
“Hhheuh!”
Kevin menghela nafas kencang kala melihat sebuah postingan singkat, yang Kiana bagikan melalui media sisoal pribadinya. Dengan segera dia menekan tombol power dan kembali memasukan benda pipih itu ke dalam saku celananya.
“Kenapa, Vin?” Hilmi langsung bertanya Ketika melihat ekspresi Kevin yang berbeda.
Sorot matanya memperlihatkan kemaraha, sementara keningnya berkerut menandakan jika pria itu sedang merasa sedih dan kecewa.
“Pasti udah liat postingan Kia!” Zayna datang, kemudian duduk di bangku kosong yang berada tepat di hadapan meja belajar yang Kevin tempati, setelah cukup lama memperhatikan gelagat teman laki-lakinya itu.
Kevin memejamkan matanya, menghempaskan punggung pada sandaran kursi, lalu meletakan kedua telapak tangannya di sana.
“Sabar Vin! Mungkin emang nggak jodoh.” Sharla ikut berbicara.
“Nggak, siapa tau Kiana emang lagi iseng.” Starla mengendikan kedua bahunya dengan raut wajah santai seperti biasa.
Tidak seperti Hilmi, Zayna dan Sharla yang terlihat ikut prihatin atas apa yang Kevin rasakan. Yaitu patah hati yang tidak berkesudahan karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Kiana selalu menjelaskan jika dirinya belum siap menjalani hubungan spesial dengan siapa pun.
Lalu tanpa ada sebuah kejelasan, tiba-tiba saja Kiana mengumumkan jika dirinya sudah mendapatkan lamaran dari seorang pria yang masih dia sembunyikan jati dirinya. Dan yang paling menyakitkan adalah sebuah gambar dimana Kiana menunjukan tangan kirinya, yang sudah tersemat sebuah cincin indah di jari manis gadis itu.
Sebuah cincin berlian yang terlihat begitu indah, dengan permata putih namun memancarkan kilau kebiruan.
“Aku bisa memberikan yang lebih bagus dari itu! Tapi kenapa dia justru menerima pinangan dari pria lain. Lalu apa selama ini? Dia bersikap baik, berbicara jika dia belum berminat menjalin hubungan dengan siapapun, … dan dengan lantangnya dia memberikan kabar ini?” Kevin berbisik lirih, membuat Hilmi semakin tidak tega.
“Bagaimana dengan perasaan aku?” Katanya lagi.
Hilmi beralih menatap Zayna.
“Emangnya Kiana posting apaan deh?” Hilmi menatap Zayna penuh tanya.
Dia semakin bingung kala mendapati Kevin yang terlihat semakin frustasi. Sampai berkali-kali menyebutkan nama gadis itu dengan nada frustasi.
Zayna menghembuskan nafasnya cukup kencang, dia merogoh saku blazernya, membawa ponsel dan mecari postingan yang Kiana bagikan beberapa menit lalu.
“Ini.” Katanya seraya memberikan benda pipih itu kepada Hilmi.
Pria yang sedikit terlihat gemulai itu membawa ponsel Zayna, kemudian menatap layar ponselnya lekat-lekat.
Sebuah video boomerang dengan latar belakang mobil yang sedang berjalan, dimana Kiana tampak memperlihatkan kelima jemarinya, dengan sebuah cincin yang berkilau tersemat di jari manis.
#Nikahmuda.
“Hastag nikah muda?” Hilimi Kembali menatap Zayan.
Keningnya mengkerut kencang, dengan raut wajah yang terlihat sangat bingung.
“Maksudnya Kiana udah ada yang lamar? Terus mau nikah muda?” sambung Hilmi.
Zayna kembali meraih ponselnya dari genggaman tangan Hilmi, dan memasukan benda pipih itu ke dalam saku blazer yang dia pakai.
“Berarti rumor yang kemarin itu bener!” Starla berspekulasi.
“Hah? Nikah sama Bodyguardnya itu?” Sharla sedikit terkejut.
“Bisa jadi. Foto itu bukan editan cuy! Dan Kiana memutuskan untuk nikah muda mungkin karena emang udah terjadi sesuatu. Zaman sekarang udah nggak aneh lagi, … pacaran tapi modelannya udah kaya orang nikah gitu.” Sambung Sharla lagi.
Gadis itu hampir kembali membuka suara. Namun Hilmi mengayunkan kakinya cukup kencang, sampai menyenggol kaki Sharla. Ketika Hilmi melihat seorang gadis cantik berambut pendek, berjalan memasuki kelas dengan gaya pakaian yang selalu terlihat elegant.
