
Sita berdiri di ambang pintu, ketika mendengar suara mesin mobil memasuki area pekarangan rumahnya, dan berhenti di antara mobil-mobil milik sang suami yang juga terparkir di garasi sana.
Lalu keluarlah seorang pria, memakai kaos putih, celana jeans, dan sebuah tas kecil yang berada di dalam genggaman tangan kanannya.
"Hey, Denis ada?" Tanyanya sambil tersenyum.
Dia menutup pintu mobil, lalu menekan remote control sampai lampu kendaraannya berkedip, di iringi suara singkat yang terdengar beberapa kali.
"Bahkan dia menunggumu, Jo." Sita menjawab.
Jovian menganggukan kepala. Dia terus berjalan, melewati Sita ketika wanita itu memberi jalan dan membiarkannya untuk segera masuk.
"Kau tidak membawa Kiana?" Tanya Sita sambil berjalan mengikuti sahabat dari suaminya itu. Wanita itu sedikit heran, karena tidak biasanya Jovian berkunjung tanpa sang istri.
Jovian menoleh sekilas, dan kembali tersenyum sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Kia yang tidak mau, … katanya mending di rumah aja biar bisa rebahan seharian," tiba-tiba saja ia teringat kepada belahan jiwanya, yang saat ini tengah menunggu di rumah, sambil meminum susu hamil yang sebelumya sudah dirinya siapkan sebelum benar-benar pergi.
"Memangnya disini tidak bisa?" Wanita itu terus bertanya.
"Mungkin beda, Sita. Di rumah sendiri sama di rumah orang lain itu vibesnya tidak sama," jelas Jovian.
Kemudian tangan kanan pria itu terangkat, ketika pandangannya dengan Denis bertemu. Sementara sang sahabat segera bangkit dari duduknya, berjalan mendekat, lalu saling merangkul ketika jarak diantara mereka sudah sangat dekat.
"Apa kabar Pak Bodyguard yang sangat sibuk?" Denis mengurai pelukannya, mendorong kedua bahu Jovian sampai mereka kembali sedikit berjarak.
Jovian terkekeh.
"Bodyguard istri sendiri ya? Lucu sekali hidup ini!"
"Tapi kau beruntung sobat, kapan lagi memangnya dapat istri secantik dan semuda Kiana. Belum lagi anak itu yang sudah bersedia memberikan turunan secara langsung, dua sekaligus lagi. Berbeda dengan yang dulu, sampai lima tahun pun dia masih belum mau mempunyai keturunan dari kau Jovian."
Tawa Jovian semakin kencang terdengar. Tidak tahu kenapa rasanya menggelikan sekali jika ingat kesana. Apa yang sudah di berikan, cinta ataupun materi. Tampaknya tidak membuat Eva merasa yakin sampai wanita itu memilih terus menunda bahkan keinginan terbesar suaminya pun.
"Duduklah, aku siapkan minumnya dulu!" Ujar Sita.
"Tidak usah repot-repot, aku datang hanya untuk sedikit membicarakan soal pekerjaan."
"Tidak repot, justru karena kalian akan berbicara soal kerjaan, makanya harus sambil minum agar lebih asik ngobrolnya."
Setelah mengatakan itu Sita segera beranjak, berjalan menuju dapur yang terletak di bagian samping rumahnya.
"Kemarilah!"
Denis berjalan lebih dulu, di susul Jovian setelahnya. Sehingga mereka dapat duduk di sofa besar ruang keluarga.
__ADS_1
"Kemana Dendi? Tumben tidak ada di rumah?"
"Sekarang dia mengambil pelajaran tambahan, Jo."
"Pelajaran apa? Tumben sekali?"
"Hemmm, … tidak tahu kenapa sekarang dia sangat semangat belajar bahasa Inggris," kata Denis seraya memeriksakan ponselnya, dimana beberapa pesan masuk dari para bawahan yang bekerja di bawah naungan perusahaan milik Danu.
Jovian mengangguk-anggukan kepala.
"Jadi bagaimana?" Denis memalingkan pandangan dari layar ponselnya.
Lalu meletakan benda pipih itu di atas meja, dan menatap wajah sahabatnya dengan raut wajah serius.
"Sebenarnya aku tidak enak membicarakan soal pekerjaan ini. Aku tahu kau juga sudah sangat sibuk, tapi tidak ada pilihan lain, karena kau memang orang yang paling dipercaya oleh Papa nya Kia."
Denis diam mendengarkan.
"Minggu depan aku berencana membawa Kiana ke Belanda. Mengunjungi saudaraku yang ada disana, juga keluarga yang lain, … untuk kebun teh aku masih bisa mengandalkan Mang Adang. Tapi untuk pekerjaan bersama Pak Danu aku tidak ada pilihan selain, selain meminta pertolonganmu," katanya lagi, yang membuat Denis segera menganggukan kepala.
