
"Ommm!" Hilmi merengek, dengan suara lembut mendayu-dayu.
Pria berusia 21 tahun itu menatap Gibran, memperlihatkan raut wajah sendunya. Berharap jika salah satu kepercayaan Jovian merasa iba dan membiarkan ia pulang.
Gibran melipat kedua tangan di dada, seraya menatap Hilmi penuh selidik dengan mata yang memicing tajam.
"Aku cuma disuruh, Om. Jadi lepasin yah? Aku harus pulang." Hilmi memohon.
"Lalu katakan siapa yang menyuruhmu?" Tegas Gibran dengan suara menggelegar.
Hilmi memejamkan matanya dengan segera. Nyalinya semakin menciut, apalagi saat melihat pria di hadapannya yang terlihat begitu marah. Tidak hanya itu, tempat yang tampak temaram membuat dia sangat ketakutan.
"Karena perbuatanmu saya harus repot-repot seperti ini. Jadi katakan siapa yang menyuruhmu, … dan apa alasannya sampai kamu ingin melakukan itu? Jika dipikir bolak-balik tentu saja tidak ada untungnya untukmu." Ucap Gibran dengan nada kesal.
Tentu saja, tidak ada yang bisa dia lakukan, selain terus menekan Hilmi agar mau berbicara. Memukul pun hanya percuma, karena hanya akan menambah rengekan Hilmi tanpa mendapatkan informasi apapun.
"Ada kok Om!" Balas Hilmi. "Aku di kasih uang, … dan aku bisa pakai uang itu, … agar aku bisa mengikuti wisuda nantinya."
"Astaga. Kau ini pria! Kenapa nada bicaramu seperti itu?" Cicit Gibran.
Raut wajahnya seketika berubah. Kening mengkerut, pelipis hampir bertautan, dengan satu sudut bibir yang tampak terangkat.
"Menggelikan!" Lanjut Gibran, lalu tubuhnya bergidik dan segera menjauh dari sana, meninggalkan Hilmi sendiri di ruangan temaram, dimana hanya ada lampu kuning 5 wat yang menggantung, dengan posisi tubuh terikat di atas kursi kayu.
Hilmi kembali terdengar berteriak, dia kembali memohon agar Gibran segera melepaskannya, dan membiarkan dirinya pulang. Tidak lama setelah Gibran meninggalkan ruangan itu. Pintu utama segera terbuka, dan munculah Jovian dengan ekspresi wajah datarnya.
"Dimana dia?" Langsung saja Jovian bertanya, tanpa banyak berbasa-basi.
Gibran terdiam sebentar, dia menatap Jovian dan beberapa rekannya yang berada di sana bergantian, sebelum akhirnya Gibran membawa Jovian ke salah satu ruangan kecil yang tampak temaram.
"Ya ampun, Om! Aku mau pulang, … jangan jahat-jahat lho, Om!"
Hilmi terdengar mulai menangis.
Jovian tidak menyahut, dia terus berjalan mendekat, dan duduk tepat di satu kursi yang berada di hadapan Hilmi, sementara Gibran kembali keluar, meninggalkan keduanya begitu saja.
Suami dari Jasmine Kiana Danuarta itu merapatkan punggung pada sandaran kursi, duduk bertumpang kaki, kemudian melipat kedua tangannya di dada, dengan sorot mata yang terlihat semakin tajam.
Dan itu membuat Hilmi semakin ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal bodoh itu?" Tanya Jovian dengan suara rendah penuh penekanan.
Dia tidak melakukan apapun. Tidak menampar, memukul, menendang, atau hal lainnya yang akan membuat Hilmi merasa takut dan kesakitan dalam waktu bersamaan. Namun, sudah jelas sikap Jovian membuat mental Hilmi benar-benar hancur.
"Saya tanya sekali lagi, siapa yang meminta kamu melakukan itu? Pengakuan kamu kepada anak buah saya seperti itu, jadi katakan saja sebelum aku mencabut kuku-kukumu sekarang juga!" Jovian membuat suaranya selembut mungkin.
Kemudian dia menyeringai, memperlihatkan senyumannya dengan raut wajah jahat yang dia tunjukkan. Namun tampaknya Hilmi masih enggan membuka mulutnya. Dia hanya menggerakkan kepala ke kiri dan kanan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Katakan atau saya robek bulutmu!" Jovian berteriak.
Lalu dia bangkit dan menendang kursi yang Hilmi duduki, sampai pria itu terjungkal ke arah belakang.
Braakkk!!
"Ampun Om, … ampun!" Hilmi berteriak.
