Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Demam


__ADS_3

Pandangan Jovian tertuju lurus kedepan. Menatap jalanan kota Tangerang yang selalu tampak ramai dan sedikit padat di beberapa titik tertentu. Lampu-lampu jalanan tampak menyala, begitu pula dengan gedung-gedung yang berdiri kokoh di area sekitar. Salah satunya sebuah bangunan besar dengan bentuk bundar di atasnya, JHL. Solitaire. Gedung yang tampak semakin mempesona jika malam hari telah tiba, karena lampu berwarna ungu akan menyala memenuhi bangunan tersebut.


Perlahan Jovian melambankan laju kendaraannya, saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, lalu benar-benar berhenti tepat di belakang beberapa antrian kendaraan.


"Hhheuh!" Jovian menghembuskan nafasnya kencang.


Pikirannya mulai menerka-nerka, membayangkan seorang perempuan yang mendatangi Hilmi, dan memberikan sejumlah uang hanya untuk menempelkan selembar foto di papan pengumuman.


Mungkin jika kejadian itu terjadi di lain tempat, dia tidak ingin di buat pusing karena hal konyol seperti itu. Namun, hal yang sudah terjadi menunjukkan jika seseorang yang melakukannya tidak pernah menyukai kedekatan antara dirinya dan Kiana, yang kemungkinan besar ingin mempermalukan mereka berdua, karena sudah menargetkan salah satu dari sahabat perempuan yang saat ini sudah berstatus sebagai istri sahnya, sebagai tangan kanan dengan sengaja.


"Siapa kira-kira? Apakah Eva? Tapi sepertinya mereka berdua tidak ada masalah apapun. Bahkan Eva terlihat welcome sekali dengan Kiana. Atau Mayden? Bisa saja dia merasa kecewa karena aku menolak cintanya, dan melakukan itu agar membuat Kiana malu, menjauh dariku, dan Mayden bisa mendekat kembali? Terlebih perlakuanku yang memang selalu memberi jarak kepadanya?" Gumam Jovian dengan suara pelan.


Tiba-tiba saja kepalanya terasa pening. Sampai dia memejamkan mata untuk beberapa saat, sembari menekan-nekan ujung hidungnya sendiri.


Pim pim!!


Lampu lalu lintas berubah hijau, riuh suara mobil dan motor mulai melaju, bersahutan dengan klakson dari arah belakang kala dirinya masih diam di area sana. Dengan segera Jovian menarik kesadaran, mencengkram setir, dan menginjak pedal gas dengan perlahan.


Hingga puluhan menit berkendara. Akhirnya dia memutar setir berbelok mendekati sebuah gerbang rumah yang tertutup rapat. Dan setelah beberapa detik seorang penjaga keamanan terlihat mendorongnya ke arah sudut sampai benda itu benar-benar terbuka lebar.


Dia menurunkan kaca mobilnya dengan segera.


"Terimakasih, Pak!" Kata Jovian saat melewati security rumah mertuanya.


Dia menyapa dengan senyuman, kala pria berseragam itu menoleh dan menatapnya.


"Iya, Pak Jovian." Pria yang di maksud menjawab.


Sementara Jovian terus melajukan mobilnya, memarkirkan dengan benar, lalu kemudian menghentikan mobilnya tepat di samping mobil Pajero hitam pekat milik Danu.


Jovian keluar, untuk kemudian berlari ke arah pintu rumah yang sudah tampak tertutup dengan rapat. Tidak tahu kenapa, rasanya dia sangat merindukan Kiana, padahal dia keluar rumah hanya beberapa jam saja.


Klek!!


Suasana rumah masih terasa sepi seperti sebelum dia meninggalkan tempat itu beberapa jam lalu. Namun, sebuah pergerakan membuat perhatian Jovian tertuju ke arah ruang tengah. Dimana dua wanita berbeda usia tengah merapikan beberapa mangkuk dan gelas pakai yang berada di atas meja sana.


"Belum lihat Kiana bangun, Bi?" Tanya Jovian kepada Yati.


Wanita itu berjalan mendekat dengan nampan di atas kedua tangannya.


"Tadi sudah turun, … tapi sudah kembali ke atas. Diantar Bapak soalnya Non Kia demam, ini juga habis makan bubur Bayi dan minum obat." Yati menjelaskan.

__ADS_1


Pandangan Jovian langsung tertuju ke arah lantai 2, dimana kamar milik istrinya berada di area sana. Dan tanpa menunggu lama Jovian naik ke lantai atas rumah mertuanya, dengan perasaan khawatir yang pria itu rasakan.


"Sekalian sapu sama pel, ya Ipah. Jadi besok pagi kerjaan kamu lebih sedikit." Titah Yati sambil berjalan ke arah belakang.


Sementara Ipah mengangguk, pertama mengerti dengan perintah seorang pekerja senior di rumah itu.


"Benar tidak mau sesuatu?" Suara Herlin terdengar.


Membuat Jovian memelankan langkah kakinya, ketika jarak antara pintu kamar dan keberadaannya saat ini hanya tinggal beberapa langkah saja.


"Aku baik-baik saja. Mama suka lebay padahal aku hanya demam, … tadi udah makan bubur, udah minum obat juga! Besok pagi pasti enakan kok." Suara Kiana menjawab, dengan kekehan pelan yang terdengar.


"Mama hanya takut!" Dia mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Nggak apa-apa, aku baik-baik aja kok. Masa drift girls cengeng, kan nggak boleh!"


