Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Seperti Axel.


__ADS_3

Sinar mata terlihat sudah bergerak semakin ke atas. Namun, suasana di area sana masih tetap terasa sejuk, apalagi saat angin yang berhembus cukup kencang menerpa, sampai menimbulkan bunyi riuh dari pergerakan pohon-pohon di sekeliling rumah keluarga yang memang cukup terpandang di desa itu.


Jovian mulai menapakan kaki di atas tangga kayu jati yang terlihat mengkilat begitu indah. Dia berjalan cukup tergesa-gesa, membuat Leni yang baru saja selesai menata beberapa lauk di atas meja makan menoleh ke arah Jovian yang baru saja tiba. Pun dengan Jonathan dan Wiwin hingga mereka saling menatap dengan posisi diam.


"Ummmm …" Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa ada anjing liar?" Tanya Jonathan.


"Hah? Anjing liar? Tidak ada."


"Lalu kenapa kamu berlari seperti itu? Rumah sampai bergetar hebat. Sebentar lagi akan roboh jika kamu terus melakukannya!" Celetuk Leni.


"Kalau roboh ya tidak mungkin. Sebelum membuat rumah ini jelas Papi cari kayu jati dengan kualitas terbaik." Jonathan menatap istrinya.


Leni mendengus kencang, lalu matanya mendelik, seolah tidak suka jika pria itu berbicara dan terdengar seperti sedang membela anaknya.


"Mau kayu apapun. Kalau yang lari-larinya seperti Jovian ya pasti tetap akan rubuh. Tidak lihat? Sebesar apa dia sekarang? Kalau masih seumuran Axel ya tidak apa-apa. Ini masuk rumah sampe gedebag-gedebug … coba pelan-pelan, toh tidak akan ada yang mengambil Kiana darimu." Cerca wanita tua itu.


Wajah Jovian langsung terlihat merah. Dia hampir saja kembali berbicara, namun dengan segera Jonathan menggerak-gerakkan tangannya, memberi isyarat agar dirinya segera memasuki kamar.


"Kiana belum bangun, coba periksakan! takutnya dia pingsan karena kedinginan." Pria tua itu berujar, dengan nada bicara yang terdengar seperti sebuah guyonan.


Tanpa banyak berbicara Jovian langsung mendekati area kamar, meraih handle pintu, menekannya sampai benda itu benar-benar terbuka, lalu masuk dan menutupnya kembali rapat-rapat.


"Anakmu itu sudah hampir kepala empat. Kenapa kelakuannya semakin aneh, … apalagi setelah menikah! Dia terlihat seperti anak kemarin sore yang baru merasakan indahnya jatuh cinta." Leni terus menggerutu.


Rasa kesalnya tidak langsung dapat diredakan, hanya karena Jovian membuat kebisingan saat pria itu berlari di dalam rumah kayu kesayangannya.


Jonathan tidak menjawab, dia segera bangkit dari duduknya, dan melenggang ke arah luar dengan segera.


"Kepala Jovian masih satu, bagaimana caramu menatap dia sampai mengatakan jika kepala putraku hampir empat." Jonathan menyahut setelah berada cukup jauh dari istrinya.


"Dasar Aki-aki! Ada saja jawabannya." Ucap Leni ketus.


Mendengar itu Wiwin hanya tersenyum. Leni dan Jonathan memang selalu terlihat sedang bertengkar, namun karena Wiwin sudah lama mengabdi disana. Jelas dia tahu bagaimana keluarga Jonathan. Dan tentu saja mereka tidak benar-benar sedang berselisih paham, melainkan cara interaksi satu sama lain yang memang seperti itu.


Sementara Jovian tampak mengedarkan pandangannya. Menatap isi ruangan itu yang sedikit terlihat lebih rapi.


Beberapa bantal tampak tertata dengan baik. Begitu juga dengan lipatan selimut juga dua guling yang diletakkan di tengah-tengah. Belum lagi pakaian yang berserakan di atas lantai kayu berbalut karpet di kamarnya kini sudah benar-benar tidak ada disana. Membuat ruangan itu rapi, meskipun tidak sempurna.


