Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
It's my pleasure.


__ADS_3

Kiana meletakan Tote bagnya di atas meja makan berukuran kecil. Kemudian mengeluarkan beberapa wadah berisikan berbagai macam lauk yang dia masak pagi hari ini, dengan penuh perjuangan. Bergelut dengan minyak panas, perkakas dapur yang sebelumnya hampir tidak pernah dia sentuh.


Namun pagi ini dia lakukan hanya untuk seorang pria, yang tidak lain adalah calon suaminya.


Dengan sangat telaten Kiana Menyusun setiap wadah dengan rapi di atas meja makan itu, berjalan ke arah salah satu laci, membawa dua buah piring juga sendok dan kembali ke arah meja makan untuk gadis itu letakan disana.


“Morning!”


Suara bariton itu membuat Kiana sedikit terkejut, kemudian menoleh dengan segera. Dan di sanalah Jovian, berjalan keluar dari dalam kamarnya dengan keadaan rapi. Kemeja putih, dengan celana hitamnya.


“Pagi, Om.” Balas Kiana dengan senyuman manis.


Gadis itu menjauh dari area dapur, lalu berjalan mendekati Jovian, merentangkan tangan dan memeluk pria tinggi di- hadapannya. Jovian membalas pelukan Kiana, menundukan pandangan, lalu mencium kening gadis mungil yang sedang memeluknya saat ini, ketika dada dan pipi Kiana benar-benar saling menempel.


“Kamu membawakan sarapan?” Suaranya terdengar begitu lembut.


Dia menyentuh rambut Kiana yang terurai, lalu menyelipkannya di daun telinga. Sampai terpampang nyatalah wajah cantik Kiana yang pagi ini hanya terlihat mengaplikasikan sedikit pelembab di bibirnya.


Sehingga bibirnya terlihat sedikit mengkilap dengan warna merah alami.


“Aku masak, … Om mau makan sekarang?” Kiana menengadahkan pandangannya.


Sementara Jovan menundukan kepala, hingga bertemulah mata satu sama lain, dengan senyuman yang menghiasi kedua bibir sejoli yang sudah saling terbuka dengan perasaan masing-masing.


Terutama Jovian.


“Bu Herlin memaksamu lagi?” Tanya Jovian sambil terkekeh.


“Bukan, hari ini memang aku yang mau masak buat Om!” Kiana berujar.


Jovian kembali tersenyum, dan itu senyuman termanis yang pernah Kiana lihat, sejauh kebersamaan yang terus terjalin seiring waktu.


“Bukannya kamu tidak pandai memasak?” Pria itu kembali membingkai wajah canti Kiana, menyentuh pipinya dan memberikan sentuhan paling lembut di sana.


Kiana tersenyum, dengan debaran yang semakin kentara di dalam dadanya.


“Kenapa?” Pria itu terus menatapnya. “Kenapa kamu melakukan hal yang tidal kamu kuasai untuk saya?” Jovian bertanya dengan suara rendah.


“Karena aku mau belajar menjadi istri yang baik. Jika sudah menikah, kalau bukan aku siapa lagi? Aku tidak mau suamiku justru makan masakan perempuan lain, … lagi pulak hanya sebuah masakan sederhana yang aku bisa.” jelas Kiana.


Kiana mengurai pelukannya, mundur beberapa langkah, lalu berbalik badan.


“Ayo, masakannya sudah dingin, aku nungguin Om lama banget.” Kiana berjalan lebih dulu untuk mendekati meja makan mini yang berada di area dapur apartemen milik Jovian.


Jovian menggigit bibirnya, menggelengkan kepala, menahan senyum dan menyusul Kiana dengan langkah cepatnya. Pandangan Jovian segera tertuju ke arah meja makan kecil itu, dimana beberapa wadah berisikan nasi, lauk dan piring berada di atas sana.


Satu kotak berisikan cah ayam brokoli. Satu tempat lagi berisi tahu dan tempe goreng, dan di wadah lainnya berisikan kerupuk emping juga sambel. Yang Kiana ketahui adalah salah satu hidangan favorite calon suaminya.


“Aku nggak tau ini sesuai dengan lidah Om atau tidak. Tapi mudah-mudahan Om suka, … dan untuk sambalnya aku pertama kali bikin, di bantu Bibi.” Kiana tersenyum malu-malu.


Mendengar itu Jovian tersenyum. Dia menarik kursinya kemudian duduk.


“Syukurlah nasi dan lauknya masih hangat.” Kiana bereaksi saat memeriksakan makanan yang dia bawa.


Sementara Jovian terus memfokuskan pandangan ke arah Kiana, dengan perasaan bahagia sekaligus haru. Bagaimana bisa, seorang gadis yang tidak pernah melakukan sesuatu bahkan untuk dirinya kini melakukan hal yang sangat berarti bagi orang lain.