Jovian tidak menjawab, dia melebarkan kedua kakinya, berdiri di atas tubuh Hilmi, meraih Hoodie yang dia kenakan, lalu menariknya sampai pria muda itu duduk seperti semula.
Tangisannya terdengar semakin kencang, dan tentu saja itu membuat Jovian semakin merasa gemas.
"Ambilkan gunting!" Teriak Jovian. Sampai suara besarnya memantul memenuhi ruangan itu.
"Jangan Om!"
"Gibran saya bilang minta gunting, … cepat!!"
Wajah Jovian terlihat sangat menyeramkan, nafasnya memburu, dengan emosi yang sudah berada di atas ubun-ubun.
"Tidak! Ampun Om … saya minta maaf! Saya cuma disuruh, dan di janjikan sejumlah uang untuk membayar kuliah saya." Jelas Hilmi sambil menangis.
Klek!!
Pintu ruangan itu terbuka. Dan muncullah Gibran dengan membawa gunting berukuran besar yang Jovian minta.
"Ampun Om, … ampun!" Hilmi semakin panik.
"Diamlah seperti tadi. Tutup mulutmu rapat-rapat, dan akan aku bantu agar kau tidak dapat berbicara dalam beberapa waktu." Katanya sambil menggeram.
"Tidaaaaakkkkkkk!" Hilmi menjerit. "Jangan lakukan itu Om, … saya memang disuruh. Tapi saya tidak kenal siapa dia, … saya hanya berusaha menyapa Kiana ketika kalian hendak pergi, sebelum akhirnya ada seorang wanita yang menarik saya, dan mengatakan banyak hal." Jelas Hilmi.
Suara tangisnya semakin tersedu-sedu. Rasa takutnya sudah benar-benar menguasai diri, apalagi saat melihat gunting besar yang ada dalam genggaman tangan Jovian, membuat Hilmi semakin panik dan tidak ada hal lain untuk menyelamatkan diri selain berbicara, dengan sisa ingatan yang ada di dalam pikirannya.
Jovian diam, lalu menoleh ke arah Gibran. Sampai 2 pria berpostur tinggi besar itu saling menatap satu sama lain.
"Maka katakanlah dengan cepat. Berikan informasi yang benar." Ujar Gibran.
__ADS_1
"Sudah aku bilang tadi. Aku tidak tahu, … aku sudah jujur tapi Om tidak percaya!"
Jovian menghela nafasnya, dan kembali duduk, menatap Hilmi dengan gunting yang masih ada di dalam genggamannya.
"Kau ini laki-laki, jadi bicaralah layaknya seorang laki-laki!" Tegas Jovian.
"Nggak bisa, Om. Ini udah setelan pabrik … huwaaa!"
Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah tidak percaya. Bahkan pria itu beberapa kali menghirup dan menghembuskan nafas agar kesabarannya tetap bertahan.
"Gitu. Lagi di kandungan emaknya keseringan presto ayam! Brojol anaknya jadi tulang lunak begini." Gumam Gibran.
"Saya beri kesempatan kamu untuk menjelaskan sejelas-jelasnya, cepat!" Titah Jovian.
Dia memberikan guntingnya kepada Gibran, melipat kembali tangan di dada, menyandarkan punggung pada sandaran kursi, sambil kembali bertumpang kaki.
"Cepat! Saya beri waktu lima menit!" Sentak Jovian.
Hilmi pun mengangguk.
"Waktu itu saya berkunjung ke salah satu taman jajan bersama teman-teman yang lain, awalnya kita berniat untuk masuk ke area …"
"Teman-teman yang lain itu siapa!?" Sergah Jovian. "Yang lengkap kalau memberi informasi!" Ucapnya lagi.
Hilmi mengangguk kembali, karena hanya itu yang mampu membuat Jovian diam, dan menghentikan kata-kata penuh ancaman.
"Emmm, … Starla dan Zayna."
"Hemmmmm. Lalu?"
"Ya, setelah membeli beberapa makanan kita berniat untuk masuk ke dalam danau. Tapi karena tidak di izinkan kita tetap berada di area sana, dan duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia. Singkat cerita, kedua teman saya ini pulang lebih dulu, … dan ketika saya hendak pulang juga, saya melihat Kiana juga Om yang sepertinya mau pulang juga karena berjalan mendekati parkiran mobil. Saya berniat memanggil Kiana, … tidak tahu kenapa rasanya sangat menyesal karena hubungan pertemanan kita tidak baik lagi. Saya memanggil Kiana beberapa kali, tapi dia tidak mendengar. Dan saat saya berniat mengejar, seorang perempuan datang, dengan jaket, topi dan kacamata hitam, untuk menawarkan sesuatu. Dia menjanjikan sejumlah uang, dan dia memberikan satu buah foto yang harus saya tempel di papan pengumuman. Awalnya saya tidak mau, tapi mengingat saya hampir tidak dapat mengikuti wisuda karena masih mempunyai tunggakan, akhirnya saya terima."