Kiana berjalan sangat anggun, dengan lengkungan yang terbentuk di kedua sudut bibir, membuat sebuah senyum tipis namun sangat menawan. Tak aneh jika Kevin benar-benar menginginkan gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
“Kiana datang! Jadi stop ngomongin dia, atau ke adaannya semakin rumit.” Cicit Hilmi samil memberikan sebuah kode.
Matanya terus berkedip, dengan ibu jari yang dia gerakan ke arah dimana sebuah pintu masuk berada.
__ADS_1
Menyadari kedatangan Kiana. Kevin segera bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Kiana yang sedang meletakan barang bawaan di atas mejanya, berniat duduk namun Kevin menahannya dengan mencengkram lengan Kiana cukup kencang.
Pandangan Kiana menengadah, melihat wajah pria bertubuh tinggi yang sedang menatapnya dengan ekspresi wajah aneh.
“Vin?”
“Gue mau bicara sama lo!” Ujar Kevin.
Pria itu hampir membawa Kiana secara paksa ke arah luar, tapi kedatangan seorang dosen pembimbing membuat Kevin tidak bisa berkutik.
“Selamat pagi anak-anak!”
“Kita harus bicara Kiana!” Ucap Kevin penuh penekanan.
Kevin melepaskan cengkraman tangannya di lengan Kiana, lalu berbalik dan berjalan ke arah dimana mejanya berada.
***
“Kamu sedang bekerja? Lalu kenapa memaksakan diri untuk datang kesini?” Jonathan berbicara.
Jovian yang sedang berjalan di sampingnya hanya tersenyum, kemudian berhenti tepat di hadapan salah satu unit apartemen miliknya.
Klek!!
Pintu apartemennya segera terbuka, setelah Jovian meletalan ibu jarinya di sebuah alat sensor sidik jari yang berada tepat di atas handle pintu.
“Dan setelah sekian lama. Kamu masih betah menghuni apartemen ini?” Sindir Jonathan. “Pantas saja kamu tidak bisa move on selama dua tahun, … toh kamu masih hidup disini bersama bayang-bayang Eva!” lanjut Jonathan.
“Papi sudah. Mungkin Jovian sedang mengumpulkan uangnya dulu, atau belum menemukan rumah yang cocok!” Wanita itu berujar.
Jonatha dan Leni segera duduk di atas sofa yang berada di tengah-tengah ruangan itu, sementara Jovian melenggang ke arah dapur.
“Papi jangan begitu terus, bagaimana kalau Jovian tersinggung. Toh dia dan Eva sekarang sudah baik-baik saja, dan hubungan baik itu sudah Kiana ketahui, … tidak ada masalah!” Tukas Leni kepada suaminya.
“Papi makin ngaco! Ini pasti efek perjalanan yang jauh, makanya cara berpikir Papi kaya orang mabuk.” Leni memotong ucapan suamiya.
“Ahhh, … disini sepi sekali! Kenapa juga Javier dan Adline tidak mau ikut kesini, setidaknya kalau mereka ikut ada Axel yang bisa kita temani untuk bermain dengan boneka Dinosaurus kesayangannya.” Jonathan mengalihkan topik pembicaraannya.
“Mungkin disini sempit, jadi Vier memilih untuk bermalam di hotel dulu, sebelum nanti mencari sebuah apartemen sewaan.”
Jovian datang dari arah dapur, membawa dua mug besar berisikan the tawar panas untuk kedua orang tuanya.
“Terimakasih, maaf Mami dan Papi merepotkan yah! Jika sudah harus berangkat lagi, … pergilah Mami dan Papi akan baik-baik saja disini.” Leni menatap putra keduanya.
Namun, pria itu justru duduk tepat di samping Jonathan.
“Akhir-akhir ini aku sedikit santai, dan baru akan benar-benar berhenti akhir bulan sekarang. Paling hanya mengantar dan menjemput Kiana kuliah saja, atau menemani jika dia ingin pergi ke suatu tempat. Lagi pula beberapa hari kedepan kita harus mempersiapkan beberapa hal, mencari tempat, memilih catering, dan mendatangi butik untuk fetting baju.” Jelas Jovian.
Dan dua orang tuanya hanya diam mendengarkan.
“Untuk acara. Jovian dan Kiana sudah sepakat, kalau akad sama resepsinya di langsungkan Ketika Kiana sudah selesai wisuda saja.”
Jonathan menatap istrinya.
“Bagaimana dengan orang tuanya?” Tanya wanita itu.
“Tidak ada masalah, mereka mendukung semua keputusan yang kami tetapkan.”
Leni yang sedang memegangi mug teh panasnya segera meletakan benda itu kembali di atas meja, lalu membenarkan posisi duduknya sampai dapat menatap Jovian dengan leluasa.
“Baiklah. Tapi ada satu yang mau Mami tanyakan!” Leni menatap putranya lekat-lekat.