“Apa Om mau aku hangatin nasinya di …”


“Tidak perlu, terimaksih ini sudah lebih cukup.” Sergah jovian.


Pria itu segera membawa piring kosong di hadapanya, menambahkan sedikit nasi putih, dan melengkapinya dengan beberapa lauk yang Kiana bawa.


Kiana diam dengan perasaan gugup. Rasanya jelas berbeda Ketika dia mengantarkan makanan untuk pertama kalinya, saat Herlin memaksa dan mencoba membuat hubungan keduanya menjadi lebih dekat.


“Bagaimana kalau dia tidak sukan? bagaimana kalau masakannya tidak enak? Apa dia akan terus memakannya?” Kiana membantin, seraya terus memandang pria di hadapannya.


Jovian membuka mulutnya, dan menjejalkan satu sendok nasi beserta lauk kedalam mulut, dan mengunyah dengan sangat perlahan.

__ADS_1


Kiana terus memperhatikan Jovian, menunggu reaksi pria itu yang saat ini sudah memakan masakannya.


“Kamu tidak makan? Bukannya kedatanganmu kesini untuk sarapan bersama?” Jovian bertanya seyara kembali menjejalkan makanan ke dalam mulutnya.


“Gimana? Om suka nggak? Aku belum bisa masak yang lain. Baru beberapa resep yang aku bisa, … itu pun karena resep itu termasuk salah satu makanan kesukaan aku.” Ekspresi Kiana tampak serius.


Jovian menganggukan kepalanya.


“Enak. Sesuai dengan lidah saya, … jadi ayolah kita makan bersama, jangan hanya memperhatikan saya seperti itu!” Pinta Jovian.


Namun, Kiana hanya tersenyum. Lalu menggelengan kepala, menolak ajakan Jovian begitu saja


“Kenapa?” Kening pria itu menjengit.


“Aku udah kenyang, padahal Cuma liat Om makan.” Dia tertawa pelan.


“Oh ya? Kenapa bisa begitu?”


“Seneng aja, kalau Om cocok sama masakan aku. Jadi kita sudah benar-benar siap untuk hidup bersama.” Jawab Kiana dengan raut ceria.


Jovian tidak menjawab lagi, dia hanya mengulum senyum, dan melanjutkan sarapanya.


“Ahhh, … tingkahnya kenapa selalu se menggemaskan itu!” Hati Jovian berbicara.


Dan setelah selesai dengan sarapannya, Jovian segera bangkit. Membawa gelas, mengisinya dengan air hangat kemudian meneguknya sampai habis.


“Hari ini kamu masuk kelas?”


Jovian kembali duduk di kursi meja makan.


“Harusnya masuk, tapi dosennya sedang ada keperluan mendadak. Jadi mata kuliahnya di rapel besok!” Jawab Kiana.


Sementara Jovian hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Kiana bangkit, dia kembali merapihkan setiap wadah yang hampir tidak tertisa sama sekali, lalu memasukanya ke dalam sebuah tote bag berukuran sedang.


“Kamu tidak sarapan? Mau saya pesankan?” Tawar Jovian.


Kata-kata itu membuat Jovian tertawa lepas. Suaranya menggelegar, dengan kepada yang mendongak ke arah belakang dengan kedua bola mata yang ikut terpejam.


“Kamu merasa kenyang? Bahkan hanya melihat saya makan?” Katanya dengan suara tawa yang masih belum reda.


Kiana tersipu malu, bahkan wajahnya terlihat memerah.


“Serius!” Suara Kiana memekik.


“Ya, dan pagi ini saya makan sangat banyak, itu gara-gara kamu.”


“Memangnya kenapa? Om lagi diet?” Tanya Kiana.


Gadis itu membawa tote bagnya, kemudian berjalan ke arah ruang tengah, di susul Jovian yang berjalan cepat di belakang tubuh mungil Kiana.


“Pamit ya, Om!”


“Kiana?”


Jovian memanggil Ketika gadis itu terus berjalan mendekati pintu keluar. Mengulurkan tangan, untuk meraih pergelangan tangan Kiana.


Langkahnya terhenti, lalu berbalik badan.


“Mau kemana?” Dia menahan Kiana.


“Mau pulang, Om sudah selesai kan? Lagi pula aku sedang tidak ada kelas, Om datang siang saja, mungkin Papa akan mencari Om karena Om Denis nggak masuk hari ini, … Dendi masuk rumah sakit karena demam.” Kiana berujar.


Jovian menganggukan kepala, kemudian kembali membawa Kiana ke arah sofa ruang tengah.


“Saya sudah tahu!” Kata Jovian sembari mendorong bahu Kiana, agar dia duduk di sofa sana.