"Hemmm, … jangan berani untuk terjun lagi ke dunia itu. Atau kamu Mama hukum! Oh bukan Mama, tapi Jovian yang akan menghukum mu." Herlin memberi sebuah peringatan.


Dan ucapan itu sontak membuat kedua sudut bibir Jovian tertarik saling berlawanan arah, membentuk sebuah senyuman sama, namun terlihat manis.


"Kalau begitu Mama ke bawah dulu yah. Kasian Papa di belakang sendirian, ada banyak dokumen yang harus diperiksa. Dan itu Papa lakukan agar jika nanti kamu sudah masuk bekerja tidak terlalu pusing." Herlin menarik ujung selimutnya ke arah atas, sampai menutupi dada Kiana.


Perempuan yang di maksud mengangguk, dan tersenyum samar. Berusaha membuat kekhawatiran ibunya sedikit berkurang.


Herlin yang sedari tadi duduk di tepi ranjang pun segera bangkit. Kemudian berjalan mendekati pintu kamar yang dibiarkan terbuka lebar. Namun, sebelum benar-benar Herlin keluar, Jovian segera melangkah masuk hingga keduanya saling beradu pandang.


"Ah, akhirnya kamu pulang!" Herlin tersenyum kepada menantunya.


"Iya, Ma. Tadi ada telepon dari orang Hotel, jadi Jovian datang ke hotelnya dulu, sekalian kasih uang muka." Jovian tersenyum.


"Ya sudah. Mama ke bawah dulu yah, … Kiana sedang demam, jadi kalau ada sesuatu bisa panggil siapapun yang ada di bawah." Katanya lagi, yang langsung mendapat anggukan dari sang menantu.


Dan setelah itu Herlin beranjak pergi, meninggalkan Kiana bersama suaminya yang baru saja tiba.


Pandangan keduanya beradu, menatap satu sama lain dengan senyuman samar yang di perlihatkan. Terlebih dulu Jovian menutup pintu kamar itu, lalu berjalan mendekati sang istri setelah meletakan dompet berukuran sedang dan tas laptop yang dia bawa dari apartemen tadi.


"Honey, what happened?" Suaranya terdengar sangat lembut.


Dia naik ke atas tempat tidur, lalu menyentuh kening istrinya menggunakan punggung tangan. Sementara Kiana tidak langsung menjawab, dia tampak tersenyum dengan pandangan yang terus dia tujukan kepada suaminya.


"Kamu demam? Dan tidak menghubungi aku, hum?" Manik berkilau milik Jovian tampak bergerak-gerak, menatap wajah Kiana dari jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


"Ya, sepertinya waktu disana aku keseringan mandi. Apalagi cuaca disana kan lebih panas dari pada di sini, mungkin akunya kaget, … jadi demam." Ujar Kiana sambil tersenyum.


Jovian diam.


"Kamu sudah makan?"


Tangan Kiana bergerak menyentuh pipi Jovian, dan mengusap-usap tulang rahang suaminya yang sudah terlihat di tumbuhi bulu-bulu halus.


"Belum." Jovian menjawab.


"Mau aku temani? Aku bisa kalau hanya duduk menemani kami makan. Sementara Mama dan Papa sudah duluan. Tadi sempat nungguin kamu, tapi aku bilang makan duluan aja, soalnya takut kamu lama."


Pria itu terus tersenyum. Dan itu membuat dada Kiana semakin berdebar-debar, bahkan hanya karena menatap senyuman hangat dari Jovian.


"Gampang. Kalau aku mau makan ya tinggal makan, tidak perlu ditemani juga. Tapi sekarang belum mau, rasanya aku menyesal karena membuat kamu demam seperti ini!"


Jovian merebahkan tubuhnya, menelusupkan wajah di ceruk leher Kiana, menghirup aroma minyak kayu putih yang begitu menyengat dengan tangan yang memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


"Aku baik-baik saja. Hanya demam!"


"Bagaimana kamu merasa baik? Sementara keadaan kamu saja seperti ini! Terbaring dengan wajah pucat, belum lagi sampai minum obat, berarti kamu tidak baik-baik saja, Baby!" Jovian menyahut dengan suara pelan.


Bahkan Jovian mulai memejamkan matanya, seraya menghirup aroma yang sangat menyegarkan.


"Aku telepon Mbak Ipah ya? Biar anterin makan kesini?" Kiana mengusap kepala suaminya.


Jovian diam.


"Sayang? Kamu makan sekarang?"


Dan setelah pertanyaan terakhir Jovian menjawab dengan gelengan kepala.


"Aku mau seperti ini dulu, … jadi diamlah Baby! Aku akan makan jika memang sudah mau. Dan sekarang aku hanya mau kamu, itu saja." Suaranya terdengar pelan.


Bahkan terdengar seperti rengekan anak kecil, dan itu membuat Kiana merasa heran. Tentu saja, dirinya yang sakit, tapi mengapa jadi suaminya yang manja.


"Baiklah, gimana kamu saja." Ujar Kiana sembari menepuk-nepuk lengan kekar yang tengah melingkar, melilit kencang di atas perutnya, seolah takut jika Kiana akan pergi jika Jovian tidak melakukannya.


......................


Seperti biasa, jangan lupa like, komen, vote kalo yang masih punya, sama tabur-tabur oke🤭

__ADS_1


Cuyung kalian 😘😍


__ADS_2