
Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak, dengan Jovian yang berjalan di depan, tanpa melepaskan genggaman tangan keduanya sedikitpun.
Namun, Kiana tiba-tiba berhenti, membuat Jovian segera berbalik badan.
"Ini kita mau kemana? Dari tadi blusukan di kebun teh, view yang bagusnya masih jauh? Aku capek, Om!" Kiana merengek, dia mengeluh dengan raut wajah yang sudah kelihatan lelah.
Wajar saja. Ini pertama kalinya Kiana berjalan dengan jarak tempuh yang cukup jauh, dengan trek menanjak yang tak ada hentinya.
"Sedikit lagi, ayo semangat!"
Jovian berniat kembali meraih tangan Kiana yang sempat terlepas dari genggamannya. Namun dengan segera gadis itu mundur satu langkah sampai membuat Jovian kebingungan.
"Aku cape, Om! Kaki aku lemes." Kiana merengek.
"Jadi bagaimana? Mau pulang lagi? Tanggung lho ini sudah hampir sampai."
"Om dari tadi bilang begitu. Sudah dekat, sebentar lagi, dua belokan lagi! Tapi mana nggak sampai-sampai, kaki aku udah pegel banget, lutut aku juga mulai ngilu sama sedikit sakit."
Jovian tersenyum.
"Cuacanya memang dingin, dan itu mungkin mempengaruhi lutut kamu. Rasanya ngilu dan sedikit pegal."
Kiana menatap Jovian untuk beberapa saat, kemudian ide cemerlang muncul, dari dalam pikirannya.
"Sebentar lagi kan, Om?" Kiana meyakinkan.
Jovian mengangguk sembari mengulum senyum manisnya.
"Iya."
"Beneran?" Gadis itu memicingkan mata, dengan senyum jahil yang berusaha dia tahan.
"Iya, beneran. Jadi ayo semangat, sebentar lagi kamu akan mendapatkan pemandangan yang sangat cantik."
Tanpa banyak berbicara Jovian langsung merah tangan Kiana, namun gadis itu segera menahannya ketika Jovian hendeka berbalik badan.
"Om!"
"Kiana sebentar lagi!"
"Mau gendong aja boleh?" Dia tersenyum sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya. "Boleh dong? Kan Om masih Bodyguard aku, plus akunya calon istri Om lagi. Masa nggak kasihan calon istrinya kecapean, kakinya pegel sama sakit, … terus masih mau dipaksa biar jalan ke atas gitu? Ya tega amat, mana nanjak banget lagi!" Kiana tampak membujuk.
Jovian diam. Dia tidak menolak atau pun mengiyakan, pria itu hanya terus menatap ekspresi wajah Kiana, yang terlihat semakin cantik jika sedang bersikap seperti itu.
"Om!?" Kiana merengek lagi, dia memohon kepada Jovian.
"Saya menjaga seorang gadis yang tidak pernah terlihat manja. Dia selalu ingin terlihat kuat, keras kepala dan sangat menyebalkan!" Jovian tak mengalihkan pandangannya. "Lalu siapa kamu? Manja, lemah, dan selalu bersikap manis kepada saya?" Dia mulai mendekat, dan benar-benar berhenti ketika jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti saja.
Mata Kiana bergerak-gerak, menatap pria tinggi di hadapannya dengan perasaan yang semakin menggila.
"Who, are … you!?" Suara itu terdengar sangat rendah, dan mampu membuat bulu kuduk Kiana berdiri.
"Hey? Siapa yang saat ini berdiri di hadapan saya? Apa Kiana?"
Gadis itu segera menjawab dengan anggukan.
"Benarkah? Tapi Kiana yang saya tahu tidak seperti dirimu." Jovian terus menggodanya, bahkan kedua mata mereka terus saling beradu, memandang satu sama lain.
__ADS_1
"Om!" Cicit Kiana.
Jovian menggelengkan kepala, dengan pandangan yang terus dia tujukan kepada gadis setinggi dada di hadapannya.
"Siapa kamu, heuh?"
"Aku bukan Kiana yang itu. Aku Kiana calon istri Om! Gimana? Puas dengan jawabnya? Baiklah kalau begitu ayo gendong aku, tidak mungkin badan tinggi besar seperti ini tidak kuat membawa aku sampai ke atas sana."
Dia berusaha terlihat biasa saja, walaupun jantungnya terus berpacu bahkan hampir meledak saat mendapatkan tatapan tajam dari Jovian.
"Ayo Om!" Kiana berusaha memutar tubuh kekar Jovian.
Namun dia tidak berhasil, Jovian hanya terus diam, lalu tertawa kencang sampai kepalanya mendongak ke arah belakang.
"Om!"
"Baiklah-baiklah."
Jovian segera berjalan sedikit kebawah, membiarkan Kiana naik ke atas punggungnya, berbalik badan dan kembali melanjutkan langkah kakinya ke arah atas. Dimana sebuah pemandangan yang sangat indah berada di sana.
"Semangat!" Kiana berbisik tepat di telinga Jovian, dengan kedua tangan yang melingkar kuat di bahu pria itu.
