Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Trouble


__ADS_3

"Selamat siang, Pak Cendana." Sapa Jovian seraya mengulurkan tangannya.


Yang seketika di terima oleh pria yang Jovian kenal sebagai rekan kerja dari atasannya terdahulu.


"Siang, Jovian." Dia menyahut. "Lama tidak bertemu, keadaanmu sepertinya sedikit kurang baik yah!?" Ujarnya penuh dengan candaan.


"Biasalah, Pak. Ada sedikit trouble, … jadi yah tidak sempat memikirkan diri sendiri." Jovian menimpali candaan dari pria tersebut.


"Tapi saya yakin kalau saya tetap tampan. Bukan begitu, Pak Cendana?"


Cendana terkekeh cukup kencang, membuat kepalanya sedikit mendongak ke arah belakang dengan mata yang juga ikut terpejam.


"Kau ini bisa saja. Setahu saya sifatmu sangatlah tidak bersahabat, … lihat? Tapi sekarang kau sudah seperti komedian profesional." Kata Cenda.


Dan itu membuat Jovian ikut tertawa.


"Kalau begitu mari!" Jovian segera mengajak Cendana.


Orang yang di maksud mengangguk, bangkit dari duduknya, lalu berjalan beriringan dengan Jovian yang saat ini hendak mendekati beberapa pintu lift yang berjejer.


Tring!!


Salah satu dari pintu lift terbuka, membuat keduanya segera mendatangi benda itu, untuk kemudian masuk dan menekan salah satu tombol dan tertutuplah pintu besi itu dengan perlahan.


"Bagaimana dengan pernikahanmu yang sekarang?" Cendana memulai obrolan.


Jovian menoleh, lalu memperlihatkan senyuman bahagia.


"Yang sekarang jauh lebih baik, Pak. Saya menemukan tempat pulang, … sosok yang benar-benar membuat saya nyaman untuk tetap berada di rumah. Lalu jika keluar dan pergi untuk beberapa waktu, maka rasanya ingin segera kembali." Jovian menjelaskan.


Cendana tampak mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan pesta pernikahannya? Apa kamu tidak berniat memperkenalkan dia ke publik? Selain medsos tentunya."


Jovian tersenyum.


"Acaranya sudah lewat, … gagal! Karena ada kesalahpahaman diantara kami berdua."


Pria paruh baya dengan penampilan serba tapih itu terdiam. Menatap Jovian dengan raut wajah yang tidak bisa di katakan oleh kata-kata.


"Dan itu yang membuat kamu sekacau, ini!?"


"Tidak apa-apa, Pak. Sekarang semuanya sudah jauh lebih baik, … istri saya baru saja pulang umroh, kemudian dia membawa kabar gembira, jika dia sedang mengandung buah hati kami. Sedikit mengejutkan, tapi saya bahagia dengan kabar itu! Setidaknya kami tidak akan benar-benar berpisah setelah masalah yang kami lalui."


Tring!!


Kotak besi itu berhenti, kemudian terbukalah pintunya dengan sangat perlahan.


"Pasang surut di dalam rumah tangga itu biasa, semuanya balik lagi ke diri kita masing-masing. Mau mempertahankan hubungan itu sendiri, atau tidak." Kata Cendana.


Keduanya berjalan keluar dari dalam lift itu bersama-sama.


"Duh, saya jadi curhat. Padahal awalnya cuma mau menawarkan apartemen, … seharusnya menerangkan kondisi tempat ini, bukan soal rumah tangga saya." Jovian tertawa pelan.


Begitu juga dengan Cendana, yang mengerti kegugupan Jovian ketika mereka kembali bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa.


"Tidak apa-apa, sepertinya hubungan kita di masa lalu membuat kita masih merasa dekat sampai sekarang."


Jovian mengangguk. Lalu kemudian langkah kakinya berhenti tepat di hadapan salah satu unit apartemen, lalu menempelkan jempolnya pada sensor kunci otomatis sampai membuat benda itu segera terbuka dengan sendirinya.


"Silahkan masuk, Pak." Titah Jovian. "Nanti acsess card dan pengaman lainnya bisa di atur ulang, Pak." Terang Jovian.


Cendana mengulum senyum, mengangguk, yang kemudian langsung berjalan mengikuti sang pemilik unit tersebut.


Pandanganya mengedar, menatap sebuah bangunan yang memang terlihat cukup mewah. Interior bergaya semi modern, dengan warna hitam, abu-abu dan putih yang mendominasi. Tidak lupa dengan setiap furniture yang terlihat sangat cantik dan menawan di setiap penempatannya.


"Apartemen se bagus dan secanggih ini mau kamu jual? Tidak sayang?"


Jovian menimpali dengan gelengan kepala.


