
Jovian membiarkan Kiana menangis di pelukan ayah juga ibunya. Pun dengan keluarga Denis yang memutuskan untuk ikut mengantar Kiana pulang, setelah beberapa Minggu perempuan muda itu ikut bersama Sita. Tidak ada yang bisa Jovian lakukan, melihat Kiana luluh dan ingin pulang saja sudah membuatnya tidak menyangka, lidah Jovian terasa kelu sampai tidak bisa berkata-kata, pikirannya juga terasa kosong sampai dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Maafkan Papa, … lagi-lagi membuat kamu kecewa dan marah!" Danu terus menghujani wajah Kiana dengan kecupan, seraya menangis penuh haru dan rasa tidak percaya.
Betapa dahsyatnya perjalanan religi yang Kiana lakukan, sampai mampu membuat dia menjadi sangat berbeda.
"Mama mohon jangan pergi lagi. Kamu membuat Mama sangat takut, Kia!" Dia mengusap pipi Kiana.
Kiana mengusap pelupuk matanya yang basah, mengulum senyum, kemudian mengangguk.
"Astaga, … maafkan Papa karena sudah menjadi orang tua yang buruk. Bukankah seharusnya kamu mengadukan segala keluh kesahnya kepada Papa? Tapi kamu justru memilih pergi dan mengadukannya langsung kepala Tuhan. Hhhheuh, … Papa menyesal sudah mengutamakan kepentingan Papa sendiri. Papa terlalu sibuk menjaga nama baik, tapi tidak dengan hati dan perasaan kamu."
Danu terus mengutarakan rasa sesal yang dia rasakan.
"Tapi tenang saja. Papa dan Jovian berniat membuat laporan untuk Eva agar dia jera, … karena perbuatan yang dia lakukan sudah benar-benar merugikan banyak orang. Salah satunya membuat acara yang sudah kita rencanakan benar-benar batal." Pria itu menundukan pandangan, sampai kedua matanya saling beradu satu sama lain.
Kiana mengurai pelukannya, sampai mereka sedikit berjarak.
"Laporan?" Dia mengulangi apa yang di ucapakan sang ayahanda. Lalu setelah itu pandangan Kiana beralih kepada Jovian, yang berdiri menyandarkan punggung pada dinding ruang tengah.
"Pak Danu?" Sita segera berbicara setelah diam dan memperhatikan interaksi mereka. "Sebaiknya tidak usah, bukan saya sok tahu atau ingin terlihat bijak sana. Tapi alangkah baiknya jika semua perbuatan buruk tidak di balas dengan perbuatan buruk. Boleh membalas, tapi harus setimpal atau sama. Namun, alangkah baiknya jika kita masih bisa bersabar. Toh Kiana juga sudah kembali dengan keadaan baik, jadikan saja apa yang terjadi sebagai pelajaran hidup, mungkin kedepannya lagi kita harus bijaksana. Sekali lagi maaf, bukan berniat menggurui." Sita berujar.
Membuat semua orang diam.
"Kiana sudah kembali dalam keadaan baik, … juga membawa kabar bahagia. Sepertinya ini imbalan atas kesabaran Kiana, dia bahkan tidak membela diri saat semua orang menyalahkannya, … jadi kalau bisa di maafkan, yang lalu biarlah berlalu, kita buka lembaran baru dengan kebahagiaan yang semakin bertambah tentunya." Ujar Sita kembali.
Kemudian dia menatap semua orang silih berganti. Membuat Kiana mengangguk dengan segera, bahkan senyuman tipis dia perlihatkan dengan bola mata yang kembali berkaca-kaca.
"Tentu saja, kepulangan Kiana sudah menjadi kabar bahagia untuk kami, Sita. Dan terimakasih karena kamu mau menerima Kiana bersamamu di rumah kalian tanpa sebuah syarat apapun." Herlin tersenyum kepada istri dari Asisten kepercayaan suaminya.
"Ada kabar yang lebih membahagiakan, Bu." Kata Sita.
Danu, Jovian juga Herlin diam. Mengarahkan pandangan dengan raut wajah penuh tanya kepada Kiana, seolah tak sabar lagi untuk mendengar kabar itu.
"Apa? Katakan kepada Mama?"