Seulas senyuman terbit di antara kedua sudut bibir Jovian. Bagaimana tidak, dia mampu melihat seorang dari anak pengusaha ternama mampu merapikan satu ruangan berukuran besar.


Perhatiannya beralih pada suara gemericik air di balik sebuah pintu di sisi lain ruangan itu. Dan tanpa banyak basa-basi Jovian berjalan mendekat, seraya membuka jaket, lalu menarik kaos yang dia kenakan, kemudian menekan handle pintu kamar mandi dengan sangat perlahan.


Beruntung Kiana tidak mengunci pintunya, sampai Jovian dapat masuk dengan segera ke dalam kamar mandi sana.


Dimana Kiana tampak sedang memanjakan diri, berendam di dalam sebuah bathtub sambil memejamkan mata, dengan essential oil yang langsung menyapa indra penciuman Jovian.

__ADS_1


Pria itu memasukan jaket dan kaosnya kedalam sebuah keranjang pakaian kotor. Tak lupa dengan sisa kain yang masih melekat di tubuhnya. Hingga setelah semuanya terlepas, Jovian segera mendekat, kemudian masuk ke dalam sana, hingga mampu membuat Kiana terkejut bukan main.


"Hey hey! Tenanglah, ini aku. Tidak usah panik seperti ini." Kata Jovian sembari memegangi pergelangan tangan Kiana yang hampir saja mendarat di pipinya.


Mata Kiana membulat sempurna, dengan dada yang naik turun dengan cepat, bahkan hembusan nafasnya juga terdengar memburu.


"Ini aku, Jovian. Suamimu hampir satu Minggu belakangan." Dia tersenyum.


"Hhheuh!" Kiana menghe nafasnya kencang, kemudian memejamkan mata dan menurunkan tangan, saat Jovian melepaskan genggamannya. "Kamu bikin aku jantungan tahu! Setidaknya bersuaralah sedikit saja agar aku tahu kamu datang." Ujar Kiana dengan dadanya yang masih menyisakan debaran kencang.


Jovian hanya tertawa pelan.


Kemudian pria itu menarik tangan Kiana, sampai keduanya saling bersentuhan di dalam rendaman air hangat sana. Dengan Jovian yang bersandar pada pinggiran bathtub, dan Kiana menempelkan punggung di dada Jovian.


"Kamu baru bangun?" Jovian menyentuh beberapa helai rambut Kiana, lalu menyelipkannya ke arah daun telinga.


Perempuan itu mengangguk.


"Kenapa? Tidak lapar, hum?"


"Laper. Cuma ngantuknya lebih nggak bisa aku tahan." Jelas Kiana.


"Jadi setelah aku berangkat kamu tidur lagi?"


"Hu'um."


Dia menggigit bibirnya sendiri, dengan mata yang mulai terpejam kala Jovian mulai menyusuri tengkuknya, menghadirkan rasa geli dari hembusan nafas hangat miliki pria itu.


Cup!!


Jovian memberi kecupan di bagian belakang telinga istrinya.


Kiana mendongakkan kepalanya, dengan mulut yang sedikit terbuka, dan mata yang terus terpejam. Membuat Jovian semakin bersemangat karena mendapatkan respon yang sangat baik.


Satu tangan Jovian memegangi salah satu si kembar yang sangat menggemaskan. Sementara satu tangannya mulai bergerak naik ke atas, lalu mencengkram leher Kiana.


"Ngggghhh!"


Jovian menghentikan permainannya di tengkuk sana untuk beberapa saat, lalu tersenyum penuh arti.


"You want it, Baby?"


Kiana tidak menjawab, dia melepaskan kedua tangan Jovian, berbalik badan, lalu duduk di atas pangkuan suaminya. Dimana mereka sama-sama polos tanpa penghalang apapun, sampai keduanya dapat melihat apa yang seharusnya dilihat.


Pria itu mematung, matanya bergerak-gerak memperhatikan tubuh ranum milik istrinya. Dimana masih terdapat beberapa bekas kemerahan di kulit putih Kiana.