"Awalnya mau saya pertahankan karena ini salah satu harta yang saya miliki. Saya membeli apartemen ini murni dari hasil uang tabungan saya selama bekerja menjadi Bodyguard Pak Jendral. Tapi setelah di pikir-pikir, hidup bersama sesuatu yang menyimpan kenangan orang di masa lalu juga tidak baik, apalagi istri saya tahu."


"Agak rumit memang. Pikiran wanita tidak semudah yang kita kira, … bahkan mereka selalu mengira-ngira hal yang sudah jelas tidak ada hubungannya dengan kita. Bukan begitu?" Tukas Cendana, yang langsung mendapatkan anggukan dari Jovian.


Lalu setelah itu keduanya beralih membahas hal lain, sembari berkeliling melihat-lihat tempat yang memang sudah terlihat begitu rapi. Tentu saja, sebelumnya Jovian meminta seorang petugas kebersihan biasa untuk membersihkan tempat itu.

__ADS_1


"Yakin mau di jual?"


Jovian mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Kalau mau di jual, kamu pasang harga berapa?" Cendana segera bertanya.


Jovian terlihat berpikir.


"Menurut Bapak, apartemen milik saya pantas di kasih harga berapa? Saya tidak berharap banyak, sudah mau ada yang beli saja saya sudah merasa lega karena bisa benar-benar bisa meninggalkan tempat ini."


Cendana menatap Jovian lekat-lekat. Pria itu terlihat berberat hati, mungkin karena Jovian membelinya dengan sepenuh hati. Tapi disisi lain Jovian juga terlihat sangat bersungguh-sungguh, sampai membuat Cendana sedikit kebingungan.


"Ini dijual bersama dengan isinya bukan?"


"Ya, mungkin hanya barang-barang di ruang kerja saya saja yang dibawa."


"Baik kalau begitu."


Cendana memasukan kedua telapak tangannya pada saku celana, dengan pandangan yang kembali meneliti seisi ruangan itu. Melihat setiap sudut dan benda yang terdapat disana, dimana barang-barang masih terlihat sangat terawat.


"Dua koma lima? Bagaimana?"


"Menurut Pak Cendana sendiri, bagaimana?"


"Kamu malah balik bertanya."


Mereka berdua tertawa bersama.


"Saya bingung kasih harga, Pak. Terlebih dulu saya kenal Bapak dengan baik, … jadi yang menurut Bapak pantas saja."


Cendana mengangguk-anggukan kepalanya.


"Menurut kamu harga tadi apa sudah pantas? Tidak usah sungkan, kamu pemiliknya, apartemen ini juga terlihat sangat terawat. Katakan saja, kamu mau mengeluarkan apartemen ini dengan harga berapa?"


"Ya sudah. Harga yang Bapak katakan saja." Jovian tersenyum.


"Yakin?"


Jovian mengangguk sambil tersenyum sumringah.


"Iya, kalo sudah deal. Nanti saya minta orang untuk keluarkan alat-alat kerja saya."


Cendana mengulurkan tangan kenapa Jovian, yang langsung pria itu terlihat lalu menggerak-gerakkannya perlahan.


"Terimakasih, Pak."


"Tidak usah sungkan. Jika kamu butuh bantuan apapun, katakan saja."


Jovian mengulum senyum.


"Saya serius. Semenjak kamu menjadi salah satu yang menjaga keselamatan keluarga rekan saya. Maka sejak itu pula kita saling terhubung, dan memiliki hubungan tidak hanya sekedar rekan kerja atau antara atasan dan bawahan saja, tapi lebih."


"Mungkin nanti saya perlu bantuan Bapak." Akhirnya Jovian mengutarakan sesuatu yang sempat mengganjal di dalam benaknya.


Cendana menepuk-nepuk pundak Jovian.


"Katakan saja, apapun itu."


***


Sekitar pukul 16.00 sore hari Jovian sampai di kediaman orang tua istrinya.


Pria itu segera keluar dari mobil, saat kendaraan roda empat itu sudah benar-benar terparkir dengan rapi bersama mobil-mobil lain yang juga berada di garasi sana.


"Kiana dimana?" Jovian bertanya ketika dia berpapasan dengan Yati yang hendak menyiram tanaman milik Herlin.


"Ada di atas, Den."


"Bapak dan Ibu?" Dia bertanya lagi saat merasakan suasana rumah begitu sepi.


Karena biasanya dua orang tua itu akan bersantai di hadapan televisi jika sore-sore begini.


"Tidak lama setelah Den Jovian pergi. Ibu sama Bapak juga pamit menghadiri acara salah satu rekan bisnisnya."


"Acara?"

