Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
335 ayat (1) KUHAP


__ADS_3

Sita menajamkan pendengarannya, ketika mendengar sesuatu yang cukup serius di dalam kamar mandi yang terletak di sudut lain kamar hotelnya. Dengan segera dia menyibakan selimut, kemudian berlari untuk memeriksakan.


Tok tok tok!!


Dia mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Sita dengan segera.


Raut wajah khawatir jelas terlihat, dan itu membuat perasaan Sita benar-benar tidak tenang. Apa yang akan dia katakan kepada kedua orang tua Kiana, jika dia kembali dengan membawa keadaan putri mereka yang sedang tidak baik-baik saja.


Hening, tidak ada lagi suara-suara di dalam sana. Hingga setelah beberapa detik, pintu terbuka dan munculah Kiana dengan keadaan wajah yang sangat pucat.


"Mual lagi?" Sita langsung bertanya.


Kiana menyapu wajahnya, berjalan melewati Sita, lalu membawa beberapa lembar tisu yang tersedia di atas nakas, dan mengusap seluruh wajahnya.


"Kamu makan es krimnya kebanyakan. Mana lanjut makan setelah solat subuh lagi. Sudah Tante bilang kalau sesuatu itu jangan berlebihan. Lihat? Kita akan pulang masa kamu malah sakit." Sita berjalan mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang bersisian dengan Kiana.


Kiana tidak menjawab.


"Sekarang apa yang masih kamu rasakan? Nanti Tante minta obat lagi sama tim travel!" Sita mengusap-usap pundak Kiana, lalu tengkuk bagian belakang, dan sedikit memberikan pijatan lembut.


"Nggak usah. Aku nggak biasa minum obat sembarangan!"


Setelah itu mereka sama-sama terdiam. Membuat suasana ruangan itu terasa hening pada hampir sore hari di Arab Saudi sana.


"Udah ya! Jangan makan es lagi, kita mau pulang jangan sampai kamu sakit!"


"Sundae strawberry nya enak banget lho, Tan."


Sita menghela nafasnya dengan kencang.


"Tante tahu. Dendi juga suka susah kalo di kasih tau, tapi apa yang terlalu berlebihan itu tidak baik. Entah kamu merasa mual karena kekenyangan, atau nanti gigi kamu ngilu dan sakit. Keluhan Dendi juga begitu." Jelas Sita.


Mendengar itu Kiana tersenyum.

__ADS_1


"Awas yah kalau maksa minta beli es krim lagi! Tante tinggalin kamu disini, … siapa tahu keras kepalanya hilang jika kamu tinggal disini dalam waktu yang cukup lama."


Bukannya merasa takut karena mendengar Sita menggerutu. Tapi justru Kiana tertawa semakin kencang.


"Yang penting selamet dunia akhirat, Tante." Balas Kiana.


Yang seketika membuat Sita mendelik, tapi tak menghentikan kegiatannya sama sekali. Dia terus memijat tengkuk Kiana sampai perempuan itu terlihat begitu nyaman.


Sementara itu jauh di Indonesia bagian barat.


Jovian meletakan ponselnya begitu saja, setelah mendapatkan kabar dari sang ayah mertua jika acara yang sudah di siapkan benar-benar di alih fungsikan menjadi acara makan bersama para jompo dan anak yatim-piatu.


Bukan tidak bahagia dengan hal mulai dari apa yang Danu lakukan. Hanya saja, hubungannya dengan Kiana memang terasa semakin terombang-ambing.


Suasana apartemen tampak gelap gulita, hanya sedikit cahaya yang masuk dari arah luar, dan tentu saja Jovian menikmati kesendiriannya dengan perasaan berkecamuk.


Rindu yang terus membendung di dalam dada, membuat dirinya tidak lagi dapat memikirkan hal lain, selain istrinya, Jasmine Kiana Danuarta.


"Tidakkah kamu merindukan aku, Kia? Apa kamu tidak tersiksa sepertiku?" Pria itu bermonolog.


Jovian kembali meraih ponselnya, membuka galeri, yang terdapat beberapa foto mereka berdua. Entah itu yang di ambil menggunakan handphone nya, ataupun yang memang sengaja Kiana kirimkan saat mereka berfoto-foto menggunakan ponsel Kiana.