Kiana mengangguk, dia bangkit dan meraih sebuah tas selempang berukuran sedang. Lalu mencari sesuatu di dalam sana.
Melihat itu, Jovian yang tadinya terus berdiri dan menyandarkan punggungnya di dinding ruang tengah segera mendekat, untuk kemudian duduk di sofa yang masih kosong.
"Aku tidak tahu ini beneran atau memang alatnya yang error. Kemarin hanya melakukan pemeriksaan awal, jadi, … sebenarnya aku tidak yakin." Ucap Kiana sembari berjalan mendekat.
Semua orang yang ada di sana terlihat kebingungan. Kecuali Sita yang tentu saja sudah mengetahui sesuatu.
"Apa?" Denis menatap istrinya.
"Kita dengarkan saja kabarnya, setelah itu baru kita pulang, oke?" Katanya kepada suami, anak dan ibu mertuanya.
Mereka mengangguk.
Kiana berdiri di antara sofa yang diduduki Jovian dan kedua orang tuanya. Kemudian membungkuk, untuk meletakan sebuah alat tes kehamilan di atas meja sana.
Jovian dan Danu masih terlihat belum mengerti. Sementara Herlin terlihat membulatkan mata, yang kemudian langsung menyambar benda itu dengan mata membulat dan mulut yang mengaga.
__ADS_1
"Ya ampun!" Herlin berteriak dengan rasa tidak menyangka.
"Positif?" Denis berbicara kepada istrinya.
"Kia hamil?" Wanita yang akrab disapa Mela itu ikut bertanya kepada menantunya.
Dan sita hanya menjawab dengan anggukan pelan.
"Benda apa itu?" Jovian bertanya.
"Kiana hamil, Jo!" Herlin terkekeh kencang, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. "Papa? Kita akan mempunyai cucu!" Dia bangkit, mengusap kedua sudut matanya yang basah, lalu memeluk Kiana.
"Ini belum pasti, harus menemui dokter spesialis kandungan dulu." Tukas Kiana.
Namun, Herlin seolah tidak peduli dengan pernyataan Kiana. Dia terus memeluk Kiana dan menghujani Kiana dengan banyak kecupan. Hal yang sama segera Danu lakukan, sementara Jovian tampak terkejut sampai tidak dapat bereaksi apa-apa.
"Kamu hamil? Benarkah?" Jovian masih terlihat tidak menyangka.
***
Klek!!
Jovian menutup pintu kamarnya rapat-rapat, kemudian mendorong koper besar milik Kiana dan meletakkannya di sudut ruangan itu. Dia segera berjalan mendekati Kiana yang mulai membuka kain penutup kepala, lalu memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Mata Jovian terpejam, seraya menghirup aroma tubuh perempuan yang sangat dia rindukan dalam-dalam.
"Aku tidak tahu harus apa sekarang," Jovian mengusap perut Kiana yang masih rata. "Rasanya aku ingin berteriak, lalu melompat-lompat seperti Axel saat anak itu mendapatkan apa yang dia mau." Lanjut Jovian dengan suara yang terdengar semakin rendah.
Lalu dia tertawa bahagia, dengab perasaan tak menentu di dalam hatinya.
Perempuan itu terlihat sangat gugup.
Dirinya pergi tanpa pamit, berminggu-minggu hidup terpisah. Membuat rasa canggung itu semakin terasa apalagi dengan posisi berduaan seperti ini.
"Sudah larut, masih mau mandi? Memangnya tidak apa-apa?"
"Tidak, aku mandinya pakai air hangat." Jelas Kiana.
Jovian mengangguk, kemudian dia melepaskan Kiana, dan membiarkan perempuan itu beranjak pergi memasuki pintu kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Dan setelah menghabiskan waktu 20 menit lamanya. Pintu kamar mandi yang tadinya tertutup rapat mulai terbuka kembali, dan munculah Kiana dengan bathrobe, dan handuk kecil yang melingkar di atas kepala.
Sekilas dia menatap Jovian yang masih duduk menunggu di atas sofa. Sebelum akhirnya dia membawa pakaian kembali ke dalam kamar mandi untuk dia kenakan.