__ADS_1


"Iya, khitanan anak bungsu Pak Baskoro kalau tidak salah dengar." Ujar Yati lagi, dan langsung di jawab anggukan oleh pria itu.


Setelah mendengar penjelasan Yati. Jovian segera bergegas mendekati tangga, dan berlari naik agar dapat segera menjangkau pintu kamar sang istri yang terlihat tertutup rapat.


Klek!!


Jovian menekan handle pintu kamar, lalu mendorongnya sampai terbuka sedikit demi sedikit.


Namun, dia tidak mendapatkan Kiana ada di dalam sana. Tempat tidur terlihat rapi dan kosong melompong, hanya terdapat satu mug bekas pakai, dan beberapa bungkusan makanan ringan yang terbuka lebar.


Jovian mendekat untuk memastikan. Dan ya, isinya masih tersisa banyak, mungkin saja Kiana baru saja membuka nya. Tapi kemana perempuan itu?


"Huwek, … uhuk … uhuk … uhuk!!"


Pandangan Jovian seketika tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup. Ketika samar suara Kiana terdengar di dalam sana. Dengan segera dia mendekat, kemudian masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


Dia mematung di ambang pintu, kala mendapati Kiana bersimpuh di depan closet.


Mendengar ada suara pergerakan, Kiana segera menoleh. Dan betapa terkejutnya Jovian saat melihat keadaan Kiana. Bibir yang pucat, mata memerah juga berkaca-kaca.


"Baby?" Jovian berlari, untuk kemudian merengkuh tubuh sang istri, dan membantunya untuk berdiri.


"Pusing." Kiana berbisik lirih.


"Ya, wajahmu pucat sekali." Dia membungkuk, lalu mengangkat tubuh Kiana, dan membawanya keluar dari dalam sana.


"Sejak kapan kamu seperti ini? Kenapa tidak mengabari aku, hum?" Katanya, seraya meletakan tubuh mungil Kiana di atas tempat tidur.


Kiana bergeser, menggerakan tubuh untuk mencari posisi yang nyaman. Sementara Jovian segera duduk di tepi ranjang, setelah selesai menutupi tubuh Kiana dengan selimut.


"Entah, … tapi sebelum sampai disini aku selalu merasakan mual dan muntah di sore hari pas waktu masih di Makkah." Kiana mencoba mengingat-ingat.


"Mau minum air putih hangat? Atau apa yang kamu lakukan untuk meredakan rasa mulanya?"


"Tidak ada selain es krim strawberry. Atau buah-buahan segar seperti kiwi, apel dan jeruk."


Jovian menatap wajah Kiana tanpa ekspresi apapun. Namun, tentu saja dadanya berdebar-debar, merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dia jabarkan oleh kata-kata indah sekalipun.


"Sayang?" Panggil Kiana, dia meraih lengan Jovian lalu mengguncangnya.


Dan Jovian masih diam dengan perasaan tak menentu. Jelas, setelah sekian lama, akhirnya panggilan itu kembali dia dengan dari mulut istrinya.


"Sayang, … ayo kita beli es krim dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter spesialis kandungan." Kiana merengek meminta kepada Jovian dengan suara yang begitu terdengar manja.


Seulas senyuman tipis terbit di kedua sudut bibir Jovian.


"Apa setelah aku pergi kamu sudah memakan nasinya?"


Kiana pun mengangguk dengan segera.


"Benarkah? Bukannya kamu merasa mual saat hendak sarapan di pagi hari tadi?"


"Aku paksakan, … dan setelah itu Bi Yati menyediakan kiwi untuk aku dan Baby nya, sampai kita selamat dari rasa mual yang sangat luar biasa." Katanya sambil mengusap-usap perut.


Membuat senyuman Jovian semakin jelas terlihat.


"Ya sudah, ayo kita beli ek krim strawberry nya."


Jovian hampir bangkit, tapi Kiana menahannya dengan segera.


"Kita berangkat setelah aku mencukur jambangmu terlebih dahulu. Lalu melakukan sedikit perawatan agar wajah tidak kusam seperti sekarang."


Jovian menjengit.


"Memangnya penampilan aku terlihat buruk?"


Kiana mengangguk, kemudian dia bangkit dan turun dari atas tempat tidur.


"Kamu aneh kalau ada jambangnya. Walaupun tipis-tipis tapi aku tidak suka!"


Dia segera menarik suaminya.


Jovian mengikuti kemana sang istri membawanya. Merasa sedikit bingung karena entah kenapa tiba-tiba saja Kiana terlihat baik-baik saja. Padahal beberapa menit sebelumnya dia terlihat lemas dan tidak berdaya.


......................

__ADS_1


Masih dalam rangka sibuk menjelang lebaran ya🤭


Jangan lupa sawerannya🥳🥳


__ADS_2