Setelah menjelaskan banyak hal. Akhirnya Hilmi diam, dengan isak tangis yang belum benar-benar hilang. Sementara Jovian memicingkan mata, menatapnya tajam, seperti sedang mencari tahu jika saja Hilmi kembali berbohong.
"Kamu benar tidak mengenalinya?"
Hilmi menggelengkan kepala.
"Maaf karena butuh uang saya menjadi gelap mata. Dan untuk kesekian kalinya saya menyakiti Kiana." Ucap Hilmi dengan suara mendayu-dayu nya.
"Lalu untuk masalah cctv kampus bagaimana?" Tanya Jovian lagi.
Hilmi segera menggelengkan kepalanya.
Gibran memutar bola matanya saat mendengar pria yang saat ini menghad Jovian terus bertingkah layaknya seorang anak gadis.
"Sungguh?"
"Beneran, Om!" Jawab Hilmi dengan bersungguh-sungguh.
Jovian diam untuk beberapa saat, dia mencoba berpikir. Sebelum akhirnya kembali berbicara kepada Hilmi.
"Kamu mau membantu saya?"
"Bantu apa Om?"
"Menemukan siapa orang yang mengambil gambar saya dan Kiana secara diam-diam?"
Hilmi mendengus, dengan raut wajah yang terlihat hampir kembali menangis.
"Aku nggak tau, Om. Beneran deh ih!"
"Hanya memberitahukan ciri-cirinya kepada saya! Siapa tahu dia masih berkeliaran di sekeliling aku, Kiana dan kalian."
Hilmi diam.
"Oh tidak mau yah!" Kata Jovian, lalu dia menoleh ke arah Gibran. Dimana pria itu terus berdiri memperhatikan. "Sini!" Dia menggerakkan jari-jari tangannya, meminta pria itu untuk segera mendekat.
Gibran yang mengerti pun kembali menyodorkan gunting berukuran besar itu kepada Jovian.
"Ya ampun!" Hilmi kembali menangis kencang.
"Baiklah, seperti kamu tidak bisa saya kasihani yah!"
Jovian bangkit, mendekatkan diri dengan sesuatu di tangannya yang tampak sudah siap menikam.
"Iya Om … iya! Aku mau bantu Om buat nyari siapa Mbak yang ngasih aku uang itu!"
Namun, Jovian tampak tidak peduli. Dia terus mendekatkan diri, dan gunting itu kepada Hilmi. Hingga membuat pria muda itu menjerit-jerit di sela tangisannya.
"Jangan Om!" Hilmi menjerit dengan kedua bola mata yang tertutup.
Trakk!!
Sesuatu terdengar terjatuh dan menghantam lantai. Membuat Hilmi kembali membuka matanya. Dan betapa leganya dia saat melihat Jovian beranjak pergi menjauh.
__ADS_1
"Lepaskan dia. Tapi awasi setiap apa yang dia lakukan." Titah Jovian kepada Gibran.
"Dan untuk kau! Aku harap tidak akan ada siapapun yang mengetahui tentang ini! Kau ada di pihakku sekarang, maka tutuplah mulutmu dengan benar, sebelum aku menutupnya dengan perban nanti."
Setelah mengatakan itu Jovian benar-benar keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Hilmi dan Gibran begitu saja.
"Ommm? Lepasin, Om!" Katanya pelan, lalu tersenyum penuh arti.
"Berhenti melakukan itu. Atau aku jahit bibirmu sekarang juga!" Tegas Gibran. "Heran, kenapa ada jenis laki-laki sepertimu di dunia ini!? Dia menggerutu pelan.
Yang seketika membuat senyuman di kedua sudut bibir Hilmi memudar.
"Haih, ternyata begini cara kerja Bodyguard pribadi. Menyeramkan juga, apa-apa di selidiki. Mana dibawa dulu ke ruangan seperti ini lagi! Kotor, nggak terurus. Kapan-kapan ke hotel dong, biar greget."
"Diam!" Sentak Gibran.
"Iya iya."
Dan setelah itu Hilmi benar-benar diam. Membiarkan Gibran membantu membuka ikatan di kakinya yang terasa begitu kencang, sampai menimbulkan sedikit rasa panas.
***
Kiana keluar dari dalam kamarnya dalam keadaan segar.
