Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Khawatir


__ADS_3

Entah sudah berapa ratus meter Kiana berjalan menyusuri trotoar. Dengan langkah cepat, juga isak tangis yang tak pernah berhenti. Air matanya terus berderai, ketika rasa sesak di dada sana tak kunjung reda. Ya, hati anak mana yang tidak sakit dengan sikap ayahnya. Bahkan pria yang seharusnya menjadi garda terdepan, tak melakukan tindakan apa-apa, meski hanya untuk menahannya agar tidak pergi.


"Ah kau menjadi sangat lemah Kiana! Sejak kapan kamu menangis karena seorang laki-laki?" Dia merutuki dirinya sendiri.


Langkah kakinya terhenti, lalu Kiana membungkukan tubuh seraya menumpukan tangan di kedua lututnya. Rasa lelah mulai dia rasakan, bahkan jantungnya terus berpacu lebih kencang berkali-kali lipat.


"Ayolah Kiana! Kamu tidak boleh lemah seperti ini. Bukankah memang sudah sejak lama Papa memperlakukanmu seperti itu? Seharusnya sekarang aku mengerti, dan tidak usah terlalu pusing memikirkan mereka." Suaranya terdengar lirih.


Dia kembali menegakkan tubuhnya, mengusap kedua pipi yang basah, lalu menghirup dan menghembuskan nafasnya secara teratur beberapa kali. Hingga setelah merasa lebih baik, Kiana mencari sebuah tempat singgah, hanya sekedar untuk menghilangkan rasa lelahnya setelah ratusan meter dia berlari meninggalkan Danu dan Jovian dengan perasaan kecewa.


Kiana memilih mendudukan diri di sebuah halte bus terdekat, yang terlihat tidak terlalu ramai. Bahkan cenderung sepi padahal malam belum beranjak begitu larut.


Peluh bercucuran membasahi kening dan hampir sekujur tubuhnya. Wajah sembab, dengan mata dan hidung yang terlihat memerah, sisa tangisannya yang cukup memilukan. Bagaimana tidak, dia harus meredam suara dan rasa sesak yang begitu mendalam, bahkan sekarang perempuan itu kebingungan, karena dirinya melupakan tas dan segala macam barang miliknya.


"Kadang jika ingin nekat juga harus berpikir panjang Kia!" Ucapnya dengan suara lemas, lalu merebahkan punggung pada sandaran kursi berbahan dasar besi.


Kiana diam untuk beberapa saat, memandang jalanan dengan tatapan kosong.


"Lalu bagaimana aku sekarang? Siapa yang akan menemukanku disini? Aku haus." Lanjut Kiana dengan suara yang terdengar semakin lirih.


Angin tiba-tiba berhembus kencang. Membuat pepohonan yang ada di sekitarnya bergerak tak tentu arah, dan menimbulkan bunyi riuh yang begitu syahdu, seolah alam pun mengerti perasaan Kiana saat ini.


Matanya kembali memanas, pangkal hidungnya terasa sedikit sakit, ketika Kiana berusaha menahan tangisannya. Setiap ucapan yang Danu katakan begitu jelas terdengar di dalam isi kepala, kemudian sikap Jovian, dan yang paling menyakitkan adalah bekas tamparan yang belum sepenuhnya hilang.


Tangan kiri Kiana bergerak ke atas, menyentuhnya, dan memberikan usapan kecil.


"Tidak apa-apa, nanti juga tidak sakit lagi. Mungkin setelah ini aku harus belajar hidup sendiri, … karena aku tahu tidak akan ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri." Katanya dengan hati yang terasa begitu sakit.

__ADS_1


Lalu kedua sudut bibirnya tertarik saling berlawanan. Memperlihatkan senyuman getir penuh kepiluan.


"Lucu sekali. Aku berusaha membela mereka, tapi justru mereka berdua kembali menyalahkan aku. Beberapa bulan lalu aku hidup dengan caraku sendiri, sedikit rumit, namun Kiana yang dulu tidak lemah seperti sekarang. Aku berusaha menuruti setiap aturan Papa, jatuh cinta lalu menikah, … dan justru itu berbalik menyerang diriku sendiri." Dia mengusap sudut matanya. "Cinta pertamaku berubah menjadi patah hati yang sangat menyakitkan. Dia tidak menduakan cintaku, tapi sikapnya cukup membuat aku semakin tahu diri, … dan bisa saja yang di katakan Tante Eva benar, apa yang Jovian lakukan saat ibu hanya sedang berusaha menjalani hidupnya setelah cinta yang dia miliki habis."


Kiana menunduk, dan menangis lagi.