Sementara kedua tangan kekar Jovian menahan bobot tubuh Kiana, dengan cara melilitkannya di kedua belah kaki.
"Sepertinya itu saja kurang." Jovian menyahut.
Cup!
Kiana mencium pipi Jovian.
"Apa itu cukup?" Kiana berbisik lagi.
"Kurang." Langkah kakinya berhenti untuk beberapa saat.
Kiana menggigit bibirnya kencang, lalu memberikan pipi Jovian dengan banyak kecupan, sampai pria itu kembali melangkahkan kakinya.
Sepanjang perjalanan keduanya terus tertawa-tawa, entah apa yang mereka bicarakan sampai membuat keduanya terlihat bersikap lebih hangat dari pada biasanya. Dan setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah bukit yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.
Hamparan kebun teh yang terlihat sangat luas. Juga terdapat sebuah jalan raya di sisi lain, membuat Kiana dapat melihat lalu lintas yang cukup padat sampai membuat antrian kendaraan yang sedang melaju cukup pelan.
"Whoaaaa, … mobilnya terlihat sangat kecil kalau dari sini!" Ucap Kiana dengan wajah berbinar.
"Indah bukan?"
"Hemmm. Masih pagi tapi jalanan sudah padat!"
"Itu jalanan menuju kota. Jalanan semalam yang kita lalui!" Jelas Jovian.
"Berarti kita berjalan memutari bukit?"
"Iya." Jovian menganggukan kepala.
Kiana segera turun dari atas punggung Jovian, menatap pemandangan sekitar yang terlihat sangat memukau dan memanjakan mata.
Angin terus berhembus, menerpa wajah Kiana sampai rambutnya bergerak-gerak kesana dan kemari.
"Disini ada yang jualan mie nggak, Om?" Tiba-tiba saja Kiana bertanya demikian.
__ADS_1
"Hanya di beberapa titik. Tidak seperti di Bogor yang banyak sekali warung di tepi jalan. Mungkin di bawah banyak, tapi karena disini sudah masuk perkebunan dalam, jadi jarang ada yang kesini."
"Kebun ini milik Papi?"
Jovian mengangguk.
"Sebagian milik Papi. Sebaiknya milik saya dan Javier! Tapi masih diurus Papi dan kita hanya menerima hasilnya saja." Jovian tertawa lagi.
"Disini ada pabrik teh juga pasti."
Kiana akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Jovian.
"Ada. Milik saudaranya Papi, dan mereka bekerja sama."
Gadis itu mengangguk.
"Keren yah keluarga kalian, kompak. Yang satu pemilik pabrik, yang satu pemilik kebun. Kalau saudara Papa beda. Mereka cenderung berebut dari pada harus bekerja sama seperti kalian."
"Bersaing?"
"Nggak tau harus gimana nyebutnya. Tapi mereka nggak akur."
Jovian menatap Kiana lekat-lekat. Kemudian tangannya bergerak, dan menarik Kiana kedalam pelukannya.
"Jangan bahas. Saya membawa kamu kesini agar tidak merasa sedih, … entah karena hal semalam atau hal lain."
"Hemmm, tidak akan selama Om ada di Deket aku."
Mata Kiana terpejam, menghirup aroma maskulin milik Jovian yang sangat dia sukai.
"Dasar rubah kecil nakal. Masih kecil sudah pintar menggombal!" Jovian semakin merapatkan pelukannya.
Kiana terkekeh.
"Nggak tau. Otak, hati sama pikiran aku amburadul kalau terus sama Om kaya gini."
Jovian ikut tertawa.
"Jadi, … bisa dibilang saya cinta pertamamu yah!?"
"Kedua dong, Om! Kan cinta pertama anak perempuan itu Papanya. Begitupun aku!"
Mendengar itu Jovian semakin tidak tahan. Pria itu ingin tertawa sangat kencang, namun dia tahan.
"Ternyata pacaran kaya gini yah. Kadang indah, kaya juga nggak."
"Oh ya?"
"Hu'um. Aku seneng kalau Om nggak kaku lagi, … tapi nggak seneng kalau Om deketan terus sama Tante Eva. Itu kemarin sih, sekarang udah nggak, kan nggak semua hubungan yang berakhir terus keduanya harus bermusuhan. Mungkin Om sama Tante Eva mau hubungan kalian baik-baik saja walaupun tidak sama-sama lagi, … dan aku pikir itu tidak apa-apa kalau Om masih punya batasan dan tahu bagaimana harus bersikap." Dia sedikit menjauhkan wajahnya dari dada Jovian.
Mendongak, dan menatap kekasihnya dari jarak yang sangat dekat.
"Aku cuek orangnya. Tapi kalau udah sesuatu yang menyangkut milik aku, … aku nggak bisa diem aja Om!"
"Ya ya ya, saya mengerti!"
Jovian tersenyum lagi, menyentuh bando menggemaskan milik Kiana, dan menggerak-gerakkan benda itu.
__ADS_1
"Menggemaskan!"