Suasana di dalam rumah sana terasa hening seperti biasa. Orang-orang tampak asik dengan kesibukan masing-masing.
Lampu-lampu besar terlihat menyala, saat suana di luar sana sudah terlihat gelap gulita, ketika cahaya matahari tak lagi terlihat, digantikan dengan cahaya bulan yang terlihat redup, namun selalu terlihat mempesona di kala kemunculannya.
Dia berjalan menuruni setiap anak tangga dengan sangat hati-hati. Kemudian berbelok ke arah pintu taman belakang yang terbuka, saat mendapati ruang keluarga yang sunyi-sepi bak tak berpenghuni.
Dan disana ayah dan ibunya berada. Duduk di atas sofa yang berada di dalam gazebo, bersama sebuah laptop yang tampak menyala.
"Hey, kamu sudah bangun?" Tanya Herlin ketika wanita itu menyadari kedatangan putri semata wayangnya.
Kiana mengangguk. Lalu melangkahkan kaki sampai jarak mereka semakin mendekat.
"Jovian kemana?" Langsung saja Kiana bertanya demikian.
Kemudian dia duduk tepat di samping Herlin, merebahkan punggung pada sandaran sofa. Entah kenapa, tubuhnya terasa begitu sakit, otot-ototnya terus terasa lemas, dan sepertinya Kiana benar-benar sakit kali ini, karena kegiatan intim yang tidak pernah terjeda.
"Tadi selesai mandi dan mengobrol sebentar dengan Papa sambil minum kopi, … dia langsung pergi katanya ada pekerjaan, dan dia lupa membawa laptopnya. Jadi mungkin Jovian ke apartemen dulu sebentar untuk membawa laptop." Jelas Danu, dengan pandangan yang tidak teralihkan sama sekali.
Kiana mengangguk.
"Kamu mau makan malam sekarang? Atau mau menunggu suamimu kembali?" Tanya Herlin.
"Sebentar lagi lah! Aku kayaknya sakit deh, badan aku nggak enak semua." Kiana mengeluh.
"Memangnya apa yang kamu lakukan disana? Bermain air laut seharian?" Herlin terkekeh.
Namun, Kiana diam tidak berkomentar apapun.
"Sejak dari kecil, sampai besar sekarang ternyata kamu suka sekali bermain air. Sampai tidak ingat waktu, dan ujung-ujungnya pasti demam." Katanya.
Dia mengangkat tangan, lalu menempelkan punggung tangan ke arah kening Kiana, lalu beralih pada leher. Dan benar saja, nyatanya suhu tubuh Kiana sedikit terasa lebih hangat.
"Pah? Kia demam!" Ujar Herlin kepada suaminya.
Danu mengangkat pandangan, menatap Kiana yang saat ini sedang merebahkan diri pada sandaran sofa, dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
"Benarkah?"
Danu melepaskan kacamata bacanya, dia bangkit, memutari meja, dan duduk tepat di samping putrinya.
"Kamu demam. Lalu kenapa kamu mandi?" Danu menyentuh dahi dan leher Kiana, sama persis yang Herlin lakukan. Seraya menatap rambutnya yang masih terlihat sedikit basah.
"Aku pikir rasa pusingnya akan hilang kalau aku mandi. Terus badan juga lengket, nggak nyaman kalau aku nggak ganti pakaian."
"Ayo masuk kedalam. Minta Ipah buatkan bubur, setelah itu minum obat dan istirahat yang cukup."
Danu bangkit, sedikit membukukan tubuhnya untuk meraih tubuh mungil Kiana. Dan dengan sekali gerakan Danu mampu mengangkat putrinya, lalu kemudian membawa Kiana masuk ke dalam rumah, ketika keadaannya semakin terlihat mengkhawatirkan.
"Bi? Bibi?" Herlin berteriak, bahkan dia berlari ke arah dimana pintu dapur berada.
"Ya Bu?"
"Buatkan bubur ayam untuk Kia. Buburnya yang lembut, pakai Ayam kampung, terus sayurnya kasih lada sedikit lebih banyak yah!" Pinta Herlin.
Tiga orang yang sedang beristirahat di dalam ruangannya pun mengangguk, dan segera melakukan apa yang Herlin minta. Sementara wanita itu kembali berlari ke arah ruang tengah, dimana suaminya merebahkan Kiana di atas sofa besar sana.
......................
Jangan lupa Like, komen, hadiah sama vote kalo masih punya. Dukungan kalian sangat berarti lho buat othor remahan kaleng kongguan ini....
Cuyung kalian ♥️♥️
__ADS_1