Dia sudah tidak berharap ada yang membelanya sekarang, dia juga tidak meminta untuk dikejar. Hanya saja dia berharap, ada orang baik yang akan memberinya tumpangan, hanya untuk mengantarnya sampai rumah sebelum dia benar-benar pergi dengan jarak yang semakin jauh.


Hatinya sudah terlanjur sakit, dan dia tidak lagi berharap hidup bersama orang tua, atau pun suaminya. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi setidaknya dia tidak lagi akan terluka.


***


"Saya sebagai suami dari Kiana. Meminta maaf sebesar-besarnya jika dia memang sudah melakukan hal yang tidak pantas." Akhirnya dia mengucapkan itu, setelah mendapatkan tekanan dari Erik.


Jovian menatap sang mantan mertua dan Eva bergantian. Pria itu terlihat kesal, ketika apa yang dia coba katakan tidak berpengaruh sedikitpun untuk Erik.


"Aku harus mencari Kiana dulu. Dia pergi tanpa tasnya, sudah di pastikan dia akan kesulitan untuk pulang." Pria itu beralasan.


Jovian bangkit dan hendak pergi setelah baru saja menyadari jika apa yang Kiana butuhkan tertinggal di rumah orang tua Adline. Dia benar-benar pergi menjauh tanpa apapun, bahkan uang untuk membayar transportasi.


Dan itu benar-benar membuat pikiran Jovian mulai kacau.


"Kau menghindar lagi? Laki-laki macam apa kau ini? Setiap ada masalah pasti menghindar. Dulu, dan sekarang sama saja tidak ada berubahnya!" Kata Erik sambil tersenyum miring.


"Apa yang kita bahas ini tentang apa yang terjadi sekarang, bukan masalah lalunya yang jelas-jelas sudah lewat." Sergah Leni.


Wanita itu merasa gemas dan tidak tahan. Leni terus melihat putranya di rendahkan di hadapan semua oranga. Termasuk Danu yang saat ini sudah menjadi mertuanya.

__ADS_1


"Pergilah. Masalah ini biar kamu yang urus! Temukan Kiana dan bawa dia pulang dengan keadaan baik, oke?" Pinta Leni kepada Jovian.


Anak dan ibu itu saling menatap satu sama lain, kemudian Jovian segera beranjak tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Sementara Danu terus diam dengan raut kekhawatiran yang juga sudah jelas terlihat. Apalagi Herlin, wanita itu bahkan terlihat beberapa kali merengek untuk segera mencari putrinya, namun ego Danu yang tinggi membuat pria itu enggan mengalah, karena dalam pikirannya Kiana lah yang keterlaluan, dan menyebabkan kegaduhan seperti malam ini.


"Saya tidak akan meminta ganti rugi apapun, atas apa yang sudah dialami oleh putri saya. Tapi sesuai keinginan Eva tadi, Kiana meminta maaf secara langsung kepada dirinya. Dan jika itu sudah dijalankan, maka apa yang menjadi duduk perkara kita nyatakan benar-benar selesai." Ujar Erik.


Sementara Eva menundukan kepala, lalu tersenyum penuh kemenangan.


Dan ucapan itu jelas masih bisa Jovian dengar, saat dia hendak mencapai mobil hitam miliknya. Jovian hendak kembali masuk ke dalam, namun suara Jonathan jelas membuat Jovian menghentikan niatnya.


"Jovian sudah meminta maaf tadi. Apa yang kalian permasalahkan lagi? Bukankah kalian tidak akan membawa hal ini ke jalur hukum? Itu sudah perjanjian anda dengan pak Danu tadi." Tegas pria berwajah asing tersebut.


"Ini juga sudah permintaan Eva dari awal!" Erik tetap dengan pendiriannya.


Dan itulah kata-kata terakhir yang Jovian dengar, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan kediaman mertua dari saudaranya dengan segera, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hhhheuh!" Jovian menyapu wajahnya dengan perasaan tidak menentu.


Bahkan fokusnya hampir buyar, mengingat dia akan sangat kesulitan mencari Kiana, karena perempuan itu tidak membawa ponselnya, salah satu benda yang dapat dia lacak.


"Harus kemana aku mencarimu?"


Jovian merapatkan punggung pada sandaran kursi mobil, sambil terus menatap lurus kedepan, dimana lalu lintas di sekitaran sana terpantau cukup ramai.


......................


Duh, padahal lagi semangat updte. Ke jeda sama permintaan sambel goreng nih, makanya jadi nggak bisa buru-buru up. maaf ya telat🤭🤭 ayo sogok dulu nanti up lagi🙈

__ADS_1


__ADS_2