Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Apartemen.


__ADS_3

"Hhheuh!"


Jovian menghela nafasnya ketika Kiana memperlihatkan sebuah pesan yang dia kirimkan kepada ayahnya.


"Amankan?" Kiana tersenyum, lalu kembali menatap layar ponselnya, mengetik sesuatu, dan menyimpannya kembali di atas meja.


Jovian tidak mampu berbicara apa-apa agi. Karena menurutnya itu hanya percuma saja, apalagi jika orang tua Kiana yang langsung memberi izin.


"Om? Ayo nonton. Cari film yang bagus!" Pinta Kiana, dia menyerahkan remot televisi kepada pria yang duduk tepat di sampingnya.


Pria itu tidak menjawab, dia hanya terus menatap Kiana dengan ekspresi datar.


"Terserah Om mau apa. Mau comedy, romance atau horor, … terserah!" Pandangannya tertuju ke arah televisi yang sudah menyala, dan menayangkan siaran berita malam.


Hening. Tidak ada jawaban sedikitpun sampai Kiana kembali menoleh, dan pandangan keduanya kembali beradu satu sama lain.


"Om?" Panggil Kiana.


"Kenapa sifat keras kepalamu kambuh lagi? Saya melarangmu bermalam bukan tanpa alasan Kiana!" Tegasnya dengan tatapan tajam.


Gadis itu bungkam.


"Saya bukan anak laki-laki yang baru saja beranjak dewasa dan tidak tahu apa-apa. Saya adalah seorang pria dewasa yang pernah menikah, kenapa kamu tidak mengerti." Dia frustasi.


Jovian segera meraih pergelangan tangan Kiana, lalu bangkit dan berniat membawa Kiana keluar dari apartemennya secara paksa.


Namun Kiana menariknya dengan sekuat tenaga, lalu kembali duduk di sofa ruang tengah, sambil tersenyum ke arah Jovian.


"Semalem doang, Om!" Kiana merengek.


Jovian menyapu wajahnya kasar, menghirup dan menghembuskan nafasnya kencang, lalu kembali mendekati Kiana dengan langkah lebarnya, yang seketika membuat Kiana melompat dari atas sofa, dan berlari ke arah pintu kamar yang tampak terbuka.


Sebuah ruangan besar, dengan lampu yang mati, dan hanya mengandalkan cahaya dari luar yang masuk melalui kaca yang mengelilingi kamar itu.


"Hey! Siapa yang mengizinkan kamu masuk kedalam kamar? Itu tidak sopan, … ini privasi!" Tegas Jovian sambil terus berjalan mengikuti kemana Kiana melangkahkan kaki.


Sementara gadis itu terus terkekeh. Dengan perasaan gugup juga sedikit takut saat melihat raut wajah Jovian saat ini yang terlihat begitu menyeramkan.


Dingin dengan sorot mata tajam mengintimidasi.


"Om!" Dia terus menghindar, mundur ke arah sudut kamar milik Jovian.


"Apa kamu sedang menantang saya sekarang? Menguji saya? Atau apa maksud dari ini semua? Kenapa kamu begitu ngotot untuk tetap bermalam disini?" Jovian terus melangkah maju.


Kiana terus mundur, sampai kakinya membentur ujung sofa, dan duduk di sana. Lutut Jovian naik ke atas sofa, dan mengurung tubuh mungil itu di antara kedua tangan dan kakinya.

__ADS_1


Kiana mematung, memindai wajah tampan pria di atasnya dari jarak yang sangat dekat.


Alis tebal, bulu mata yang panjang, sorot mata tajam, hidung mancung juga lengkungan bibir yang terlihat seksi.


"Kenapa kamu mau tidur disini? Dan pesan apa yang kamu hapus? Saya yakin sebelum mengizinkan, Pak Danu pasti banyak bertanya dulu."


Kiana menggelengkan kepala, dia tak mampu berkata-kata.


Mata Kiana terpejam, ketika Jovian semakin mendekatkan diri, dan hembusan nafas Jovjan dapat menyapu wajahnya.


"Sungguh? Kamu benar-benar mau menginap di apartemen saya?" Jovian berbisik tepat di telinga Kiana.


Gadis itu kembali membuka matanya, dan sorot mata mereka saling bertemu, lalu mengangguk.


"Saya mempunyai dua ruangan di apartemen ini. Satu saya jadikan sebagai tempat tidur, sementara satunya lagi saya pakai sebagai ruang kerja. Lalu kamu akan tidur dimana, hmm?"


"Di sofa juga tidak apa-apa. Yang penting sama Om!" Katanya, dengan tangan yang mulai bergerak menyentuh dada bidang milik Jovian.


Pria itu diam, berusaha menahan sesuatu yang sudah bergejolak di dalam diri. Apalagi ketika jemari lentik Kiana menyentuh otot-otot tubuhnya.


"Kenapa? Om nggak suka aku disini? Om nggak suka kalo aku mau terus di dekat Om?" Dia mempermainkan jemarinya di dada sana, mengusap dan menusuk-nusuk dengan perlahan.


Dia membuat ekspresi wajahnya menjadi terlihat se*s*al. Bahkan Kiana mengigit bibir bawahnya kencang, dengan tatapan menantang.