Tak terasa kedua sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman samar, tapi dengan mata berkaca-kaca.


"Lihat! Kita pernah seperti ini. Kita pernah tertawa karena hal-hal yang tidak jelas, … apa kamu tidak merindukan aku? Aku tahu aku salah, maafkan aku. Tapi sungguh, tidak terbesit sedikitpun dalam hati ini perasaan kepada Eva. Semuanya sudah beralih kepadamu. Apa yang terjadi malam itu hanya refleks saja, dan katahuilah akupun menyesali apa yang saat itu aku lakukan." Dia mengusap layar handphonenya.


Hingga tanpa terasa setetes air mata terjatuh ke atas sana.


"Maafkan aku. Kamu boleh menghukumku dengan cara apapun! Tapi tidak dengan mendiamkan aku seperti ini, apalagi pergi dengan jarang yang sangat jauh."


Jovian menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, sambil terus menatap foto Kiana, dimana perempuan itu memperlihatkan senyumannya yang paling manis.


"Aku merindukanmu, Baby. Segeralah kembali agar aku dapat memelukmu seperti biasa. Temani aku tidur, temani aku makan, dan ikutlah kemanapun aku pergi. Aku merindukan saat-saat seperti itu." Katanya, lalu dia mendekap benda pipih itu, seolah sedang memeluk perempuan yang saat ini sangat dirinya rindukan.


***

__ADS_1


Klek!!


Danu menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan masuk, dan mendekati Herlin yang masih duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Mengarahkan pandangan pada televisi berukuran besar yang tersedia disana.


"Papa kira Mama sudah tidur." Dia duduk di tepi ranjang.


"Sebenarnya mau, hanya saja belum bisa." Sahut Herlin.


Danu mengangguk, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat, dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata.


Pria itu terlihat menyesal.


"Denis datang tadi."


"Hemmm, … aku tahu!" Balas Herlin singkat.


Matanya terus tertuju pada televisi yang sengaja dia hidupkan, meskipun sudah jelas dia tidak menikmati tayangannya. Hati dan pikiran ibu mana yang bisa tenang, ketika putrinya pergi jauh dalam keadaan marah.


"Dia mengatakan Jovian sudah menemui Eva. Dan anak itu sudah mengakui semuanya. Tapi Jovian tidak bisa berbuat banyak, masalahnya akan bertambah pelik jika dia melakukan sesuatu tindakan yang lebih tegas."


Mendengar perkataan suaminya, Herlin pun mengarahkan pandangan kepada Danu.


"Lalu? Kalian hanya akan diam? Padahal dia sudah melakukan perbuatan yang sangat merugikan? Seharusnya dia bisa di laporkan. Dia bisa di jerat dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Tapi kenapa kalian masih diam? Apa aku harus turun tangan? Dia sudah menuduh putriku, berbicara seolah apa yang sudah terjadi adalah kesalahan Kiana!" Herlin mulai tersulut.


"Mama! Tenanglah dulu. Jovian melakukan ini dengan pertimbangan. Hubungan antara keluarga mereka yang kurang baik dimasa lalu, takut berimbas kepada mereka sekarang. Pak Erik pernah memaki dan menghina keluarga Pak Jonathan, dan Jovian melakukan itu hanya semata-mata untuk menghalau masalah yang mungkin saja akan kembali terjadi." Jelas Danu.


"Itu alasan Jovian. Lalu apa alasanmu? Kiana putrimu, sudah selayaknya kamu membela dia bagaimanapun keadaannya. Tapi jika tidak mau, biar aku saja yang melaporkan ini, aku tidak peduli serumit apa pembuktian yang harus aku lakukan, tapi aku akan membuat nama baik putriku kembali." Tegas Herli.


Dia mendelik dengan ekspresi wajah marah. Kemudian meraih remot, menekan salah satu tombol sampai benda itu mati, lalu Herlin berbaring, dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Sementara Danu mengatupkan mulutnya. Diam dan tidak lagi berani berkata-kata atau berbuat apapun.


......................


Maaf telat🤭

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah sama taburan-taburan istimewa lainnya.


__ADS_2