__ADS_1


Dia meraih tali tote bag yang ada di dalam genggaman Kiana, meletakan benda itu di atas meja, lalu Jovian memeluknya.


“Jangan mancing aku, Om! Aku suka bablas kan!”


“Saya sedang merindukan kamu, apa kamu tidak merindukan saya?” Tanya Jovian sambil terus memeluk Kiana.


“Rindu, makanya aku kesini. Memangnya aku masak untuk apa? Ya biar ada alesan ngenterin sarapan.” Ucap Kiana dengan jujur.


Jovian melepaskan rangkulannya, lalu menatap wajah Kiana.


“Kamu berbohong kepada Pak Danu dan Bu Herlin?”


“Bukan berbohong, tapi hanya mencari alasan saja.”


Jovian diam, matanya bergerak-gerak, menelisik manik Kiana lebih dalam lagi. Dan betapa bahagianya Ketika dia mendapati cinta yang begitu besar di dalam sana.


“Entah besok atau lusa, Mami dan Papi akan datang kesini. Bersama Javier yang kemarin malam baru sampai di Indonesia, … Jadi mulai besok kita sudah harus melakukan fetting baju untuk acara lamaran.”


Kiana diam mendengarkan.


“Saya masih tidak percaya, memiliki hungungan special dengan putri atasan saya sendiri. Mana umurnya jauh lebih muda, … jauh sekali sampai semalam saya hanya memikirkan bagaimana saya harus bersikap kepada gadis sepertimu.”


Gadis itu masih belum bereaksi.


“Apa yang membuat kamu menyukai saya Kiana?” Jovian berbisik.


“Memangnya kalau jatuh cinta itu harus mempunyai alasan yah?!” Kiana balik bertanya.


Jovian tersenyum, dia kembali menarik Kiana ke dalam dekapannya.


“Hanya sedikit tidak menyangka. Kamu tahu? Gadis belia sepertimu masih dapat mencari pria yang jauh di atas saya, bukan dari segi umur, tapi paras dan materi.” Tanganya mengusap-usap rambut Kiana.


Pandangan Kiana menengadah, menatap Jovian. Pria yang juga tengah menatapnya.


“Kalau aku maunya Om gimana? Apa yang Om bilang memang benar. Kevin lebih muda, kita seumuran bahkan ayahnya pengusaha batubara juga sama seperti Papa. Tapi hati aku tidak mau dia, aku hanya mau Om. Terus kalau Om tanya lagi kenapa, jujur aku nggak tau jawaban apa yang harus aku katakan.”


Mereka saling memindai satu sama lain.


Tangan kanan Kiana bergerak, menyentuh rahang tegas Jovian, beralih ke pipi, dan terus ke atas untuk mengusap kening pria yang sedang mendekapnya, sampai rambut Panjang Jovian bergerak menyingkir dari sana.


“Aku Cuma mau Om.” Dia menarik wajah Jovian, dan menempelkan bibir keduanya.


Tanpa menunggu lama Jovian langsung membalas ciuman Kiana, sampai kegiatan itu berlangsung cukup lama. Suara decapan bahkan sudah sangat jelas terdengar, mereka kembali menyalurkan perasaan masing-masing.


“Saya mencintaimu Kiana.” Kata Jovian setekah menghentikan aktivitasnya yang mulai semakin memanas.


Gadis itu tersenyum.


“Thank you.” Kiana berbisik.


“It’s my pleasure, Baby!” Balas jovian dengan suara tak kalah rendahnya.


Kiana menggigit bibir bawahnya cukup kencang, berusaha menekan perasaan yang ingin lebih dan lebih lagi.


“Tunggu sebentar oke? Saya pakai dasi dan jas dulu. Kita berangkat bersama.”


Jovian melepaskan tangannya yang melilit di tubuh Kiana, berdiri, dan berjalan mendekari pintu kamarnya yang terlihat sedikit terbuka.


“Perasaan ini semakin gila saja, astaga!” Gumam Kiana.


Gadis itu berdeham, berusaha menarik akal sehatnya yang sempat menghilang kala Jovian mencumbunya dengan sangat menggebu-gebu. Bahkan ciuman kali ini lebih gila lagi, karena Jovian melibatkan cinta di dalamnya, berbeda dengan sebelumya yang hanya mengandalkan rasa penasaran dan sebuah keharusan untuk membalas setiap apa yang Kiana lakukan.


“Bahkan dia memanggilmu saya tadi. Oh astaga Kiana, dia sudah mengakuimu!” Gadis itu berbicara dengan dirinya sendiri.


......................


...Sawerannya dongssss!!...

__ADS_1


...Vote, bunga vangke dan kopi sianidanya Akak🤣...


...Like, komen wajib lho biar othor makin semangat .....


__ADS_2