Dan itu jelas membuat Jovian tak bisa lagi menahan dirinya.


Kiana membalas setiap sentuhan Jovian bahkan lebih bersemangat. Kedua tangannya dia lilitkan di pundak Jovian, hingga ciuman keduanya semakin dalam.


Jovian menghentikan aktifitasnya, dia menatap wajah Kiana yang terlihat sudah memerah, dan nafas yang menderu-deru.


"Apa yang kamu lakukan?" Jovian menyatukan kening keduanya. "Apa yang kamu mau sampai berbuat seperti ini? Kamu tahu? Saya takut melakukan hal yang kurang pantas kepada dirimu!" Suaranya terdengar semakin rendah.


Jovian memejamkan matanya cukup lama, menekan sebuah hasrat yang mungkin sebentar lagi tak akan mampu dia bendung.


Bibir Kiana berkedut. Namun tak mampu berkata-kata, karena perasaan yang dia rasakan saat ini sangatlah luar biasa.


Jovian laki-laki pertama yang mampu membuat hatinya terus berdebar-debar, bahkan saat ini pria itu mampu menimbulkan perasaan baru, yang Kiana tidak mengerti harus bagaimana menyebutnya.


"Memangnya kenapa? Bukannya kita mau menikah? Lalu apa yang membuat Om takut? Papa sudah mengizinkan aku, … dia tidak akan marah sama Om!"


Pria itu diam, tidak menyangka Kiana akan mengucapkan kata-kata itu.


"Kita hanya seperti ini. Lalu apa bahayanya?" Sorot mata Kiana tertuju kepada bibir Jovian, kemudian menyentuhnya dengan ibu jari.


"Kia!" Jovian kembali memperingatkan Kiana.

__ADS_1


Namun hal yang tidak Jovian duga kembali terjadi. Gadis yang berada di bahawah tubuhnya semakin mendekatkan diri, dan memulai sesuatu yang sempat mereka hentikan.


Kiana meny*sap bibir Jovian, tak jarang juga memberikan gigitan pelan, seperti apa yang sebelumnya Jovian lakukan. Dan setelah itu keduanya sama-sama tak bisa mengendalikan diri, sampai membuat sesuatu yang sedang terjadi semakin jauh.


Keduanya tenggelam begitu saja di dalam lautan keindahan yang mereka ciptakan. Saling menindih di atas sofa kamar berukuran besar, dengan keadaan gorden yang masih terbuka, dan lampu ruangan yang mati, membuat suasana semakin syahdu bagi sepasang kekasih yang baru saja memulai kisah cinta mereka.


Kiana yang begitu bersemangat karena baru merasakannya. Sementara Jovian yang mulai merindukan kehangatan yang sempat menghilang dari hidupnya.


Hembusan nafas Jovian dan Kiana semakin memburu, membuat suasana kamar terasa semakin panas.


Jovian menghentikan aktifitasnya sesaat, lalu menarik lepas kaos yang dia kenakan. Sampai terlihatlah semuanya, bagian atas tubuh yang sangat mempesona dengan otot-otot yang terbentuk dengan begitu sempurna.


Kiana diam, dadanya berdebar lebih cepat berkali-kali lipat.


"Kamu benar. Kita akan menikah dan tidak ada yang harus saya takutkan! Jika terjadi sesuatu maka …"


"Kenapa Om buka baju?" Kiana bangkit, lalu bergeser.


Gadis itu terlihat gugup dan sedikit ketakutan. Dia memang menyukai aktifitas yang akhir-akhir ini Jovian lakukan terhadapnya, namun entah kenapa dia mulai merasa was-was.


Sinyal di dalam dirinya seolah berbunyi, dan meminta Kiana untuk segera menjauh dari Jovian.


Apalagi ketika ekspresi pria itu terlihat sangat berbeda saat ini.


"Kamu mengatakannya tadi! Kita akan menikah, lalu apa yang saya takutkan bukan? Saya pikir kamu mengerti dengan apa yang kamu ucapkan."


Suasana terasa semakin mencekam, tak kala Jovian kembali menarik kaki Kiana sampai gadis itu kembali berbaring terlentang dan mendekat.


"M-maksud aku … Om nggak usah takut, kita akan menikah dan Papa akan mengerti."


Jovian membungkuk, kembali mengurung Kiana di antara kedua tangan kekarnya. Dengan posisi rapat, membuat kalung yang melingkar di leher Jovian menjuntai sampai hampir menyentuh Kiana yang saat ini terlihat pasrah di bawah kungkungannya.


Jovian menatapnya tajam.


"Kenapa Om buka baju?" Tanyanya seraya menyentuh dada Jovian dan terus turun kebawah, gadis itu baru benar-benar berhenti ketika jemarinya menyentuh otot perut.


Pandangan Kiana tertuju kesana, lalu kembali menatap wajah pria di atasnya.


"Om seksi." Kiana tersenyum.


Jovian menghirup oksigen sebanyak mungkin, memejamkan mata, lalu menghembuskannya perlahan melalu mulut.


Dia bangkit.


"Argghhh!!" Jovian mengacak-acak rambutnya dengan kencang.

__ADS_1


......................


Pusing ya Om 🤭


__ADS_2