Jovian segera mengangguk.
“Kiana itu kan anak dari seorang pengusaha besar. Dia bukan dari keluarga biasa seperti Eva. Emmm … bukan mau membandingkan atau membuat kamu menginat masa lalu. Eva memang dari keluarga berada, ayahnya juga pemilik salah satu toko material yang cukup besar, bisa di bilang pengusaha juga, … tapi mereka jelas berbeda…”
__ADS_1
“Langsung ke intinya saja, Mam!” Sergah Jonathan, pria tua itu memotong ucapan istrinya.
Jovian terkekeh kencang. Perdebatan kedua orang tuanya yang selalu terjadi menjadi sebuah hiburan tersendiri.
“Papi bisa diam tidak? Mami lupa lagi ini mau ngomong apa!” Cicit Leni sedikit kesal.
Tawa Jovian terdengar semakin menggelegar.
“Ah Mami lupa lagi mau bicara apa.” Wanita itu sedikit mengeluh. Berusaha mengingat apa yang ingin dia sampaikan, tapi sayang. Leni tidak mengingatnya sama sekali.
“Apa maksud Mami soal mahar?” Jovian sedikit mengerti kemana arah pembicaraan ibunya.
“Nggg, … iya!” Leni menganggukan kepala. “Bagaimana? Dulu saja Eva meminta mahar yang sangat besar, … ah maksud Mami kedua orang tuanya. Lalu bagaimana dengan Kiana? Berapa mahar yang dia inginkan?” Dia terlihat sangat serius.
Jovian tersenyum.
“Bukannya itu kita bicarakan nanti, setelah tunangan, atau sebelum hari H?” Kata Jovian.
“Bagaimana kalau mereka meminta nominal yang sangat besar? Kita semua tahu Kiana itu seorang gadis yang belum pernah menikah, … dan mungkin orang tua Kiana meminya mahar yang sangat besar untuk putri mereka.” Jonathan ikut bersuara.
“Ingat dengan 10% saham yang Papanya Kiana janjikan?” Jovian menatap kedua orang tuanya bergantian.
Jonathan langsung mengangguk, sementara Leni hanya diam berusaha menyimak percakapan yang semakin serius antara dua pria di dekatnya.
“Aku pakai itu sebagai mahar. Jika memang perlu!”
“Memangnya bisa seperti itu?” Jonathan kebingungan.
“Tidak tahu. Ini hanya perumpamaan, jika saja Kiana meminta mahar dengan jumlah yang cukup banyak. Tapi untuk saat ini kita akan bertaya dulu bukan? Mahar apa yang Kiana inginkan, atau berapa yang dia mau.”
Leni meraih mug teh buatan Jovian yang sudah mulai menghangat, lalu meneguknya.
“Itu kita bicarakan lagi nanti. Sekarang pergilah kembali untuk bekerja, … kau harus tetap professional walaupun sekarang kamu sudah menjadi calon menantu dari bosmu sendiri.” Titah Leni kepada anak keduanya.
Jovian mengangkat tangan kiri, menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Masih lama.” Kata Jovian.
“Kiana tahu? Kalau kamu pergi untuk mengantar kami?”
“Tahu.” Jovian mengangguk.
“Jadi kamu masih lama disini?” Jonathan kembali bertanya, dan langsung di jawab Jovian dengan anggukan.
“Bagus, kalau begitu siapkan makan untuk Papi dan Mami dulu. Sekalian makan siang bersama, dan setelah itu kamu boleh pergi.” Dengan santainya Jonathan berbicara demikian.
“Astaga! Memang kadang-kadang pria tua ini sangat menyebalkan. Jadi harap di maklumi saja dia Jovian, dan kabulkan dengan segera keinginannya, … atau kalau tidak dia akan merengek seperti Axel saat meminta mainan kepada orang tuanya.”
Leni bangkit, lalu dia berjalan tertatih-tatih ke arah salah satu pintu ruangan yang berada di dalam apartemen sana.
“Mami mau kemana?” Jovian berteriak, kala Wanita itu mendekati ruang kerjanya.
Leni tidak menjawab, dia hanya menekan handle pintu ruangannya, membukanya sedikit, kemudian menutupnya kembali.
“Itu ruang kerja aku!” Jovian tertawa.
“Astaga Mami salah masuk ruangan. Padahal hanya ada dua pintu ruangan disini, tapi masih suka lupa.”
Wanita itu kembali berjalan ke arah pintu lainnya, lalu masuk tanpa banyak berbicara lagi.
“Begitulah kalau sudah nenek-nenek! Pikun.” Jonathan berbisik.
“Memangnya Papi tidak?” Jovian menatap ayahnhya dengan senyuman yang tertahan di bibirnya.
“Sedikit.”
__ADS_1