Tidak lama Sita kembali muncul, bersama seorang asisten rumah yang membawa nampan berisikan dua cangkir kopi panas, juga beberapa toples cemilan.
"Kopinya, Pak Jovian!"
Secangkir kopi diletakkan tepat di hadapan Jovian, sampai aroma khas dari minuman itu menusuk Indra penciumannya.
Sang asisten rumah mengangguk, lalu dia bangkit dan beranjak dari ruangan itu, akan tetapi tidak dengan Sita. Dia memilih bergabung dan duduk di samping suaminya.
"Pak Danu sudah tahu soal ini?" Tanya Denis.
Jovian mengangguk. Pria itu meraih cangkir kopi miliknya, lalu meneguk kopi panasnya dengan sangat hati-hati.
"Yang memberi saran agar aku meminta bantuanmu, ya beliau. Hanya saja dia tidak berani berbicara, katanya sudah banyak beban yang dia berikan, jadi tidak enak untuk meminta bantuanmu lagi!"
Mendengar itu Denis tertawa pelan.
"Dari pada bawahan, aku justru merasa seorang anak sulung yang menanggung banyak beban dari pada perusahaan ayahku!" Katanya.
"Bisa jadi, mungkin Pak Danu memang sudah menganggap kau itu anak sulungnya. Kakak dari istriku."
Sita yang tidak mengerti pun menatap wajah Jovian dan suaminya bergantian.
"Maksudnya bagaimana? Pak Danu mau bagiin warisan?"
Denis menoleh, kemudian tawanya semakin kencang terdengar. Apalagi saat melihat raut wajah polos tidak mengerti apa-apa dari Sita.
__ADS_1
"Bukan, sayang."
"Lah, terus yang kalian bahas tadi apa?"
Denis tersenyum sama, kemudian meraih gelas kopi miliknya untuk meneguk kopi hitam yang dibawakan oleh sang asisten rumah beberapa waktu lalu.
"Jovian?" Sita menatap sahabat suaminya dengan raut wajah penuh tanya.
Pria itu hendak menjawab, namun Denis segera mendahului.
"Pak Danu tidak mau bagiin warisannya, setidaknya bukan sekarang. Lagi pula mau dibagi dengan siapa? Pak Danu cuma punya Jasmine Kiana Danuarta. Bisa saja sih kalau mau, nanti ke cucu kembarnya," ujar Denis.
Sita mengangguk.
"Aku kira kamu kebagian, hehehe."
"Ngaco kamu, memangnya aku ini siapa?" Denis menatap sahabatnya kemudian tertawa.
"Tangan kanannya!" Kata Sita dan Jovian bersamaan.
Tawa Denis terhenti, seraya menatap istri dan sahabatnya bergantian.
"Ah kalian ini!"
"Kenyataan, kau memang tangan kanannya. Bahkan dia lebih mempercayai dirimu dibandingkan Kiana!"
Denis merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Mau percaya bagaimana, orang yang dia tekuni itu soal balap mobil. Di kasih wejangan biar paham sedikit-sedikit malah suka marah-marah, bilangnya capek, atau ribet sambil ngambek," Sita menjelaskan, sambil mengingat beberapa cerita yang Denis katakan.
"Sebenarnya aku sudah lelah, ingin berhenti dan menikmati banyak waktu dengan Sita juga Dendi. Apalagi anak itu sudah mulai banyak protes sekarang, dia mengeluh jika liburan selalu tanpa ayahnya, bertemu hanya ketika hendak tidur. Tapi kalau di pikir-pikir, aku belum tega melepaskan semua tanggung jawab itu. Terlebih kamu baru saja terjun secara langsung, dan Kiana belum bisa membantu apa-apa karena sedang berbadan dua."
Jovian diam.
"Bertahanlah dulu, pak Danu banyak membantu kita. Tidak apa lelah sedikit, aku siap menjadi obat pelipur lara, dan soal Dendi dia akan mengerti dengan sendirinya. Dia akan tahu jika apa yang ayahnya lakukan itu demi masa depan dia, … dan calon adiknya nanti."
Ucapan itu sontak membuat Jovian mengalihkan perhatian pada Sita, lalu bertanya;
"Kau sudah hamil lagi?"
Sita tersenyum gugup, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.
"Eee, … baru telat. Tapi aku tidak tahu hamil atau tidak! Lagi pula aku santai, kapan saja aku terima. Mau sekarang boleh, tapi kalau kata Tuhan nanti dulu juga tidak apa-apa," Sita menatap Denis.
"Iya kan sayang? Kamu juga santai?"
__ADS_1
"Iya," Denis mengangguk.
Dan obrolan santai itu terus berlanjut, membicarakan banyak hal. Entah itu pekerjaan, keluarga, atau sharing pengetahuan seputar parenting. Seperti mendatangi guru les privat, Jovian dapat bertanya banyak hal kepada pasangan yang tentunya lebih paham dan berpengalaman seperti Denis juga Sita.