"Hhheuh!" Jovian menghela nafas. "Memangnya apa yang aku harapkan. Kiana sudah membiarkanmu tetap disini juga masih bagus, … daripada diminta pergi dengan cara tidak hormat." Pria itu bergumam, saat jarak di antara keduanya masih terasa sangat jauh, padahal kini mereka sudah bersama-sama seperti sebelumnya.
Jovian merapatkan punggun pada sandaran sofa, membuat kepalanya mendongak, menatap langit-langit kamar yang saat ini terasa begitu sunyi.
"Bukan kamarnya, tapi hatimu Jovian." Kalbunya berbicara lirih.
Dia memejamkan mata, lalu meletakan lengannya di atas wajah.
"Ini semakin sulit, Jovian. Bagaimana jika Kiana mencoba bertahan karena dia tahu sedang mengandung? Kemudian setelah melahirkan dia akan benar-benar mengurus semua yang sempat dia utarakan." Hatinya kembali berbicara.
Ketakutan mulai memenuhi diri, dan itu menghadirkan rasa tidak nyaman. Tentu saja, meninggalkan Kiana saja sudah pasti sangat berat, lalu bagaimana jika dia juga harus meninggalkan anaknya.
__ADS_1
"Hhheuh!" Dia kembali menghembuskan nafasnya.
"Ada sesuatu?" Tiba-tiba saja suara itu terdengar.
Membuat Jovian cukup terkejut, apalagi saat dua tangan mungil melingkar di pinggang cukup erat, dengan sesuatu yang hangat menempel di dadanya.
"Kamu tidak senang aku hamil?" Tanya Kiana dengan posisi duduk setengah berbaring. "Kamu kelihatan gelisah? Kamu tidak suka?"
Kedua tangannya Kiana melingkarkan di pinggang Jovian, dengan wajah yang dia tempelkan di dada bidang sana, sembari menghirup aroma wewangian yang sangat Kiana rindukan.
"Tidak sama sekali, Baby. Aku sangat bahagia mendengar kabar ini!" Dia mengusap punggung Kiana. "Aku hanya sedang bingung, … tidak maksudku aku hanya takut saja jika keadaan kita setelah ini akan benar-benar berbeda." Tangannya beralih mengusap pinggang, lalu berhenti tepat di atas perut bagian samping milik istrinya.
Kiana mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Sampai dia dapat dengan jelas menatap wajah penuh ketakutan pria tampan di hadapannya. Mereka diam untuk waktu yang tidak sebentar, menatap satu sama lain dengan perasaan yang tidak bisa mereka mengerti.
Satu tangan Jovian bergerak terangkat, lalu mengusap pipi Kiana lembut.
"Kenapa rambutnya tidak di keringkan? Nanti kamu pusing?"
Kiana diam, apalagi saat melihat Jovian tersenyum getir.
"Bukankah setelah ini akan benar-benar berbeda? Kita akan memiliki seorang anggota baru di dalam keluarga kecil kita?"
Jovian mengulum senyum, lalu mengangguk dengan tangan yang terus mengusap-usap pipi Kiana.
"Kamu tidak senang?"
Jovian menggelengkan kepala.
"Suami mana yang tidak bahagia saat istrinya hamil? Dan calon ayah mana yang tidak bahagia calon putra atau putri mereka akan segera hadir? Mungkin ada, tapi mereka orang gila karena tidak dapat menerima Rahmat yang sangat besar dari Tuhan." Jelas Jovian.
"Lalu kenapa?"
"Aku hanya takut dengan apa yang kamu utarakan beberapa Minggu lalu."
Kiana diam.
"Kamu terlihat bersungguh-sungguh tahu."
"Bukannya kamu nggak bakalan biarin aku pergi? Tapi kenapa sekarang kelihatan pasrah begini?"
Tanya Kiana, seraya berali duduk diatas pangkuan Jovian.
"Aku akan mempertahankan kalian. Tapi kamu juga seorang anak yang memiliki kekuasaan, apapun bisa terjadi."
Kiana tersenyum, dia bergerak mendekat, lalu menempelkan kening keduanya.
"Bukankan kehadiran dia adalah sebuah jawaban? Jika Mama dan Papa nya harus tetap bersama?"
Perempuan itu meraih tangan Jovian, dan meletakkannya di atas perut Kiana. Dimana kehidupan yang baru sedang berproses di dalam sana.
****
Duh maaf telat ya cuyung😘
__ADS_1