"Do you want it too, Honey?" Ucap Kiana pelan, dengan ekspresi wajah nakal yang dia perlihatkan.

__ADS_1


Telapak tangannya menyentuh dada Jovian, bergerak-gerak nakal disana, bahkan jari telunjuknya menusuk-nusuk seperti sedang menantang Jovian saat ini.


Rahang Jovian mengeras, lalu dia menarik pinggang Kiana sampai mereka benar-benar tidak berjarak sedikitpun.


"Kenapa kau nakal sekali, hum?" Dia menggeram. "Pantas saja Papamu sangat khawatir, bagaimana jadinya kamu jika memang tidak bersama saya, mungkin laki-laki di luar sana sudah menghabisimu tanpa sebuah ikatan pernikahan." Suaranya terdengar semakin rendah.


Kiana tidak langsung menjawab, dia justru menundukan pandangan, saat sesuatu terasa mengganjal di perutnya.


Sesuatu yang tegak tapi bukan keadilan, dan sangat keras namun bukan sebuah tekad :)


"Terus apa yah!?" Author kebingungan.


"Oh, sudah tidak sabar yah!"


Kiana mempersiapkan diri, mencengkram milik Jovian, lalu mengarahkan benda itu sampai inti tubuh keduanya saling bersentuhan.


Mereka terdiam, dan saling menatap satu sama lain. Sebelum akhirnya d**ahan Jovian terdengar saat Kiana menekan pinggulnya dengan tidak sabar.


Mulut Jovian menganga, kepalanya mendongak ke arah belakang, dengan kelopak mata yang tertutup rapat. Dan ini menyenangkan, melihat ekspresi Jovian yang sepertinya tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.


Kiana mulai bergerak perlahan-lahan, dia sengaja melakukan itu agar membuat Jovian semakin tersiksa. Apalagi saat mendengar geraman tertahan Jovian, perempuan itu semakin merasa gemas. Meski tidak bisa dipungkiri, dia mulai terbawa suasana sampai keningnya mengkerut, dengan dada yang naik turun dengan cepat, menahan sesuatu perasaan yang benar-benar gila.


"Oh Kiana!"


Tangannya meremat pinggul Kiana kencang, membuat sang istri merintih kenikmatan.


Jovian benar-benar dibuat tidak bisa berkutik pagi hari ini. Setelah di beberapa permainan pria itu yang memegang kendali dan membuat Kiana tidak berdaya, kini sebaliknya. Kiana melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan, hanya menggunakan insting namun tentu saja membuat pria yang sedang dia duduki tak dapat melakukan apapun selain mengeluarkan suara-suara erotis di dalam mulutnya.


"Emmmm, …. Kiana!"


"Shutttttt!" Kiana membekap mulut Jovian. "Jangan berisik, sayang!" Dia memperagakan ucapan yang sempat pria itu lakukan, dengan suara tersengal-sengal.


Kiana bergerak semakin tak tentu arah. Dia bahkan mempercepat hentakannya, membuat dirinya juga mulai merintih saat merasakan sesuatu mulai berkumpul di telapak kaki.


Jovian menyingkirkan telapak tangan mungil dari mulutnya, seraya membuka mata untuk menatap raut wajah Kiana yang terlihat sudah sangat memerah.


"Faster, Honey!"


Kedua tangannya menyentuh pinggul Kiana, dan membantunya untuk semakin mempercepat gerakan tubuh. Hingga setelah beberapa saat erangan tertahan Kiana mulai terdengar, bersahutan dengan geraman Jovian saat keduanya sudah hampir mencapai pelepasan.


"Emmmmhhhhh!!" Sesuatu terlepas dari keduanya, beradu padu menjadi satu di dalam sana. Dan setelah itu suasana menjadi sangat hening, bergantikan dengan suara nafas yang tersengal-sengal dari Kiana dan Jovian.


......................


Like, komen, mawar dan kopinya mana nih!!


Yang belum masukin rak, masukin rak dulu biar pas si Om gentangan, notifikasi handphone kalian bunyi.

__ADS_1


Cuyung kalian ♥️


__ADS_2