ingin menghalalkan segala cara yang jelas-jelas akan membuat masalah baru jika Jovian tidak hati-hati melakukannya.
"Benarkah? Aku yakin aku bisa membuat Eva masuk penjara jika dia benar-benar dalang dari semuanya." Jovian tersenyum miring.
__ADS_1
Javier menghela nafasnya.
"Jangan apa-apa menggunakan uang dan apa yang kamu bisa hanya untuk kepuasan sesaat. Tahu jika Eva salah saja sudah bagus, karena kita bisa berhati-hati setelah ini!"
"Tidak!" Jovian menggelengkan kepalanya, dengan sorot mata yang terlihat begitu tajam. Kilat kemarahan jelas terlihat, dan sepertinya apa yang Jovian katakan kali ini tidaklah main-main.
"Jika memang bisa. Maka aku akan memanfaatkan apa yang aku bisa dan aku punya. Dia benar-benar membuat hubunganku dengan Kiana berada di ujung tanduk, dan Eva harus membayar mahal atas apa yang dia lakukan kepadaku juga Kiana." Dia terlihat sangat bersungguh-sungguh.
Adline menghembuskan nafasnya kasar, lalu menyandarkan diri pada sandaran sofa.
"Takutnya nanti semakin rumit, Jo!" Adline berujar.
"Tidak akan."
"Kamu yakin? Walaupun kamu bisa menjebloskan Eva ke penjara, … sepertinya On Erik tidak akan tinggal diam." Kata Adline lagi.
Membuat Jovian terdiam dengan segera.
"Ingat! Dia pernah sangat membencimu. Aku rasa masalahnya tidak akan selesai jika kamu mampu membuat Eva mendekap di balik jeruji besi."
"Lalu aku harus bagaimana? Diam saja? Padahal dia sudah melakukan banyak hal gila?"
"Kita hanya perlu membuktikan saja. Desak sampai dia mengakui itu semua, … Eva pasti malu, dan itu cukup untuk membuat dia pergi tanpa mau menemui kalian lagi." Jelas Javier.
"Kau tidak mendukungku?!"
"Ini bukan masalah mendukung atau tidak, Jo! Dengan melakukan apa yang kamu inginkan, tidak akan menghentikan masalah, justru akan timbul masalah baru. Jika mau, sekarang kamu hanya perlu mendesak Eva agar mengakui semuanya seperti apa yang kamu jelaskan tadi. Apa saja yang dia lakukan sampai akhir berdampak besar seperti sekarang. Setelah itu fokuslah membenahi hubunganmu dengan Kiana, tidak usah membuang banyak waktu untuk Eva hanya karena kamu ingin membuktikan dia bersalah, dan menjebloskan wanita itu ke dalam penjara." Javier mencoba membuat adiknya mengerti.
Meskipun sedikit sulit, tapi dia akan tetap berusaha.
Jovian kembali diam.
"Jika hanya membantu kamu untuk meyakinkan pelakunya Eva atau bukan, aku bisa. Tapi untuk membuat Eva masuk penjara aku tidak mau, bukan masalah membela dia karena Eva memang teman dekatku sejak dulu, tapi ini akan semakin rumit. Aku tahu bagaimana Om Erik, dan aku tidak mau kalian tersandung masalah baru bahkan yang lebih rumit dari sekarang. Kasian Mami dan Papi, Jo! Kejadian sekarang saja sudah membuat kita tidak enak hati, kepikiran setiap malam, lalu bagaimana jika masalah ini terjadi semakin pelik?" Adline mencoba mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
Selain merasa bersalah, dia juga khawatir dengan kesehatan kedua mertuanya. Mengingat Jonathan dan Leni tidaklah muda lagi, dan sesuatu bisa terjadi kapan saja.
"Oh aku tidak akan membiarkan Om Erik kembali melakukan hal-hal buruk kepada Papi dan Mami. Walaupun mereka hanya menyerang perasaan keduanya." Batin Adline berbicara.
"Baiklah, aku tidak akan bertindak ceroboh. Tapi untuk kali ini saja tolong bantu aku, agar semuanya menjadi sangat mudah. Kepergian Kiana sudah membuatku merasa tidak baik-baik saja. Jadi biarkan aku menyelesaikan ini semua sebelum Kiana pulang nanti." Raut wajah Jovian terlihat memelas.
Adline menatap suaminya kembali. Kemudian menatap Jovian dan menganggukan kepala setelah melihat Javier mengulum senyum, yang artinya Javier memberikan izin untuk membantu Jovian menyelesaikan satu masalah yang sedang dia alami.
"Nanti sore aku akan meminta bertemu. Tapi berjanjilah agar tidak membuat semuanya semakin rumit." Kata Adline, dia juga sedikit terlihat memohon.
"Tidak akan. Aku akan mendengarkan usulan kalian berdua, … lagi pula aku harus hati-hati, yang aku hadapi tidak hanya Eva bukan? Papa nya juga!" Jovian tersenyum.
"Baik, semoga semuanya segera terbuka. Lalu masalahmu dengan Kiana segera selesai." Ucap Javier, yang langsung mendapatkan anggukan dari Jovian.
......................
Alhamdulillah othor udah baikan. Sisa batuknya aja yang masih bandel, doain tepet tembuh yah. Nggak tau kenapa, othor jadi gampang tumbang begini🤧 kemarin asam lambung yang bikin othor nggak bisa ngapa-ngapain selain bilang 'Aduh' sekarang batuk pilek, mana serumah kena semua 🥲
Jangan lupa seperti biasa yah! Like, komen, hadiah sama Vote kalo ada. Kalo nggak punya apa aja deh lemparin kesini, sisa takjil juga nggak apa-apa yang penting popularitas tetap naik.
__ADS_1
Cuyung kalian banyak-banyak ♥️🍅